
“Ibu--” ucap ibu Diyah terhenti karena melihat tatapan penuh harap sang putri.
“Ikut saja Diyah. Andita sangat berharap agar kau bisa ikut. Jangan mengecewakan keinginan sang anak.” ucap umi Balqis yang juga ikut menyadari tatapan penuh harap Andita.
“Iya ikut saja Diyah. Itu juga bisa mendekatkan kalian agar bisa saling mengenal sebelum menjalin hubungan keluarga nanti nya.” sambung abi Syarif.
Andita yang mendengar ucapan abi Syarif dan umi Balqis pun tersenyum.
“Ohiya, Dita siapa yang akan menanggung perjalanan kalian ini?” tanya umi Balqis kemudian.
“Mami Ajeng dan papi Basuki mengatakan bahwa mereka yang akan menanggung nya umi. Mereka hanya ingin kesiapan kami ikut saja. Untuk hal lain nya tidak perlu di khawatirkan.” Jawab Andita.
“Jika memang begitu pergi saja Diyah. Ikut lah berlibur bersama putri, calon menantumu dan calon besanmu. Kami memintamu ikut bukan karena ingin mengusirmu dari rumah ini. Rumah ini akan selalu jadi rumah untuk kalian. Husna menganggap kalian bagian keluarga nya maka kami pun sama. Jadi jangan merasa sungkan.” Ucap Umi Balqis kemudian.
“Ohiya, untuk toko bunga sama pengurusan nya serahkan saja itu kepada asisten. Kami akan memantau nya untuk kalian. Nikmati liburanmu.” Lanjut umi Balqis tersenyum.
“Terima kasih kak.” Ucap ibu Diyah mengangguk karena tidak ada lagi yang harus membuat nya menolak untuk pergi bersama putri nya itu. Semua yang dia khawatirkan atau bisa dia jadikan alasan agar tidak ikut sudah teratasi.
Yah, umi Balqis meminta ibu Diyah memanggil nya begitu dari pada panggilan nyonya yang terkesan sangat formal untuk nya.
Setelah pembicaraan itu berakhir, mereka di sana segera ikut makan malam bersama.
“Zahra!” panggil abi Syarif saat menatap adik dari menantu nya itu hanya diam saja sejak tadi.
Zahra pun segera menatap abi Syarif, “Iya, ada apa abi?” tanya nya.
Abi Syarif menggeleng, “Tidak ada apapun. Hanya saja abi perhatikan kau pendiam hari ini. Apa ada yang mengganggumu, nak?” tanya abi Syarif.
“Iya, ada apa nak? Katakan jika ada masalah.” Lanjut umi Balqis menatap Zahra.
__ADS_1
“Zahra tidak kenapa-kenapa kok umi, abi. Zahra hanya sedang pusing dengan tugas saja. Selain itu, Zahra rindu kakak ipar dan juga abang.” Jawab Zahra.
“Ouh itu. Tugas? Jangan sampai kelelahan jika mengerjakan tugas, nak. Jangan memforsir dirimu. Lihat itu kakak iparmu dia kelelahan karena mengerjakan tugas. Umi tidak ingin kau sampai sakit seperti itu. Jika lelah istirahat. Dan untuk kakak iparmu dan juga abangmu mereka akan kembali besok hari. Sebenar nya kakak iparmu itu sudah bisa kembali hanya saja dokter menyarankan untuk menginap sampai besok baru bisa pulang.” Jelas umi Balqis.
“Tidak perlu merindukan mereka, nak. Kan ada kami di sini menemanimu. Kau bisa bicara apapun masalahmu kepada kami. Umi dan abi bisa jadi pendengar yang baik untukmu.” Lanjut abi Syarif.
“Iya abi, umi.” Balas Zahra.
Sementara Andita menatap Zahra dengan tatapan lain.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan dek. Semoga saja hubunganmu dan dia baik-baik saja. Itu adalah keputusan kalian bersama.” Batin Andita.
***
Selepas makan malam, kini di kamar ibu Diyah. Andita dan ibu nya itu terlibat pembicaraan yang cukup serius. Tentu saja topic nya tidak jauh-jauh dengan kepergian mereka bersama Gilang dan kedua orang tua nya itu.
“Dita bertemu dengan kedua orang tua Gilang dua hari lalu bu. Dita menemani nya setelah dia ujian proposal ke rumah nya dan berhubung di sana juga ada kedua orang tua nya yang baru saja kembali dari luar kota.” Jelas Andita.
“Aku di kenalkan sebagai kekasih Gilang dan mami Ajeng juga papi Basuki menerima hubungan kami dengan baik. Mereka bahkan ingin menemui ibu segera hanya saja aku yang melarang karena belum siap. Aku juga belum cerita pada ibu tentang ini. Lalu mengingat hubungan kami juga yang baru saja terjalin. Jadi menurutku untuk melakukan pertemuan keluarga sekarang terlalu cepat. Aku menunda nya dan maaf karena aku juga belum sempat cerita ke ibu masalah ini.” ucap Andita.
“Lalu kenapa mereka bisa mengajak kita berlibur?” tanya ibu Diyah.
“Itu karena mereka ingin pergi ke kota B besok lusa terkait pekerjaan. Lalu Gilang ingin ikut pergi bersama kedua orang tua nya itu. Jadi akhir nya mami Ajeng dan papi Basuki mengajakku dan juga ibu untuk ikut bersama. Pekerjaan mereka di luar kota hanya sehari saja dan setelah itu kita akan berlbur bersama di kota B.” jawab Andita.
Ibu Diyah yang mendengar penjelasan putri nya itu pun mangut-mangut.
“Jadi apa ibu bersedia ikut atau tidak?” tanya Andita.
“Apa ibu bisa menolak?” tanya ibu Diyah balik.
__ADS_1
Andita yang mendengar pertanyaan ibu nya itu pun tersenyum.
“Terima kasih, ibu. Terima kasih selalu jadi ibu terbaik untukku. Terima kasih selalu memahami apa yang ku inginkan walaupun aku belum bisa memberikan apapun untukmu.” Ucap Andita tulus meraih kedua tangan ibu nya itu untuk di cium.
Ibu Diyah pun terharu mendengar ucapan putri nya itu, “Kau itu adalah putri yang membanggakan ibu, nak. Kau yang membuat hidup kita sekarang jauh lebih baik dari kemarin. Kau lah yang membebaskan ibu dari pekerjaan itu. Yah walaupun sekarang nona Ratna sudah baik. Tapi tetap saja itu menjadi kenangan yang buruk untuk kita.” Ucap ibu Diyah.
“Ibu, aku menyayangimu.” Ucap Andita memeluk ibu nya itu. Satu-satu nya orang tua dan keluarga yang dia punya.
***
Keesokan pagi nya di rumah sakit. Kini Husna sedang di periksa kondisi nya untuk memastikan apa bisa pulang pagi atau tidak.
“Bagaimana dokter?” tanya Azzam.
“Nona Husna sudah bisa pulang tuan. Semua sudah baik-baik saja. Hb-nya pun sudah naik. Sudah di atas normal.” Jawab dokter Ridwan.
“Terima kasih dokter.” Ucap Azzam.
“Terima kasih dokter. Suami saya ini sudah sangat khawatir padahal saya baik-baik saja.” ucap Husna tersenyum menatap sang suami.
Dokter dan perawat yang mendengar perkataan Husna pun hanya ikut tersenyum.
“Aku bilang juga apa mas. Aku baik-baik saja. Kau saja terlalu khawatir. Aku sudah menerima transfusi jadi pasti Hb-ku akan naik.” Ucap Husna setelah dokter Ridwan dan perawat pergi.
“Nama nya juga khawatir sayang.” balas Azzam.
“Iya aku tahu mas khawatir. Tapi jangan berlebihan juga mas. Aku ini wanita kuat. Wonder woman!” ucap Husna.
Azzam yang melihat itu pun tersenyum, “Yah, istriku memang wonder woman.”
__ADS_1