My Secret Love

My Secret Love
Sangat Mengejutkan


__ADS_3

Nala melirik pada Akira. Silvia mengambil cangkir coklat hangatnya dan memberikan pada Akira.


"Coba kamu minum coklat buatan aku, pasti kamu juga suka."


"Iya." Akira mengambil cangkirnya dan menyeruput coklat buatan Silvia.


"Bagaimana rasanya? Enakkan? Tidak kalah sama bikinan Nala."


"Iya, enak." Akira tersenyum kecil.


"Kalau begitu, biar buatan Nala di bawa oleh Nala lagi. Buat kamu saja itu Nala," kata Silvia.


Nala mengambil lagi cangkirnya dan akan membawanya pergi.


"Nala, biarkan saja di mejaku, biar nanti aku akan meminumnya. Aku menghargai apa yang sudah Nala buatkan."


"Tidak apa-apa, Pak. Saya bisa meminumnya nanti."


"Kamu tidak dengar perintahku? Aku bilang letakkan ya letakkan," ucapnya tegas.


Nala akhirnya meletakkan kembali cangkirnya. Lalu Nala izin pergi dari sana. Akira duduk di kursinya. Silvia berjalan mengikuti Akira.


"Akira, kamu kenapa aku lihat sangat perhatian sekali pada Nala?"


"Dia karyawanku yang baik, apalagi dia sedang hamil dan suaminya sering luar kota."


Bisa ya ini si Akira. Wkakakakak!


"Kamu memang seorang atasan yang sangat baik." Silvia berdiri di samping kursi Akira dan membungkukkan tubunya sebagia. Wajah Silvia mendekat ke arah Akira.


"Kamu tidak mau kembali ke meja kamu? Tidak enak nanti jika ada karyawan lain yang curiga kenapa kamu lama sekali di ruanganku?"


"Akira, kapan istri kamu kembali? Aku ingin sekali bisa berjalan-jalan dengan kamu. Bahkan kita bisa mengobrol dan bersenang-senang dengan kamu."


"Nanti aku akan mencarikan waktu untuk kita berdua supaya bisa bertemu."


"Baiklah! Aku akan menunggu kamu. Bye, Baby." Silvia mengusap pelan bibir Akira dengan jari telunjuknya.


Silvia berjalan dengan menggodanya keluar dari ruangan Akira. "Damn It! Memangnya aku bayi? Kalau Nala yang memanggilku begitu aku senang sekali, apalagi dia mengusap bibirku dengan telunjuknya." Akira membersihkan bibirnya dengan tissu.

__ADS_1


"Aku harus segera menjalankan rencana, akan aku buat dia terlena dengan minuman dan akhirnya dia sendiri yang akan mengaku." Akira menghabiskan coklat buatan Nala.


Di pantry Nala sedang berbincang dengan Mba Sari. "Nala, bagaimana soal foto kemarin? Apa kata Pak Akira?"


"Pak Akira menceritakan kenapa dia bisa di peluk oleh Silvia. Itu hanya salah paham saja."


"Aku sudah menduga jika Pak Akira tidak akan berbuat seperti itu."


Tiba-tiba Silvia masuk ke dalam pantry. Nala yang melihatnya tampak terkejut dan berdiri.


"Silvia, ada apa ke sini? Apa kamu membutuhkan sesuatu, biar aku yang membuatkan?" tanya Nala.


"Nala, aku cuma mau bilang kalau mulai besok biar aku yang membuatkan minuman untuk Pak Akira dan jika Pak Akira mau makan siang, aku akan mengurusnya. Kamu tidak perlu capek-capek, apalagi kamu sedang hamil. Kamu paham, Kan?"


Nala hanya mengangguk perlahan dan Silvia keluar dari ruangan pantry. Ini orang malah benar-benar sok banget. Dia merasa Akira sudah menyukainya jadi dia merasa di atas awan. Habis ini dia bakal bangun dari mimpi manisnya.


"Nala, dia itu kenapa? Kok seolah dia istrinya Pak Akira?" Mba Sari terkekeh aneh.


"Aku tidak tau, mungkin dia ingin menarik perhatian Pak Akira."


"Ampun! Dia itu apa tidak tau jika Pak Akira sudah memiliki seorang istri. Wah! Ini kesalahan bukan pada Pak Akira. Memang aku lihat Silvia itu sepertinya ingin menggoda Pak Akira."


"Iya, kita hanya OB di sini jadi tidak pantas kita mencampuri masalah ini. Cuma kasihan saja sama istrinya Pak Akira nantinya. Kalau aku jadi istrinya, aku akan jambak itu Silvia kalau masih nekat menggoda suamiku."


Nala hanya tersenyum kecil. 'Andai saja ini bukan rencana mereka pasti Nala akan menyuruh Akira memecat Silvia.'


Siang itu Akira tidak bisa mengajak Nala makan siang, jadinya Nala makan siang di kantin dengan teman-teman office girl lainnya. Silvia masuk ke dalam ruangan Akira membawa goodie bag berisi makanan untuk Akira.


"Akira, aku mau mengajak makan siang. Aku membawakan kamu makanan yang tadi aku pesan, aku harap kamu menyukainya.


Silvia dengan senang membuka makanan itu dan duduk di ruang tamu mini di sana. Akira hanya terdiam melihat Silvia yang tampak sibuk membuka makan siang yang di bawanya.


"Kamu tidak makan siang dengan karyawan lainnya?" tanya Akira yang duduk di kursi kebanggannya.


"Aku ingin makan siang sama kamu dan kalau bisa setiap jam makan siang aku akan membawakan kamu makan siang ke sini."


Setelaha menyiapkan semua, Silvia berdiri dari tempatnya dan berjalan ke arah Akira, dia menarik tangan Akira untuk pindah ke ruang tamu mini di mana dia sudah menyediakan makanan di atas meja.


"Udang?" Akira melihat ada udang yang di masak dengan bumbu merah.

__ADS_1


"Iya, ini enak sekali, Akira."


"Maaf, tapi aku alergi udang."


"Apa? Jadi kamu alergi udang? Maaf, aku tidak tau. Kalau begitu makan saja yang lainnya. Ini ada rendang dan bihun, kamu makan itu saja, biar aku yang makan udangnya."


Akira ini bingung, bagaimana mencari cara agar membuat Silvia keluar dari ruangannya, tapi tidak membuat Silvia tersinggung yang mencurigai Akira tidak menyukainya?"


Tidak lama terdengar suara pintu di ketuk oleh seseorang dari luar. Akira beranjak dari tempatnya dan membuka pintu ruangannya.


"Akira."


Kedua pupil mata Akira membesar melihat siapa yang ada di hadapannya. "Mommy, Daddy, kalian ada di sini?"


"Halo, Nak." Pria paruh baya yang memiliki postur tinggi besar itu memeluk putranya.


Kei dan Addrian masuk ke dalam ruangan Akira dan mereka melihat ada Silvia di sana. Silvia yang melihat kedua orang tua Akira langsung berdiri di tempatnya.


"Dia siapa, Nak?" tanya Addrian tegas melihat dengan dingin ke arah Silvia.


"Daddy, dia Silvia karyawan baru di sini. Dia tadi aku suruh untuk menyiapkan makan siang untukku."


"Saya Silvia. Kalian berdua orang tua Akira?"


"Akira? Apa kamu temannya Akira? Dia atasan kamu, bukan teman kamu," ucap Addrian tegas.


"Maaf, maksud saya Pak Akira. Kalau begitu saya permisi dulu."


"Dia karyawan baru? Tapi kenapa sikapnya seperti itu? Kamu tidak ada hubungan sama dia, kan? Dia tidak sepadan dengan kamu."


"Dad, kenapa datang tiba-tiba berbicara masalah itu? Kalian duduklah dulu."


Silvia yang di depan pintu mendengar ucapan orang tua Akira. "Ternyata ayahnya sangat dingin dan menakutkan. Kalau mereka di sini, bagaimana aku bisa mendekati Akira?"


Silvia memilih pergi dari sana daripada nanti dia ketahuan menguping bisa-bisa dia dapat masalah besar.


"Akira, bagaimana kabar kamu? Mommy sangat merindukan kamu. Kamu lama sekali tidak memberi kabar."


"Maaf, aku sedang sibuk untuk mengurus perusahaan baruku, Mom."

__ADS_1


"Akira, kenapa kamu memilih mengurus perusahaan kecil seperti ini. Lalu yang di sana kamu percayakan pada Reno? Apa dia bisa?"


__ADS_2