
Ara sekali lagi melihat pria yang dari tadi di panggil Dean oleh temannya. Dia antara pernah mendengar nama itu, tapi juga dia masih tidak mengingatnya. Pun dengan Dean. Cowok itu jug melihat ke arah Ara dengan menikmati green tea milik Ara.
“Ara, Dean cepat makan, makanan kalian, katanya kamu tidak mau pulang malam,” ucap Tania.
Mereka kemudian melanjutkan makan bersamanya dan kemudian mereka izin pulang duluan, sedangkan para pria di sana akan pergi nonton film yang tayang malam hari.
“Cantik ya, Dean, si Ara itu?” tanya Rio teman Dean sambil tangannya memeluk pundak Dean. Dean hanya melirik dan terdiam tidak menjawab pertanyaan temannya.
Sebelumnya. Di restoran cepat saji di mana Uni bekerja, dia mengambil kerja masuk siang setelah pulang kuliah. “Uni, kamu kemarin pulang jam berapa?” tanya Via.
“Aku pulang hampir tengah malam karena kemarin aku juga tidak mendapat angkutan umum.” Uni menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya sampai tentang tantenya juga.”
“Keterlaluan sekali ya tante Mira itu? Dia di rumah dan memilki anak gadis, tapi kenapa dia malah memperlakukan anaknya seolah putri
raja dan kamu seperti pembantu saja, padahal kamu itu keponakannya.”
“Namanya juga aku menumpang di rumahnya, Via. Jadi aku juga harus tau diri.”
“Tapi keterlaluan sekali tante kamu itu. Kamu meskipun numpang di sana, tapi kamu juga tiap bulan memberi tante kamu uang, semua pekerjaan rumah kamu yang melakukan, tau begitu kamu kos sendiri saja tidak perlu tinggal di sana, biar itu anak gadisnya yang seperti putri raja sekali-sekali merasakan melakukan pekerjaan rumah.”
“Sejak kematian kedua orang tuaku, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi kecuali mereka, Vi, jadi ya aku mau tidak mau tinggal dengan mereka karena kalau kos juga aku tidak akan bisa membayar, apalagi paman aku rangnya baik masih mau sedikit-sedikit membantu biaya kuliah aku.”
“Iya, tapi paman kamu kan tidak sering berada di rumah, kadang dua bulan luar kota. Lalu tante kamu dan anaknya memperlakukan kamu
sangat buruk.”
“Aku sudah biasa, dan bisa mengatasi mereka.”
“Oh ya, ngomong-ngomong soal pria yang menolong kamu, apa kamu sempat berkenalan sama dia?”
“Tidak, Vi. Setelah mengucapkan terima kasih aku langsung keluar dari mobilnya dan tidak berkenalan sama dia.”
“Apa dia seumuran dengan kita?” Uni mengangguk. “Kenapa tidak berkenalan? Siapa tau kamu bisa kenal dekat kemudian kalian berpacaran.” Via terkekeh pelan.
__ADS_1
“Pacaran? Bisa-bisa di gorok sama tanteku, nanti lagi-lagi pacar aku di bawa-bawa karena aku tidak fokus kuliah dan bekerja karena
kebanyakan pacaran. Kamu lupa dengan kejadian aku dulu dengan mantan kekasihku,
akhirnya kita putus?”
“Iya, aku ingat. Sampai-sampai si mantan kamu itu ketakutan gara-gara di marahi sama tante kamu. Tante kamu benar-benar menakutkan, cocok kalau sama pak Jono.” Mereka berdua kembali terkekeh.
“Ehem ...! Kalian sedang apa di sini? Apa mau arisan? Di luar banyak pelanggan datang. Uni, kamu segera keluar dan layani dengan baik.
Ingat! Jangan sampai berbuat ceroboh lagi, atau kali ini saya tidak akan segan-segan memecat kamu!”
“Iya, Pak.” Uni segera berjalan keluar padahal tadi dia juga barusan mencuci piring dan melakukan pekerjaan lainnya.
Uni keluar dan membersihkan beberapa meja yang kotor, Uni menata piring dan gelas yang sudah digunakan dengan hati-hati, dia tidak mau sampai gajinya dipotong lagi karena kecerobohannya, walaupun dia merasa capek
hari ini
“Kita duduk di sini saja kalau begitu. Kalian pesan makanan, ya? Aku dan Aro akan menunggu di sini,” ucap suara seorang gadis di belakang Uni.
Ternyata pria yang bertemu dan memberi tumpangan pada Uni adalah Aro saudara kembar Ara. Aro hanya terdiam tidak berkata apa-apa. “Aro, ayo duduk di sini.” Tangan seorang gadis dengan rambut panjang bergelombangnya menarik tangan Aro dan mereka duduk bersebelahan. Aro memindai Uni dari atas sampai bawah. Dia baru ingat kalau gadis ini yang ditawari tumpangan waktu itu.
“Hei cantik! Apa kamu bisa membantu kami mengantri untuk memesan makanan, nanti aku kasih uangnya dan tolong bawakan kemari ya, aku sangat capek soalnya hari ini,” ucap salah satu pria yang datang bersama Aro. Aro datang dengan ketiga temannya. Dua cewek dan satu cowok, jadi mereka seperti saling berpasangan begitu.
“Maaf, tapi tugas saya hanya membersihkan meja-meja, kalau pesan dan mengantri itu sudah tugas pembeli di sini.”
“Aku akan memberi kamu tips jika kamu mau memesankannya. Tiga ratus ribu, ini untuk kamu kalau kamu mau membantuku.” Pria itu
mengeluarkan tiga lembar uang berwarna merah dan menaruh di atas meja.
Jujur saja, Uni bingung karena dia memang sedang membutuhkan uang, apalagi tantenya mengira dia kemarin lembur dan pasti dapat uang. Tiga ratus ribu itu lumayan untuk menggantikan gajinya yang akan dipotong karena memecahkan gelas, walaupun harga gelasnya tidak sampai segitu, tapi Pak Jono
kalau memotong gaji tidak kira-kira.
__ADS_1
“Baiklah, saya akan memesankan kalian makanan. Kalian mau aapa saja? Kalian tulis saja pesanan kalian di kertas nanti saya akan ke sini lagi setelah membereskan piring-piring ini.”
“Okay.”
Aro yang melihatnya kenapa malah berpikiran jika gadis yang dia tolong kemarin sepertinya memang gadis yang tidak baik dia cepat sekali
dirayu hanya dengan uang.
Uni meletakkan piring-piring kotor di wastafel dan mencoba bernapas panjang, semoga saja dia tidak mendapat masalah karena hal ini. Tadi dia sudah bilang pada bagian dapur kalau dia diminta tolong memesankan makanan
dari pelanggan yang dia akui sebagai temannya dan temannya yang ada di bagian dapur mengatakan tidak apa-apa.
“Uni ... Uni sini!” Tiba-tiba tangan Uni di tarik oleh Via dengan wajah kegirangan.
“Via? Ada apa?” Uni agak terkejut dan bingung.
“Kamu tau teman kampusku yang aku ceritakan sama kamu, yang aku bilang kalau aku sangat menyukainya, tapi dia agak cuek begitu sama aku.”
“Oh iya, yang kamu bilang pangeran dari negeri es itu? Memangnya kenapa?”
“Dia ada di sini, aku tadi melihatnya dan benar dia ada di sini dengan teman-teman kampus lainnya, aku tadi ingin menyapanya, tapi aku
agak takut.”
“Dia ada di sini? Mana?” tanya Uni melihat ke arah luar dari balik dinding.
“Itu, dia dan teman-temannya duduk di meja nomor tujuh itu.” Telunjuk Via melihat ke arah meja di mana Aro dan teman-temannya saling
bercengkrama.
“Mereka?”
“Iya, yang sedang membaca buku itu. Dia yang aku maksud pangeran dari negeri es yang membuat aku tergila-gila.” Kedua mata Uni melotot melihat siapa yang dimaksud oleh temannya itu.
__ADS_1
“Pria itu?” ucapnya lirih.