My Secret Love

My Secret Love
125


__ADS_3

Kini Gilang dan Andita sudah tiba di pantai. Gilang segera turun dan segera membukakan pintu mobil untuk Andita.


Andita pun segera keluar, "Terima kasih." ucap nya.


Andita segera menghirup udara pantai itu sebanyak-banyak nya. Dia merentangkan tangan nya dan juga memenjamkan mata nya menikmati bunyi deburan ombak di hadapan nya yang hanya berjarak sekitar kurang lebih 50 meter saja.


Di tengah kenikmatan yang dia rasakan tiba-tiba saja asa yang menggenggam tangan nya dan menarik nya pergi. Andita membuka mata nya dan segera menurut mengikuti orang yang sudah menarik nya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Gilang sendiri.


Begitu Andita sadar bahwa mereka bukan mahram. Dia segera menarik tangan nya dari genggaman Gilang.


"Maaf! Aku tahu itu salah hanya saja aku takut kau akan hilang di ambil orang karena terlalu menikmati pemandangan pantai ini. Aku tidak ingin kehilanganmu." ucap Gilang.


Lila mendesis atas ucapan Gilang itu, "Ck ... Aku bukan anak kecil yang takut. Jangan memperlakukan aku seperti anak kecil." ucap Andita segera melanjutkan langkah nya bahkan dia melewati Gilang.


Gilang yang melihat itu pun tersenyum sambil menggelengkan kepala nya. Lalu dia segera menyusul Andita dan kembali menggenggam tangan gadis itu erat. Kali ini tidak akan dia lepas lagi sama seperti label yang sudah dia sematkan pada gadis itu dengan melabeli nya sebagai milik nya. Andita Bintari Danurdara milik Gilang Cakra Brawijaya.


Andita kembali terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Gilang itu dan mencoba melepas genggaman Gilang tapi tidak berhasil.


"Jangan mencoba melepas nya sayang jika tidak ingin tanganmu sakit. Aku hanya ingin menggenggam nya tidak lebih. Tentu saja sampai saat kita menikah nanti karena jika sudah menikah maka lain lagi." ucap Gilang tersenyum menggoda.


"Ck ... Siapa yang kau panggil sayang? Lalu siapa juga yang ingin menikah denganmu. Jangan mimpi terlalu tinggi." ucap Andita sambil memandang ke arah lain.


Dia tidak munafik dia mengakui bahwa dia menyukai panggilan sayang dari Gilang itu hanya saja dia juga sadar bahwa mereka tidak memiliki hubungan.


"Dasar! Tidak punya status tapi berani mengatakan omong kosong seperti itu." gumam Andita lirih tapi mampu di dengar oleh Gilang.


Gilang pun segera menghentikan langkah nya hingga Andita yang mengikuti nya di belakang pun menabrak tubuh nya.

__ADS_1


"Aww!"


Andita memegang kening nya karena dia menabrak tubuh tegap Gilang.


"Bisa gak sih jika mau berhenti itu bilang-bilang." protes Andita menatap Gilang yang juga kini sudah membalikkan tubuh nya menghadap Andita hingga tatapan kedua nya beradu.


"Aku mencintaimu. Aku ingin kau jadi kekasihku ah bukan aku ingin kau jadi istriku. Pasanganku. Kita akan membina keluarga kecil kita bersama. Memiliki rumah kita sendiri dan hidup bersama anak-anak kita kelak." ucap Gilang.


Andita yang mendengar ucapan Gilang pun seketika hanya bisa terpaku dan terdiam karena dia tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu dari seorang Gilang Brawijaya.


"Apa ucapanku itu terlalu mengada-ngada? Yah aku tahu tapi itu lah yang aku inginkan. Kau mungkin tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan dan mungkin saja kau masih menganggap bahwa aku hanya menjadikanmh pelampiasan saja. Tapi sungguh aku tidak menganggapmu begitu. Aku awalnya tersentuh dengan perhatian yang kah berikan saat aku di rumah sakit. Perhatian yang membuatku tersentuh karena kau menjagaku dan mengunjungiku setiap hari nya yang bahkan tidak ku dapatkan dari kedua orang tuaku. Kau memberikan nya. Kau membuatku merasa memiliki seseorang untuk bersandar dan berbagi keluh kesah. Mungkin kau juga masih belum percaya. Tapi tidak masalah hal itu karena tuags seorang pria memang berjuang. Aku bisa melakukan apapun yang kau minta sampai kau bisa percaya padaku bahwa aku mencintaimu bukan karena pelampiasan tapi karena kebaikan hatimu yang menyentuh sudut hati terdalamku." Sambung Gilang panjang.


Andita yang mendengar itu pun tersentuh, "Aku percaya kok." jawab Andita lirih.


Gilang yang mendengar itu pun tersenyum senang hingga tanpa sadar dengan gerak refleks nya menarik Andita ke dalam pelukan nya.


Gilang sendiri baru tersadar saat melihat orang-orang di pantai itu memperhatikan apa yang dia lakukan.


Gilang segera melepas pelukan nya, "Maaf aku--"


"Jangan lakukan lagi hal itu. Dasar memalukan." Potong Andita lalu segera meninggalkan Gilang. Andita menutup wajah nya dengan kedua tangan nya karena malu dengan apa yang terjadi barusan. Memang bukan sesuatu yang besar hanya saja dia yang tidak terbiasa melakukan hal seperti itu merasa bahwa itu sangat memalukan.


Gilang sudah berada di samping nya kembali, "Maaf aku bukan bermaksud melakukan nya. Itu tadi secara refleks saja." Ujar Gilang mencoba menjelaskan.


"Stop. Jangan bicara dan jangan bahas hal itu." ucap Andita.


Gilang pun mengangguk, "Um baiklah. Tapi apakah aku bisa mengajukan pertanyaan?" tanya Gilang meminta izin.

__ADS_1


Andita pun mengangguk, "Hum, katakan." Ucap nya.


"Apa kita sudah bisa di katakan sepasang kekasih?" Tanya Gilang. Sungguh, ini bukan gaya nya apalagi mengingat usia nya yang bukan ABG lagi tapi bukan kah cinta itu bisa melakukan apapun. Hal gila pun bisa di lakukan atas nama cinta.


Andita pun tersenyum mendengar pertanyaan Gilang itu, "Apa aku sudah mengatakan hal yang mengisyaratkan hal itu? Bukan kah aku hanya mengatakan percaya saja?" tanya Andita balik lalu kembali berjalan mendekati air pantai yang kurang beberapa meter lagi di hadapan nya.


"Jika belum mengatakan nya maka setidak nya katakan itu sekarang." Ucap Gilang dari belakang.


"Hmm, aku masih butuh waktu memikirkan nya. Ini keputusan yang butuh banyak pertimbangan. Aku harap tuan muda Brawijaya bisa menunggu." balas Andita.


"Baiklah, kau pikirkan dulu dengan baik. Aku bisa menunggu. Tapi setidak nya aku bisa mendapatkan satu jawaban darimu." ucap Gilang.


Andita pun menghentikan langkah nya dan menoleh, "Tentang?" tanya Andita.


"Kau mengatakan percaya dengan apa yang aku katakan. Tapi kenapa kau seolah terlihat ragu denganku?" ucap Gilang menatap dalam gadis di hadapan nya itu.


"Aku tidak ragu. Hanya merasa tidak pantas saja untukmu." ucap Andita.


"Kenapa?"


"Kenapa bisa tidak pantas?" tanya Gilang.


"Kau tahu bukan aku berasal dari kelas sosial yang berbeda denganmu. Kau itu adalah seorang tuan muda. Putra tunggal keluarga Brawijaya. Sedangkan aku apa? Aku hanya lah anak yatim yang kuliah karena beasiswa yang di berikan perusahaan Husna. Lalu aku tinggal di mana? Aku dan ibuku bahkan tinggal menumpang di keluarga Husna. Jadi kita itu bagaikan langit dan bumi. Berbeda jauh." Ucap Andita.


Gilang terdiam mendengar ucapan Andita itu. Ternyata hal ini yang membuat Andita bimbang. Dia pikir karena Andita yang hanya di anggap pelampiasan oleh nya.


"Aku tidak menganggapmu begitu."

__ADS_1


__ADS_2