
Wanita paruh baya itu berdiri dan mengusap puncak kepala cucunya. "Kamu memikirkan apa?"
"Tidak ada, Nek."
"Kalau begitu nanti malam kamu pergi ke rumah utama, ayah kamu pasti senang bertemu dengan kamu."
"Nanti aku akan ke sana."
Wanita paruh baya itu melihat aneh wajah cucunya. "Dean, kamu tidak mencintai gadis itu, kan?"
"Siapa maksud nenek?"
"Ara. Apa kamu jatuh cinta sama dia?" Kedua matanya menelisik.
"Apa kalian akan membiarkan aku jika aku jatuh cinta dengannya?" Dean berdiri dari tempatnya. "Nek, apa nenek mau aku antarkan pulang? Aku masih banyak pekerjaan di sini."
Wanita paruh baya itu tampak melihat datar pada cucunya dan berjalan pergi dari ruangan Dean menuju mobilnya di depan.
Ara yang melihatnya ingin menyapa, tapi terlihat wajah nenek Dean sepertinya sedang menahan kesal. Bahkan nenek Dean juga tidak menoleh pada Ara.
__ADS_1
"Apa mereka sedang ada masalah, ya?" ucap Ara lirih.
"Ada apa, Ara?"
"Oh! Tidak ada apa-apa." Ara kembali melanjutkan makannya sambil melirik sekilas pada ruangan Dean yang terlihat dari tempatnya duduk.
Dean masih di dalam ruangannya duduk dengan wajah sedang berpikir. "Aku mencintainya, tapi aku tidak bisa memberikan cintai itu sama kamu," Dean berdialog sendiri.
Siang itu di kampus Uni, dia yang akan bersiap-siap pulang sekali lagi di datangi oleh cowok yang dulu pernah menjadi mantan pacarnya walaupun hanya sebentar.
"Uni, aku antar kamu pulang, ya?"
"Rendy? Kamu belum pulang?"
"Ren, aku bisa pulang sendiri, lagian aku sudah biasa pulang dengan naik angkutan umum. Maaf, ya?"
Uni berjalan melewati Rendy. Rendy yang tidak pantang menyerah berlari mengejar Uni. Mereka berdua sampai di depan halaman kampus. "Uni, kamu kenapa, Sih? Kitakan bisa berteman walaupun pernah putus? Apa kamu tidak mau berteman denganku?"
Uni berdiri terdiam melihat wajah Rendy. "Bukannya aku tidak mau berteman, tapi apa kamu yakin hanya ingin berteman denganku? Bukannya waktu itu kamu bilang kalau kamu ingin mengajak aku balikan?"
__ADS_1
"Niatnya begitu sih, Uni? Memangnya kamu sudah tidak memiliki perasaan apa-apa sama aku, Uni?"
Uni menggeleng perlahan. "Aku sama sekali sudah tidak memiliki perasaan apa-apa sama kamu, Ren. Lagipula banyak gadis yang cantik dan menyukai kamu."
"Iya, aku tau, aku coba memulai hubungan dengan mereka, tapi yang ada aku merasa tidak nyaman, aku lebih senang berpacaran sama kamu."
Uni malah seolah menertawakan apa yang barusan Rendy ucapkan. "Apa kamu tidak salah? Bukannya kita pacaran yang hanya beberapa bulan itu tidak ada hal manis-manisnya, kita saja jarang berkencan, ketemuan saja pas di kampus karena tanteku sangat tidak suka aku berpacaran. Kamu bahkan waktu ke rumahku malah di usir oleh tanteku."
"Iya, tapi bagiku itu suatu tantangan yang menyenangkan, walaupun pada akhirnya kita putus."
"Iya, itu mungkin lebih baik."
"Uni, aku sekarang tidak takut, dan siap menghadapi tante kamu. Aku mohon kembalilah berpacaran denganku?"
"Enak saja kamu menyuruh dia berpacaran sama kamu? Dia itu kekasihku."
Tiba-tiba suara seseorang di antara mereka. Uni dan Rendy seketika menoleh pada asal suara itu.
"Aro? Kamu kenapa bisa di sini?" Uni tampak terkejut.
__ADS_1
"Tentu saja ingin menjemput kamu pulang dari kampus." Aro sekarang melihat pada Rendy. "Dan kamu. Kamu mantan pacarnya Uni? Berapa lama kalian pacaran?"
"Aro, kenapa kamu bertanya begitu?"