
Setelah menyelesaikan bacaan tulisan di buku peninggalan kedua orang tua nya itu Azzam pun dengan gerakan cepat segera meraih kunci mobil milik nya dan berjalan dengan cepat keluar daru ruang kerja nya itu. Azzam ingin segera mengetahui semua rahasia yang di tinggalkan untuk nya. Dia ingin segera tahu semua jawaban atas kebingungan yang selalu jadi pertanyaan di otak nya. Pertanyaan yang tidak bisa dia temukan jawaban nya.
“Abang mau kemana?” tanya Zahra sambil berteriak melihat Azzam yang berjalan dengan cepat menuju pintu keluar bahkan tidak pamit pada nya.
Azzam yang mendengar ucapan adik nya itu pun segera menoleh lalu kemudian dia tersenyum, “Abang mau pergi ke rumah lama kita.” Jawab Azzam.
“Untuk apa kesana bang?” tanya Zahra penasaran. Pasal nya mereka sudah beberapa tahun ini pindah ke sini dan sangat jarang datang ke rumah lama walaupun ingin ke sana. Rumah lama mereka itu menyimpan sebuah kenangan yang menyedihkan sehingga kedua nya tidak sering ke sana.
“Ada yang harus abang lihat dan cari tahu di sana dek. Jika kamu ingin tahu kamu ikut saja. Di sana akan ada surat untukmu juga.” Jawab Azzam lagi.
Zahra yang mendengar itu pun seketika langsung terkoneksi dengan baik otak nya. Dia lupa tadi baru saja memberikan buku peninggalan orang tua mereka itu kepada abang nya, “Ahh aku ikut bang.” Ucap Zahra langsung berlari ke kamar nya sebentar untuk mencari hijab yang bisa dia pakai dengan cepat. Tidak lama Zahra keluar dari kamar nya dan dengan ponsel nya di tangan. Akhirnya kedua kakak beradik itu pun segera menuju kediaman lama mereka yang memang membutuhkan waktu cukup lama. Sekitar 2 jam perjalanan dari kediaman mereka sekarang untuk pulang pergi. Kediaman lama keluarga Azzam itu berada di kota J.
***
Singkat cerita, kini Azzam dan Zahra sudah tiba di kediaman lama mereka itu hanya dengan waktu 40 menit saja. Azzam memang sedikit mempercepat kecepatan nya sehingga dia bisa tiba di kediaman nya ini dalam waktu kurang dari satu jam.
Azzam dan Zahra pun saling berpandangan satu sama lain sebelum turun dari mobil mereka itu, “Jika kamu masih belum bisa masuk ke dalam karena tidak siap. Kamu bisa di dalam mobil sini saja dek. Biar abang yang masuk dan mencari apa yang mami dan papi tinggalkan untuk kita di dalam sana.” Ujar Azzam. Dia sangat tahu bahwa adik nya itu kadang histeris melihat foto kedua orang tua nya. Untuk foto yang terpasang di kediaman mereka yang sekarang saja itu di pasang saat Zahra yang meminta nya karena dia yang rindu.
“Aku ikut turun bang. Aku sudah tidak histeris lagi kok. Tapi yang harus di khawatirkan itu adalah abang karena abang per--” ucap Zahra terdiam tidak meneruskan perkataan nya dan justru memilih keluar dari sana.
Zahra segera menyapa penjaga gerbang kediaman nya itu dengan ramah dan begitu penjaga kediaman itu mengenali siapa yang datang dia pun segera membukakan pintu gerbang untuk Azzam dan mobil Azzam pun masuk ke kediaman berlantai tiga itu. Kediaman tidak kalah mewah dengan kediaman milik Husna. Tapi tentu saja kediaman Husna jauh lebih mewah. Bisa di katakan sebelas dua belas kemegahan nya. Namun tentu saja kediaman itu sudah menandakan bahwa pemilik nya adalah orang yang kaya. Kediaman itu hanya bisa di miliki oleh keluarga elit saja.
Azzam segera memarkirkan mobil nya di halaman luas kediaman lama itu. Kediaman yang sudah dia tinggalkan sejak tiga tahun lalu. Tapi tetap saja terawat karena ada yang menjaga kediaman itu.
“Tuan muda … nona muda … selamat datang kembali ke kediaman ini. Kami merindukan kalian. Apa tuan muda dan nona muda akan kembali tinggal lagi di sini?” tanya kepala pelayan itu kepada Azzam mewakili yang lain.
Azzam hanya tersenyum lalu dia memilih segera masuk ke kediaman nya itu, “Paman, kunci kamar utama?” pinta Azzam.
Kepala pelayan itu pun dengan sikap segera memberikan kunci yang di minta oleh tuan muda nya. Setelah menerima kunci itu pun dia segera menuju kamar utama kedua orang tua nya tapi sebelum itu dia menoleh kepada sang adik.
“Dek, apa kau pusing?” tanya Azzam.
Zahra menggeleng lalu mengamati sekeliling kediaman itu yang tidak berubah sama sekali. Masih saja sama seperti tiga tahun lalu. Tidak ada yang di ubah seolah kenangan yang dia lewati bersama mami dan papi nya kini berputar lagi dalam otak nya. Di ruang keluarga itu mereka saling bercanda tawa bersama ketika mami dan papi nya pulang dari perjalanan luar kota. Mami dan papi mereka memang kadang pergi keluar kota dan tidak terus di rumah tapi mereka tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang kedua orang tua mereka itu. Mami dan papi mereka selalu memiliki waktu untuk bisa quality time bersama keluarga.
“Dek, ayo ikut abang.” Saat dia menatap adik nya itu yang diam memandangi ruang keluarga.
__ADS_1
Zahra pun tersenyum lalu mengangguk. Dia segera mengikuti suami nya itu masuk ke kamar utama kedua orang tua nya.
Azzam segera membuka nya dan dia pun segera melihat lukisan di dinding. Dia segera menurunkan lukisan itu dan di sana ada sebuah lemari tanam. Azzam segera membuka nya menggunakan sandi dan tidak lama terbuka. Lagi-lagi ada kotak di dalam nya. Azzam kembali memasukkan sandi nya akhir nya brankas pun terbuka. Di sana ada surat untuk Azzam dan Zahra di bungkus dengan amplop berwarna coklat dan ada tulisan nama mereka masing-masing di atas amplop itu.
“Ini untukmu dek!” ucap Azzam segera memberikan salah satu surat itu yang bertuliskan nama adik nya kepada Zahra.
Zahra menerima nya dengan tangan gemetar dan air mata yang menetes di pipi nya, “Terima kasih bang.” Ucap Zahra.
“Jangan menangis dek. Ini adalah pesan mami dan papi untuk kita.” Ucap Azzam.
“Jika kau belum siap untuk membuka dan membaca nya sekarang. Kau simpan lah dulu.” Sambung Azzam lalu dia segera membuka surat nya.
Zahra memilih meninggalkan Azzam di kamar itu karena atmosfir di kamar itu membuat nya ingin menangis saja. Bau parfum mami dan papi nya masih tertinggal di sana.
Azzam pun tidak mempermasalahkan adik nya yang pergi keluar. Dia tahu adik nya itu butuh ketenangan. Azzam segera membaca kertas itu.
Untuk Azzam
Azzam, ini adalah surat kedua untukmu bukan. Jika kamu sudah menemukan surat ini. Itu berarti kamu sudah membaca surat pertama di buku yang mami dan papi tinggalkan dan titipkan kepada Zahra. Jika kau sudah menemukan surat ini, itu berarti kami memang telah tiada bersamamu dan adikmu. Maaf untuk hal itu sekali lagi.
Azzam, jika memang kau terguncang dan merasa bahwa ada beberapa pertanyaan yang tidak bisa kau jawab maka atau pun merasa bahwa ada ingatanmu yang hilang maka itu berarti memang ingatanmu ada yang hilang. Memorimu memang seperti sebuah memori perangkat elektronik saja yang suka mengalami reset jika sudah melampaui batas. Itu adalah penyakitmu yang sampai saat ini belum sembuh-sembuh. Maafkan mami untuk itu. Tapi mami yakin suatu saat nanti penyakit itu akan menemukan obat nya.
Sudah cukup langsung ke inti nya saja. Mami ingin mengatakan bahwa kau dekat dengan seorang gadis. Nama nya adalah Azarine Salsabila Husna atau biasa kau panggil Azarine. Dia adalah putri tunggal tuan Syarif. Kamu ingat bukan siapa itu tuan Syarif. Dia adalah tetangga kita di kota F. Azarine biasa di panggil Husna oleh semua orang. Itu adalah nama panggilan nya pada umum nya. Kita sudah lama pintah ke kota J sehingga kemungkinan besar kau lupa wajah nya. Kalian juga hanya saling mengirim pesan dan bertelpon saja sehingga tidak memiliki ingatan wajah masa kini. Kau hanya memiliki foto remaja nya saat kalian berpisah. Foto itu kau pajang di kamarmu bukan. Itu adalah Azarine-mu. Jangan salahkan mami untuk hal itu. Kalian tidak memiliki foto masa kini itu karena janji yang kalian buat sendiri yang tidak akan saling memperlihatkan wajah satu sama lain sampai dewasa yang saling berjanji akan bertemu di Hagia Shopia.
Azzam, dulu saat usiamu 15 tahun saat berpisah dengan nya dan kita baru tiba di kota ini. Kau pernah berkata akan menikahi nya. Saat itu kami hanya menganggap nya candaan karena bagaimana mungkin anak seusia dirimu akan menikahi Azarine. Saat itu kami tidak mempercayaimu dan hanya menganggap semua perkataanmu itu sebagai sebuah ungkapan karena sedih berpisah dengan sahabat kecilmu. Tapi kini mami percaya bahwa perasaan kalian itu ada walaupun itu bukan cinta namun kalian saling menyayangi.
Satu hal yang mami minta tolong wujudkan perkataanmu itu nak. Dia adalah gadis baik. Dia juga menantikan kedatanganmu untuk bertemu dengan nya di Hagia Shopia. Jujur saja mami dan papi pun punya keinginan yang sama denganmu. Menjadikan nya menantu tapi kenapa kami menganggap perkataanmu saat usiamu 15 tahun itu sebuah candaan karena kau masih terlalu muda untuk membahas hal itu nak yang kami anggap itu hanya omongan anak-anak saja. Tapi kini kau sudah dewasa dia juga sama. Kalian sudah bisa saling bertemu satu sama lain dan kau bisa mewujudkan keinginanmu itu. Nikahi lah dia. Azarinemu. Temui lah dia di kota F. Mami dan papi merestui kalian nak. Percayalah saat pernikahanmu dengan nya nanti. Kami akan datang menyaksikan nya.
Ohiya, ada hadiah untukmu di kamarmu. Semoga saja kau bisa segera menemukan Azarine-mu itu nak.
Baiklah. Cukup itu saja pesan untukmu. Semoga saja ingatanmu bisa kembali dan semua pertanyaan dalam otakmu itu bisa terjawab. Mami harap kau segera menemukan obat penyembuh untuk hal itu. Sekali lagi maafkan mami dan papi ya nak! Semoga kalian bahagia.
Dari : Mami dan papi yang menyayangimu.
Azzam mengusap air mata yang menetes di pipi nya setelah membaca surat dari mami nya itu, “Azarine!”
__ADS_1
“Pantas saja aku merasa tidak asing dengan nama itu. Dia adalah sahabat masa kecilku. Terima kasih mih. Kini aku kembali ingat semua. Terima kasih sudah meninggalkan surat ini untukku. Terima kasih sudah memikirkan kemungkinan yang terjadi padaku. Semua pertanyaanku sudah terjawab mih.” Gumam Azzam menatap surat di tangan nya itu.
Memang ingatan Azzam kembali perlahan saat dia sedang membaca surat itu. Memori Azzam sering timbul tenggelam tapi ketika di ingatkan lagi maka semua nya akan kembali dia ingat. Kini semua ingatan itu dia ingat.
Azzam segera berdiri dan melihat isi brankas kedua orang tua nya itu dan segera mengambil semua isi nya. Dia segera menyimpan di tas milik sang mami yang berada di kamar itu dan membawa nya keluar kamar.
“Paman, ini kunci kamar utama. Aku mau kunci kamarku.” Pinta Azzam kepada kepala pelayan itu.
Kepala pelayan itu dengan sigap segera memberikan kunci kamar Azzam dan mengambil kunci kamar utama. Azzam segera menuju lantai dua di mana kamar nya berada untuk mencari tahu hadiah yang di maksud mami nya di surat.
Saat dia di pertengahan tangga, Azzam menoleh kembali menatap kepala pelayan itu, “Paman, di mana adikku?” tanya Azzam.
“Nona sedang ada di kolam renang tuan.” Jawab kepala pelayan itu.
Azzam pun mengangguk lalu dia kembali melanjutkan tujuan nya. Dia segera membuka pintu kamar nya itu dan melihat sekeliling. Azzam segera meraih foto masa kecil nya yang terletak di meja di samping ranjang nya.
“Azarine!” ucap nya lalu memeluk foto itu.
“Aku menemukanmu dan mengingatmu Azarine. Aku akan datang menemuimu dan menikahiku sama seperti ucapanku saat kita berpisah.” ucap Azzam memeluk foto itu.
Lalu setelah itu Azzam pun melihat sekeliling kamar nya untuk mencari hadiah yang di maksud mami nya. Azzam membuka semua laci di kamar nya itu dan tiba-tiba dia menemukan satu foto.
Azzam mengambil foto itu dan tersenyum, “Azarine!” ucap nya lagi.
Azzam membalik foto itu dan tersenyum melihat tulisan di sana.
[Ini hadiah untukmu nak. Ini foto nya sekarang. Usia nya sekarang 18 tahun. Dia tumbuh jadi gadis yang sangat cantik dan menawan. Semoga kau menemukan nya dengan foto ini.]
“Mami, aku sudah bertemu dengan nya dan dia memang sangat cantik.” ucap Azzam tersenyum.
Setelah itu dia dan Zahra pun kembali. Zahra di perjalanan dia tersenyum gembira seolah surat itu membuat nya bahagia. Azzam pun tidak bertanya banyak. Saat mendapatkan jawaban bahwa Zahra baik-baik maka dia pun sudah lega.
Flash back of
“Hm, begitu lah cerita nya sayang. Aku mengingatmu saat menemukan surat peninggalan mami dan papi. Maaf melupakanmu.” Ucap Azzam menyudahi cerita nya itu.
__ADS_1
Husna tidak menjawab dan hanya memeluk erat tubuh suami nya itu. Kini perlahan-lahan pertanyaan dalam otak nya itu mulai terjawab.