My Secret Love

My Secret Love
Siksaan Part 2


__ADS_3

Uni mau tidak mau harus mengemasi barang-barang miliknya, dia hanya membawa satu koper sedang dan tas ransel pada pundaknya. Dia keluar rumah bahkan tidak membawa uang, hanya ada selembar uang dua puluh ribuan miliknya.


"Aku harus tinggal di mana kalau begini? Uang saja aku cuma membawa dua puluh ribu?" Uni tampak bingung. Dia malah duduk di teras depan rumahnya karena hari sudah tengah malam dia tidak berani ke mana-mana, dia memilih besok pagi saja akan pergi mencari tempat tinggal.


Uni tidur di depan teras rumahnya tanpa alas apa-apa. Dia menekuk lututnya dan memeluknya dengan erat, hanya jaket Aro yang di gunakan untuk menahan rasa dingin lantai teras rumahnya.


Keesokan harinya, Uni segera pergi dari teras rumah ini dan berjalan di trotoar mencari angkutan umum. Dia sebenarnya ingin menghubungi Via, tapi baterai ponselnya mati.


"Lebih baik aku duduk-duduk di sini sebentar sambil menenangkan pikiran, agar aku bisa berpikir bagaimana caranya aku menyelesaikan ini? Aku mau masuk kuliah, tapi apa aku harus membawa koper ini? Pasti nanti aku jadi bahan gosip di sana.


Di rumah tante Mira. Pagi-pagi dia agak terkejut melihat banyak sekali cucian piring yang belum beres, di tambah lagi banyak cucian dan rumah berantakan.


"Selli, bangun. Kamu harus menolong mama untuk membersihkan rumah." Tante Mira mencoba membangunkan putri semata wayangnya.


"Aduh, Mama! Aku capek sekali, kenapa mama tidak menyuruh si Uni itu? Dia kan biasanya yang mengerjakan pekerjaan rumah.' Selli malah menutup kepalanya dengan selimut.


Tante Mira agak geram sekali, dia membuka selimutnya dan menariknya kasar. "Apa kamu lupa kalau Uni sudah mama usir dari rumah ini kemarin malam? Ayo bangun dan bantu mama," ucap wanita itu tegas.


"Ternyata kita salah mengusir dia, kita jadi bekerja seperti ini, Ma."


"Kita pantas mengusirnya karena dia sama sekali tidak bisa di banggakan, dia malah mencoreng nama baik ayah kamu dengan menjadi simpanan om-om. Di lebih baik pergi dari sini."


Uni yang sedang duduk sendirian dengan hati yang agak tenang, dia mencoba mencari solusi atas masalahnya.


"Uni, kenapa kamu di sini dengan membawa koper begini?"


Uni sontak kaget mendengar ada suara yang tepat berada di depannya. Padahal tadi Uni sedang menempelkan dahinya pada koper di depannya.


"Aro? Kenapa kamu ada di sini?"


"Aku sedang bertanya sama kamu, Uni. Kenapa kamu jadi tanya balik? Jawab dulu pertanyaanku."

__ADS_1


"Itu, tidak ada apa-apa. Aro, sudah dulu ya, itu ada angkutan umumku datang." Uni segera beranjak dan ingin pergi dari Aro. Namun, lagi-lagi Aro berhasil menahan lengan tangan Uni.


"Uni, jawab aku?"


"Aro, tanganku sakit," ucap lirih Uni dengan menahan sakit pada tangannya.


Aro tidak sengaja melihat bekas cengkraman kuat dan luka pada pergelangan tangan Uni. "Uni, ini kenapa?"


"Aku tidak apa-apa, Aro. Kamu kenapa di sini? Seharusnya kamu kan pergi kuliah."


Aro baru sadar jika wajah Uni juga ada bekas merah tamparan. "Uni! Jawab aku? Kamu kenapa?" Bentak Aro dengan nada tinggi dan tegas.


Gadis berambut agak keriting itu tiba-tiba meneteskan air mata melihat pada Aro. Sebenarnya Uni sudah mencoba menahan air matanya, tapi nyatanya tidak bisa.


Aro yang melihat hal itu tanpa bicara lagi langsung memeluk gadis di depannya dengan erat. "Gadis bodoh!" ucapnya marah, dan tangan Uni perlahan memegang kedua tepi pinggang Aro.


Aro menarik tubuh Uni dan melihatnya dengan tegas. "Kamu pergi dari rumah? Apa kamu ada masalah dengan tante kamu? Aku akan mengantar kamu pulang dan menjelaskan sama tante kamu."


"Apa? Kenapa?"


"Ceritanya panjang, aku mau ke mencari tempat tinggal baru, tapi--." Uni menunduk tidak meneruskan kata-katanya.


"Tapi kenapa?"


"Aku tidak mempunyai uang sama sekali?"


"Lalu, tamparan itu apa tante kamu yang melakukan?" Uni mengangguk pelan. "Kamu ikut aku saja kalau begitu." Aro menggandeng tangan Uni dan membawanya pergi dari sana.


"Kita mau ke mana, Aro?" Aro tidak menjawab, dia malah fokus menyetir mobilnya. Tidak lama mereka sampai di rumah Aro.


Aro mengajaknya turun dan Uni tampak bingung kenapa Aro membawanya ke rumahnya.

__ADS_1


"Aro, Uni, kenapa kalian berdua bisa bersama-sama?" Nala tampak heran.


"Ma, Uni mengalami kekerasan yang dilakukan oleh tantenya."


"Apa?" Nala tampak kaget. Pun dengan bibi Anjani yang ada di sana. Nala melihat ada bekas tamparan pada pipi Uni dan Nala juga melihat ada bekas merah bahkan darah dari pergelangan tangan Uni. "Kenapa tante kamu melakukan ini, Uni?"


"Apa karena kamu pulang malam? Tapi tidak harus seperti ini?" timpal bibi Anjani.


"Saya tidak apa-apa, Ibu Nala." Uni menarik tangannya. "Saya mau permisi dulu karena saya mau mencari tempat tinggal untuk menaruh barang-barang ini agar saya bisa masuk kuliah."


"Kamu tidak perlu kuliah dulu, Uni. Apa kamu mau kuliah dengan wajah seperti itu?" tegas Aro.


"Uni, Ibu Nala ingin tau apa yang sebenarnya terjadi sama kamu, jangan sembunyikan apapun dari saya."


"Iya, Uni. Kamu ceritakan saja, kamu jangan takut," desak nenek Anjani.


Uni tampak bingung, dia sebenarnya tidak mau menceritakan perlakuan buruk tante dan sepupunya selama ini, tapi kali ini dia tidak dapat menahan lagi perasaannya.


Sekali lagi, Uni menangis dan kali ini tangisannya lebih keras. "Oh Tuhan! Kamu kenapa?" Nala memeluk Uni seolah dia memeluk putrinya sendiri. "Kamu menangis saja hingga kamu benar-benar lega." Nala mengusap-usap punggung Uni.


"Aro, sebaiknya kamu berangkat kuliah saja, katanya kamu hari ini ada kegiatan penting di kampus."


"Tapi nek--?" Ini Aro kelihatan berat sekali meninggalkan Uni dalam keadaan seperti ini, tapi memang dia ada kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan di kampus. "Ya sudah aku pergi dulu." Aro sedikit lega sih karena Uni berada di tempat yang aman.


Nala mengajak Uni duduk di meja makan dan memberikan segelas air putih agar Uni merasa lebih baik. "Kamu sudah makan?"


Uni menggeleng. "Saya tidak mau makan Ibu Nala. Saya akan melakukan pekerjaan saya saja di sini karena saya tidak masuk kuliah hari ini."


"Uni, duduk," tekan Nala. Uni kembali duduk di kursinya. "Ibu Nala ingin kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi sama kamu?"


Uni tampak menautkan kedua jemarinya dan Nala tau Uni tampak cemas. "Ibu Nala, aku tidak apa-apa."

__ADS_1


"Uni! Apa yang kamu takutkan? Kamu jangan takut karena aku dan Akira tidak akan membiarkan mereka melukai kamu nantinya."


__ADS_2