
Kini Gilang sudah ada di dekat Gentala. Gentala langsung memapah sepupu nya itu yang hampir saja terjatuh saat berjalan.
Gilang segera meletakan tangan nya dan memegang bahu Gentala erat, “Bawa aku Gen. Bawa aku kemana saja. Aku ingin menenangkan hatiku. Hatiku sangat sakit. Rasa nya sangat perih saat mendengar sendiri dari bibir nya mereka sudah menikah. Aku sudah kalah. Benar benar kalah. Ku pikir aku masih punya harapan tapi ternyata tidak sama sekali. Yang ada, yang tersisa hanya penyesan dan kebodohanku saja. Aku tidak menyangka bahwa semua ini akan terjadi padaku. Entah kenapa ini semua terjadi. Aku pun tidak bisa berpikir sama sekali.” Ucap Gilang pada sepupu nya itu menahan tangis nya agar tidak tumpah ruah di sini.
Gentala bisa merasakan kesedihan dan air mata yang mencoba di tahan oleh sepupu nya itu, “Menangis lah Gilang. Jangan menahan nya. Tidak ada salah nya kita sebagai pria juga menangis. Itu sebagai bentuk pelampiasan dari rasa sakit. Siapa tahu aja setelah menangis semua rasa sakit yang kau rasakan itu akan berkurang. Tenang saja aku akan menyembunyikan tangisanmu itu dari orang orang.” Ucap Gentala.
“Jika memang begitu bawa aku ke mobil Gen. Aku ingin menumpahkan tangisanku di sana. Aku ingin menangis sekarang. Cepat bawa aku ke sana.” Ucap Gilang.
Gentala pun mengangguk, “Baiklah. Ayo. Aku akan segera membawamu ke sana.” Ucap Gentala segera memapah sepupu nya itu ke mobil yang tidak jauh dari tempat mereka berada.
Kini Gilang sudah berada di dalam mobil dan Gentala juga segera masuk ke dalam mobil. Seperti apa yang sudah dia katakan bahwa dia akan menangis maka Gilang pun menangis di dalam mobil itu. Air mata nya mengalir di pipi nya itu. Gilang menangis tanpa suara. Sangat sakit tapi dia menyadari bahwa semua itu karena kebodohan nya. Jadi saat ini dia sedang menangisi kebodohan nya itu. Tidak ada yang salah dengan apa yang terjadi. Hanya saja takdir memang tidak sedang berpihak pada nya. Dia berada di pihak yang tidak beruntung.
Gentala hanya membiarkan saja sepupu nya itu menangis. Gentala bahkan hanya menggeser kotak tisu yang ada di mobil itu ke dekat sepupu nya agar sepupu nya lebih mudah untuk meraih nya. Dia tahu sepupu nya sedang berada di mode patah hati tingkat tinggi. Dia tidak akan mengganggu sepupu nya itu.
“Kita akan ke mana? Kau ingin aku membawamu ke mana?” tanya Gentala setelah beberapa saat dan menurut nya sepupu nya itu lebih tenang dari sebelum nya.
“Ke mana saja Gen. Terserah padamu mau membawaku ke mana.” Jawab Gilang.
“Apa jika aku membawamu ke akhirat kau pun setuju?” tanya Gentala.
Gilang segera menggeleng lemah, “Aku masih ingin hidup Gen. Jangan dulu bawa aku ke sana. Aku masih ingin melihat senyum nya. Aku ingin melihat dia mengadakan pesta pernikahan nya. Aku ingin melihat nya memakai gaun pengantin walaupun tidak bersanding denganku. Jadi jangan bawa aku ke akhirat. Bawa aku ke tempat di mana aku bisa menenangkan hatiku.” Ucap Gilang.
Gentala pun hanya tersenyum mendengar ucapan sepupu nya itu. Ternyata walau sedang patah hati tapi sepupu nya itu belum kehilangan akal nya untuk tetap waras. Dia ternyata masih takut mati. Syukur lah jika memang begitu. Setidak nya hanya hati nya yang terluka bukan kewarasan nya. Itu yang paling penting. Dia tidak boleh kehilangan sepupu nya itu. Sepupu yang selalu memperlakukan nya seperti asisten nya padahal kekayaan yang mereka miliki tidak jauh berbeda. Namun dia tidak keberatan sama sekali karena bagi nya Gilang adalah saudara nya. Jujur saja dia sedih ketika melihat saudara nya itu sedih tapi mau bagaimana lagi. Ini lah yang terbaik. Dia hanya bisa berdoa semoga patah hati sepupu nya itu bisa segera sembuh.
Gentala pun segera menghidupkan mobil dan tidak lama segera meninggalkan area kampus itu menuju tempat di mana yang Gentala pikir bisa membuat sepupu nya itu sedikit lebih tenang.
Dalam perjalanan menuju tempat yang entah lah hanya Gentala yang tahu, Gilang masih memikirkan apa yang di katakan oleh gadis yang dia cintai itu beberapa menit lalu.
Flash back on
“Aku dan mas Azzam adalah pasangan suami istri. Kami sudah menikah.” Itu adalah suara Husna yang sangat menembus jantung nya dan terasa sangat sakit sampai ke ulu hati nya.
“Kau adalah pria baik Gilang. Aku menghargai cinta dan ketulusan yang kau miliki itu. Terima kasih sudah mencintaiku setulus itu. Aku sekali lagi mengucapkan terima kasih sebesar-besar nya padamu. Tapi maafkan aku. Sungguh aku benar-benar minta maaf karena aku tidak bisa membalas perasaanmu ini. Aku akan berdoa kepada Allah akan dia memberikanmu pasangan yang juga sama tulus nya dengan mu Gilang.” Ucap Husna tersenyum lalu dia menatap suami nya yang juga ikut tersenyum.
__ADS_1
“Gilang, terima kasih sudah mencintai istriku sedalam itu. Tapi aku sebagai suami nya juga tidak akan rela jika harus merelakan istriku itu kepadamu. Aku juga akan berdoa kepada yang maha kuasa agar dia menuliskan seseorang yang baik pada takdirmu.” Ucap Azzam menepuk bahu Gilang itu.
Gilang rasa nya ingin menangis saja di sana mendengar ucapan Husna dan Azzam itu tapi semua nya berusaha dia tahan.
“Aku punya satu permintaan terakhir padamu Na. Aku janji setelah ini aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Aku janji.” Ucap Gilang.
“Katakan. Jika kau bisa mewujudkan nya maka akan aku wujudkan.” Ucap Husna.
“Aku ingin kau menepati janjimu untukku.” Ucap Gilang menatap gadis dengan iris mata amber itu lekat.
Husna yang mendengar ucapan Gilang pun menjadi bingung sendiri, “Janji? Janji apa? Apa aku pernah menjanjikan sesuatu kepada mu ketua tingkat?” tanya Husna sambil berpikir di mana dia berjanji pada Gilang itu tapi dia tidak mengingat nya.
Gilang tersenyum miris. Pupus sudah harapan nya itu. Dia bukan lah seseorang yang special di hati Husna hingga janji yang di katakan gadis itu pun tidak lagi dia ingat. Tapi dia tidak akan membenci Husna karena hal itu. Dia tahu Husna adalah seseorang yang cuek dengan sekitar nya maka lupa adalah sesuatu yang sudah seharus nya menjadi hal wajar.
“Kau berjanji untuk main bersama kami Na. Janji itu kau buat saat kita baru saja selesai KKN. Kau menolak untuk bergabung dengan kami saat itu. Jadi bisa kah kau menepati janji itu untukku. Sebuah makan malam di tempat favoritku. Itu pun jika pak Azzam mengizinkan.” Ucap Gilang menelan kasar ludah nya itu yang sebenar nya terasa tercekat dalam tenggorokan nya.
Husna yang mendengar itu pun seketika ingat dengan janji nya itu, “Ahh aku ingat.” Ucap Husna lalu segera menatap suami nya untuk meminta izin agar di izinkan untuk menepati janji nya itu. Azzam pun mengangguk perlahan.
Gilang pun tersenyum miris lalu dia mengangguk, “Baiklah begitu saja. Terima kasih atas kemurahan hati anda pak.” Ucap Gilang.
Azzam dan Husna pun hanya saling memandang saja lalu setelah itu mereka segera pamit pulang karena jujur saja kini mereka sudah jadi pusat perhatian. Sudah mulai banyak mahasiswa yang mendekati fakultas itu padahal tadi nya tidak ada karena mereka sibuk dengan urusan mereka.
Gilang pun hanya bisa melihat kepergian mobil Azzam dan Husna dengan tatapan pilu sebelum dia berbalik dan mendekati Gentala di sana di tempat persembunyian nya.
Flash back off
***
Sementara kini di sisi Azzam dan Husna, kedua nya saling diam satu sama lain larut dalam pikiran masing-masing. Sungguh, kejadian hari ini di luar dari prediksi mereka. Mulai dari ponsel Azzam yang di kepoin oleh Kirana lalu Gilang dengan segala ungkapan hati nya itu.
“Mas!” panggil Husna setelah lama hening. Dia menatap suami nya itu.
“Ada apa sayang? Katakan saja. Apa kau butuh sesuatu?” tanya Azzam tetap focus dengan jalanan di hadapan nya itu.
__ADS_1
Husna menggeleng, “Aku harap mas tidak marah padaku karena kejadian hari ini. Sungguh aku pun tak tahu bahwa ketua tingkatku itu memiliki perasaan padaku.” Ucap Husna merasa bersalah.
Azzam pun tersenyum lalu menepikan mobil nya itu sebentar. Dia tidak ingin menyetir saat sedang bicara apalagi jika pembicaraan mereka itu cukup serius seperti ini. Azzam segera membawa istri nya itu ke dalam pelukan nya. Dia segera menenangkan istri nya itu dari rasa bersalah nya. Azzam tentu tidak menyalahkan istri nya itu untuk hal ini karena memang istri nya itu tidak bersalah sama sekali. Semua orang punya hak untuk mencintai siapa saja. Lagi pula hati kita tidak bisa memilih harus kemana dia berlabuh.
“Tenang lah sayang. Mas gak marah padamu. Walau pun mas sedikit cemburu tadi karena bisa bisa nya di hadapan mas sendiri ada seseorang yang berani mengungkapkan perasaan nya itu kepadamu.” Ucap Azzam lalu melepas pelukan nya itu dan menatap lekat wajah cantik milik istri nya.
Husna pun memandang suami nya itu dengan tatapan penuh kasih sayang, “Ma--” ucap Husna terhenti.
Cup
Satu kecupan lembut dan singkat mendarat di bibir nya itu, “Jangan katakan kata maaf sayang. Kamu tidak salah. Semua orang punya hak untuk mencintai orang lain. Mas justru bangga padamu karena menolak nya dengan tegas dan tetap memilih mas sebagai suamimu. Mas pikir kamu akan berubah pikiran karena mengingat kau pernah membelikan hadiah ulang tahun kepada nya.” Ucap Azzam.
“Mas jangan katakan itu. Hadiah itu tidak berarti apapun untukku. Itu hanyalah hadiah yang tidak memiliki arti apapun untukku. Aku yang hanya bingung mau pergi ke ulang tahun tidak membawa apapun akhirnya membeli apa yang menurutku berguna dan bisa dia pakai.” Ucap Husna menjelaskan apa yang sebenar nya karena dia tidak ingin ada kesalahpahaman yang terjadi antara diri nya dan suami nya itu. Dia tidak ingin ada sesuatu yang salah lagi.
Azzam pun tersenyum, “Mas juga tidak menyalahkanmu untuk itu sayang. Hanya saja mas ingin bertanya.” Ucap Azzam memandangi istri nya itu.
Husna pun menatap suami nya itu lekat, “Hum, katakan saja apa yang ingin mas tanyakan?” ucap Husna.
“Kapan kamu berjanji pada nya?” tanya Azzam.
“Janji? Ouh itu. Saat kami baru saja pulang dari KKN. Mereka mengajakku untuk berkumpul bersama di restoran atau hotel sebagai bentuk perayaan mereka telah menyelesaikan KKN dan sebagai tanda awal bahwa mereka akan memulai penelitian dan berjuang sendiri. Tapi aku tidak bisa ikut saat itu karena apa yaa? Kok aku lupa. Ahh itu aku harus menyiapkan novelku kalau gak salah. Aku juga kurang ingat. Tapi satu hal yang pasti aku lelah dan menurutku menghadiri perayaan hanya akan menambah daftar lelah ku saja. Bukan nya ketenangan yang di dapat justru lelah. Jadi aku lebih memilih pulang ke rumah tapi ternyata begitu aku tiba di rumah di sana sudah ada Gus Rahman dan keluarga nya menuntut penjelasan akan lamaran yang mereka ajukan. Aku yang ingin segera tidur di ranjang empuk milikku ternyata harus di tunda untuk dan harus menjelaskan lamaran aneh itu.” ucap Husna panjang lebar tanpa menyadari perubahan raut wajah sang suami yang berubah cemberut saat Husna menyebut Gus Rahman.
Dia jadi teringat kejadian di kebun teh lalu kejadian menonton di bioskop waktu itu.
“Sayang, mas cemburu kau menyebut gus Rahman.” Ucap Azzam jujur.
Husna yang mendengar itu pun tersenyum, “Untuk apa mas cemburu. Sekarang aku adalah milikmu. Kau lah pemenang nya mas. Kau yang pria pertama kali memelukku tentu saja selain pelukan dari abi. Kau lah yang pertama berbagi tempat tidur denganku. Kau lah yang pertama kali berbagi kamar denganku dan kau lah yang pertama kali mengambil first kissku. Jadi untuk apa kau cemburu pada seseorang yang ku tolak.” Ucap Husna tersenyum memandangi suami nya itu.
Azzam pun ikut tersenyum dan membenarkan ucapan istri nya itu. Dia memang pemenang atas gadis di hadapan nya itu. Jadi untuk apa cemburu dengan masa lalu istri nya yang bahkan di tolak oleh istri nya itu. Dia adalah pria ke sebelas yang akhirnya menjadi pemenang saat ini dan kini memiliki status sebagai suami dari gadis yang memiliki banyak julukan tapi julukan yang terkenal yaitu si misterius.
“Mas penasaran kenapa kau tidak menerima lamaran dari Gus Rahman itu padahal jika di pikir-pikir dia baik dari segala hal. Anak seorang kyai dengan pondok pesantren yang besar. Lalu pasti sangat paham agama.” Ucap Azzam.
“Apa mas sedang merasa minder saat ini? Jangan merasa seperti itu mas. Aku memang tidak merasa cocok saja dengan kehidupan pesantren yang pasti nya sangat kental dengan nuansa agama. Aku tidak terbiasa dengan hal itu. Aku memang bukan gadis bebas tapi aku juga tidak ingin mengurung diriku di balik cangkar emas yang menjadi yang bernama pesantren.” Ucap Husna.
__ADS_1