
“Uni, diam!” Aro memegang kedua lengan Uni dan seketika tubuh Uni terdiam di depan Aro masih dengan tangan menyilangkan menutupi
dadanya.
“Aro, aku malu.” Uni menunduk.
Tangan Aro meraih handuk yang ada di samping pintu dan dengan cepat dia menyelimuti tubuh Uni dengan handuk itu. Uni mengangkat kepalanya melihat wajah Aro. “Aku bukan pria mesum seperti yang kamu bayangkan, Uni. Aku hanya terkejut saja melihat hal tadi, lagian aku juga tidak akan cerita sama siapa-siapa soal hal ini. Sekarang kamu ganti baju dulu, kamu tidak mau masuk angin, Kan?”
Uni keluar dari dalam kamar Aro dengan berselimut handuk, Nala melihat Uni yang berselimut handuk dengan rambut basah. “Kamu kenapa, Uni? Kenapa sampai seperti ini?”
“Tadi saya jatuh di kamar mandi, Ibu Nala karena saya kaget melihat ada kecoa di dalam kamar mandi dan saya tidak sengaja memutar shower sampai akhirnya seperti ini.”
“Ya ampun, Nala! Kenapa kamu tidak hati-hati.” Nala memeriksa apa Uni terluka. “Lain kali hati-hati, dan nanti masalah kecoa itu akan aku cari kenapa bisa masuk ke dalam kamar mandi Aro.”
“Mungkin dari lubang pembuangan air yang terbuka, apalagi beberapa hari ini juga sering gerimis.”
“Ya sudah kalau begitu kamu segera berganti baju dan nanti saja lanjutkan pekerjaan kamu.” Uni mengangguk dan pergi ke dalam kamar neneK Anjani.
Malam hari mereka makan bersama di meja makan, Uni menyiapkan semuanya dan Akira menyuruh Uni untuk makan bersama dengan mereka walaupun awalnya Uni menolak, tapi akhirnya Uni mau makan bersama dengan
mereka.
“Uni, mulai sekarang kamu tinggal di sini saja bersama dengan kamu, nanti ruangan gudang akan aku ubah menjadi kamar yang bisa kamu tempati,” terang Akira.
“Terima kasih, Ayah Akira. Aku sebenarnya tidak mau merepotkan ayah Akira dan keluarga, aku bisa mencari tempat tinggal yang cukup
untuk diriku.”
“Tidak perlu kamu di sini saja, jadi kamu tidak perlu pulang pergi dari tempat tinggal kamu ke sini, dan kamu bisa menabung untuk biaya
kuliah kamu, Uni.”
Kei dan Addrian yang ada di sana melihat pada Uni yang memang tampak sangat lugu dan polos. “Kalau mau aku akan membelikan rumah
sederhana untuk Uni tinggal, jujur saja opah sangat prihatin mendengar cerita tentang kehidupan kamu dari menantuku.”
__ADS_1
Seketika Uni melihat kaget ke arah pria dengan rambut putihnya yang saat datang tadi membuat Uni bergidik takut karena memang wajah Addrian kan terlihat sangar dan galak. “Tidak perlu Tuan besar kakek.” Uni
sampai belibet menyebut Addrian.
“Panggil saja dia Opah Addrian, Uni,” ucap Kei. “Kamu kan tadi sudah di beritahu untuk memanggilnya apa.”
Uni mengangguk dengan cepat. “Iya, Oma Kei. Aku tidak perlu di belikan rumah, lagian aku hanya tinggal sendiri, jadi tidak perlu memiliki
rumah, nanti saja jika aku sudah lulus kuliah dan bekerja, aku pasti bisa membeli rumah sendiri.”
Ara terkekeh pelan. “Impian kamu bagus sekali, tapi itu masih kelamaan Uni. Kamu nanti menikah saja sama Aro dan bisa tinggal di sini,”
celetuk Ara.
Uni kembali mendelik mendengar celetukan Ara yang ngasal. Beda dengan Aro yang hanya diam menikmati makanannya.
“Ara!”
“Eheheh! Aku hanya menggoda Uni, Bu. Eh, tapi siapa tau jodoh, apa Ibu belum tau jika Uni ini sebenarnya Sita teman masa kecilku dulu?
“Sita?” Nala melihat ke arah Uni. “Jadi kamu Sita gadis kecil itu? Yang suka pulang sekolah dengan pengasuh kamu?”
Uni mengangguk perlahan. “Iya, Ibu Nala, saya Sita teman waktu kecil Ara dan Aro, saya juga baru tau jika Ara dan Aro adalah temanku
dulu.”
“Aku juga masih ingat dengan gadis kecil itu dulu. Jadi kamu Sita?” lanjut Oma Kei.
“Kalau kamu memilki cita-cita ingin sukses dengan usaha kamu sendiri, opah sangat menghargai dan salut sama kamu, Uni. Nanti setelah lulus kuliah, kamu bisa bekerja di perusahaan opah atau Akira, asal kamu bisa
menguasai pekerjaannya. Oleh dari itu kamu harus mulai serius kuliah agar bisa mendapat nilai yang baik.”
“Iya, Opah Addrian, aku akan berusaha sebaik mungkin. Terima kasih kalian sudah sangat baik kepadaku, aku seolah sudah tidak takut lagi memikirkan tentang masa depanku kelak.” Uni meghapus air matanya.
“Kamu kenapa cengeng sekali? Pantas saja kamu menerima semua perlakuan tante kamu. Jangan jadi gadis yang cengeng, kamu harus kuat menghadapai kehidupan kamu, Uni,” ujar Aro dengan nada menekankan.
__ADS_1
Ara melirik pada Aro. Tumben ini saudaranya peduli dengan orang lain sampai memberinya semangat begitu. “Wajar saja dia menangis, Aro, dia kan cewek jadi perasaannya sensitif. Beda kalau sama kamu terlalu tidak peka,” kata Ara kesal.
Makan malam akhirnya berlangsung dengan hangat dan mereka berbincang-bincang bersama di ruang keluarga, sedangkan Uni mencuci piring di dapur. Tidak lama Aro datang dan meminta Uni membuatkan lemon tea hangat.
“Kamu kenapa? Kelihatannya kamu sedang tidak enak badan?”
Hacing!
“Tidak tau, aku sepertinya agak flu dan badanku agak tidak enak.”
Tangan Uni reflek memegang dahi Aro sambil menjinjitkan kedua kakinya karena memang Aro yang tingginya melebihi Uni. “Kamu agak demam, mungkin tadi karena aku memeluk kamu sampai baju kamu basah.”
“Tidak, kok, memang dari kemarin badan aku kadang terasa tidak enak, hanya saja aku tidak terlalu memperdulikannya.”
Uni mematikan air pada wastafel karena sudah selesai dan mencari sesuatu di dalam tempat bumubu masakan. “Aku akan membuatkan kamu jahe hangat agar kamu lebih baik. Kamu duduklah dulu.”
“Jahe hangat? Memang itu enak?”
“Tentu saja, bisa juga untuk menghangatkan tubuh apalagi kamu sedang flu begini.”
“Terserah.” Aro duduk di kursi pantry yang ada dekat kabinet memperhatikan Uni sedang membuat minuman jahe hangat. Tidak lama Uni membawa secangkir jahe hangat dan memberikan pada Aro. Aro memperhatikan isi dari minuman itu. “Ini jahe hangatnya?”
Uni mengangguk dan menyuruh Aro minum pelan-pelan karena masih panas. “Cobalah, kamu pasti suka.” Aro mulai mencoba sedikit dan mukanya berubah aneh. "Enak, kan?"
"Rasanya kenapa aneh begini?"
"Aneh? Ini tidak aneh, Aro. Kamu yang memang tidak pernah mencobanya. Minum lagi supaya badan kamu agak enakan, atau mau aku suapi pakai sendok?"
"Aku bukan anak kecil! Tidak perlu di suapi," jawab Aro ketus.
"Syukurlah, aku hanya berbasa basi saja, kok." Uni menunggui Aro menghabiskan minumannya.
Tidak lama jahe hangat buatan Uni akhirnya habis walaupun muka Aro terlihat terpaksa. " Sudah habis, sekarang apa lagi?"
"Kamu istirahat saja, jangan tidur terlalu malam, kamu pasti keseringan tidur tengah malam."
__ADS_1
"Kamu lupa kalau kamu yang membuat aku begitu?"