My Secret Love

My Secret Love
Hari Pertama Tinggal part 2


__ADS_3

Uni membantu Nala untuk membopong Ara dan duduk di sofa. "Kamu sudah pulang, Ara?"


"Iya, Uni. Kamu tidak kuliah hari ini?"


"A-aku?"


Ara tersenyum. "Aku sudah tau, kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu. Aku mau duduk dan istirahat sebentar di sini."


"Ya sudah, kalau begitu Ibu akan tinggalkan kalian berdua dulu, ibu mau melanjutkan membuat kue dengan nenek Anjani karena nanti malam oma dan opah kalian akan ikut makan malam dengan kita."


"Oma dan opah?" ucap Uni heran.


"Itu nenek dan kakek aku, kamu pasti akan senang bertemu dengan mereka, Uni. Mereka berdua sangat baik dan menyayangi aku dan Aro," jelas Ara.


Nala keluar dari kamar Ara, dan seketika Uni membuang mukanya, dia menangis dengan menyembunyikan wajahnya. "Kenapa aku ini?" dialognya lirih.


"Kamu kenapa, Uni? Kamu menangis, Ya?"


"Aku tidak apa-apa, Ara." Uni kembali melanjutkan pekerjaanya dan akhirnya selesai dengan rapi. "Apa kamu mau berbaring sebentar? Biar aku bantu?"


"Aku tidak mau berbaring. Aku senang kamu akan tinggal di sini. Kalau kamu rindu sama kedua orang tua kamu, kamu bisa menganggap kedua orang tuaku sebagai orang tua kamu, Uni, dan anggap aku dan Aro sauadara kamu."


"Kalian sangat baik, jujur saja aku sangat iri melihat kamu yang memiliki keluarga yang sempurna yang tidak pernah aku miliki bahkan rasakan." Uni menyeka air matanya.


"Kenapa kamu menyembunyikan tentang perilaku buruk tante kamu, kamu pasti sangat menderita selama bertahun-tahun hidup dengan tante dan sepupu kamu?"


"Itu sudah aku anggap biasa, Ara. Aku juga tidak mau menjelekkan mereka, bagaimanapun mereka adalah keluarga satu-satunya yang aku miliki selama ini, yang sudah mau menampungku dan merawat aku walaupun perilaku mereka seperti itu."


"Kamu memang gadis yang memiliki hati yang baik dan tulus. Aku saja iri dengan hati yang kamu miliki, kamu bisa sekuat itu, aku mungkin sudah tidak tau harus berbuat apa."


"Semua itu harus aku jalani dengan sabar dan kuat, aku bermimpi suatu saat aku bisa meraih cita-citaku dan mengubah hidup jauh lebih baik, siapa lagi kalau bukan diriku yang berusaha sendiri? Aku ingin memiliki keluarga kecilku sendiri dan membuat kebahagiaan di dalamnya."


"Aku yakin kamu akan mendapatkan kebahagiaan itu suatu hari ini. Uni, apa aku bisa minta tolong sama kamu?"

__ADS_1


"Tentu saja, kamu mau minta tolong apa, Ara?"


"Tolong ambilkan kotak di atas lemariku itu." Telunjuk Ara menunjuk pada kotak berukuran sedang berwarna pink di atas lemari.


"Baiklah." Uni mengambil kursi dan dia naik untuk mengambil kotak itu.


"Hati-hati, Uni."


Uni sudah mengambilnya dan memberikan pada Ara. "Ini kotak apa?"


"Kotak ini berisi sesuatu yang bisa membuat aku melupakan kesedihannya saat aku sedang sedih."


"Menghilangkan kesedihan kamu? Memangnya kamu sedang sedih? Apa kamu ada masalah?" serang Uni dengan berbagai macam pertanyaan.


"Bukan aku, tapi ini mungkin bisa membuat kamu juga melupakan kesedihan kamu."


"Aku?" Ara kemudian membuka kotak itu dan di dalamnya banyak sekali mainan Ara sewaktu kecil.


"Ini mainan aku yang sering aku mainkan jika sedih, aku bicara sama boneka barbie ini." Ara memberikan satu pada Uni. "Bagaimana kalau kita main ini saja? Apa kamu mau? Katanya kamu dulu suka bermain barbie?"


"Ini--?"


"Kamu suka itu? Itu namanya--."


"Rose dan Kian," jawab Uni cepat memotong ucapan Ara.


Seketika kedua mata Ara tampak mendelik lebar. "Ka-kamu bagaimana bisa tau nama kedua boneka itu?"


"Karena aku yang memberi mereka nama atas permintaan kamu, Ara." Uni melihat ke arah Ara yang sedang bingung.


"Kamu siapa? Apa kamu Sita? Karena hanya Sita yang tau nama boneka itu?"


"Iya, aku Sita, dan kamu Ara teman kecilku yang waktu itu sering main boneka barbie denganku."

__ADS_1


"Kamu benaran Sita? Sita yang suka menawari Aro bekal kamu, tapi Aro malah menolaknya?"


Uni mengangguk. "Iya, aku Sita itu."


"Tapi kok bisa nama kamu dipanggil Uni?"


"Di rumah kedua orang tuaku suka memanggilku Uni karena diambil dari nama panjangku, Yasita Ayunina. Orang-orang akhirnya memanggilku Uni."


Ara dengan perasaan bahagia langsung memeluk teman masa kecilnya itu bahagia. "Aku tidak menyangka jika kamu adalah Sita teman aku dulu, kenapa kehidupan kamu berubah seperti ini? Dulu kamu memiliki kedua orang tua yang memang selalu sibuk dengan pekerjaannya, dan kamu sampai di urus oleh pengasuh kamu yang menjemput kamu tiap hari?"


"Dulu memang kedua orang tuaku sangat sibuk dengan pekerjaannya karena mereka ingin agar aku memiliki kehidupan yang lebih baik. Saat ayahku naik jabatan, Ibuku memutuskan berhenti bekerja dan kami sering bisa berkumpul bersama, tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama karena saat kami akan liburan tiba-tiba kecelakaan itu terjadi. Aku bisa selamat, tapi kedua orang tuaku tidak, sejak saat itu tante, om dan sepupuku yang datang ke rumah yang aku tepati dan mengurusku di sana."


"Jadi rumah yang kamu tepati adalah rumah dari orang tua kamu? Dan sekarang kamu malah di usir sama mereka? Keterlaluan sekali!"


"Aku tidak mau mengurusi hal itu, Ara. Biarkan saja."


"Aku benar-benar tidak habis pikir sama jalan pikiran kamu, Uni. Kamu bisa mengusir mereka, bukan malah kamu yang di usir."


"Sudahlah, Ara, aku tidak mau memikirkan masalah rumah itu."


Saat mereka sedang berbincang tiba-tiba pintu kamar Ara di buka oleh seseorang tanpa permisi.


"Aro? Kamu mengagetkan saja, apa kamu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?"


"Maaf. Ara, tadi aku menjemput kamu ke kampus, aku minta maaf karena tadi tidak mengabari kamu, aku mau membalas chat kamu, tapi baterai ponselku habis. Tadi aku bertanya pada penjaga di sana dan dia bilang kamu sudah pulang sama Dean."


"Iya tidak apa-apa." Ara melihat sesuatu yang ada di tangan Aro. "Itu apa yang kamu bawa?" selidik Ara.


"Ini kue lumer yang mau aku berikan untuk Uni, tapi sebaiknya di simpan dulu di kulkas agar lebih nikmat, siapa tau bisa membuat kesedihan Uni berkurang."


"Jadi kamu beli hanya untuk Uni? Aku tidak kamu belikan?"


"Kamu kan sudah sering makan, lagian kamu tidak begitu suka dengan kue itu." Aro memberikan kue itu pada Uni agar di simpan di dalam lemari es.

__ADS_1


"Terima kasih, Aro." Ara melihat mereka berdua dan terkekeh lirih.


"Aro, kamu tau tidak siapa sebenarnya Uni ini?"


__ADS_2