My Secret Love

My Secret Love
Kedekatan


__ADS_3

Aro tidak percaya dengan apa yang saudara kembarnya katakan barusan tentang siapa Uni. Kedua mata Aro masih memandang terus ke arah Uni yang duduk di sebelah Ara.


"Kamu benaran Sita teman kita waktu kecil dulu?" Aro seolah masih tidak percaya.


"Iya, aku Sita teman kalian dulu. Jadi kamu Aro yang dulu? Aro yang tidak pernah mau menerima bekal yang aku berikan untuk kamu?"


"Bukannya aku tidak mau, Uni. Eh! Maksudku Sita, aku jadi bingung memangil nama kamu."


"Panggil saja namaku Uni, Aro, aku tidak akan keberatan, kok."


Aro menghela napasnya pelan. "Aku mau menjelaskan kenapa dulu aku tidak pernah mau waktu kamu berikan bekal kamu sama aku karena aku lihat bekal kamu tidak terlalu banyak, dan aku tidak tega mengambilnya."


"Tapi aku senang kapan hari kamu mau makan burger dan kentang dari bekal milikku."


Ara seketika kaget dengan yang di katakan oleh Uni. "Kalian ternyata sudah sangat akrab, Ya? Atau jangan-jangan kalian berpacaran?" selidik Ara.


"Jangan bicara sembarangan, kamu. Aku dan Uni tidak sengaja waktu itu karena terjebak macet, dan perutku lapar."


"Wah! So sweet." Goda Ara.


"So sweet apanya? Tidak enak sama sekali terjebak hujan dan macet." Aro bersedekap. "Uni, bukannya dulu kehidupan kamu lebih baik, kamu malah memiliki pengasuh?"


"Dulu memang hidupku sangat bahagia, Aro, tapi semua sudah berubah saat kepergian kedua orang tuaku dan aku di rawat oleh Tanteku. Aku juga tidak pernah bermimpi akan seperti ini sekarang." Wajah Uni tampak sedih.


"Sabar ya, Uni. Semua orang juga tidak mau seperti ini, kamu juga, tapi bagaimana lagi." Ara memeluk Uni. Aro menatap kedua gadis cantik tersebut.


"Kata mamaku kamu akan tinggal di sini sekarang, kamu tidak akan merasa sedih lagi di sini, Uni. Anggap saja kita keluarga kamu."


"Terima kasih, Aro. Aku juga tidak mau sebenarnya menyusahkan keluarga kalian. Nanti kalau aku sudah memiliki sedikit uang, aku akan pindah dari sini mencari tempat tinggal yang sederhana yang bisa aku tempati."


"Tidak perlu seperti itu, Uni. Kamu bisa tinggal di sini selama kamu membutuhkan. Mamaku juga tidak akan membiarkan kamu sendirian di luar."

__ADS_1


"Iya, tidak perlu pindah, nanti Aro bingung cariin kamu terus." Ara melirik pada saudara kembarnya yang malah menunjukkan muka bingungnya. Uni pun tampak malu.


Aro melengos pergi dari kamar Ara. "Ara, kenapa kamu bicara seperti itu? Aku dan Aro itu tidak ada apa-apa, aku jadi tidak enak sama Aro."


Ara malah terkekeh senang. "Kamu itu jangan takut, tenang saja, aku memang suka menggoda saudaraku itu. Habisnya dia itu kaku sekali, dia juga tidak pernah loh mengenalkan teman perempuannya pada kita, aku sampai menganggapnya apa dia tidak suka perempuan? Tapi sejak ada kamu, aku lihat dia berbeda. Apa jangan-jangan dia suka sama kamu?" Ara menelisik pada Uni.


"Suka sama aku? Jangan bicara yang tidak-tidak Ara. Dari kecil saja dia sudah cuek sama aku, terus dia suka sama aku dari mana? Sikapnya saja masih dingin begitu." Uni beranjak dari tempatnya.


"Kamu jangan kaget, Uni. Dia memang begitu, tapi dia sebenarnya perhatian loh."


"Sudahlah! Aku tidak mau membahas Aro terus. Aku mau membersihkan kamar Aro sekarang, nanti dia malah menunjukkan muka esnya sama aku kalau aku tidak membersihkan kamarnya. Oh ya! Apa kamu memerlukan lagi bantuanku?"


"Tidak Uni, terima kasih."


Uno kemudian memberesekan kotak mainan Ara dan meletakkannya kembali, setelah itu Uni keluar dari kamar Ara dan masuk ke dalam kamar Aro.


Uni mulai membereskan kamar milik Aro, menatap kasurnya, membenarkan meja kursi yang pindah dari tempatnya dan saat dia melihat ada baju berserahkan, Uni mengambil dan akan memasukkannya pada keranjang pakaian yang ada di depan pintu kamar mandi.


Terdengar suara pintu terbuka dan seketika indra penciuman Uni mencium aroma yang sangat wangi dan rasanya menenangkan di depannya.


Kedua mata Uni membelalak lebar melihat bentuk tubuh kotak-kotak dan putih bersih tepat di depan kedua matanya. Uni perlahan-lahan mengangkat kepalanya melihat wajah sang pemilik tubuh indah itu.


"Aro, maaf." Uni langsung memundurkan dirinya ke belakang dengan cepat, dan dengan cepat pula dia langsung menutup kedua matanya.


"Kamu kenapa? Tidak pernah melihat tubuh seorang cowok yang bagus seperti punyaku?"


Uni membalikkan tubuhnya membelakangi Aro. "Tentu saja aku tidak pernah melihatnya, lagian kamu kenapa tidak bilang kalau ada di kamar mandi? Aku kira kamu di luar."


"Apa aku harus laporan dulu tadi sama kamu kalau aku mau mandi? Lagipula aku memang punya kebiasaan pulang kuliah selalu mandi untuk membersihkan diri." Aro berjalan menuju lemari bajunya untuk mengambil setelah celana pendek santai dan kaos.


"Kalau begitu aku keluar dulu, saja." Uni akan berjalan menuju pintu dengan mata di buka.

__ADS_1


"Tidak perlu, kamu tutup mata saja, aku sudah terlanjur membuka handukku."


Deg!


Uni seketika menghentikan langkahnya dan kembali menutup matanya masih dengan membelakangi Aro. "Kenapa dia seenaknya begitu," umpat Uni kesal.


"Aku sudah selesai. Kamu bisa melanjutkan pekerjaan kamu."


Uni membuka kedua matanya dan melihat Aro berjalan ke arahnya. "Aku akan membersihkan barang-barang di dalam kamar mandi kamu."


"Uni, tunggu!" Aro memegang tangan Uni dan melihat ada bekas luka di tangan Uni.


"Aro lepaskan tanganku." Uni mencoba menarik tangannya, tapi pegangan Aro lebih kuat.


"Tangan kamu terluka, aku akan memberikan obat pada tangan kamu." Aro memegang tangan Uni dan menyuruh Uni duduk di atas ranjangnya.


Uno tentu saja tampak bingung. "Aro, tidak usa, tadi juga sudah diobati oleh nenek Anjani."


Aro tidak mendengar apa kata Uni, dia membawa kotak obat dan duduk di depan Uni dengan menyeret kursinya.


"Harus di obati lagi, supaya tidak sakit dan cepat sembuh." Aro mengoleskan salep pada tangan Uni. Uni hanya bisa diam memandang pria di depannya yang dengan muka terlihat datarnya. Namun, sentuhannya pada tangan Uno sangat lembut.


"Auw! Sakit."


"Mereka keterlaluan sekali bisa melukai kamu seperti ini?" Aro melihat ke ara Uni. "Pipi kamu juga masih tampak merah karena tamparan mereka. Apa kamu sering mendapat perlakuan seperti ini?"


Uni menutup pipinya dengan tangannya. "Aku tidak apa-apa, Aro. Aku mungkin yang salah, jadi mereka kesal padaku, aku sudah menyusahkan kehidupan mereka." Uni kembali perlahan meneteskan air matanya.


"Kamu tidak perlu menangis lagi. Mereka tidak akan merasa terbebani kamu lagi, dan kamu juga tidak akan mendapat pelampiasan dari kekesalan mereka." Aro menghapus air mata Uni."


"A-aku--."

__ADS_1


"Aku sudah tau semua cerita tentang kamu dari Via."


"Via? Kamu bertemu sama dia di kampus?" .


__ADS_2