My Secret Love

My Secret Love
Kenangan yang Manis


__ADS_3

“Aku yang akan membawa Ara naik ke kelasnya. Kalian tidak perlu khawatir.”


Ketiga temannya tampak sangat kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Dean. Ara juga agak kaget dan saling melihat kepada temannya. Tim medis yang di sana mengatakan jika kaki Ara akan segera membaik dan Ara juga di beri obat agar kakinya tidak terasa sakit.


“Dean aku dibantu teman-temanku saja, kamu tidak perlu repot-repot.”


“Ya sudah kalau begitu,” jawabnya singkat.


Marta, Tania dan Sifa kemudian membantu Ara berdiri karena mau membawa kembali ke dalam kelas. Dean masih berdiri di sana menunggu mereka.Tangan Ara di memegang pundak Marta dan tangan satunya pada Tania, mereka mencoba membopong Ara berdua dan berjalan pelan- pelan.


“Apa sakit, Ara?” Tanya Sifa.


“Agak sakit kaki aku, Fa. Pelan-pelan lagi ya?”


“Kalau terlalu pelan kita kapan sampainya, apalagi mau masuk mata kuliah selanjutnya,” timpal Marta.


“Apa aku izin saja tidak mengikuti mata pelajaran selanjutnya?” tanya Ara.


“Kamu serius? Kamu kan tidak pernah bolos mata kuliah, apalagi ini mata kuliah yang sangat kamu senangi. Jangan bolos nanti kita nyontek siapa?” bisik Sifa.


“Aduh! Sakit!” Ara yang tidak sengaja malah menginjakkan kakinya di lantai.


Dean berjalan di depan mereka. “Biar aku saja yang membawanya ke kelas, kalian naik dulu saja ke kelas, kasihan kalau kalian memaksa Ara berjalan seperti itu.”


“Iya, Marta, biarkan saja Dean yang membawanya,” bela Sifa. Akhirnya Tania melepaskan tangan Ara begitupun dengan Marta, dia juga melepaskan tangannya dan walaupun dengan wajah agak kecewa.


Dean kemudian menggendong Ara dan berjalan menuju kelasnya, ketiga temannya tampak dua tersenyum senang yang satunya malah ditekuk mukanya, pasti tau siapa yang mukanya di tekuk. “Sudahlah, Marta!” Sifa memeluk pundak sahabatnya itu. “Kamu tidak perlu di tekuk kesal begitu, mungkin Ara memang lebih cocok dengan Dean, lagian kamu kan juga pacarnya banyak dan gampang dapat cowok, Ara satu saja belum pernah.”


“Iya, sudahlah! Kita ke kelas saja daripada nanti kita kena omel dosen favoritenya Ara,” timpal Tania.


Dean sudah sampai di kelasnya Ara dan mendudukkan Ara pada bangkunya, beberapa anak yang melihat tampak berbisik. “Terima kasih sekali lagi ya, Dean. Aku jadi merepotkan kamu.”

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Nanti kamu pulangnya bagaimana? Apa aku ke sini lagi untuk membantu kamu?”


“Tidak perlu! Nanti biar saudara kembarku Aro saja yang menggendongku dan membawaku pulang.”


“Aro?”


“Iya, kamu lupa dengan saudara kembarku yang dulu pernah bertengkar sama kamu?”


“Kejadian itu aku sudah tidak ingat. Buat apa mengingat hal yang tidak baik. Ya sudah kalau begitu aku kembali ke kelasku dulu.” Dean yang membelakangi Ara kembali menoleh. “Ara terima kasih,” ucapnya kemudian.


“Terima kasih? Terima kasih untuk apa?” Ara tampak bingung.


“Terima kasih kamu masih mengingat aku teman masa kecil kamu dulu. Jujur saja aku agak ingat tapi tidak berani menebak takut salah.


“Aku masih ingat nama kamu, habisnya kamu dulu juga sangat baik kepadaku. Kamu ingat permen yang kamu berikan padaku saat permenku terjatuh dan aku menangisi permen itu karena tinggal satu di kantin sekolah.”


“Kamu masih ingat semua? Ya sudah! Aku akan kembali ke kelasku.” Sekarang Dean benaran pergi dari kelas Ara. Ternyata Ara sudah mengetahui jika Dean memang benar teman waktu kecilnya dulu saat Ara digendong Dean ke ruang kesehatan.


Seperti apa kata Ara, dia menghubungi Aro untuk menjemputnya di kelasnya karena kakinya yang sakit. Tiap hari memang Aro yang menjemput Ara, hanya saja kemarin Aro ada urusan dan akhirnya meminta supir untuk menjemput sauadaranya itu.


“Belum, Aro, nanti saja sewaktu kita datang, aku tidak mau membuat mereka khawatir, apalagi nenek Anjani, nanti yang ada nenek paling heboh.”


“Ya sudah kalau begitu.” Aro menggendong Ara dan mereka turun ke tempat parkir. Ketiga teman Ara juga mengikuti mereka berdua sampai ke parkiran.


“Hati-hati ya, Aro,” ucap Sifa manis. Dan Aro hanya menanggapi dengan senyum kecil.


“Sok manis,” bisik Marta.


“Biarin, siapa tau Aro suka sama aku, dia ganteng, blasterannya pas sekali,” Sifa terkekeh pelan.


Dari lantai atas Dean melihat Aro yang menggendong Ara, Dean menatap dalam-dalam ke arah mereka berdua. Aro dan Ara pamit kepada ketiga gadis di sana, lalu mereka berdua pulang ke rumah.

__ADS_1


“Aro, apa kamu masih ingat dengan Dean teman kita waktu kita duduk di bangku taman kanak-kanak dulu?”


Aro terlihat mengingat sebentar. “Dean siapa?”


“Dean, anak laki-laki yang kamu pukul gara-gara mengganggu Sita waktu kecil dulu yang merebut bekal makanan Sita, sampai Mama di panggil ke sekolah dulu.”


“Oh itu, iya aku ingat. Memangnya kenapa?”


“Dia ternyata kuliah di kampusku.”


“Apa? Kuliah di kampus kamu? Apa dia mengganggu kamu di sana?”


Ara menggelengkan kepalanya. “Dia tidak menggangguku, malah dia dua kali sudah membantu. Kamu tau jika tadi dia yang menolongku tadi waktu aku jatuh di kamar mandi dan dia yang menggendongku, bahkan dia juga yang membawaku ke kelas juga.”


“Oh ya? Dia berubah baik memangnya sekarang?”


“Dia itu memang dari dulu baik sama aku, aku sendiri bingung kenapa waktu itu dia sampai jahat pada Sita dan akhirnya kamu bertengkar sama dia?”


“Sudahlah! Aku malas mengingat dia lagi.” Aro kembali mengemudikan mobilnya.


Sampai di rumah Nala sangat terkejut melihat Aro menggendong Ara apalagi kaki Ara dibalut perban begitu. Ara menceritakan semua yang terjadi sampai bantuan Deanpun Ara ceritakan pada mamanya.


“Nala, kita bawa saja Ara ke rumah sakit agar bisa di periksa dengan baik. Bibi takut kakinya ada apa-apa.”


“Ya sudah, nanti malam kita tunggu Akira pulang saja.”


“Kenapa menunggu Akira pulang? Sekarang saja, Nala, biar cepat diketahui apa ada masalah atau tidak.” Benar perkiraan Ara, nenek Anjaninya yang sangat heboh.


Malam itu Akira dan Nala langsung membawa Ara ke rumah sakit dan memeriksakan kaki Ara dengan benar-benar teliti. Dokter mengatakan jika kaki Ara baik-baik saja dan akan segera sembuh.


"Kalau begitu, besok biar Aro yang mengantar jemput kamu dan membantu kamu ke kelas," terang Akira.

__ADS_1


"Iya, Yah. Aku sendiri tidak enak jika merepotkan teman kampusku."


Malam itu Uni yang sudah mengerjakan pekerjaannya dengan baik segera pulang, dia meminta antar Via sampai di tempat di mana dia bisa menunggu angkutan umum selain di tempat biasanya. Uni tidak ingin sampai bertemu lagi dengan Aro, dia benar-benar belum siap jika nanti bertemu dengan Aro lagi.


__ADS_2