
"Umi bicara apa?" abi Syarif mengajukan pertanyaan karena dia tidak memahami ucapan istri nya itu.
Umi Balqis pun segera duduk di sofa berhadapan dengan sangat suami, "Asupan apa lagi coba yang bisa meningkatkan hormon keceriaan setiap pria di pagi hari jika bukan--" ucapan umi Balqis terpotong karena abi Syarif langsung memotong nya.
"Ahh abi paham." potong Abi Syarif tersenyum.
"Apa itu berarti cucu kita sedang di usahakan agar segera hadir." lanjut abi Syarif.
Umi Balqis pun mengangguk, "Seperti nya begitu. Umi punya firasat saat ini putri kita kemungkinan besar sudah mengandung tapi mereka tak menyadari nya." jawab umi Balqis.
Abi Syarif yang mendengar perkataan sangat istri pun tersenyum senang, "Tapi jangan senang dulu bi. Ini baru pendapat umi. Kita tahu apa itu benar atau tidak. Kita harus meminta Husna memeriksakan kandungan nya tapi tidak hari ini, dia masih harus menjalani ujian sidang." ucap umi Balqis.
__ADS_1
"Lagi pula mereka masih sangat muda. Jadi memiliki kesempatan untuk mendapatkan keturunan itu panjang." sambung Umi Balqis.
Abi Syarif mengangguk membenarkan ucapan istri nya, "Namun, tetap saja kita tidak boleh terlena dengan usia muda. Kita sendiri sudah mengalami hal itu. Abi bukan bermaksud mengingatkan apa yang sudah terjadi pada kita hanya saja itu harus di jadikan pelajaran. Punya satu putri saja abi sudah merasa sangat cukup dan terberkati karena tidak semua orang tua akan mendapatkan keberuntungan memiliki putri seperti putri kita." timpal Abi Syarif.
Umi Balqis pun mengangguk tersenyum setuju dengan ucapan sangat suami.
Mereka bukan nya mengejar gelar memiliki seorang menantu hingga menikahkan putri satu-satu nya yang mereka miliki di usia muda nya secepat ini. Hanya saja alasan takut tidak bisa menunaikan tanggung jawab itu menjadi sebuah beban bagi mereka. Hingga dengan berat hati harus menikahkan sang putri di usia belia nya. Tapi kini mereka tidak menyesal melakukan nya karena putri tunggal mereka itu memiliki suami yang sangat menyayangi dan mencintai putri mereka.
Di tengah-tengah pembicaraan umi Balqis dan abi Syarif, Husna turun dengan pakaian formal nya khas mahasiswa yang akan ujian akhir. Dia terlihat sangat fresh dalam balutan pakaian itu yang memang sangat pas di tubuh ramping nya.
Umi Balqis dan abi Syarif pun segera menghentikan pembicaraan mereka terkait sangat putri begitu melihat putri mereka yang turun dengan dokumen di tangan nya.
__ADS_1
Umi Balqis segera bangkit dari tempat duduk nya dan berjalan mendekati sang putri.
"Sarapan dulu, nak." ucap umi Balqis.
Husna menatap jam di tangan nya terlebih dahulu sebelum menjawab ajarkan sang umi. Setelah memastikan dia masih punya waktu dia pun segera mengangguk mengiyakan ajakan sang umi karena jujur saja dia pun merasa kelaparan pengaruh aktivitas nya bersama sang suami beberapa menit yang lalu.
"Makan lah yang banyak, nak. Waktu ujianmu akan di atur oleh Azzam." ucap umi Balqis saat melihat putri nya itu hanya mengambil makanan sedikit.
"Aku sangat menyukai makanan buatan umi ini. Hanya saja aku tidoa ingin mengubah jadwal ujianku. Itu bukan lah sikap profesional. Aku akan berbuat dzalim pada mahasiswa lain yang tiba-tiba saja waktu ujian nya di majukan atau di mundurkan. Aku akan tetap ujian di waktu yang sudah di tentukan seperti sebelum nya. Aku sudah menghubungi kak Gauri untuk tetap ujian di waktuku." jawab Husna.
Umi Balqis pun hanya bisa mengangguk saja mendengar ucapan putri nya itu karena tahu bagaimana watak sang putri yang jika sudah membuat keputusan maka tidak bisa di ganggu gugat.
__ADS_1
Husna pun menikmati sarapan terlambat nya itu dengan suasana hening dan hanya suara sendok yang terdengar. Dia sangat menikmati makanan buatan umi nya itu. Makanan favorit nya yang butuh proses lama pembuatan nya. Tapi entah alasan apa hari ini umi nya itu membuat makanan itu.