
Aro melihat Uni dengan tatapan serius. Uni langsung terdiam, dan Uni merasa jika mungkin dia agak terlalu sok dekat dengan Aro.
"Apa kamu lupa kalau aku satu kampus bahkan satu kelas dengan teman kamu Uni itu. Ya! meskipun aku sebenarnya tidak ingat dengan dia kalau kamu tidak mengatakannya."
"Iya, aku lupa, aku memang benar-benar bodoh!" Uni mengerucutkan bibirnya lucu.
"Kamu tidak bodoh, hanya loadingnya lama." Aro beranjak dari tempatnya dan mengembalikan kotak obat yang baru saja dia gunakan."
Uni pun beranjak dari tempatnya dan melihat Aro berjalan ke arahnya. "Aro, apa aku bisa minta tolong sama kamu?"
"Minta tolong apa?"
"Tolong jangan katakan pada Via jika aku bekerja di rumah kamu dan juga jangan katakan bila kita kenal."
Aro memicingkan matanya. "Memangnya kenapa?"
Uni ini sebenarnya tidak enak, dari awal dia sudah tidak mengatakan pada Via jika dia mengenal Aro pada malam dia mau dirampok. Apalagi kejadian waktu pagi itu saat Uni malah berciuman sama Aro. Uni takut jika Via salah paham sama Uni.
"Tidak apa-apa, Aro. Tolong jangan ceritakan saja, anggap saja kita tidak kenal atau baru mengenal. Via itu teman yang sangat baik, kamu pasti tidak rugi jika kenal dengannya."
__ADS_1
"Dia memang terlihat baik bahkan sepertinya dia menyukaiku, aku bisa melihat dari ekspresi wajahnya."
"Memangnya kamu tidak suka jika dia menyukai kamu? Diakan cantik, pintar, dan memiliki hati yang baik." Uni mencoba mengetahui isi hati Aro pada Via. Via pasti senang jika Aro juga mencintainya.
Aro terdiam dan dia malah pergi mengambil buku dan duduk di balkon depan kamarnya. Muka Uni seketika ditekuk kesal. Selalu membuat orang penasaran. Uni kembali melakukan pekerjaannya, dia masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan kamat mandi Aro.
Tidak lama terdengar suara teriakan Uni dari dalam kamar mandi Aro. Aro yang tadinya duduk tenang sambil membaca buku langsung melempar bukunya dan berlari ke dalam kamar mandi.
"Uni, kamu--?"
Aro melihat Uni jatuh ke lantai dan tubuhnya basah karena shower di kamar mandi menyala. Uni tampak ketakutan.
"Kamu kenapa?" Aro tampak bingung, dan masih mendekap tubuh Uni.
"Ada kecoa, Aro, di sana tadi." Uni menunjuk lubang air dan sepertinya kecoanya sudah masuk lubang pembuangan air.
"Ya Tuhan! Kamu sebesar ini takut kecoa? Kamu injak saja tadi."
"Injak? lihat saja geli. Apa tidak ada lagi ya? Aku masih takut."
__ADS_1
"Sepertinya sudah tidak ada. Baju kamu basah, sebaiknya kamu ganti baju."
Uni yang baru sadar jika memeluk Aro, langsung mundur dan melihat kaos Aro juga basah karena dia tadi memeluk Aro.
"Maaf, baju kamu jadi basah."
"Tidak masalah." Aro malah melepaskan kaos yang di pakai dengan seenaknya.
"Aro!" Uni langsung memejamkan kedua matanya. "Kenapa dilepas begitu saja?"
"Bajuku basah, kamu mau aku masuk angin?" jawabnya ketus.
"Iya, tapi jangan di hadapanku begitu. Tidak sopan."
Aro tidak menjawab perkataan Uni, dan Uni malah merasa aneh kenapa tiba-tiba ini manusia tidak terdengar suaranya malah terkesan senyap di sana? Apa dia seperti biasa pergi dari sana?
Uni perlahan membuka kedua matanya dan alangkah bingungnya dia melihat Aro yang berdiri di depannya menatap dengan tatapan datar.
"Kamu lihat apa?" ucap Uni lirih. Dan sekarang Uni mulai melihat arah mata Aro menatapnya, dan alangkah terkejutnya saat dia tau apa yang di lihat Aro pada dirinya.
__ADS_1
"Aro! Kamu jangan lihat." Uni kebingungan menutupi bagian tubuhnya yang ternyata membayang karena bajunya basah. Uni bahkan berbalik badan seperti orang kebingungan. Aro malah tertawa melihat sikap Uni.