
Aro meletakkan bukunya dan melihat ke arah Pamannya yang sedang menunggu jawabannya. “Kenapa dari kemarin kalian membahas kenapa aku tidak bersikap manis dengan Sita? Aku tidak merasa bersikap buruk pada Sita. Hanya saja aku memang tidak terlalu suka dengan Sita yang selalu tersenyum dan
menawariku bekalnya. Apa itu salah, Paman?”
Rhein melihat ke arah Kei dan tersenyum tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kepoanakannya yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak itu.
“Tidak salah sih sebenarnya, hanya saja jangan bersikap terlalu tidak peduli begitu, bagaimanapun Sita adalah seorang gadis yang manis, dan di kelihatannya baik sama kamu.”
“Iya, nanti aku akan coba supaya kalian tidak
mempermasalahkan hal ini lagi.”
“Dasar pria tampan.” Tangan Rhein menguyel-uyel rambut keponakannya itu.
"Paman ini! Jangan merusak tatanan rambutku yang di sisir oleh mama dengan rapi." Muka lucu itu di tekuk lucu membuat Rhein semakin terkekeh.
Pelajaran di kelas Aro dan Ara di mulai, Kei dan Rhein memilih untuk pergi dari sana dan menunggu mereka di cafe dekat dengan sekolah si kecil sekalian mereka akan membelikan kue dan camilan lainnya untuk mereka. Sebenarnya tadi Nala sudah menyiapkan bekal untuk mereka berdua, Nala lebih senang anak-anaknya makan dari masakan yang dia buat.
“Rhein, apa benar kamu nanti akan kembali ke California? Kenapa kamu tidak tinggal saja di sini, rumah terasa sangat sepi saat Orlaf memilih melanjutkan sekolahnya luar negeri.”
Kei dan putranya itu sedang duduk berdua di sebuah cafe yang tidak terlalu besar yang ada di dekat sekolah si kembar. “Aku mulai betah di
California, Mom. Lagian di sini nantinya aku akan bertemu dan melihat Nala terus, dan hal itu sangat menyakitkan kadang di hatiku,” jelasnya.
“Oh Tuhan! Kamu masih menyimpan perasaan pada Nala? Dia itu kakak ipar kamu, Rhein.” Rhein hanya menanggapinya dengan senyum khas miliknya. “Rhein, mommy bertanya serius sama kamu.”
“Mom, melupakan seseorang yang pernah masuk ke dalam hati kita, apalagi baru pertama kali, akan sangat sulit untuk mengeluarkannya begitu saja, Tapi mommy tenang saja, aku tidak akan melakukan hal buruk terhadap kakakku sendiri. Hanya saja aku butuh waktu untuk semua ini.”
“Ya sudah, mommy akan mencoba paham dengan kamu. Rhein, kamu mau kan kalau mommy kenalkan pada wanita anak teman mommy itu?”
__ADS_1
“Aku kira mommy sudah lupa masalah itu? Iya, aku mau, aku tidak mau membuat mommy kecewa, tapi mommy tidak boleh mamaksakan, keputusan tetap ada di tanganku, aku tidak mau dipaksa jika aku tidak menyukai wanita itu.”
“Iya, mommy yakin kamu akan menyukainya. Rhein, apa kamu di sana tidak memiliki kekasih atau dekat dengan seseorang begitu?”
Rhein melihat ke arah mommynya dan menggelengkan kepalanya perlahan kemudian dia menyeruput kembali kopinya.
Di sebuah gedung perkantoran, di dalam ruangan dengan tulisan direktur utama, sedang duduk pria dengan rambut putihnya. “Addrian, aku bisa menjelaskan semuanya tentang kemarin malam. Putraku berbicara seperti
karena terpengaruh minuman yang di minumkan. Kami juga agak terkejut dengan
status menantu kamu yang seorang mantan pelayan di rumah kamu.”
Seketika tatapan Addrian menatap tajam pada pria yang tak lain adalah papi dari Anabella. “Memang Nala dulu pernah bekerja di rumahku
sebagai pelayan, tapi apa hal itu salah jika sekarang dia menjadi bagian dari keluarga Danner? Aku harap kamu dan keluarga kamu bisa menjaga setiap ucapan kalian, atau aku akan turun tangan untuk membingkam mulut jelak kalian. Kamu tau putra sulungku Akira, Kan?”
“Iya, aku tau tentang putra kamu itu. Albert akan meminta maaf pada menantu kamu karena ucapannya yang kasar waktu itu.”
“Papi, Om Addrian?”
“Kamu kenapa, Albert?”
“Om, aku minta tolong agar Om Addrian berbicara dengan Akira putra Om Addrian agar tidak menghancurkan bisnis yang baru aku rintis itu.” Addrian hanya duduk diam mendengar apa yang dikatakan oleh Albert.
“Akira sudah melakukan apa yang dia katakan kemarin malam. Albert, kamu memang harus meminta maaf pada istri Akira kalau tidak mau Akira tambah berbuat yang lebih dari ini,” pinta ayahnya.
“Kenapa dia begitu tega membela wanita yang hanya seorang pelayan dulu di rumahnya? Dan aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya,
memangnya salahku di mana?
__ADS_1
Wah benaran minta dijitak ini bocah sama Akira.
“Mulut kamu sangat tidak sopan mengatakan hal yang buruk tentang menantuku. Maka terima saja penderitaan kamu kali ini, Bocah bodoh!” Addrian beranjak dari tempatnya dan berjalan pergi dari ruangan bahkan kantor
milik papi Albert.
“Albert! Kenapa kamu malah berbicara seperti itu? Kamu tau, kita dan keluarga Danner tidak bisa bersaing, apalagi dalam hal bisnis.
Keluarga Danner merajai semua bisnis di negara ini. Kamu mau mencari masalah
sama mereka? Kamu sama saja akan mendapat kesengsaraan.”
“Aku akan menghubungi Anabella, siapa tau dia bisa berbicara dengan Akira, papi tau kan jika dulu mereka sempat menjalin hubungan. Aku tidak akan mau meminta maaf dengan wanita miskin yang sama sekali tidak selevel denganku. Papi, aku ingin tau apa yang akan dilakukan keluarga Danner jikanorang-orang mengetahui siapa dulunya menantu utama keluarga Danner?” Albert tersenyum licik. Fix. Ini bocah ngajak perang Akira.
“Jangan coba-coba bermain-main dengan mereka, Albert, atau kamu akan menyesal. Papi mohon jangan berbuat yang tidak-tidak.”
“Papi tenang saja, ini tidak akan membuat aku dalam masalah karena bukan aku yang akan melakukannya.”
Pulang sekolah Rhein dan Kei menjemput si kembar dan mengantar mereka pulang ke rumah sekalian ingin menghabiskan beberapa jam sisa waktunya berada di Indonesia sebelum dia kembali ke California.
Saat mereka sedang sibuk berbicara dan bercanda. Ponsel milik Rhein berdering dan Rhein melihat siapa yang memanggilnya. “Aku permisi dulu.” Rhein beranjak dari tempatnya dan menerima panggilan telepon itu.
Kei melihat serius pada putranya yang berbicara dengan wajah seriusnya. “Nala, apa mungkin yang menghubungi Rhein itu adalah kekasihnya yang tidak mau Rhein kenalkan pada kita?”
“Mungkin saja, Mom. Kita hormati saja apa yang menjadi keinginan Rhein, mungkin dia belum siap memeperkenalkan wanita itu.”
“Tunggu saja aku pulang, kamu ingat saja pesanku.” Rhein mengakhiri panggilan teleponnya.Dia kemudian kembali ke tempat di mana Nala dan mommynya berada.
“Siapa yang menghubungi kamu, Rhein?” tanya Kei.
__ADS_1
“Teman,” jawabnya singkat dan kembali bermain dengan si kembar. Rhein tampak memikir sesuatu, tapi dia mencoba menyembunyikan hal itu.
Jaga kesehatan ya kakak semua, lagi musim extrem banyak orang sakit.