
Ara langsung mengambil gaun itu dan memanggil Uni yang sedang sibuk menata gaun-gaun yang ada di atas tempat tidur Ara.
"Uni, coba ini, kamu pasti cocok." Ara menunjukkan gaun yang di bawanya.
Uni hanya terdiam dan memperhatikan gaun itu. "Itu sepertinya pendek ya roknya?"
"Coba dulu, jangan banyak protes." Ara memberikan gaun itu pada Uni.
Uni segera masuk ke dalam kamar mandi dan mencoba gaun yang di berikan oleh Ara. Tidak lama Uni keluar dari kamar mandi dengan gaun hitam itu.
"Wow! Cocok sekali kamu pakai itu?" Ara langsung mendekat pada Uni dan memutar-mutar tubuh Uni. Ara meneliti dari atas, bawah, depan, belakang dan samping kiri kanan.
"Ara, aku pusing ini."
"Hehehe! Maaf-maaf. Habisnya kamu cocok sekali memakai baju ini. Cantik?"
"Cantik sih cantik, tapi ini terlihat sangat terbuka, Ara."
"Terbuka dari mana? Kamu kelihatan benar-benar mempersona."
Sebenarnya tidak terbuka, hanya saja Uno ini tipe gadis yang memang agak pemalu jika memakai baju yang rada pendek pada bagian bawahnya dan gaun itu roknya pas di atas lutut, serta memiliki model lengan u can see yang tertutup rumbai berbahan tile jadi tidak terlihat sebenarnya jika gaun Uni berlengan u can see.
"Pokoknya nanti kamu pakai baju ini dan sepatunya flat saja. Kalau pakai high heels bisa-bisa jalan kamu seperti nenek-nenek."
"Lagian, aku tidak suka memakai heels. Ara, kamu serius aku nanti memakai baju ini?"
Ara mengangguk beberapa kali. "Sangat serius, nanti tinggal menguncir rambut kamu saja dan memoles dengan make up minimalis, pasti kamu kelihatan sangat cantik.
Muka Uni bukannya senang malah aneh mendengar rencana Ara. "Kenapa seribet ini hanya karena mau makan saja? Tau begitu aku tidak ikut."
"Tidak ikut? Kamu mau membuat ayah Akira kamu kecewa? Sudah! Pokoknya kamu pakai ini. Sekarang aku foto dulu, ya?
Ara malah memotret Uni yang tampak sama sekali tidak sadar akan di foto oleh Ara. "Untuk apa di foto? Memangnya kamu mau menyimpan foto aku?"
"Iya, donk, buat kenang-kenangan bahwa aku pernah menjadi penata busana buat kamu Uni."
Uni hanya memutar bola matanya jengah, dia kemudian mengganti baju dan membereskan semua gaun-gaun Ara.
'Bagaimana menurut kamu?'
Ara mengirim foto Uni pada Aro.
'Kenapa bajunya terlihat terbuka begitu?'
__ADS_1
balas Aro.
'Itu tidak terbuka, itu gaya anak muda sekarang, Aro!'
emot muka sebal.
'Apa tidak ada yang lain?'
'Tidak ada.'
'Tau begitu tadi aku membelikan sendiri.'
'Yakin seratus persen kalau Uni tidak akan mau memakainya.'
emot muka songong.
'Ganti yang lain.'
'Tidak ada! Dasar cerewet.'
Aro tidak membalas pesan terakhir dari Ara. sia malah sibuk memandangi foto yang barusan dikirim oleh Ara.
"Cantik sekali," pujinya.
Acara makan malam akan tiba, semua orang sudah bersiap-siap. Tinggal Uni yang masih di dalam kamar. Entah apa yang sedang dia lakukan.
"Via, kamu sangat cantik malam ini," puji Nala.
"Terima kasih, Ibu Nala. Ibu Nala juga sangat cantik. Halo, Aro," sapanya lembut dan Aro hanya memberikan senyumannya.
Aro hanya melihat biasa pada Via, dan tidak lama Rendy juga datang ke sana.
"Malam semua. Maaf, apa aku tidak terlambat, Kan?"
"Kamu tidak terlambat, Rendy," jawab Akira.
"Kenapa dia tidak datang terlambat saja sih?"/gerutu Ara pelan pada Aro. Aro hanya diam saja mendengar gerutuan Ara. Dia malah menatap kesal pada Rendy.
"Wah! Kalian janjian ya memakai warna baju yang sama?" Rendy bertanya pada Aro dan Via karena memang malam ini Aro tampil sangat tampan dengan baju setelah kemeja putih dan celana berwarna putih tulang. Via ternyata malam ini juga memakai dress warna putih lengan panjang dengan model sepan di atas lutut, dan banyak gliter di seluruh gaunnya.
"Kami tidak janjian, Ren. Aku hanya suka saja memakai gaun dengan warna netral."
"Tapi kamu sangat cantik dengan baju itu. Kalian terlihat sangat cocok."
__ADS_1
Aro sama sekali tidak menanggapi ucapan pria yang dia benci itu.
Tidak lama Uni keluar dari dalam kamarnya dengan tampilan yang sederhana. Gaun hitam milik Ara dipadukan dengan sepatu flat hitam dan Uni hanya menguncir rambutnya sembarangan, serta memoles wajahnya dengam make up flawess.
"Maaf, kalian pasti lama menunggu. Tadi saya baru saja selesai menyetrika cucian kemarin."
"Ya ampun, Uni! Kamu masih saja memikirkan pekerjaan." Ara memutar bola matanya jengah.
Rendy berjalan mendekati Uni dan memindai Uni dari atas sampai bawah kembali ke atas. "Apa benar kamu Uni pacar aku?"
Uni langsung tersenyum aneh. "Aku benaran Uni, Ren."
"Kamu cantik sekali memakai baju itu." Wajah Rendy sumringah.
"Iya, nenek saja sampai tidak mengenali kamu, Uni."
"Aku biasa saja, Nek. Tidak ada yang berubah."
"Iya kamu cantik sekali, Uni, dan gaun itu cocok sekali sama kamu," puji Nala.
"Kamu memiliki gaun, Uni? Bukannya kamu tidak suka memakai gaun?" celetuk Via.
"Ini sebenarnya aku dipinjami sama Ara. Aku memang tidak memiliki gaun. Apa aku terlihat aneh, Via?"
"Aku agak kaget saja sih melihat kamu memakai gaun, kan seumur-umur aku menjadi teman kamu tidak pernah melihat kamu memakai baju seperti itu, tapi kamu cantik kok. Cocok sekali."
"Apa kita bisa berangkat sekarang?" tanya Aro yang sudah mulai kesal melihat Rendy malah memperhatikan Uni dari tadi.
"Iya, ayo kita berangkat sekarang, aku tidak sabar membonceng pacar secantik kamu di atas motorku."
"Apa? Kamu mau menyuruh Uni naik motor kamu dengan pakaian seperti itu? Kamu mau membuat Uni malu dilihati orang di jalan?" tanya Aro ketus.
"Me-memangnya kenapa? Aku hanya memiliki motor."
Aro sudah mengepalkan erat salah satu tangannya. "Maksud Aro, kamu ke sana tidak perlu naik motor, kamu dan Uni ikut saja ke mobil Aro dan nanti sama Via juga. Kasihan Uni kalau naik motor dengan memakai gaun," jelas Nala.
"Iya, kamu itu katanya pacar, masak mau melihat pacarnya di lihatin oleh orang lain, seharusnya menjaganya," cela Ara.
"Maaf, aku terlalu terpesona saja melihat Uni tampil cantik malam ini." Uni hanya tersenyum kecil.
"Ara, David mana? Kenapa dia belum datang?" tanya Akira yang memang hanya David yang belum datang ke sana.
"Tadi sudah aku hubungi, Yah. Katanya dia masih ada di perjalanan, mungkin sebentar lagi dia sampai."
__ADS_1
"Ya sudah, kita tunggu saja di luar kalau begitu."
Mereka semua berjalan ke arah luar di mana mobil mereka sudah siap menunggu.