My Secret Love

My Secret Love
187


__ADS_3

Husna tersenyum, “Pertanyaan apa?”


Husna menanyakan itu dengan senyum penuh misteri nya. Tentu saja dia hanya berpura-pura lupa saja karena ingin membuat Andita semakin penasaran.


"Na, jangan berpura-pura seperti itu. Aku tahu kau pasti ingat dengan jelas apa yang ingin ku tanyakan. Ayo jelaskan apa maksud nya dengan makanan tadi hingga kau tidak bisa memakan nya lagi. Padahal jika di lihat-lihat makanan itu tidak seburuk apa dan itu adalah makanan favoritmu." ucap Andita.


Husna dan Azzam saling memandang satu sama lain.


"Katakan saja sayang. Jangan membuat nya penasaran lagi. Aku yakin dia tidak akan mengizinkanmu pergi istirahat sebelum mendapatkan jawaban yang dia inginkan." ujar Azzam.


Husna pun mengangguk setuju akan ucapan suami nya itu dan segera duduk bergabung di ruang tengah itu.


"Kau ingin tahu kenapa aku tidak bisa menikmati makanan itu sesering biasa nya?" Husna bertanya lagi padahal dia sudah tahu jelas bahwa Andita penasaran. Entah kenapa dia menjadi orang menyebalkan dengan menikmati rasa penasaran Andita. Ekspresi yang di tunjukkan teman nya itu membuat rasa bahagia tersendiri dalam diri nya.


"Na, kenapa kau bertanya lagi padahal kau sudah tahu pada aku sudah berada di tingkat penasaran level akut ah bukan level kronis." ucap Andita memelas.

__ADS_1


Husna yang melihat itu pun tertawa, "Alasan nya adalah karena aku hamil." ucap Husna lirih.


Andita yang mendengar ucapan Husna itu pun melongo, "Sungguh? Aku tidak salah dengar kan? Kau hamil?" tanya Andita sambil menatap perut rata Husna.


Husna mengangguk lalu mengambil tangan Andita dan meletakkan nya di perut nya.


"Yah, aku hamil. Kau akan menjadi calon aunty bagi nya. Calon aunty bagi dua anak." ucap Husna.


Lagi-lagi Andita melongo mendengar ucapan Husna, "Apa kembar?" tanya nya lagi masih dengan ekspresi yang sama yaitu speechless.


Husna mengangguk dengan wajah tersenyum, "Ah selamat Na. Aku senang mendengar ini. Aku akan menyiapkan hadiah untuk mereka." ucap Andita senang dan segera memeluk Husna penuh kasih.


"Na, kau apa-apaan sih? Sudah berapa minggu?" tanya Andita mencoba mengalihkan topik karena jujur saja topik pernikahan sangat rawan untuk nya. Takut menyinggung Gilang.


"6 minggu." jawab Zahra.

__ADS_1


"Yah, calon keponakan kita itu masih sangat kecil kak Dita." lanjut nya.


"Kau ini kenapa tidak mengatakan nya padaku?" tanya Andita.


"Kami juga baru mengetahui nya." jawab Azzam.


Andita pun diam saat mendengar ucapan Azzam. Mau sedekat apapun dia dan Husna tetap saja Azzam tidak akan jadi orang yang dia anggap remeh karena bagaimana pun Azzam adalah dosen nya. Rasa hormat itu ada untuk Azzam. Batas itu ada walaupun terkadang Azzam meminta mereka bersikap biasa saat di luar.


"Selamat pak." ucap Gilang.


"Selamat untukmu juga Na." lanjut Gilang menatap Husna sekilas. Yah sekilas saja karena di antara mereka ada batas yang tidak boleh di lewati. Walaupun kini perasaan di hati Gilang itu sudah hilang untuk Husna hanya saja menjaga perasaan Andita adalah tanggung jawab nya.


"Apa Betty dan Ratna sudah tahu kabar ini?" tanya Andita.


Husna menggeleng, "Kau saja baru tau. Aku belum sempat memberikan kabar ini pada mereka." jawab Husna.

__ADS_1


"Aku harus menghubungi mereka." ucap Andita segera meraih ponsel nya.


"Untuk apa?"


__ADS_2