My Secret Love

My Secret Love
Keromantisan Tengah Malam


__ADS_3

Uni masuk ke dalam ruangan dan memberikan gelas yang berisi minuman pada Aro. "Aro, apa yang kamu lakukan?"


"Membantu kamu, Uni! Memangnya kamu lihat aku sedang apa? Main sepak bola?"


Uni melengos kesal kata-katanya tadi di copas sama Aro. "Untuk apa membantuku? Kamu tidur saja sana, lagian ini sudah tengah malam dan kamu besok kuliah." Uni mengambil cucian dari tangan Aro.


"Aku mau membantu kamu supaya pekerjaan kamu cepat selesai." Aro menarik lagi cucian yang di ambil Uni.


"Ini bukan tugas kamu, Aro. Aku bisa menyelesaikannya sendiri. Sekarang kamu pergi saja ke kamar kamu dan tidur."


"Kamu juga besok kuliah, tapi kenapa kamu masih keluyuran di sini?"


"Enak saja keluyuran! Aku bekerja Aro. Enak kalau bekerja malam-malam seperti ini, lebih tenang dan aku bisa fokus."


Cetak!


Aro menyentil pelan dahi Uni. "Enak apanya? Kamu bisa kelelahan dan capek."


Uni mengusap-usap dahinya yang terkena sentilan Aro. "Aku tidak capek." Bibir gadis itu monyong. "Sekarang aku sudah selesai, aku tinggal menjemurnya dan supaya besok kering kemudian aku bisa menyetrikanya."


"Ya sudah! Ayo kita jemur sekarang, di halaman belakang, kan, menjemurnya?"


"Iya, jadi kamu tidur saja, biar aku yang menjemurnya."


Uni mengira Aro akan pergi, tapi ternyata, Aro malah mengangkat bak besar berisi pakaian yang akan dijemur menuju halaman. Uni langsung kelimpungan melihat hal itu. Dia mengikuti Aro sampai halaman belakang.


Mereka berdua tidak tau jika dari tadi ada yang sedang memperhatikan mereka berdua. Orang itu tersenyum sendiri melihat tingkah mereka berdua.


"Di dijemur bagaimana?"


"Kenapa kamu susah sekali di beritahu si, Aro? Biar aku saja yang menjemurnya, kamu kembali saja ke kamar kamu."

__ADS_1


"Aku akan membantu kamu sampai selesai. Kalau kamu cerewet terus begini. Pekerjaan kita tidak akan selesai-selesai sampai pagi menjelang, Uni."


Uni baru sadar ucapan Aro memang benar. Akhirnya Uni segera menjemur satu persatu baju itu di bantu dengan Aro. Aro yang memang pada dasarnya tidak pernah melakukan pekerjaan ini dia agak bingung juga, tapi Uni membantunya. Bahkan Uni sampai terkekeh dari tadi melihat Aro yang malah kebalik menjepit bajunya.


"Jangan menertawakan aku, Uni!" serunya dengan muka di tekuk.


"Siapa yang ketawa?" Uni mencoba menahan tawanya.


Aro kembali melanjutkan menjemur baju yang tinggal sedikit. "Ini punya kamu ya, Uni?" Aro tiba-tiba menunjukkan bra cantik berwarna merah pada Uni.


Seketika, kedua mata Uni membulat lebar dan menyambar apa yang di pegang oleh Aro itu secepat kilat.


"Iya, maaf, aku lupa kalau tadi mencucinya." Muka Uni serasa merah padam karena malu setengah mati. Dia menyembunyikan bra miliknya di balik punggungnya.


Dari sudut bibir Aro malah tertarik senyuman yang sangat lebar seolah dia mendapat kesenangan.


"Cantik sekali warnanya, motifnya juga indah, ada renda kecilnya," jelas Aro menjabarkan benda milik Uni.


"Aro! Tidak perlu di jabarkan seperti itu." Uni hendak berjalan agak jauh dari Aro untuk menjemur benda miliknya, tapi lagi-lagi Aro memegang tangan Uni guna menahannya untuk pergi.


"Tentu saja, siapa yang tidak malu?"


"Tidak perlu malu, nanti kalau kita sudah menikah, aku juga akan malah sering melihat benda itu, bahkan bisa satu lemari."


"Menikah? Kenapa kamu malah sampai menjurus ke hal pernikahan?"


"Memangnya tidak boleh? Orang berpacaran yang serius itu pasti menjurusnya nanti pada jenjang pernikahan, apa kamu mau cuma berpacaran main-main terus putus? Aku tidak mau, aku mau berpacaran serius sampai akhirnya bisa menikah dengan kekasihku."


"Tapi kan berpacaran belum tentu bisa jodoh di pelaminan kalau bukan jodohnya. Banyak aku lihat di televisi begitu. Pacaran lama sampai bertahun-tahun, eh nikahnya sama orang lain. Itu tandanya mereka tidak jodoh."


"Iya, itu memang ada, tapi nanti aku buat kamu menjadi milik aku." Aro ternyata diam-diam mengambil benda milik Uni yang di sembunyikan di belakang dan kemudian menjepitkan di antara baju lainnya. Uni hanya bisa tertunduk malu melihat hal itu.

__ADS_1


Akhirnya sisa hanya tiga buah baju dan Uni sudah menjemurnya. "Aro, terima kasih ya sudah menolongku?"


"Ucapan terima kasih kamu datar sekali, aku bosan mendengarnya. Kamu kalau tidak mengucapkan terima kasih ya minta maaf. Apa tidak ada cara lain mengatakan hal seperti itu?"


"Cara lain? Maksudnya?" Uni tampak bingung dengan ucapan Aro.


"Kamu bisa mengucapkan terima kasih atas bantuanku dengan memberikan aku ciuman, Uni. Itu akan lebih menghargai bantuanku."


"Dengan ciuman? Itu bukan menghargai bantuan kamu, tapi memang kamu modus saja supaya aku mau mencium kamu."


"Apa salahnya? Kita kan sudah berpacaran, lagian aku sudah sering mencium kamu."


"Tidak mau!"


Aro menarik tangan Uni yang mau pergi dari sana, dan dengan cepat ciuman Aro mendarat pada bibir Uni. Mereka akhirnya berciuman di tengah dinginnya angin dan tepat di bawah sinar bulan yang masih tampak di atas langit.


Aro yang mengecupnya dengan lama membuat Uni terbuai sampai kedua tangan Uni melingkar pada leher Aro.


Tidak lama Aro melepaskan ciumannya dan menatap lekat wajah kekasihnya itu. "Terima kasih, Aro." Sekarang malah Uni yang menjinjitkan kedua kakinya dan menarik leher Aro agar mendekat ke arahnya. Uni sekarang yang malah membalas ciuman dari Aro.


Kayakanya ini Uni kesambet peri cantik di halaman sampai mau memberikan ciuman pada Aro.


Uni berlari masuk ke dalam rumah saat dia melepaskan ciumannya dan sadar dengan apa yang dilakukan pada Aro.


Pria dengan postur proposional itu tampak tersungging senyum bahagia pada sudut bibirnya. "Kamu mulai mencintaiku, Uni," ucapnya lirih.


"Uni bodoh ... bodoh ... bodoh! Kenapa malah mencium Aro duluan begitu!" gerutu Uni kesal sambil menggetok-getok kepalanya sendiri. "Bukannya mau menjodohkan Aro dengan Via agar Via tidak salah paham nantinya? Tapi kenapa malah membuat keadaan semakin runyam?" gerutunya lagi.


Uni masuk ke dalam kamar dan bersandar pada daun pintu. "Apa aku mulai mencintai Aro? Tidak- tidak, ini tidak bisa di biarkan begitu saja. Aku tidak boleh jatuh cinta sama Aro, dia itu pria yang di cintai oleh Via. Dan Aro lebih cocok dengan Via daripada dengan pembantu seperti aku."


"Uni, kamu belum tidur?" Tiba-tiba suara Nenek Anjani terdengar di sana. Nenek Anjani terbangun dan melihat Uni yang berdiri bersandar pada daun pintu kamarnya.

__ADS_1


"Nenek, maaf ya membuat nenek terbangun, aku tadi barusan selesai mencuci dan menjemur baju. Ini aku mau tidur." Uni berjalan menghampiri tempat tidur nenek Anjani.


"Ya sudah, kamu segera tidur supaya tidak capek.


__ADS_2