My Secret Love

My Secret Love
191


__ADS_3

Sementara di depan sana, Gentala berdiri di depan mobil nya menunggu Zahra yang ternyata masih ke kamar nya untuk mengambil sesuatu.


Tidak lama Zahra keluar dan Gentala pun segera mendekati Zahra.


“Kak Gen, kenapa kau ada di sini?” tanya Zahra menyembunyikan rasa terkejut nya serta rasa senang nya yang sudah kegeeran melihat Gentala di sana.


“Aku akan menemanimu membeli pesanan rujak Husna.” Jawab Gentala.


“Eh gak usah kak. Aku pergi dengan supir saja.” tolak Zahra di lisan nya. Padahal di hati nya mengiyakan ajakan Gentala. Seperti biasa gengsi perempuan itu sangat tinggi. Dia ingin melihat sejauh mana Gentala dengan keinginan nya itu.


“Please ikut saja denganku.” ucap Gentala yang langsung menarik tangan Zahra menuju mobil nya.


Zahra yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya bisa menurut dengan hati nya yang berbunga-bunga tapi berusaha dia sembunyikan lewat ekspresi nya yang terlihat biasa saja.


Gentala segera membukakan pintu depan mobil untuk Zahra. Zahra pun segera masuk tanpa menolak lagi karena hal ini pun keinginan nya. Tidak perlu meminta izin lagi karena dia yakin abang dan kakak ipar nya itu tahu bahwa Gentala yang akan ikut mengantar nya. Bisa saja ini juga rencana kakak ipar nya yang tentu saja di dukung penuh oleh sang abang.


Tidak lama mobil Gentala pun segera keluar dari halaman kediaman itu menuju gerbang complex. Lima menit saja mereka sudah tiba di gerbang complex tapi di sana tidak ada yang menjual rujak.


“Apa di sini tempat nya?” tanya Gentala sambil melihat sekeliling.


Zahra pun ikut melihat keluar lalu dia menepuk kening nya dan menghela napas karena baru saja tersadar dengan semua nya. Kenapa dia baru ingat bahwa tidak ada yang menjual di sini karena memang complex kediaman orang tua Husna itu adalah kawasan elit. Di larang berjualan di depan complex.


Zahra memijat kepala nya yang tiba-tiba saja pusing karena tidak habis pikir dengan kakak ipar nya yang sudah membodohi nya seperti ini. Tapi dia juga yang salah sih yang langsung saja mengiyakan ucapan kakak ipar nya tanpa berpikir panjang.

__ADS_1


Gentala yang melihat ekspresi Zahra pun seketika paham apa yang terjadi. Dia menyunggingkan senyum nya karena menyadari bahwa Husna dan Azzam mungkin saja memang mengatur scenario ini untuk nya agar bisa bersama Zahra.


“Apa kita pulang saja atau lanjut mencari rujak di tempat lain?” tanya Gentala setelah cukup lama tidak ada pembicaran di antara mereka.


“Aku hubungi kakak ipar dulu.” Ucap Zahra lalu mengambil ponsel nya dari tas dan segera menghubungi Husna.


Tidak lama panggilan segera tersambung, “Bagaimana dek? Apa ada abang rujak nya? Kakak melihat ada abang rujak di sana tiga hari lalu, apa masih menjual di sana gak dek?” tanya Husna begitu sambungan terhubung.


“Gak ada kak. Abang rujak nya gak ada. Terus apa mau aku belikan di tempat lain?” tanya Zahra.


“Jika tidak merepotkan tentu saja boleh dek. Kakak tidak mungkin menolak. Begitu juga dengan calon kedua keponakanmu. Mereka tidak akan melupakan kebaikan aunty mereka.” ucap Husna dengan renyah nya.


“Baiklah. Aku akan mencarikan nya untukmu dan calon keponakanku kak.” Ucap Zahra.


“Okay. Cari di taman kota saja ya dek. Kata Dita rujak di sana lezat.” Ucap Husna tiba-tiba saja hingga Andita yang mendengar kalimat nya itu kaget sambil mengangkat alis nya. Tapi Husna hanya tersenyum saja. Semua yang di sana pun paham apa yang saat ini di rencakan oleh Husna.


“Ke taman kota kak. Kata kakak di sana ada rujak yang lezat.” Ucap Zahra kepada Gentala.


Gentala pun mengangguk lalu segera menjalankan mobil menuju taman kota.


Ting


Satu pesan masuk ke ponsel Zahra dan itu dari Husna.

__ADS_1


[Nikmati lah waktumu dengan Gentala, dek. Pulang lah saat kalian sudah puas jalan bersama. Tidak masalah jika tidak ikut berbeque bersama kami. Rujak nya pun tidak masalah jika nanti kalian pulang kalian bawa. Kakak harap hubungan kalian akan baik-baik saja. Ini adalah kesempatan untukmu. Ingat, tidak perlu merendah dan biarkan semua nya berjalan seperti biasa saja.]


Zahra yang membaca pesan dari kakak ipar nya itu pun tersenyum dan hati nya meluapkan perasaan bahagia. Dia bangga memiliki kakak ipar seperti Husna yang selalu memperhatikan nya sampai ke kisah percintaan seperti ini. Hal ini lah yang membuat nya terbuka dengan Husna mengenai masalah apapun. Kakak ipar nya itu adalah kakak ipar ter the best. Bukti nya adalah ini. Kakak ipar nya itu punya banyak ide untuk membuat nya bisa pergi dengan Gentala.


“Dek!” panggil Gentala.


Zahra pun menoleh ke arah Gentala, “Iya kak.” Jawab Zahra.


“Aku ingin bertanya sesuatu. Itu mengenai kalimatmu tadi dengan Husna. Apa maksud nya keponakan? Apa--”


Zahra mengangguk dan tersenyum, “Hum, kakak ipar hamil dan Alhamdulillah mengandung kembar. Untuk itu lah abang sangat menjaga nya.” jawab Zahra dengan wajah penuh senyum bahagia. Bahagia akan menjadi aunty dari dua keponakan sekaligus untuk sembilan bulan mendatang dan bahagia karena saat ini bisa pergi bersama seseorang yang dia cintai.


“Wah, selamat kamu akan menjadi aunty dari dua keponakan sekaligus. Aku tidak menyangka Husna akan menjadi ibu di usia nya yang semuda itu. Dulu aku berpikir dia adalah gadis es yang mungkin saja akan sulit di cairkan. Tapi ternyata pak Azzam adalah matahari hingga membuat nya mencair semudah itu. Bahkan julukan yang pernah tersemat untuk nya segera menghilang setelah identitas nya beredar.” Ucap Gentala.


Zahra pun tersenyum karena dia memang mengakui bahwa kakak ipar nya itu sosok yang misterius, “Abang dan kakak ipar adalah teman di masalalu kak.” Ucap Zahra.


Gentala pun mengangguk, “Aku berharap kita pun bisa seperti mereka. Teman di masa ini dan pasangan di masa yang akan datang. Apa aku bisa berharap seperti itu?” tanya Gentala menatap Zahra sekilas.


Zahra diam dan tersenyum, “Aku juga menginginkan hal yang sama.” balas Zahra lirih tapi mampu di dengar oleh Gentala dan dia tersenyum mendengar kalimat itu.


Gentala segera melajukan mobil menuju taman kota dan di sana memang benar ada yang menjual rujak tidak seperti di gerbang komplek tadi.


Gentala segera turun dan membantu Zahra membukakan pintu mobil. Kedua nya segera menuju abang tukang rujak dan segera membeli rujak pesanan Husna.

__ADS_1


Setelah menerima pesanan mereka dari abang tukang rujak, kedua nya segera kembali ke mobil.


“Kita pulang?”


__ADS_2