My Secret Love

My Secret Love
Saling Membuat Cemburu


__ADS_3

Uni bersikeras yang akan memakan ikan itu saja karena dia sudah memasukkannya kedalam bekal makanannya.


"Terserah kamu saja, kalau nanti kamu sakit perut jangan menyalahkan aku, Ya?"


"Tidak akan sakit perut, Aro, itu hanya ikan."


Tidak lama bel pintu rumah Akira berbunyi dan Uni yang membukakan pintunya.


"Hai, Uni!" Rendy dengan senyum lebarnya berdiri tepat di depan pintu.


"Rendy? Ada apa kamu ke sini pagi-pagi?"


"Aku mau menjemput kamu, Uni."


"Menjemput aku? Tapi aku nanti berangkat ke kampus dengan Aro dan Ara."


"Kamu masih mau berangkat dengan Aro? Katanya kamu mau menghindarinya, kenapa malah berangkat ke kampus dengan Aro?"


"Kita hanya bareng saja, tidak ada hal lainnya."


"Tapi tetap saja itu akan membuat Via nanti cemburu dan curiga lama-lama sama kamu. Kita kan sudah sepakat kalau kita akan terlihat seperti berpacaran benaran."


"Iya, tapi kamu juga jangan mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan."


"Kapan lagi, Nala," ucapnya lirih.


Uni akhirnya mengajak Rendy masuk dan mempertemukan dengan keluarga Nala.


"Loh! Ada Rendy, kamu ada apa pagi-pagi ke sini?"


Aro yang tadinya lahap makan seketika moodnya hancur melihat Rendy di sana. Dia pun menatap Rendy dengan pandangan sengit.


"Maaf kalau saya mengganggu makan pagi kalian. Saya ke sini mau menjemput Uni dan mengantarkan Uni ke kampus."


"Tapi Uni biasa diantar oleh putraku Aro dan nanti sama Ara juga, Ren," jelas Nala.


"Iya, Tante, tadi Uni sudah bilang sama saya, tapi saya dan Uni kan sudah jadian. Jadi sudah tugas saya untuk bertanggung jawab sama Uni. Mulai sekarang saya akan mengantar dan menjemput Uni. Bolehkan?"


"Boleh saja, itu namanya kekasih yang baik," jawab Akira.


Uni seketika melirik pada Aro yang mukanya sudah dingin saja seperti es.


"Baguslah, jadi aku tidak susah-susah mengantar Uni sehabis mengantar Ara dan Sifa," jawab Aro santai.


Ara yang melihatnya mengerutkan dahinya. Ini benaran mereka saling perang menunjukkan kemesraan dengan pasangan masing-masing, tapi Ara tau jika mereka berdua sama-sama sakit dengan hal ini.


"Kalau begitu kamu ikut dengan kita sarapan pagi dulu, Rendy. Ini semua masakan Uni, loh." Ajak Nenek Anjani.

__ADS_1


"Terima kasih, Nek."


Rendy duduk di sebelah Uni. Jadi Uni dihapit oleh Rendy dan Aro. Aro beranjak dari tempatnya.


"Aro, kamu mau ke mana?" tanya Nala.


"Mau mengambil ponselku. Aku mau menghubungi Sifa sebentar, aku lupa kemarin malam tidak menghubunginya." Aro berjalan menuju kamarnya. Uni hanya bisa terdiam melihat Aro.


Di dalam kamarnya Aro terlihat berdiri berkacak pinggang dengan kesal. Dia sangat kesal melihat Rendy ada di sana. "Pria bodoh itu kenapa bisa ada di sini. Kalau tidak ada keluargaku, ingin aku cekik saja dia," gerutunya marah.


Tidak lama ponsel Aro berdering dan ternyata itu Sifa yang menghubunginya. Aro menjawab panggilan dari Sifa. "Halo, Aro."


"Ada apa, Sif?" nada bicara Aro sangat ketus.


"Kamu kenapa sih? Sajen kamu kurang ya pagi-pagi? Kenapa jadi ketus begitu?"


"Aku benar-benar kesal dengan Uni."


"Kesal kenapa?"


"Kekasihnya datang ke sini dan ingin menjemputnya."


"Apa? Kekasihnya? Katamu dia tidak punya kekasih, kok sekarang ada?"


"Dia balik sama mantannya kemarin malam waktu di acara bazaar."


"Aku percaya dia mencintaiku, tapi aku tidak tau kenapa dia melakukan hal itu?"


"Kenapa kamu yakin dia sangat mencintaimu? Kamu tidak GR sendiri, kan, Aro?"


"Feelingku tidak pernah salah. Dia mencintaiku, dan kamu masih tetap mau membantuku atau tidak?"


"Tentu saja aku mau, aku bari kali ini melihat pria yang begitu percaya diri dan gigih mencintai seperti kamu, dan aku akan membantu kamu."


"Terima kasih. Nanti aku akan menjemput kamu ke rumah dan kita bicara sebentar."


"Okay, aku tunggu ya pangeran es." Sifa menutup panggilannya.


Aro menggenggam erat ponselnya dan dia berjalan keluar kembali ke ruang makan.


"Ara, aku antar kamu berangkat sekarang saja, nanti aku ada perlu dengan temanku di kampus."


"Bukannya kamu libur kuliah, Aro?"


"Iya, tapi ada yang masih harus aku urus."


"Nanti malam jangan lupa tentang undangan makan malam Om ya, Rendy? Dan teman kamu satu lagi. Siapa itu?"

__ADS_1


"Via, Ayah Akira. Nanti aku akan menghubungi Via untuk mengingatkannya."


"Ara, ayo!"


"Iya-iya! Bawel sekali."


Uni dan Rendy juga berpamitan pergi dari sana. Di luar Aro duduk di dalam mobil dan sebelahnya ada Ara.


"Uni kenapa bisa mau balikan sama mantannya itu sih?" Ara dan Aro melihat Uni yang duduk di atas motor di bonceng dengan Rendy.


"Dia sedang merencanakan sesuatu sepertinya," jawab Aro.


"Kamu sih! Kenapa pakai dekat dengan Sifa? Uni jadi cemburu dan akhirnya dia jadian sama mantannya. Jujur saja aku tidak suka sama pria itu."


"Uni yang bilang tertekan karena aku mengklaim dirinya menjadi kekasihku, dia tidak suka aku memaksanya."


"Ah sudahlah! Hubungan kalian benar-benar rumit. Kita berangkat saja kalau begitu."


Aro menjalankan mobilnya setelah motor Rendy pergi dari sana. Tidak lama Aro sampai di rumah Sifa dan Sifa menyapa mereka berdua. Ara pindah ke belakang dan mulai melihat kecentilan dari sahabatnya itu pada saudaranya.


Tidak lama mereka sampai di kampus Ara, Ara turun dan membiarkan Aro masih bicara dengan Sifa di dalam mobil.


"Dia tadi bicara denganku tentang sahabatnya yang menyukaiku yang bernama Via. Uni kelihatannya ingin sekali aku bisa bersama dengan Via padahal aku tidak pernah memiliki perasaan apa-apa pada Via walaupun dia satu kelas sama aku."


Sifa berpikir sebentar. "Kalau dari cerita kamu, sepertinya Uni sengaja ingin agar kamu jadian sama Via, makannya dia jadian sama mantannya. Sepertinya begitu."


"Apa benar seperti itu?"


"Ini sih pendapat aku dari semua cerita kamu. Bagaimana kalau kamu dekati saja Via itu? Eh! Apa Via itu cantik?"


"Cantik, dia baik sekali dan sangat menyayangi Uni. Dia juga orang berada. Kata Uni aku lebih pantas dengannya."


"Cantikan mana sama aku?" celetuk Sifa, gak penting sih sebenarnya pertanyaan Sifa.


"Cantikan Uni," jawab Aro singkat, padat dan jelas.


"Em ... itu sudah pasti kalau buat kamu." Sifa melengos kesal.


"Lalu sekarang aku harus apa?"


"Kalau begitu kamu buat saja seolah-olah kamu menyukai Via, biar tambah sakit itu hati Uni dan akhirnya dia mengakui mencintai kamu."


"Apa? Kamu gila? Kalau aku melakukan itu, bisa-bisa Via benaran mengira aku menyukainya dan akhirnya aku menyakiti hati dia karena aku hanya memanfaatkan dia saja."


"Jadi kamu masih mau setia pura-pura memiliki hubungan sama aku?"


"Kita jalankan saja rencana kita seperti semula, aku tidak mau melibatkan Via. Uni akan membenciku jika aku malah menyakiti Via."

__ADS_1


__ADS_2