
Beberapa bulan kemudia. Nala yang sedang menyirami tanaman di depan rumah bersama dengan bibi Anjani tampak melamun.
Dia tidak sadar jika bibi Anjani dari tadi memperhatikan dia. "Nala, kamu kenapa? Menyiram bunga itu pakai air. Air kamu sudah habis kenapa malah tempatnya tetap kamu tuangkan begitu?"
"Hah?" Nala langsung melihat ke arah tempat air untuk menyiram. Iya, airnya sudah habis."
"Memang sudah habis, tapi kenapa kamu tuangkan terus begitu? Kamu itu sebenarnya sedang mikirin apa, sih, Nala?"
Nala meletakkan tempat air itu di bawah dan dia duduk di kursi taman. "Bi, entah kenapa aku beberapa hari ini memikirkan tentang anaknya Tata ya? Bagaimana nasibnya tinggal dan dirawat oleh ibunya Tata? Aku ingin sekali melihatnya."
Bibi Anjani menatap heran pada Nala. "Kamu kenapa malah memikirkan hal itu, Nala? Mungkin anak itu hidup lebih baik dengan neneknya, daripada dengan ibunya dan ayahnya yang sudah tega menyakiti orang lain."
"Bibi! Kenapa bicara begitu? Kasihan anak itu hidup tanpa sosok ayah dan ibu. Mirip denganku."
"Dia kan masih punya ayah, yaitu Radit. Hanya saja Radit kan sedang menjalani hukumannya."
"Iya, tapi apa nanti Radit mau mengurus dan merawatnya saat dia keluar? Dia saja tidak mengakui anak itu."
"Sudah-sudah! Kenapa kita jadi memikirkan Tata? Sebaiknya kita masuk dan segera menyiapkan makanan buat si kembar, dan kita akan membuat kue brownis keju kesukaan mereka. Kamu lupa kalau tadi sebelum berangkat mereka ingin kamu membuatkan mereka kue bronis keju?"
"Iya, Bi, aku ingat."
Bibi Anjani masuk ke dalam rumah diikuti oleh Nala. "Bibi akan meletakkan ini dulu ke belakang."
"Eh, Bi," panggil Nala lagi.
"Ada apa?" Bibinya kembali menoleh.
"Anaknya Tata itu cowok apa cewek ya? Usia mereka juga pasti sama dengan si kembar."
"Bibi tidak tau, tapi kalau usia mereka sama. Sudah! Kenapa di bahas lagi." Bibi Anjani masuk ke dalam ruang belakang dengan muka kesal.
Tidak lama Nala yang sudah membersihkan diri mendapat telepon dari pesawat telepon di rumahnya.
"Halo," ucap Nala lembut.
"Maaf, apa ini dengan orang tua Naro Addriano Danner?"
"Iya, saya mamanya Aro. Maaf ini dari siapa?"
"Saya guru kelas yang mengajar Aro. Apa mamanya Aro bisa datang ke sekolah sekarang?"
__ADS_1
"Maaf, Bu. Memangnya ada apa dengan Aro?" Nala mulai menunjukkan kecemasannya.
"Ini tadi Aro berkelahi di sekolah, dan saya bilang pada dua anak yang berkelahi ini akan saya panggilkan orang tuanya agar mereka tidak melakukannya lagi."
"Oh Tuhan! Kenapa Aro sampai bisa berkelahi? Ya sudah, Bu, saya akan segera ke sana. Terima kasih atas infonya."
Nala menutup teleonnya dan segera berlari kecil ke dalam kamar untuk mengambil jaket dan tasnya.
"Nala, kamu mau ke mana? Kenapa terlihat cemas dan buru-buru begitu?"
"Aku mau ke sekolahan Aro, Bi, tadi guru kelasnya menghubungiku dan menyuruhku datang ke sekolah karena Aro tadi berkelahi dengan salah satu murid di sana."
"Ya ampun! Putra satu kamu itu kenapa sikapnya itu seperti Rhein?"
"Bibi ini bicara apa sih? Sudah, aku ke sekolah dulu, mau menyelesaikan masalah Aro. Bibi, aku minta tolong jika Akira telepon Bibi katakan saja aku menyusul Aro, jangan bercerita tentang Aro yang berkelahi dengan temannya."
"Beres, kamu tenang saja. Sudah sana pergi dan hati-hati."
Nala bergegas keluar rumah. Dan dia antar supir yang siap di depan rumahnya.
Tidak lama Nala sampai di sekolah si kembar, dia melihat putranya berdiri di depan kelas dengan seorang bocah laki-laki yang sepertinya adalah lawan bertengkarnya.
"Maaf ya, Bu, saya terpaksa memanggil Ibu Nala ke sini."
"Tidak apa-apa, Bu. Saya tidak keberatan jika memang ada masalah dengan anak-anak saya."
"Begini, taadi saya tanya sama Aro kenapa dia bisa bertengkar dan memukul Dean? Aro bilang jika Dean tadi mengganggu Sita, Dean mengambil bekal makanan Sita. Lalu saya tanyai Sita dan ternyata itu benar."
"Oh masalah itu, lalu apa Aro melukai temannya itu parah, Bu?"
"Tidak ada hal serius yang terjadi pada Dean. Hanya wajah Dean agak memar karena saat di tonjok sama Aro terbentur prosotan."
"Maaf, apa orang tua Dean sudah datang? Saya mau mengucapkan permohonan maaf pada orang tua Dean."
"Tadi saya sudah menghubungi orang tua Dean, tapi sepertinya orang tuanya tidak dapat datang ke sini karena sibuk dengan pekerjaannya."
Nala terdiam sejenak. Lalu dia melihat ke arah putranya yang berdiri di depan kelas dengan wajah datarnya.
"Bu, apa saya bisa berbicara dengan Aro sebentar?"
"Tentu saja bisa."
__ADS_1
Nala beranjak dari tempatnya dan mengajak Aro untuk keluar dari kelas sebentar. "Tante!"
panggil Sita yang berdiri di belakang Nala.
"Ada apa, Sita?"
"Tante, jangan memarahi Aro, Aro tidak salah, Tante. Dean yang salah, dia yang memulai lebih dulu. Aro hanya membelaku, Tante karena Dean mau merebut bekal makanan aku."
"Kamu tenang saja, Sita. Tante tidak akan memarahi Aro." Nala tersenyum dan Sita melihat Aro dan Nala keluar dari kelas.
Nala mengajak Aro duduk di depan kelas yang ada bangku panjangnya. Nala melihat putranya yang tertunduk.
"Ma, aku--."
"Mama tidak akan memarahi kamu, Aro. Mama hanya akan mengatakan jika perbuatan kamu yang membela Sita itu adalah perbuatan jagoan, tapi mama tetap tidak setuju jika kamu sampai memakai kekerasan dengan bertengkar."
"Aku tidak bermaksud bertengkar dengan Dean, tapi dia yang mendorongku dan bilang kalau aku membela Sita karena menyukai Sita. Aku masih kecil, tapi sudah pacaran."
"Lalu?"
"Aku jatuh dan aku berdiri lagi kemudian aku pukul mukanya sampai dia terbentur mainan prosotan."
"Apa kamu sudah meminta maaf sama Dean?"
"Tadi bu guru menyuruh kami meminta maaf, aku mau meminta maaf sama dia kalau dia sudah meminta maaf duluan sama Sita."
Nala agak kaget mendengar penjelasan dari putranya. "Dean mau meminta maaf?"
"Dia mau, baru aku meminta maaf sama dia."
Nala memeluk putranya dengan erat. "Mama tau kamu anak yang sangat baik, tapi kekerasan juga hal yang salah." Nala melepaskan pelukannya dan melihat ke arah putranya."
"Iya, Ma."
Aro kembali masuk ke dalam dan Nala di luar menunggui anak-anaknya pulang sekolah karena memang jamnya juga hampir mendekati.
Pulang sekolah ternyata Nala membawa serta Dean untuk dia periksakan ke dokter. Nala sangat bertanggung jawab pada apa yang di lakukan oleh putranya itu.
"Kamu jangan takut ya, Dean. Nanti kamu hanya akan di periksa oleh bu dokter tentang luka kamu ini, terus tante akan mengantar kamu pulang."
Pria kecil itu mengangguk perlahan.
__ADS_1