My Secret Love

My Secret Love
Perasaan Apa Ini?


__ADS_3

Uni masih mencoba menenangkan hatinya yang tidak karuan."Uni, kamu kenapa?" Sebuah tepukan membuat Uni kaget dan wajahnya tampak pucat pasi. "Wajah kamu pucat sekali, kamu baik-baik saja, kan?" Tangan Nenek Anjani memeriksa dahi Uni.


"Uni baik-baik saja, Nek. Uni hanya kaget."


"Kaget apa? Apa kamu melihat hantu?" Nenek malah terkekeh pelan.


'Mending melihat hantu, dari pada aku dicium seperti tadi.' Uni berdialog sendiri.


"Uni, kamu melamun apa?"


"Uni tidak apa-apa, Nek. Uni ke kamar dulu ya, Nek? Nanti Uni akan membersihkan semuanya." Uni dengan cepat berjalan ke dalam kamarnya.


"Dia itu kenapa seolah habis melihat hantu saja." Gelengan kepala nenek Anjani.


Di dalam kamar Uni duduk di atas ranjang dan agak sedikit bingung. "Aku tidak boleh menyukai Aro, begitupun dengan Aro tidak boleh menyukaiku, tapi apa ciuman itu artinya dia menyukaiku?" Uni mengacak-acak rambutnya kesal.


"Aku harus membuat Aro menyukai Via karena Via lebih cocok dengannya. Aku tidak mau Via salah paham dan menganggap aku berkhianat. Aku tidak ada perasaan apa-apa sama Aro," ucapnya lirih.


Setelah hatinya agak tenang, Uni keluar dari dalam kamar dan kembali menuju dapurnya, dia membersihkan semua peralatan makan.


"Uni! Coba kamu lihat, apa aku dan mamaku tampil cantik hari ini?"


Uni agak kaget mendengar panggilan dari Ara, dia seketika menoleh ke arah belakang dan melihat Ara sudah tampil sangat cantik dengan balutan gaun yang waktu itu di belikan oleh omahnya.


"Kamu cantik sekali, Ara." Uni mendekat memutari tubuh Ara melihat seksama penampilan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Benar aku sangat cantik?" Uni mengangguk cepat. "Omahku pandai sekali memilihkan gaun ini untukku. Lalu rambutku aku apakan ya?" Ara berpikir.


"Nanti aku saja yang mengatur rambut kamu."


"Memangnya kamu bisa?"


"Bisa lah! Kamu lupa aku suka sekali menyisir dan membuat rambut boneka barbie kamu menjadi cantik."


"Hah? Itukan rambut barbie, rambutnya memang panjang, tebal, dan sangat bagus. Kamu jangan menyamakan dengan rambutku?"


"Tapi kan sama - sama rambut, Ara. Sudah, nanti biar aku yang mengatur semuanya. Percaya saja sama aku, ya?"


"Okay kalau begitu. Aku mau mandi dulu bersiap-siap dan nanti kamu ke kamarku, ya?"


Uni berjalan ke luar dan Ara masuk ke dalam kamarnya. Uni kembali teringat memikirkan ciuman yang tadi Aro lakukan padanya. Dia berharap tidak sampai membuat dia ada perasaan sama Aro. Uni benar-benar takut hal itu bisa membuatnya jatuh cinta sama Aro.


"Uni ... Uni," suara panggilan itu tidak membuat Uni tersadar. "Uni, kamu melamun apa?" sekali lagi Uni mendapat tepukan yang membuatnya tersadar dari lamunannya.


"Ibu Nala?" Uni mendelik melihat ada Nala yang barusan turun dari mobil.


Nala tersenyum kecil pada Uni. "Kamu melamun apa? Itu lihat air dalam tempat menyiram bunga kamu sudah habis, tapi kenapa kamu masih menuangkan saja?"


Uni seketika melihat pada tempat menyiram air yang masih dia tuangkan ke bawah seolah dia sedang menyiram tanaman.


"Oh ini!" Uni segera meletakkan tempat itu di bawah. "Saya minta maaf, Ibu Nala." Raut wajah Uno berubah aneh.

__ADS_1


"Kamu sedang melamun pacar kamu, ya?" Nala menggoda Uni.


"Pacar? Aku tidak punya pacar kok Ibu Nala. Alu tadi hanya--?" Uni bingung mau bicara apa dia malah menggaruk-garuk kepalanya.


"Hem ... pasti pacar atau orang yang kamu sukai?"


"Benar Ibu Nala, aku tidak mempunyai pacar atau orang yang aku sukai, aku hanya melamun tentang masa laluku saja waktu kecil."


"Ya sudah kalau begitu. Kalau sudah selesai cepat masuk, tidak baik anak gadis di luar rumah jam-jam segini. Nanti susah dapat pacar loh," celetuk Nala sambil terkekeh dan masuk ke dalam rumah.


"Kenapa membahas pacar lagi?" ucap lirih Uni dan dia mengikuti Nala masuk ke dalam rumah. Beberapa menit berlalu, Uni sudah menyelesaikan pekerjaannya dan sekarang dia ada di dalam kamar Ara.


Sesuai ucapan Uni pada Ara tadi, Uni membantu Ara menata rambutnya karena Ara dan keluarganya akan pergi ke pesta undangan dari oma dan opanya.


Mereka berdua duduk di depan cermin dan Uni tangannya sedang sibuk dengan menyisir dan menguncir rambut Ara. Uni menyematkan beberapa karet rambut dan jepit rambut dengan hiasan mutiara berwarna putih yang indah.


"Uni, kamu punya pacar di kampus?"


"Tidak punya, Ara. Aku tidak mau memikirkan pacar dulu. Hidupku saja sudah ribet, aku tidak mau di pusingkan dengan hal pacaran."


"Oh ya! Apa kamu masih suka sama Aro seperti waktu kecil dulu?"


Deg!


Ini kenapa malah jadi membahas Aro?

__ADS_1


__ADS_2