My Secret Love

My Secret Love
57


__ADS_3

Singkat cerita, kini Alam dan Husna sudah berada di kamar setelah sarapan bersama keluarga tadi.


“Mas, kita akan melakukan aktivitas apa pagi ini?” tanya Husna kepada suami nya itu yang sedang fokus dengan ponsel nya dan duduk di sofa. Sementara Husna dia sibuk menata rambut nya dan juga hijab nya.


Azzam pun meletakkan ponsel nya lalu menatap istri nya itu lekat, “Bukan kah kita hari ini akan menjenguk Gilang. Mas akan mengajakmu ke sana.” Ucap Azzam.


Husna pun tersenyum lalu mendekati suami nya itu dan tanpa ragu dia segera duduk di pangkuan suami nya. Azzam pun tersenyum dan memilih melingkarkan tangan nya itu di pinggang istri nya. Dia senang saat Husna itu sedang bermanja kepada nya seperti itu karena dengan begitu dia tahu bahwa istri nya itu sudah tidak menganggap nya orang asing lagi.


“Mas, yakin mau mengajakku untuk menjenguk nya? Apa mas tidak cemburu?” tanya Husna menatap lekat suami nya itu.


Azzam pun tersenyum lalu menatap balik istri nya itu, “Munafik mas jika mengatakan tidak cemburu tapi ini konteks nya berbeda. Kita datang menjenguk orang sakit. Lagi pula istri mas ini tidak menyukai atau mencintai nya. Jadi mas sedikit tenang lah. Walaupun mas juga belum mendengar ucapan cinta darimu.” Ucap Azzam mengeratkan tangan nya yang melingkar di pinggang istri nya itu.


Husna yang mendengar ucapan suami nya itu pun tersenyum lalu mendekatkan wajah nya dengan wajah suami nya dan satu kecupan lembut mendarat di kening suami nya itu, “Apa yang aku lakukan selama ini. Apa penerimaan yang ku lakukan masih belum cukup sehingga mas tetap butuh ucapan cinta dariku?” tanya Husna menatap lekat suami nya itu.


Azzam pun tersenyum lalu mengangguk, “Mas ingin mendengar nya darimu sendiri sayang. Memang ucapan cinta itu tidak di perlukan selama kau menerima mas tapi tetap saja mas ingin mendengar nya darimu.” Ucap Azzam.


Husna pun tersenyum, “Kenapa tersenyum sayang? Tidak kah kau ingin mewujudkan impian mas yang ingin mendengarkan ucapan cinta itu darimu?” tanya Azzam.


Husna menggeleng, “Hum, nanti deh Husna pikirkan lagi.” Ucap Husna.

__ADS_1


“Ouh ayo lah tidak bisa kah tidak usah di pikirkan dan langsung katakan saja.” Azzam.


“Mas cinta itu tidak bisa di paksakan bukan. Jadi jangan me--”


Cup


Satu kecupan mendarat di bibir Husna, “Baiklah. Mas akan menunggu.” Ucap Azzam.


Husna pun kembali tersenyum lalu memeluk suami nya itu erat, “Dasar bodoh kau mas. Apa kau tidak bisa menyadari bahwa aku sudah jatuh cinta padamu. Aku mencintaimu mas.” Batin Husna. Dia memang belum ingin mengungkapkan rasa cinta nya itu secara langsung. Nanti saja.


Setelah itu Husna pun melepas pelukan nya dari suami nya itu lalu dia segera berdiri dari pangkuan Azzam, “Husna mau mandi dulu ya mas. Siap-siap untuk menjenguk Gilang. Harus cantik bukan untuk menjenguk seseorang.” Ucap Husna tersenyum ke arah suami nya itu lalu dia segera menuju kamar mandi.


Azzam yang melihat itu pun tersenyum senang, “Aku senang kau tidak kaku lagi denganku sayang. Aku akan menunggu sampai kau mengucapkan cintamu itu. Memang biasa nya setiap laki-laki tidak butuh ungkapan cinta dari pasangan nya tapi aku tetap ingin mendengar nya darimu. Aku menunggu waktu itu tiba.” Ucap Azzam.


Kini Husna sedang berada di meja rias nya itu sedang menata hijab nya kembali setelah tadi mandi. Sementara Azzam sendiri sedang memakai kemeja nya.


“Mas, kita mau menjenguk orang loh. Masa iya pakai kemeja. Terlihat formal banget.” Ucap Husna tanpa melihat suami nya dan hanya melihat dari meja rias nya saja.


Azzam pun tersenyum mendengar ucapan istri nya itu. Dia tidak tersinggung sama sekali. Dia justru senang istri nya itu mengomentari cara berpakaian nya karena dengan begitu berarti menandakan bahwa istri nya itu memperhatikan penampilan nya selama ini.

__ADS_1


Azzam pun mendekati istri nya itu dan mengalungkan tangan nya di leher istri nya, “Mas, jangan begitu nanti tangan nya tertusuk jarum nanti.” Ucap Husna memperingati suami nya itu.


Azzam pun tersenyum lalu melepas tangan nya dari leher istri nya itu lalu memilih mengecup puncak kepala istri nya, “Sayang, kamu loh yang nyiapin pakaian ini untuk mas. Lalu kenapa kau complain sendiri?” tanya Azzam.


Husna pun menarik nafas nya panjang lalu menatap suami nya itu dari cermin nya, “Mas, memang aku yang menyiapkan nya hanya saja kenapa aku tidak langsung mengganti pakaianmu itu dengan apa yang ku inginkan karena aku juga tetap mempertimbangkan cara berpakaianmu mas. Aku takut jika apa yang ku pilih nanti tidak sesuai dengan seleramu dan kau tidak menyukai nya. Bisa sakit hatiku mas karena kau tidak menghargai pilihanku. Jadi untuk mencegah hal itu maka aku memilih menyiapkan pakaian yang sesuai dengan gayamu selama ini nanti aku yang akan protes.” Ucap Husna tersenyum.


Azzam pun tertawa mendengar penuturan istri nya itu, “Sayang, kau sangat menggemaskan. Ada saja ide nya ya. Tidak mau di salahkan tapi justru ingin mengomentari.” Ucap Azzam.


“Itu adalah fitrah nya wanita mas. Mereka itu selalu mau menang. Tidak mau jika kalah apalagi di salahkan. Kami juga lebih mengandalkan hati kami dari pada logika kami. Ingat juga mas jika seorang wanita sudah menggunakan logika nya maka saat itu lah yakin lah bahwa kalian para lelaki tidak akan mampu menyentuh hati kami. Jadi bersyukur lah selama kami belum menggunakan logika kami.” ucap Husna.


Azzam pun mengangguk-ngangguk, “Ya yah mas mengerti sayang. Mas juga tidak akan membuatmu menggunakan logikamu itu. Mas suka kamu bermanja kepada mas. Jadi gunakan saja hatimu itu sayang.” ucap Azzam yang di angguki oleh Husna dengan senyuman manis yang menghiasi wajah nya.


“Ohiya, sekarang katakan mas harus mengganti kemeja ini dengan apa?” tanya Azzam berdiri tegak dan menunjuk kemeja yang dia pakai.


Husna juga yang sudah selesai dengan ritual nya itu pun segera berdiri lalu segera menuju walk in closet milik nya dan tidak lama kembali dengan beberapa kaos yang masih baru di tangan nya.


“Ayo mas pilih satu yang mas suka dan ingin mas pakai sekarang.” Pinta Husna.


Azzam bukan nya memilih dia justru menatap istri nya itu dengan curiga. Husna segera menyadari tatapan suami nya itu, “Ck, jangan mencurigaiku begitu mas. Aku ini sudah menyiapkan pakaian ini sejak tiga hari pernikahan kita kalau gak salah. Ini aku beli untukmu saat itu. Aku sudah memperkirakan ukuranmu.” Ucap Husna menjelaskan.

__ADS_1


Azzam pun tersenyum mendengar penjelasan istri nya itu, “Baiklah. Karena istriku sendiri yang sudah memastikan ukuranku maka seperti nya aku tidak boleh menyia-menyiakan nya.” Ucap Azzam tersenyum menggoda.


“Ck, mesum.”


__ADS_2