
Seminggu berlalu dengan sangat cepat, kini Husna sedang menyapu di kediaman suami nya itu. Selama seminggu ini adik ipar nya tidak pulang ke kediaman ini dan tetap menginap dan tinggal di kediaman utama miliki kedua orang tua Husna. Entah apa alasan sampai adik ipar nya itu tidak kembali ke kediaman ini sejak seminggu lalu.
Husna yang saat hanya sendiri di kediaman suami nya itu sedang menyapu lalu dia menatap foto kedua orang tua suami nya yang tertempel di dinding ruang keluarga itu, “Kenapa semakin aku menatap foto kalian, aku semakin merasa tidak asing. Aku merasa seperti pernah bertemu kalian. Tapi aku tak tahu di mana itu terjadi. Tapi yang pasti dan aku sangat yakin. Entah kepan itu. Ahh iya perkenalkan aku menantu kalian. Maaf belum mengunjungi kalian secara langsung. Terima kasih sudah melahirkan putra sebaik mas Azzam.” Ucap Husna memandangi foto itu.
Yah, selama seminggu ini kehidupan rumah kedua nya berjalan dengan sangat baik tanpa kendala apapun. Mereka sedang menikmati masa-masa pengantin baru mereka itu walaupun sudah bisa di katakan sudah hampir expired. Kedua nya sudah tidak canggung lagi satu sama lain.
Setelah selesai menyapu dan memastikan bahwa semua lantai rumah itu bersih, Husna pun segera menuju kamar dan memulai menyusun penelitian nya. Dia ingin segera melakukan sidang secepat nya dan cepat lulus dari kampus nya yang lumayan memberi nya pengalaman tapi di akhir memberi nya kenangan buruk karena kejadian yang terjadi pada mereka.
Husna yang sedang menyusun penelitian nya dengan di temani oleh segelas es teh manis itu pun serius dengan mengolah semua data nya. Hingga tiba-tiba ponsel nya berdering dan Husna pun segera meraih ponsel nya dan tersenyum begitu melihat siapa yang menelpon nya yang tentu saja adalah suami nya.
“Halo, Assalamu’alaikum mas.” Salam Husna sambil melambaikan tangan kepada suami nya karena memang itu adalah panggilan video call.
“Wa’alaikum salam sayang. Sibuk apa?” tanya Azzam dari seberang sana.
“Sedang menyusun skripsi mas.” Jawab Husna.
Azzam pun mengangguk, “Ohiya sayang, apa kamu mau titip sesuatu nanti setelah mas pulang? Mas tinggal punya sekelas lagi lalu akan pulang.” Ujar Azzam.
Husna pun terdiam lalu berpikir, Azzam di sana yang melihat ekspresi istri nya itu pun menjadi gemas sendiri, “Sayang, kamu sangat menggemaskan.” Ucap Azzam.
Husna pun terkekeh mendengar ucapan suami nya yang sudah sangat dia hafal itu karena memang suami nya itu sering mengatakan nya, “Jadi apa?” tanya Azzam.
“Hum, aku mau pesan teh tapi rasa melati ya mas. Di rumah teh rasa melati sudah habis tinggal original saja. Ohiya, jika bisa mau sekalian sama kue rasa green tea.” Ucap Husna dengan ekspresi manja.
Azzam pun mengangguk, “Baiklah. Apa hanya itu saja? Gak mau yang lain? Coklat?” tanya Azzam lagi.
“Coklat? Ck, kan masih ada mas. Lagi pula aku tidak begitu suka coklat dan akhir-akhir ini aku lagi malas bolak balik sikat gigi. Bagaimana jika gigiku berlubang nanti karena kebanyakan makan coklat. Jadi gak dulu deh. Masih banyak mas. Ini hanya sedang ku tonton saja dus coklat nya.” Ucap Husna sambil mengubah kameran ponsel nya itu dan mengarahkan nya pada dua dus coklat yang ada di meja kerja nya yang di letakkan di kamar mereka itu.
Azzam pun tersenyum lalu mengangguk, “Ahh baiklah sayang. Berarti hanya teh rasa melati sama kue green tea.” Ucap Azzam memastikan titipan istri nya itu.
Husna pun mengangguk tersenyum, “Um,,” ucap Husna.
Setelah itu sambungan video call di antara mereka pun terputus satu sama lain. Lalu Husna pun kembali fokus dengan skripsi nya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 11.14, Husna pun segera menutup laptop nya karena dia ingin memasak makan siang untuk nya dan suami nya yang seperti nya sebentar lagi akan tiba.
Husna pun segera menuju dapur dan melihat bahan makanan yang ada di dalam kulkas nya dan untuk makan siang kali ini, dia memutuskan untuk memasak makanan Jepang.
Husna pun mulai berperang dengan alat-alat masak di dapur nya itu hingga saat dia hampir selesai memasak. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kediaman itu.
Husna pun menuju pintu depan dan tersenyum melihat siapa yang datang yang ternyata adalah adik ipar nya dan Andita.
“Ayo, masuk dek, Dita.” Ucap Husna membukakan pintu untuk kedua gadis itu.
“Assalamu’alaikum.” Ucap Zahra dan Andita segera melangkah masuk.
“Wa’alaikum salam. Silahkan duduk. Aku mau ke dapur sebentar ya.” Ucap Husna lalu segera kembali menuju dapur.
Andita dan Zahra bukan nya duduk tapi malah mengekori Husna menuju dapur, “Wah, wangi banget makanan nya. Membuatku lapar saja kakak ipar.” Ucap Zahra.
Husna pun hanya tersenyum lalu segera menyelesaikan memasak nya itu.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu ada lagi yang mengetuk pintu tapi langsung masuk karena ternyata itu adalah Azzam yang baru saja pulang.
“Abang!” ucap Zahra heboh memanggil Azzam itu.
Azzam pun hanya bisa menggelengkan kepala nya mendengar panggilan adik nya itu. Husna segera mendekati suami nya itu dan menyalami nya yang tentu saja di balas oleh Azzam dengan kecupan di kening, “Ck, kak Dita seperti nya kita salah datang ke sini. Lihat lah kita jadi penonton kemesraan mereka.” ucap Zahra dramatis.
Azzam dan Husna pun tersenyum mendengar itu. Sementara Andita juga ikut tersenyum dan berbahagia melihat teman nya itu bahagia dan di cintai oleh suami nya sebegitu nya hingga membuat nya ingin menceritakan sesuatu kepada Husna terkait Gilang seperti nya harus di tunda. Dia tidak ingin membuat suasana canggung yang tercipta antara mereka nanti.
Azzam segera menuju kamar untuk berganti pakaian sementara Husna kembali menata makanan di atas meja makan dengan di bantu oleh Zahra dan Andita. Tidak lama Azzam kembali turun dengan pakaian santai nya dan segera menuju meja makan.
“Ayo, ikut makan dek, Dita.” Ucap Husna.
Zahra dan Andita pun ikut saja dan mereka pun menikmati makan siang itu bersama.
***
Selepas makan siang, kini Azzam segera meninggalkan istri nya itu dengan adik nya dan juga Andita, “Makan lah.” Ucap Husna menghidangkan kue yang di beli oleh sang suami saat pulang tadi. Kue pesanan nya.
“Apa green tea?” tanya Andita bisa menghirup aroma tea dari kue itu.
Husna pun mengangguk, “Hum, kakak ipar apa sebegitu suka nya kau kepada teh sehingga semua jenis teh kau suka?” tanya Zahra lalu mengambil sepotong kue rasa green tea. Hanya untuk mencoba nya karena jujur saja dia tidak begitu menyukai rasa teh.
“Ayo Dita ambil lah.” Ucap Husna. Andita pun mengangguk lalu dia juga segera mengambil sepotong kue itu.
“Ohiya, adik ipar kenapa kau gak pulang seminggu ini?” tanya Husna menatap adik ipar nya.
Zahra pun tersenyum lalu melirik Andita sekilas, “Ah itu--”
“Itu karena abi dan umi ingin abang dan kakak ipar segera memiliki anak. Mereka ingin segera memiliki cucu. Jadi aku di minta untuk tidak mengganggu kalian di sini. Eehh, kakak ipar ingat aku tidak di paksa untuk melakukan itu karena aku juga dengan senang hati melakukan nya. Aku ingin segera memeluk keponakan kecilku itu yang akan memiliki perpaduan iris mata kalian. Amber dan abu-abu. Ahh pasti cantik dan tampan.” Ucap Zahra mulai menghayal.
Husna pun tertawa mendengar ucapan adik ipar nya itu yang sudah mulai masuk ke dunia halu nya lagi, “Apa memang abi dan umi yang mengatakan itu?” tanya Husna.
Zahra pun mengangguk yakin, “Jika kakak ipar tidak percaya coba tanya sama kak Dita. Kak Dita juga ada di sana saat umi dan abi mengatakan itu.” ucap Zahra.
Husna pun menatap ke arah Andita dan terlihat gadis itu juga mengangguk membenarkan apa yang di katakan oleh Zahra, “Itu benar Na. Umi dan abimu mengatakan itu kepada nya maka nya meminta nya untuk tinggal di sana.” Ucap Andita.
Husna pun mengangguk mengerti, “Hum, begitu yaa.” Ucap Husna.
“Iya kakak ipar.” Jawab Zahra.
“Lalu sampai kapan Zahra akan terus tinggal di sana?” tanya Husna.
Zahra pun tampak berpikir, “Aku sudah memikirkan hal ini kakak ipar dan seperti nya aku akan terus di sana karena abi dan umi memintaku untuk tinggal di sana.” Ucap Zahra.
“Begitu ya?” tanya Husna.
Zahra pun segera mendekati Husna dan memeluk nya, “Kakak ipar, apa kau marah aku tinggal di sana? Aku akan kembali ke sini jika kau tidak setuju. Aku akan tinggal bersamamu.” Ucap Zahra.
Husna tersenyum lalu menggeleng, “Kakak gak apa-apa dek. Kakak senang kok kamu tinggal di sana. Abi dan umi pasti tidak kesepian karena kau ada di sana menemani mereka. Kakak tahu walau tanpa mereka katakan sebenar nya mereka rindu kepada kakak tapi mereka menghormati keputusan yang kami ambi. Jadi kakak hanya bisa merepotkanmu dek untuk menjaga mereka dan membuat mereka tidak begitu kesepian. Tolong jaga mereka untuk kakak.” Ucap Husna.
Zahra pun mengangguk, “Tentu kakak ipar. Aku akan menjaga mereka dengan baik. Aku merasa memiliki orang tua lagi saat abi dan umi mengizinkanku menganggap mereka sebagai orang tuaku. Terima kasih kakak ipar. Aku menyayangimu.” Ucap Zahra senang,
Husna pun tersenyum lalu menatap Andita, “Dita, bagaimana dengan ibumu?” tanya Husna.
__ADS_1
“Ibu? Dia baik-baik saja Na. Dia senang bekerja merawat bunga-bunga itu. Terima kasih sudah menolong kami dan memberi kami tempat tinggal. Aku tidak akan lupa kebaikanmu ini.” ucap Andita.
“Aku hanya perantara saja Dita. Ini semua memang sudah jadi rencana yang maha kuasa untuk menolongmu.” Ucap Husna. Cukup lama mereka bercerita lalu setelah puas bercerita. Zahra dan Andita pun segera pamit pulang.
***
Setelah Zahra dan Andita pulang, Husna pun segera menuju kamar menyusul suami nya itu yang ternyata sedang membaca pengolahan data penelitian nya di laptop nya.
“Mas, apa yang kamu lihat. Belum selesai mas.” Ucap Husna mendekati suami nya itu.
Azzam pun menoleh dan tersenyum menatap istri nya itu, “Apa mereka sudah pulang?” tanya Azzam yang langsung menarik Husna agar duduk di pangkuan nya.
Husna pun mengangguk, “Yah, mereka sudah pulang.” Ucap Husna lalu hendak menutup laptop nya tapi di tahan oleh Azzam.
Azzam menggeleng, “No, jangan lakukan itu sayang. Aku ini sedang belajar dari pengolahan datamu yang seperti nya terkesan lebih mudah dan cepat.” Ucap Azzam.
“Ck, mas tapi itu belum selesai.” Ucap Husna.
“Gak apa-apa. Justru karena belum selesai itu mas akan melakukan bimbingan khusus kepadamu sehingga kau tidak perlu ke kampus lagi dan akan segera ujian.” Ucap Azzam.
Husna menggeleng, “Jangan lakukan itu mas. Aku ingin menaati peraturan kampus walaupun setelah ini kita akan keluar dari sana.” Ucap Husna.
“Selain itu juga mas yang mengatakan bahwa jika ingin melakukan bimbingan maka itu di kampus bukan di rumah. Status kita hanya di kampus sebagai mahasiswi dan dosen nya sedangkan jika berada di rumah adalah pasangan.” Ucap Husna.
Azzam pun tersenyum lalu mencuri kecupan kecil di bibir istri nya itu yang sudah jadi candu untuk nya.
“Mas!” protes Husna menatap suami nya itu tajam. Azzam bukan nya takut malah tertawa karena menurut nya istri nya itu justru terlihat menggemaskan saat sedang marah.
“Memang benar mas mengatakan bahwa bimbingan skripsi harus di lakukan di kampus tapi ada kan bimbingan lain yang tidak harus di lakukan di kampus tapi harus di rumah.” Ucap Azzam tersenyum menggoda.
“Mas, sejak kapan mas berubah mesum begitu?” tanya Husna menyembunyikan kepala nya di dada suami nya itu.
Azzam pun terkekeh lalu segera menggendong Husna menuju ranjang dan langsung menindih nya, “Mas, mau apa? Ini masih siang mas.” Ucap Husna dengan wajah gugup nya.
Azzam pun tertawa, “Mas gak mau ngapa-ngapain sayang. Hanya mau memberikanmu kecupan kasih sayang saja.” ucap Azzam lalu segera melabuhkan kecupan di kening istri nya itu lembut.
Setelah itu Azzam pun segera berbaring di sisi istri nya, “Mas, aku mau tanya sesuatu?” ucap Husna menatap suami nya itu.
“Hum, tanyakan saja. Mau tanya apa?” tanya Azzam.
“Apa mas tahu apa alasan Zahra gak balik selama seminggu ini?” tanya Husna.
Azzam pun diam lalu menggeleng, “Mas gak tahu sayang dan tadi juga belum sempat tanya kepada nya. Ahh apa kau ingin dia pulang ke sini? Mas akan menyuruh nya pulang.” Ucap Azzam.
Husna menggeleng, “Bukan begitu mas. Aku senang dia tinggal bersama abi dan umi. Dengan begitu juga ada yang menjaga umi dan abi agar mereka tidak terlalu kesepian.” ucap Husna.
“Hanya saja alasan dia tinggal di sana yang membuatku khawatir.” Sambung Husna.
“Emang kenapa? Ada apa? Katakan.” Ucap Azzam.
“Umi dan Abi meminta nya tinggal di sana karena mereka ingin memberi kesempatan kepada kita untuk membuat cucu untuk mereka.” Husna menjeda kalimat nya itu.
“Jadi apa mas juga ingin segera memiliki anak?” lanjut Husna bertanya.
__ADS_1