
Uni keluar dari dalam kamar Aro dengan berjalan perlahan-lahan dan terus terngiang apa yang barusan di katakan oleh Aro. Kenapa waktu dulu saat Rendy mengatakan cinta kepada Uni, Uni tampak biasa saja tidak merasakan hal yang berbeda, tapi waktu Aro mengatakan hal itu ada perasaan aneh yang Uni rasakan.
"Aku ini kenapa, Sih?"
"Memangnya kamu kenapa?"
"Nenek! Nenek kok ada di sini?" Uni tiba-tiba kaget melihat ada nenek Anjani ada di sampingnya.
"Kamu itu yang tidak sadar, orang nenek dari tadi ada di sini dan melihat kamu berjalan melamun dari kamar Aro. Kamu juga berdialog sendiri."
"Aku tidak melamun, Nek."
"Jangan bohong, katakan kamu kenapa? Apa di marahi sama Aro tadi?"
"Aro tidak memarahiku, Nek. Tadi aku sedang memikirkan tentang ujian kuliahku yang ada segera di mulai."
"Memangnya kenapa dengan ujian kamu? Kamu merasa tidak bisa mengerjakan? Atau tentang biayanya?"
"Oh bukan, Nek."
"Lalu?"
"Tidak ada apa-apa, Nek." Uni meringis.
"Kalau soal biaya kamu bisa bilang sama nenek. Nenek bisa membantu kamu."
"Tidak perlu, Nek. Kapan hari sudah aku cicil perlahan-lahan saat aku masih bekerja di restoran itu, jadi tidak terlalu memberatkan.
"Kamu memang gadis yang sangat bijak, bisa memikirkan hal yang lebih penting untuk di dahulukan."
Uni menyiapkan makan malam dan mereka makan malam bersama-sama. Uni juga ikut makan malam dan duduk di sebelah Aro.
"Uni, apa kamu tidak membutuhkan sesuatu untuk kuliah kamu?" tanya Akira.
"Tidak ada, Ayah Akira."
"Maksud ayah Akira kamu. Apa kamu membutuhkan membeli buku atau membayar ujian," jelas Nala.
__ADS_1
"Tidak ada, Ibu Nala, Ayah Akira. Aku sudah memiliki buku yang dipinjami oleh Ara, dan biaya ujian sudah dari awal aku cicil saat aku masih bekerja di tempatku yang lama."
"Ya sudah kalau begitu, kalau kamu membutuhkan sesuatu, kamu boleh mengatakan pada Ibu Nala kamu." Uni mengangguk lalu kembali makan.
"Uni, makan yang banyak, kenapa makan kamu sedikit sekali? Lauknya juga banyak, kamu kenapa mengambil cuma sedikit?" Ara menyerocos.
"Ini saja cukup, Ara."
Tiba-tiba Aro memberikan lauk ikan ayam dan sayur pada piring Uni. "Makan yang banyak. Apa kamu tidak sadar kalau kamu kurus kering begini?" ucap Aro tegas.
"Aku tidak kurus, aku biasa saja."
"Biasa apanya? Kamu pasti di rumah kamu dulu tidak pernah di jatah makan oleh tante kamu?"
"Aku di kasih makan, kok. Aku kan yang memasak makanan di sana tiap hari."
"Kamu cuma disuruh memasak, tapi tidak di suruh makan, mereka kan memang tidak suka sama kamu."
Uni terdiam dengan mengerucutkan bibirnya. Dia tidak menyangkal jika yang di ucapkan Aro memang benar, dulu saja Uni hanya boleh membawa bekal sedikit saja, tantenya beralasan agar nanti makan siang masakannya masih cukup.
Ara terkekeh melihat perdebatan dua pasang kekasih yang lagi backstreet ini. "Kalian ini lucu sekali. Sudah! Uni makan saja, benar kata Aro kalau kami harus makan lebih banyak, biar kuat menghadapi saudara kembarku itu."
"Aro kan ngeselin, Ma. Apalagi mereka berdua ini kadang sering ribut hal yang tidak penting. Contohnya tadi."
Nala menggeleng-gelengkan kepalanya dan mereka kembali melanjutkan makan malamnya. Setelah makan malam. Uni membersihkan semuanya.
"Kalau sudah selesai, kamu cepat tidur karena sudah malam."
"Tapi aku mau mencuci dulu, Nek. Supaya besok pagi sudah aku selesaikan semuanya. Ini waktunya aku mencuci baju-baju ini."
"Kamu tidak capek? Kalau capek besok saja pulang kuliah."
"Hari ini saja, Nek. Aku lusa mau izin ke acara bazar soalnya. Nenek tidur dulu saja."
"Ya sudah kalau begitu."
Uni berjalan menuju ruang belakang dengan membawa cucian yang akan dia masukkan ke dalam mesin cuci. Uni merendamnya dulu kemudian mengucek dan membersihkan noda-noda yang ada, kemudian dia memasukkan ke dalam mesin cuci."
__ADS_1
"Aku akan mengatakan semua pada Via kalau aku bekerja di rumah Aro. Dan berharap Via tidak salah paham sama aku." Lagi-lagi Uni berdialog sendiri.
Malam itu semua sudah tidur, dan hanya Uni yang masih membuka kedua matanya karena dia ingin menyelesaikan pekerjaannya. Dia juga sudah biasa melakukan pekerjaan pada malam hari.
Aro yang terbangun tengah malam, dia menuju dapur karena gelas minumannya habis saat dia ingin minum. Aro mendengar ada suara berisik dari dalam ruang cuci.
"Uni? Kamu sedang apa?"
"Aro! Kamu mengagetkan aku saja." Uni yang asik melamun kaget saat mendengar panggilan Aro.
"Kamu sedang apa tengah malam begini?"
"Aku sedang bermain sepak bola." Uni memutar bola matanya jengah."
Aro langsung menarik pinggang Uni sehingga gadis yang tingginya sepundak Aro itu langsung menabrak tubuh aro. "Kalau di tanya itu harus menjawab dengan baik. Atau hukuman kamu aku tambah lagi?"
"Hukuman? Memangnya kamu mau memberiku hukuman? Atas dasar apa?" Uni seolah menantang Aro dengan mengangkat kepalanya angkuh melihat Aro.
"Kamu lupa pembicaraan kita tadi? Dan sekarang kamu menjawab pertanyaanku seenaknya."
Uni perlahan-lahan menundukkan kepalanya tidak berani melihat Aro. "Aku kan sudah minta maaf. Lagian jangan membuat aku sulit? Atau aku akan mengundurkan diri saja dari rumah kamu karena tidak kuat sama perilaku kamu."
"Coba saja. Kamu pikir aku takut dengan ancaman kamu itu? Hal itu akan lebih membuat aku lebih leluasa untuk bertemu dengan kamu tanpa harus takut jika keluargaku tau. Apa itu yang kamu mau sebenarnya?"
"Huft! Kamu benar-benar selalu membuat aku tidak ada pilihan lagi saja."
"Kamu kenapa tidak tidur? Kenapa tengah malam mencuci baju?" Aro berbicara sambil masih memeluk Uni."
"Aku mau menyelesaikan tugasku yang seharusnya dari kemarin aku selesaikan, dan nanti agar pas aku izin pergi dengan Via. Pekerjaanku tidak banyak yang terbengkalai."
"Kamu tidak capek memangnya? Apalagi ini sudah tengah malam, kamu tidak ngantuk?"
"Aku sudah biasa, Aro. Sekarang lepaskan tangan kamu dari pinggang aku, aku mau menyelesaikan tugasku dulu."
"Uni, apa aku bisa minta tolong untuk mengambilkan air minum? Tadi aku mau mengambil air minum, tapi tidak jadi karena aku mendengar suara dari sini."
"Iya, aku ambilkan."
__ADS_1
Aro melepaskan tangannya pada pinggang Uni kemudian Uni berjalan menuju dapur mengambilkan Aro air minum. Tidak lama Uni kembali dan melihat Aro sedang mengambili cucian di dalam mesin cuci yang sudah selesai, memasukkan ke dalam bak bersih di sana dan siap untuk di jemur.
"Uni, ini sudah selesai, apa sekarang yang kita lakukan?"