
“Untuk apa?” tanya Husna.
“Tentu saja mengabari mereka.” jawab Andita.
Andita segera menghubungi Ratna dan Betty dan Husna serta Azzam pun hanya membiarkan saja.
Tidak lama sambungan telepon segera terhubung kepada dua gadis yang sedang berada di tempat mereka masin-masing itu.
“Halo, Assalamu’alaikum! Kalian ada di mana sekarang?” tanya Andita kepada kedua nya to the point.
“Aku sedang ada di--” jawab Ratna terpotong.
“Ah tidak penting kalian saat ini berada di mana. Tapi untuk sekarang kalian datang lah ke kediaman utama.” Potong Andita.
“Kediaman utama?” tanya Betty.
“Ah maksudku kediaman utama milik Husna.” Ucap Andita.
“Milik abi dan umi.” Ucap Husna membenarkan.
“Sama aja.” Ujar Andita.
“Emang ada apa di sana?” tanya Betty.
“Tentu saja ada--”
“Maksud nya ada Husna yang baru saja keluar dari rumah sakit. Apa kalian tidak ingin melihat nya?” tanya Andita.
“Ouh iya. Apa Husna sudah baik-baik saja?” tanya Ratna.
“Jika kalian ingin tahu segera datang ke sini langsung karena kalian akan mendapatkan berita yang menghebohkan jika kalian datang ke sini.” Ucap Andita.
“Kenapa perkataanmu itu terdengar seperti menyembunyikan sesuatu yang besar Dita.” Ucap Betty.
“Yah memang seperti itu ada nya. Maka nya jika ingin tahu berita besar nya segera datang. Aku tunggu ya.” Ucap Andita.
“Cepat datang.” lanjut Andita.
“Iya kami akan segera kesana.” Jawab Betty dan Ratna bersamaan.
Setelah itu sambungan telepon di antara mereka pun segera terputus.
“Kau ini Dita ada-ada saja.” ucap Husna.
“Aku ingin mereka ikut penasaran seperti juga. Aku tidak ingin menjadi korban sendiri saja.” ucap Andita yang membuat yang lain nya di ruangan itu tersenyum.
“Sambil menunggu mereka tiba, kau istirahat lah dulu nak.” ucap abi Syarif.
“Eh iya Na. Kau istirahat dulu saja. Tidak masalah jika mereka menunggu kau bangun nanti agar mereka semakin penasaran.” Ucap Andita.
Husna yang mendengar perkataan Andita pun hanya bisa menggelengkan kepala nya. Lalu dia dan Azzam segera menuju lantai dua di mana kamar nya berada untuk sekedar mengistirahatkan tubuh sebelum Ratna dan Betty tiba.
***
Sementara di bawah kini tinggal lah Andita dan Gilang di sana karena yang lain nya juga istirahat siang. Zahra dia sibuk dengan tugas kuliah nya.
“Lang, Aku ingin mengatakan sesuatu.” ucap Andita tiba-tiba.
Gilang pun segera memandang Andita dengan dahi berkerut tanda dia menanti apa yang akan di tanyakan oleh kekasih nya itu.
“Apa kau yakin ingin menjadikanku orang yang berarti di hidupmu? Jujur saja aku masih ragu saat menanyakan hal ini kepadamu berulang kali. Aku pun merasa bahwa mungkin kau akan merasa bosan dengan banyak nya pertanyaan ini berulang kali. Tapi aku hanya ingin memberikanmu kesempatan untuk memilih sekali lagi.” Ucap Andita.
__ADS_1
Gilang pun tidak merasa kesal atau pun tersinggung dengan pertanyaan Andita yang memang sudah sering dia dengar. Dia tahu bahwa Andita hanya sedang menjaga hati nya agar tidak salah memilih. Lagi pula memang pantas seorang perempuan bertanya seperti itu. Mereka itu hanya ingin meyakinkan hati mereka karena mereka mengambil keputusan berdasarkan perasaan dan hati nya. Untuk itu ragu menjadi makanan setiap saat untuk mereka dalam pengambilan keputusan. Takut salah memilih.
“Apa yang membuatmu ragu kali ini?” tanya Gilang balik.
“Tentu saja kita yang berbeda dan maaf aku adalah seorang perempuan dan tentu saja rasa cemburu itu ada ah mungkin rasa minder dan tidak percaya diri akan diriku bisa bersanding denganmu. Kau tahu sendiri dan aku pun tahu bahwa kau pernah memiliki perasaan pada Husna yang lebih segala nya dariku. Aku--”
Cup
Satu kecupan lembut mendarat di kening Andita dan jangan tanya lagi siapa pelaku nya tentu saja Gilang pelaku nya.
Andita kaget mendapatkan perlakuan seperti itu dari Gilang, “Wajar kau cemburu tapi percaya lah saat ini rasa cintaku hanya untukmu saja yang tersisa untuk Husna adalah rasa kagum. Bukan kah kau tahu perasaanku tidak pernah terbalas dari nya. Aku tidak mungkin menggenggam rasa yang menyakitiku. Percaya lah kau adalah obat dari rasa itu. Obat penawar. Tapi bukan berarti kau adalah pelarianku. Tidak. Kau adalah wanitaku. Jika kau tidak percaya padaku. Ayo kita menikah.” Ajak Gilang.
Andita yang mendengar ajakan itu pun segera berdiri dan berlari keluar menuju taman bunga yang ada di kediaman utama itu. Taman bunga yang selama ini di rawat oleh sang ibu.
Gilang yang hendak menyusul Andita keluar terhenti saat Azzam dan Husna memanggil nama nya. Gilang bisa merasakan bahwa mereka mungkin saja melihat apa yang dia lakukan dan bicarakan dengan Andita tadi.
“Duduk lah Lang. Biarkan Andita berpikir mengenai ajakanmu itu.” ucap Azzam.
“Biar aku yang bicara pada nya Lang. Mas, aku pamit.” Ucap Husna segera menyalami tangan suami nya itu dan berjalan meninggalkan sang suami bersama Gilang di ruang tengah.
“Apa kau yakin dengan ajakanmu itu?” tanya Azzam.
“Anda mendengar nya pak?” bukan nya menjawab pertanyaan Azzam, Gilang justru bertanya balik.
Azzam mengangguk, “Maaf, kami bukan bermaksud untuk menguping hanya saja tadi kami ingin ke dapur karena tiba-tiba Husna menginginkan sesuatu saat berbaring di ranjang. Namun tidak tahu nya saat kami keluar tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian.” jelas Azzam.
“Semua nya?” tanya Gilang lagi.
Azzam kembali mengangguk, “Hum, kami melihat semua nya termasuk perbuatanmu yang--” ujar Azzam menjeda kalimat nya.
“Kau pasti mengerti apa yang ku maksud.” Lanjut Azzam.
“Maaf pak.” Ucap Gilang menunduk merasa bersalah.
“Saya melakukan itu hanya terbawa perasaan saja. Jujur saja saya bingung bagaimana cara meyakinkan nya agar percaya pak bahwa saat ini hanya dia saja yang saya cintai. Memang saya akui saya pernah memiliki perasaan yang besar terhadap Husna dan sempat kecewa karena mendengar dia sudah menikah dengan anda. Tapi setelah bersama nya semua perasaan kepada Husna hilang dan berganti dengan perasaan pada nya bahkan rasa itu lebih besar dari rasa yang pernah ada untuk Husna. Maaf pak, saya tahu mungkin anda merasa cemburu akan hal ini.” ucap Gilang.
“Hum, aku harus mengakui bahwa aku memang cemburu dengan perkataanmu itu. Hanya saja saat ini bukan itu yang jadi masalah nya. Saat ini saya ingin tahu apa ajakanmu tadi kepada Dita itu serius atau hanya karena terbawa perasaan sama seperti kecupan itu?” tanya Azzam berusaha mengesampingkan perasaan cemburu nya yang sudah mendarah daging.
“Tidak. Itu bukan lah pemikiran atau pun perkataan sesaat yang timbul karena emosi. Emosi karena dia yang meragukan saya. Pemikiran itu sudah ada saat saya memutuskan mengajak nya terikat hubungan kekasih. Terus pemikiran itu semakin kuat saat mami dan papi yang menyetujui hubungan kami. Saya memang sudah ingin menikahi nya. Tidak ingin kehilangan nya. Ingin bersama-sama meraih bahagia itu bersama. Jujur saja pak, saya adalah anak yang lahir dan hidup jauh dari kasih sayang orang tua. Tentu saja rasa di cintai dan di sayangi menjadi sesuatu yang berharga dalam hidup saya dan dia lah orang yang bisa memberikan itu semua. Lalu apa saya harus meragukan diri nya untuk menjadi pendamping hidup. Menikah dengan nya menjadi salah satu list dalam hidup saya yang ingin segera di wujudkan.” Jawab Gilang panjang lebar.
Azzam pun mengangguk dan menatap Gilang dalam. Dia bisa melihat dan merasakan sebagai sesama pria bahwa Gilang memang mengatakan apa yang dia inginkan. Tidak ada kebohongan atau kepura-puraan dalam perkataan nya itu. Gilang tulus mencintai Andita tanpa syarat. Seperti nya rasa cemburu yang dia miliki kepada Gilang mulai saat ini akan dia hilangkan. Karena pada kenyataan nya laki-laki yang pernah mencintai istri nya itu sudah menemukan gadis pengganti yang sangat dia cintai. Jadi untuk apa lagi cemburu jika istri nya sendiri pun tidak pernah memiliki rasa yang sama kepada Gilang. Istri nya hanya mencintai nya saja. Memang terdengar terlalu kepedean tapi memang itu lah kenyataan nya.
“Aku percaya denganmu. Untuk saat ini aku hanya bisa memberikanmu saran saja. Menikah itu bukan soal hidup bersama atau pun hanya karena merasa cocok atau pun memiliki cinta yang sama lalu memutuskan untuk menikah. Banyak yang harus di persiapkan, apalagi kita sebagai kaum pria. Kita akan jadi kepala keluarga nanti nya yang memiliki tanggung jawab bukan hanya kepada istri tapi juga anak-anak kita nanti. Kau pasti paham. Yah, masalah ekonomi dalam rumah tangga akan selalu jadi momok utama dalam pernikahan. Aku bukan merendahkanmu karena aku pun sadar bahwa kau berasal dari keluarga yang berada. Tapi---”
“Saya paham maksud anda pak. Tidak perlu khawatir. Selama ini saya sudah membangun bisnis saya sendiri dari hasil tabungan saya. Bisnis yang saya kelola bersama Gentala. Bisnis yang hanya di ketahui oleh keluarga sebagai milik Gentala padahal itu adalah milik kami berdua. Kami yang mendirikan nya bersama-sama dari hasil tabungan uang bulanan yang di berikan orang tua kami. In Syaa Allah hasil dari bisnis itu bisa mencukup kebutuhan kami nanti.” Ucap Gilang.
Azzam pun tersenyum mendengar ucapan Gilang itu, “Jika sudah seperti itu jalan nya hanya satu yaitu meyakinkan nya agar setuju menikah denganmu. Pemikiran perempuan berbeda dengan kita. Mereka menggunakan hati. Tapi aku yakin Andita akan menerimamu. Aku dan Husna akan jadi orang pertama yang merestui pernikahan kalian.” ucap Azzam.
Gilang yang mendengar itu pun tersenyum lalu kedua nya pun berlanjut bicara santai karena Azzam yang melarang Gilang untuk menyusul Andita.
Kedua pria itu pun kini bisa bicara bersama di meja yang sama saling bertukar pikiran dan melupakan hal di masa lalu yang sempat membuat mereka canggung satu sama lain.
Sementara di sisi Andita, gadis itu segera menuju bangku yang ada di taman dan tiba-tiba saja air mata menetes di pipi nya. Dia tidak paham kenapa air mata nya itu menetes hanya secara refleks saja.
“Ck, kebiasaan.” Ucap Andita menghapus air mata nya segera.
Lalu tidak lama dia mendengar suara langkah kaki. Awal nya dia berpikir itu Gilang yang menyusul nya tapi begitu mengenali suara sepatu yang berbeda dia menoleh dan kaget melihat Husna yang datang.
Dengan buru-buru dia menghapus air mata di pipi nya itu tapi percuma saja karena air mata nya itu terus menetes tanpa bisa dia tahan.
Husna segera duduk dan menarik Andita dalam pelukan nya, “Menangis saja sepuasmu. Tumpakan semua nya sampai kau puas tapi setelah itu jangan menangis lagi.” Ucap Husna sambil menepuk bahu teman nya itu.
__ADS_1
Andita pun menangis dalam pelukan Husna sampai baju yang di kenakan Husna itu basa dengan air mata nya, “Sudah?” tanya Husna saat Andita melepas pelukan nya.
Andita mengangguk dan menghapus air mata nya. Husna pun tidak mengganggu dan membiarkan saja Andita menenangkan hati nya yang saling mungkin saja saat ini saling berbentrokan.
“Na, apa kau tidak ingin bertanya kenapa aku menangis?” tanya Andita setelah beberapa saat hening dan setelah dia tenang.
Husna yang mendengar itu tersenyum lalu menatap Andita lekat, “Apa kau sudah siap bercerita?” tanya Husna balik.
“Kenapa kau bisa di sini? Bukan nya kau ingin istirahat?” tanya Andita mengalihkan pembicaraan.
Husna pun tertawa mendengar pertanyaan balik Andita itu, “Seperti nya kau belum siap cerita. Baiklah tidak masalah. Aku akan menemanimu di sini menikmati keindahan taman hasil tangan ibumu ini.” ucap Husna.
“Ohiya, Jangan tanya kenapa aku bisa menyusulmu ke sini. Jangan tanya juga bahwa aku mungkin saja mendengar pembicaraanmu? Karena jawaban nya adalah iya. Aku tidak pernah berbohong. Yah, aku akui aku dan mas Azzam mendengar dan melihat semua pembicaraan dan apa yang terjadi di ruang tengah.” Ucap Husna.
Andita pun diam tidak menunjukkan ekspresi kaget nya karena dia sendiri sudah menebak hal itu, “Dita, aku tahu aku akan selalu jadi bagian dalam hidupmu dan Gilang karena apa yang terjadi beberapa bulan lalu. Aku pun tidak bisa menghindari garis takdir itu. Jika saja bisa aku akan memilih tidak pernah kenal Gilang tapi aku tidak punya kuasa untuk menghindari garis takdir itu. Namun, tidak kah kau percaya pada Gilang bahwa dia hanya mencintaimu saja saat ini. Tidak kah kau jangan menilai diri nya karena masalalu. Jujur saja aku merasa bersalah saat kau terus meragukan perasaan nya padamu. Itu memang pantas karena kita sebagai seorang perempuan tapi jangan terus meragukan nya juga. Mereka bisa saja bosan dan muak jika terus di ragukan. Kau juga tahu dengan jelas dalam hidup ini aku hanya mencintai satu orang saja baik dalam keadaan sadarku maupun dalam keadaan ingatanku hilang. Tentu saja selain kedua orang tuaku yang sudah pasti ku cintai. Kau tahu siapa pria itu. Yah suamiku. Jadi apakah kau tidak percaya padaku?” tanya Husna.
Andita menggeleng lalu meneteskan air mata nya, “Maaf!” ucap Andita sambil mengatupkan kedua tangan nya di dada.
Husna menggeleng lalu segera membuka tangan Andita, “Jangan meminta maaf karena kau tidak bersalah. Aku hanya ingin agar kau sadar bahwa tidak semua laki-laki itu tidak patut di percaya. Aku tahu kau memiliki masalalu yang berat akan keadaan yang serupa.” Ucap Husna.
“Jangan tanya aku tahu dari mana.” Lanjut Husna saat Andita kaget dengan kalimat terakhir nya itu.
“Aku menyayangimu dan aku ingin kau bahagia tanpa bayang-bayang masalalu. Kau berhak bahagia Dita.” Ucap Husna lagi.
“Na, aku merasa sangat bersalah saat ini. Aku terus meragukan diri nya. Terima kasih sudah menyadarkanku dari kebodohan ini. Hampir saja aku melakukan sesuatu yang salah lagi. Aku masih saja terpaku dengan masalalu hingga kakiku terikat untuk melangkah. Aku janji akan percaya pada nya dan tidak akan meragukan nya lagi.” Ucap Andita.
“Tidak. Jangan lakukan itu karena apa yang aku katakan. Tapi lakukan itu karena kau menginginkan nya. Ingat menikah itu butuh kesiapan fisik dan mental. Ajakan menikah dari nya harus kau pertimbangkan dari segala aspek tapi tanpa harus meragukan nya.” ucap Husna.
Andita pun kembali mengangguk, “Okay. Sekarang aku yakin bahwa Andita yang ku kenal pasti akan mengambil keputusan yang benar. Jangan menangis lagi dan tersenyum lah karena mungkin saja sebentar lagi Betty dan Ratna tiba. Jangan sampai mereka melihatmu dalam keadaan ini kecuali kau siap menjawab pertanyaan mereka nanti.” Ucap Husna segera mengusap bekas air mata di pipi Andita.
Setelah memastikan semua nya tenang, akhirnya kedua wanita itu pun segera masuk ke dalam kediaman kembali bertepatan dengan kedatangan Betty dan Ratna yang bersamaan.
“Apa aku bilang? Mereka akan tiba.” Ucap Husna kepada Andita yang di balas nya dengan senyuman.
“Mas, ayo kita sambut kedua tamu kita itu.” ucap Husna segera mengajak Azzam menyambut Ratna dan Betty dan memberikan kesempatan kepada Andita dan Gilang.
Gilang menatap Andita lekat dan dia bisa melihat ada bekas air mata di sana. Seperti nya dia harus meluruskan semua nya. Jangan sampai membuat Andita meneteskan air mata nya lagi.
“Na, kau sudah sembuh?” tanya Betty dengan segala kehebohan nya.
“Kebiasaan deh heboh. Ingat kita itu bertamu dalam waktu istirahat.” Ucap Ratna.
“Eh maaf. Biasa aku tidak bisa mengontrol dirimu.” Balas Betty santai.
“Sudah jangan bertengkar. Tidak masalah kok. Ayo masuk.” Ucap Husna menengahi.
Betty dan Ratna pun segera masuk ke dalam, “Dita!” panggil Betty dengan heboh nya.
“Stt, umi dan abi sedang istirahat.” Ucap Andita mendekati Betty dan Ratna.
“Ah maaf. Eh tunggu kau baru saja menangis?” tanya Betty.
Andita menatap Husna lalu kemudian tersenyum dan menggeleng, “Gak kok.” jawab Andita.
“Ck, sudah pintar bohong ya. Tapi tidak masalah aku tidak akan memperpanjang nya karena kedatanganku ke sini untuk melihat Husna dan mencari tahu berita penting yang kau katakan di telepon.” Ucap Betty.
Husna pun tertawa mendengar ucapan Betty itu, “Na, aku bisa duduk kan?” izin Betty.
“Tumben izin dulu. Biasa nya langsung duduk saja.” ucap Ratna setelah tadi memperhatikan Andita lama memastikan apa yang di katakan Betty terkait menangis. Yah harus dia akui bahwa ada bekas air mata di pipi Andita.
“Eh aku itu sekarang sedang belajar sopan santun agar tidak di usir calon mertua nanti.” Balas Betty.
__ADS_1
“Emang sudah punya calon?”