My Secret Love

My Secret Love
Restu


__ADS_3

Nala benar-benar tidak mau anaknya diurus dengan bantuan baby sitter, dia ingin menghabiskan waktu sebanyak-banyaknya dengan si Kembar.


Di sebuah hotel mewah, dua orang sedang berada di dalam selimut mereka. Mulut dari kedua orang tersebut mengeluarkan asap, padahal mereka tidak sedang merokok.


"Ren, dingin sekali. Apa kamu sudah mematikan AC di kamar ini?" tanya Rara yang terlihat bersembunyi di balik selimut tebal miliknya.


"Aku sudah mematikan AC kamar ini. Kamu tidak terbiasa hawa dingin begini ya?"


Rara mengangguk. "Iya. Ibuku sudah punya feeling untuk membawakan aku selimut tebal begini, tapi masih dingin padahal juga aku dobel sama selimut hotel."


"Huft, tau begitu kita tidak perlu bulan madu ke luar negeri saja."


"Bos kamu itu juga tidak kira-kira, memberi hadiah bulan madu di luar negeri ketika musim dingin. Aku akan tidak kuat. Mana di luar turun salju lagi." Muka Rara cemberut.


"Ahahah! Bukannya saat datang ke sini kamu bilang mau melihat salju? Sekarang ada salju malah ngomel."


"Iya, tapi udaranya dingin begini, aku tidak kuat mending aku melihat dalamnya kulkas saja kalau begini."


Reno mengeratkan pelukannya pada Rara yang tidur di sampingnya. "Akira itu sengaja supaya bulan madu kita tambah romantis kalau udara dingin-dingin begini," bisik Reno.


"Romantis dari mana? Yang ada aku jadi patung es gara-gara udara dingin ini."


"Kamu mau lebih hangat tubuh kamu?"


Rara melihat Reno. Kenapa dari ucapan Reno terdengar ada hal yang membuat tanda tanya besar?


"Mau tidak?" tanya Reno sekali lagi.


"Mau, tapi bagaimana? Kita duduk dekat kompor? Di sini mana ada kompor?"


"Bukan duduk dekat kompor sayangku yang menggemaskan, tapi kita saling melepaskan baju dan kita melakukan hal itu. Aku yakin nanti tubuh kamu dan aku akan terasa lebih hangat," ucap Reno lembut dan terkesan menghipnotis. Akakakaka!


"Apa? Lepas baju? Kamu demam ya? Aku saja pakai selimut begini kedinginan apalagi bajuku di lepas. Kita tunda saja bikin anaknya, sampai cuaca di luar membaik."


"Kalau kita menunggu cuaca memasuki musim semi, bisa-bisa kita tidak jadi bulan madu dan pulang ke Indonesia."


"Memangnya masih lama, Ya?"


"Iya," jawab Reno asal, dia sendiri kan tidak tau, asal jawab saja.

__ADS_1


Rara berpikir sebentar, mereka kan memang di sini tujuannya berbulan madu, kalau cuma tiduran di balik selimut kasihan Reno juga.


"Aku pernah mendengar hal itu sih, Reno. Dengan menyatukan tubuh bisa mengurangi rasa dingin dan jika demam kalau kita melakukan skin to skin juga bisa menghilangkan sedikit hawa panas."


Reno langsung semangat dan dia sekarang betpindah tempat di atas tubuh Rara tetapi masih di dalam selimut.


"Apa kamu mau? Jujur saja aku sudah lama menunggu kita melakukan hal ini. Sejak kita menikah, kamu kan tidak mau melakukkannya dulu di rumah, kamu mau kita melakukannya di tempat bulan madu kita agar mendapatkan bulan madu yang sesungguhnya. Dan saat di sini kamu mau aku menunggu lagi? Benar-benar menyiksa," Reno mengeluarkan semua unek-uneknya.


"Iya-Iya aku minta maaf, aku tidak bermaksud menyiksa kamu, hanya saja aku memang ingin kita bisa benar-benar merasakan malam pertama di tempat yang istimewah."


"Jadi, kita lakukan sekarang saja." Rara mengangguk. Reno segera melepaskan kaos yang dipakainya dan kemudian dari dalam selimut dia perlahan-lahan melepaskan baju Rara.


"Ren, dingin."


"Sabar sebentar, nanti tidak akan dingin kalau tubuh kita menyatu dengan sempurna." Reno mengecup bibir Rara.


"Kalau nanti kita punya anak, kita beri saja dia nama snow white, Ren. Kan, kita bikinnya pas turun salju."


"Terserah kamu sayang. Aku nurut saja, yang penting sekarang kita buat dulu." Ini Reno kayaknya sudah tidak sabar lagi.


Saat sudah terlepas semuanya, tangan Reno perlahan-lahan menjelajahi tubuh Rara dan masih di dalam selimut.


"Kamu jangan takut, tidak sakit, enak kok."


"Kamu kok tau kalau tidak sakit? Sudah pernah dengan wanita lain?" Muka Rara cemberut.


"A-Aku belajar dan melihat di ponsel. Kamu tenang saja pokoknya, kalau kita membahas ini terus, kapan jadi snow whitenya? Tangan kamu juga kenapa menutupi dada kamu? Aku suami kamu Rara dan aku berhak atas semua tubuh kamu."


"Huft! Iya-iya."


Rara menurut pada Reno dan akhirnya malam pertama mereka pun terjadi. Rara tidak merasakan kedinginan lagi. Dia hanya merasakan rasa yang luar biasa yang belum dia pernah rasakan.


Kita tunggu snow white launcing


***


Sebulan kemudian, saat keluarga Akira sedang makan malam dan si kembar tidur di kamarnya. Pintu rumah Akira di ketuk oleh seseorang.


"Siapa yang ke rumah malam-malam begini?" tanya Nala.

__ADS_1


"Biar Bibi saja yang membukakan pintunya, Nala, kalian makan saja dulu."


Bibi Anjani membuka pintu dan betapa terkejutnya dia melihat ada dua orang yang berdiri di depan pintu rumah Akira.


"Siapa, Bi?" tanya Akira dari arah meja makan yang bisa melihat pintu utama karena tidak ada dinding yang menghalangi.


"Em ... ini?" Bibi Anjani membukakan pintunya lebih lebar.


"Selamat malam, Sayang," Sapa Kei.


Seketika Nala dan Akira beranjak dari tempatnya melihat siapa yang datang dengan mommynya.


Nala memegang tangan Akira, dan Akira menggenggam tangan Nala. Mereka berdua berjalan menghampiri mommy dan daddynya.


"Daddy."


"Apa daddy boleh melihat cucu daddy?" tanya Addrian cepat.


Akira yang terkejut sampai tidak bisa menjawab, dia kemudian langsung memberikan pelukan hangat pada daddynya.


Kei, Bibi Anjani dan Nala seketika meneteskan air mata melihat hal itu. "Daddy tentu saja boleh melihat mereka. Mereka mirip sekali dengan dengan Daddy."


"Aku kan sudah bilang kalau kedua cucu kamu itu mirip sekali sama kamu, Addrian." Kei memeluk mereka berdua.


Setelah melepaskan pelukannya Akira menatap ke arah daddynya. "Daddy, aku senang Daddy mau ke sini untuk bertemu si kembar."


"Maafkan Daddy selama ini, daddy terlalu egois dan termakan gengsi yang tinggi." Sekarang pandangan Addrian tertuju pada Nala yang berdiri dengan wajah takut di sana.


"Daddy, apa Daddy juga sudah mau menerima Nala?" tanya Akira.


"Nala, kemarilah!"


Nal agak kaget dan dia melihat ke arah Akira. Kemudian Nala berjalan perlahan menuju Addrian. "I-iya Tuan Besar Addrian," ucap Nala takut.


"Terima kasih atas pertolongan kamu waktu itu. Maafkan jika sikapku selama ini kurang baik kepada kamu."


"Tidak apa-apa, Tuan Besar Addrian. Aku yang salah sudah hadir di kehidupan Akira."


"Kamu tidak salah. Mungkin benar apa kata Kei, Kamu memang wanita yang pantas untuk menjadi menantuku." Addrian memeluk Nala.

__ADS_1


Author pengen nangis jadinya. Nala akhirnya mendapat pengakuan dari daddy Akira.


__ADS_2