
“Tentu saja, aku harus tetap mengawasi kamu walaupun aku berada jauh dari kamu, Sayang. Nanti malam kamu bersiap-siaplah karena aku akan mengajak kamu makan malam di luar. Kamu juga bisa mengajak Bibi Anjani.”
“Makan malam di luar? Kamu serius?”
“Iya, katanya kamu bosan di rumah, makannya aku mau mengajak kamu makan malam di luar, dan jangan lupa coba gaun yang aku belikan tadi di kamar.”
“Iya, nanti aku akan mencoba memakai gaun itu.”
“Bagus kalau begitu, ya sudah, coba saja sekarang, kalau tidak muat atau kamu kurang suka, aku akan membelikannya yang baru.”
“Sekarang? Kan makan malamnya masih nanti malam?”
“Coba saja sekarang, kalau tidak pas nanti bisa langsung di tukar.”
“Baiklah!” Nala dengan senang mengambil kotak berisi gaun dan membawanya masuk ke dalam kamar setelah menutup teleponnya. Beberapa menit kemudian Nala keluar dan menunjukkan kepada bibinya.
“Bagus sekali, cocok sama kamu, meskipun hamil kamu terlihat cantik dengan gaun itu, Nala.” Puji bibi Anjani.
“Akira pandai sekali memilihkan gaun untukku meskipun ukuran tubuhku sudah berubah.” Nala mencari kamera CCTV di sana dan mencoba
memutar-putra tubuhnya di sana karena dia tau suaminya pasti memperhatikan dia dari kantornya.
“Kamu kenapa begitu, Nala?”
“Akira ternyata memasang kamera CCTV di setiap ruangan di rumah ini, jadi dia bisa melihatku dari kantornya, bahkan tadi dia mendengar juga aku menggerutu tentang dirinya.”
“Oh soal itu, Bibi sudah tau,” ucap Bibi santai.
“Jadi Bibi sudah tau? Kenapa tidak bilang sama aku, Bi?”
“Kamu tidak tanya.”
“Kenapa menunggu aku tanya? Huft! Oh ya, Bi, nanti malam Akira mengajak kita makan malam di luar untuk merayakan hari ulang tahunku, dan dia mengajak Bibi ikut juga.”
“Kalian berdua saja yang pergi makan malam, bibi mau tiduran saja di rumah, lagian kalian kan sudah lama tidak menghabiskan waktu di luar bersama sejak ada si peneror itu.”
“Bibi benar tidak mau ikut?”
__ADS_1
“Iya, bibi di rumah saja, kamu sama Akira saja yang keluar makan malam romantis.” Bibi Anjani tersenyum.
Nala kembali ke dalam kamarnya dan dia mengambil ponselnya untuk kembali menghubungin suaminya. “Akira, bajunya sangat pas untukku dan perutku juga tidak terasa kesempitan, aku menyukai bajunya.”
“Aku sudah melihatnya, saat kamu tadi pertama memakainya, aku sudah tau jika baju itu pas untuk kamu. Apalagi di tambah dalaman berwarna senada itu,” celetuk Akira dengan duduk bersandar di kursi kebanggannya dan
tangan satunya memegang macbook yang dari tadi dia awasi.
“Maksud kamu?” Nala tampak bingung.
“Dalaman dan gaun dengan warna senada, perpaduan yang sangat manis.”
Seketikan kedua mata Nala melotot mendengar apa yang di katakan oleh suaminya. Nala mengedarkan pandangannya di sekitar kamarnya, dia mencari kamera yang sepertinya juga di pasang oleh Akira di sana. “Kamu juga
memasang kamera di dalam kamar kita?”
“Menurut kamu?” Terdengar suara kekehan Akira.
“Dasar tuan mesum! Bahkan kamu di sana memantau kegiatannku di dalam kamar?”
“Aku kan tidak ingin terlambat menyiapkan kebutuhan kamu.”
“Tapi hal itu jarang melihat kamu bangun, keluar dari kamar mandi, bahkan sampai berganti baju.”
“Sudah! Aku tidak mau membahas hal ini, Aku mau berganti baju di kamar mandi saja. Eh, tapi apa kamu juga memasang kamera di kamar mandi juga?”
“Tenang saja, di sana aman, tapi aku akan memikirkannya untuk memasang kamera di sana. Terima kasih atas ide kamu, Sayang.”
“Akira!” seru Nala kesal.
“Baiklah, aku akan berganti di sini saja kalau begitu, biar kamu di sana menderita.” Nala terkekeh lalu menutup panggilannya.
Akira tersenyum di tempatnya dan melihat ke arah macbook yang di bawanya. Dengan wajah datar dan dinginnya dia tak melepas pandangannya pada macbook di tangannya. Nala di kamarnya sengaja menggoda suaminya itu. Dia melepas gaun yang dipakainya dengan adegan slowmotion dan menujukkan wajah
menggodanya. Nala masih belum menemukan di mana suaminya memasang kamera di kamarnya, tapi Nala tau pasti Akira bisa melihat di tempatnya.
“Awas kamu, Sayang. Kamu benar-benar wanita yang tidak bisa aku hindari, pesona kamu masih tetap sama seperti dulu.” Akira mulai melonggarkan dasinya.
__ADS_1
Wakakak! Akira mulai panas dingin, ini pasangan suami istri somplak emang.
Siang itu setelah selesai meeting dan makan siang, Akira memutuskan untuk pulang ke rumah. Di rumah orang pertama yang di cari Akira adalah Nala. “Kamu kok sudah pulang, Akira?” tanya bibi Anjani.
“Pekerjaanku di kantor sudah selesai, Bi. Lagian istriku yang tak lain keponakan Bibi itu sedang membuat masalah denganku tadi di kantor, dan aku ingin menyelesaikannya.”
“Membuat masalah dengan kamu?” bibi Anjani bingung.
“Bukan masalah serius, Bi.” Akira tersenyum.
“Tapi Nala sedang tidur di dalam kamarnya, dia tadi bilang ingin tidur karena merasa punggungnya agak sakit, dan nanti minta di bangunkan saat kamu pulang.”
“Aku kan melihat dia di dalam kamar.” Akira masuk ke dalam kamarnya dan mendapati istrinya sedang tertidur dengan pulas. Akira melepaskan semua bajunya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihakan dirinya, kemudian dia keluar dengan hanya memakai celana pendek selutut dan naik ke atas ranjang. Akira memandangi wajah istrinya, dia mengecup perlahan bibir Nala. Akira
tidak jadi mengganggu istrinya dan dia malah ikut tidur sebentar di samping Nala.
Malam itu di rumah Nala, dia sudah bersiap-siap dengan gaun pemberian Akira dan hanya memakai make up flawes serta hanya menguncir rambutnya ke atas dengan menyisahkan sedikit berantakan di depan, Nala tampak sederhana, tapi terkesan manis.
Akira tampak sudah rapi juga dengan setelah kemeja hitam tanpa dasi dan dia terlihat sangat gagah.
"Suamiku kenapa terlihat tampan sekali?" celetuk Nala sambil manyun.
"Memangnya kamu tidak sadar jika suami kamu ini dari dulu memang tampan? Kitakan sudah lama bersama Nala."
"Iya, aku sadar."
"Lalu, kenapa kamu menyun begitu? Mau menggodaku dengan bibir berwarna merah kamu?"
"Bukan. Hanya saja nanti kalau kita jalan berdua pasti akan menjadi omongan orang-orang. Lihat itu suaminya tampan dan gagah, sedangkan istirnya tubuhnya melebar ke mana-mana."
Bibi Anjani yang mendengar hal itu sontak terkekeh pelan. "Kamu itu kenapa jadi sangat sensitif dari tadi? Mungkin bawaan bayi kembar kamu."
"Huft! Bibi saja malah menertawaiku."
"Bibi tidak menertawai kamu, hanya saja bibi lucu saja mendengar ucapan kamu. Walaupun nanti banyak wanita yang lebih cantik dan sexy, Akira juga tidak akan tertarik."
"Bibi kamu saja lebih tau. Aku sudah tidak tertarik dengan wanita lain di luar sana." Akira memeluk istrinya.
__ADS_1