
Akira dan Nala membawa Addrian masuk ke dalam kamar si kembar, mereka berdua tampak lelap dalam tidurnya. Ada dua box bayi di sana
dengan tirai warna pink dan biru. Addrian tampak terharu melihat dua malaikat kecil yang tidur sambil menyangga dagunya dan terlihat lucu.
“Ini cucuku, Kei?”
“Iya, itu cucu kita. Addrian, lihat saja ada garis wajah tampan dan tegas kamu pad wajah kedua cucu kita.”
“Apa Daddy mau menggendong mereka?” tanya Nala.
“Jangan, biarkan saja mereka tertidur dengan pulas, aku tidak mau mengganggunya. Biarkan saja mereka menikmati tidurnya, aku tidak mau
mengganggu mereka, Nala.”
“Bagaimana kalau besok pagi aku akan membawa mereka ke rumah utama, jadi Daddy akan bisa bersama dengan mereka?”
“Memangnya kamu besok tidak ke kantor?”
“Tidak apa-apa, Dad. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika aku tidak mau terlalu di sibukkan dengan pekerjaan kantorku saat aku
memiliki anak. Aku akan lebih banyak waktu dengan mereka.”
“Pemikiran yang bagus, Sayang. Mommy setuju sama kamu, jangan seperti daddy kamu yang sering menghabiskan waktunya dengan banyak
pekerjaan.” Kei melihat ke arah suaminya.
“Jangan memulai membahas hal ini, Kei. Mulai sekarang aku akan menuruti apa kata kamu.”
“Dad, bagaimana kalau kita makan malam bersama?” Akira merangkul pundak daddynya dan mengajaknya keluar.
“Mommy, aku masih tidak percaya jika daddy Addrian mau datang ke sini dan semua keajaiban ini terjadi?”
“Iya, bibi juga masih tidak dapat percaya?”
“Addrian sudah saatnya mendengarkan apa kataku. Selama ini aku menjadi istrinya dan tidak pernah menuntut apa-apa. Di rumah kami berdua kesepian. Orlaf sudah pergi ke London untuk melanjutkan sekolahnya, dia memang
anak yang dewasa dibanding usianya. Usia kita juga sudah waktunya kita beristirahat dan bermain dengan cucu-cucu kita. Sudah! Kita tidak perlu membahas masalah ini, sekarang kita akan menikmati kebahagiaan yang sudah lama pasti kamu impikan Nala.” Kei memeluk Nala. Mereka semua keluar kamar dan
menuju ke meja makan.
__ADS_1
Malam ini adalah malam yang sangat membahagiakan buat Nala. Dia dapat berkumpul bersama dengan kedua mertuanya yang sangat-sangat dia impikan selama ini. Nala seolah memiliki sebuah keluarga yang lengkap yang tidak pernah dia rasakan selama ini sejak kematian kedua orang tuanya.
“Masakan ini enak sekali,” puji Addrian.
“Kalau Tuan Besar Addrian suka, aku akan membuatkannya,” jawab Nala.
“Ini sup merah buatan Nala, Tuan Besar Addrian.”
“Kalian kenapa masih memanggilku dengan nama Tuan Besar Addrian? Panggil aku Addrian saja dan kamu Nala, kamu panggil saja aku daddy karena kamu sudah aku anggap sebagai putriku.”
“I-iya, Daddy.”
“Jadi ini buatan Nala? Aku sangat menyukainya.” Addrian makan dengan lahapnya. Nala tampak sangat senang dengan pujian mertuanya.
Keesokan harinya seperti janji Akira, dia membawa si kembar ke rumah utama. Setelah memandikan kedua bayi kembarnya, Nala dan Akira pamit kepada Bibi Anjani dan mereka pergi dari sana. Nala duduk di belakang menemani si kembar yang di tidurkan di sebuah box dengan keamanan yang sudah Akira siapkan. Tidak lama mereka sampai di rumah utama keluarga Danner. Ada hal yang
berdesir sejenak dari hati Nala melihat kembali rumah itu.
“Selamat pagi cucu-cucu ganteng dan cantik Mommy Kei.” Kei menyambut mereka di depan pintu utama. Kei membantu Nala membawa salah satu dari cucunya dan masuk ke dalam rumah.
“Daddy mana, Mom?”
Nala dan Kei duduk di ruang tengah dengan menggendong anak kembar Nala. Tidak lama Addrian datang dan dia tampak senang melihat dua bayi kembar yang tersenyum cekikikan karena di goda oleh Kei.
“Apa aku boleh menggendong salah satu cucuku?” tanyanya kemudian.
“Tentu saja kamu boleh menggendong mereka, Addrian.” Kei memberikan Nara pada Addrian, Addrian sangat menyukai melihat cucu perempuannya itu. Bagaimana tidak, semua anak-anaknya laki-laki semua dan ini pertama kali dia memiliki cucu perempuan.
“Kalian berdua lucu sekali dan benar-benar menggemaskan. Kalian akan menjadi orang besar seperti kakek dan ayah kalian.”
Akira tersenyum melihat wajah yang tidak biasa yang diperlihatkan oleh daddynya. Wajah bahagia dan lebih lembut dibandingkan dengan
wajah yang selalu dia lihat dari daddynya.
Tidak lama ponsel Akira berdering dan dia melihat ada nama seseorang yang dia kenal. “Aku mau menerima telepon dulu.” Akira beranjak dari tempatnya dan memilih berjalan ke ruang tamu untuk menerima telepon tersebut.
“Siapa yang menghubungi? Kenapa Akira pergi menjauh begitu?” tanya Addrian heran.
“Mungkin dari kantornya, Dad. Aku percaya dengan Akira.” Nala tersenyum.
__ADS_1
“Kamu ternyata memang wanita yang sangat pantas untuk Akira, hanya saja aku yang kurang lebih mengenal kamu, Nala.”
“Jujur saja, aku juga dulu mengira Daddy orang yang menakutkan, bahkan aku saja takut hanya untuk menatap Daddy.” Nala tersenyum
kecil.
“Addrian memang orang yang menyeramkan saat pertama kali melihat. Semua karyawan di kantornya saja takut kalau Addrian sudah berada di kantor. Mommy saja dulu pertama kali bertemu juga mengira jika daddy kamu ini
orang yang menyebalkan, tapi ternyata dia sangat perhatian dan sayang dengan keluarga.”
“Mirip seperti Akira,” jawab Nala.
“Benar sekali apa kata kamu, Sayang. Rhein itu yang berbeda, tapi dia bisa di bilang jika dia mirip denganku.”
“Rhein bagaimana kabarnya, Mommy?”
“Dia baik di sana, dia juga sedang di sibukkan dengan pekerjaan barunya. Dia pernah bertanya tentang keadaan kamu dan Akira. Dia juga
senang dengan kabar tentang dua keponakannya, dia minta maaf jika dia tidak
bisa datang karena pekerjaannya itu.”
“Nala, apa daddy boleh bertanya?”
“Tentu saja, Dad.”
“Kamu dan Rhein dulu apa benar-benar tidak memiliki hubungan apa-apa?”
“Aku dan Rhein hanya berteman baik, Dad. Rhein sangat baik denganku dan aku tau semua yang dia lakukan itu tulus. Sebelum bertemu dengan Rhein aku sudah menjadi istri Akira, dan aku benar-benar menjaga statusku itu, Dad.”
“Iya, Rhein juga bercerita jika Nala tidak pernah merespon pernyataan cinta darinya.”
Tidak lama Akira kembali ke ruang tengah dengan muka seperti ada masalah yang sedang terjadi. “Ada apa, Akira? Apa ada masalah?” tanya Nala heran melihat raut wajah suaminya yang tampak murung.
Akira duduk kembali di sofa dan melihat ke arah Nala. "Nala, aku baru saja mendapat berita tentang Tata dari orang-orangku."
"Berita tentang Tata? Memangnya ada apa sama Tata, Akira?" tanya Nala kembali sekarang dengan wajah penasaranannya.
Kei dan Addrian juga saling melihat satu sama lain.
__ADS_1
Author kok jadi tegang ya?