My Secret Love

My Secret Love
Pertemuan si Kembar dan Paman Rhein


__ADS_3

Di sekolah Akira dan Nala yang baru sampai melihat kedua anaknya sudah berdiri di depan kelas sepertinya memang menunggu supir yang menjemputnya datang. “Aro, itukan Ayah dan mama.” Tangan mungil Ara menunjuk ke arah dua orang yang berjalan mendekati mereka.


“Halo, Sayang-sayangnya mama, apa kalian sudah lama menunggu di sini?” Nala memeluk kedua anaknya.


“Kita baru saja keluar dari kelas, Ma. Ayah dan Mama kenapa yang menjemput kita?” tanya si kecil Ara.


“Ayah kebetulan pulang cepat hari ini karena ada paman kalian yang dari California datang ke rumah hari ini. “


“Paman siapa, Yah?”


“Nanti kalian pasti tau kalau kita sudah di rumah. Ya sudah! Sekarang kita pulang dulu. Ayo!” Nala menggandeng tangan Aro dan Ara di gendong oleh Akira.


“Hai! Aro, hai, Ara kalian sudah di jemput?” suara gadis kecil yang sekarang menjadi sahabat Ara.


“Hem ...!” Jawab putra kecil Akira. Sambil melirik sekilas pada Sita.


“Iya, kita sudah dijemput, apa kamu mau bareng dengan kita?”


“Tidak perlu, Ara, terima kasih. Aku akan menunggu mba yang mengasuhku menjemputku ke sini, mungkin mba itu masih sibuk dengan anaknya di rumah.”


“Kamu pintar dan berani sekali, kalau begitu kita pulang dulu, Ya? Kamu jangan pulang sendiri, kamu harus menunggu mba yang menjemput kamu sampai datang untuk menjemput kamu walaupun rumah kamu dekat dari sini,” terang Nala. Gadis kecil itu mengangguk perlahan.


Mereka berjalan menuju mobil dan kemudian masuk ke dalam mobil. Akira yang mengemudikan sendiri mobil itu dan sebelahnya duduk Nala.


“Ma, apa paman kita itu orangnya baik?” tanya Ara


“Tentu saja orangnya sangat baik dan menyenangkan.” Akira melihat ke arah Nala.


“Rhein memang baikkan, Akira?”


“Iya, dia sangat baik.” Akira menjalankan mobilnya.


“Sayang, kenapa tadi kamu waktu di tanya oleh Sita kamu hanya menjawab seperti itu?” tanya Ara pada putranya.


“Memangnya aku harus menjawab apa, Ma?”

__ADS_1


“Putra kamu ini kenapa seperti kamu saja?” Nala melihat ke arah Akira.


“Aro memang begitu sama Sita, padahal Sita baik, kadang suka memberi bekal makanannya pada Aro, tapi Aro hanya bersikap tidak peduli,” jelas Ara sambil mengkepang rambut boneka barbinya.


“Jangan bersikap seperti itu, Aro. Bagaimanapun Sita mungkin ingin juga bisa berteman sama kamu, jadi dia bersikap baik sama kamu.”


“Aku bersikap baik sama dia, hanya saja dia terlihat seperti menyukaiku, dan aku tidak senang melihatnya.”


Nala dan Akira seketika terkekeh pelan mendengar apa yang di katakan oleh putra kecilnya itu. “Memangnya kamu tau dari mana dia menyuukai kamu?” Nala bertanya menoleh ke arah putranya yang duduk di belakang dengan permainan rubik di tangannya.


“Aku kadang melihat dia memperhatikan aku yang sedang mengerjakan tugas, dan saat beristirahat dia selalu memberiku bekal yang dia bawa.”


“Sita itu baik, Aro. Aku juga senang berteman dengan dia.”


Aro tidak menjawab dia malah sibuk dengan rubiknya, dia ingin segera menyelesaikan rubiknya yang tinggal sedikit saja.


Sesampainya di rumah mereka berdua di sambut hangat oleh paman Rheinnya. Paman yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.


“Halo, Twins. Bagaimana kabar kalian?” sapa Rhein.


“Aku sudah tau, ini Nara dan ini Naro, Kan?


Kalian tampan dan sangat cantik sekali,” puji Rhein. “Ini ada hadiah buat kalian berdua, tapi paman minta apa kalian mau mmeberi paman sebuah pelukan hangat?”


Ara dan Aro saling melihat. “Kenapa wajah Paman tidak pernah kami lihat?” celetuk si kembar.


“Maaf, paman tidak tinggal di sini saat mama kalian mengandung kalian. Paman ada pekerjaan di luar negeri, jadi kalian tidak pernah bertemu atau bahkan berkenala dengan kalian, tapi apa sekarang kita tidak bisa berkenalan?”


Ara dan Aro kemudian menghampiri Rhein yang sudah duduk berjongkok dengan tangan dibuka lebar. Dan mereka memeluk Rhein dengan hangat, Rhein tampak sangat senang merasakan pelukan kedua keponakannya.


Nala menyuruh mereka berganti baju dulu lalu Rhein mengajak mereka bertiga duduk di ruang tengah di atas karpet dan membuka semua hadiah yang di bawakan oleh paman mereka.


"Bagaimana dengan sekolah kalian? Apa kalian bisa mengikuti pelajar dengan baik?”


“Tentu saja kami bisa, pelajaran yang diberikan oleh guru kita sangat muda, hanya mengenal huruf dan angka. Aku dan Ara sudah bisa membaca.”

__ADS_1


“Pasti mama kalian yang mengajari kalian, Ya?”


“Iya, mama sangat sabar mengajari kita,” jelas Ara.


Akira menemani mereka bermain dengan Rhein. Nala dan bibi Anjani menyiapkan makan siang untuk mereka semua. “Ini roti sandwich kamu, Rhein.” Nala membawakan roti sandwich milik Rhein tadi.


“Aku mau, Ma.”


“Kamu juga suka roti sandwich?” tanya Rhein pada Aro.


“Tentu saja kau sangat suka Paman, apa aku boleh minta satu?” tanya Aro. Rhein kemudian memberikan rotinya pada Aro dan mereka berdua makan bersama.


“Kamu mirip sekali dengan paman kalau begitu.” Rhein tersenyum jahil pada Akira. Akira membalasnya dengan muka datarnya.


Makan siang telah tersedia mereka bersama makan di atas meja makan dengan sangat hangat.


“Paman Rhein, apa Paman akan menginap di sini atau tidur di rumah oma opah?” tanya Aro yang kelihatannya sangat menyukai kehadiran Rhein.


“Paman belum tau, Sayang.”


“Kenapa tidak menginap di sini saja? Jadi nanti malam kita bisa berlomba bermain rubik.”


“Ide yang bagus.” Rhein mengangguk.


“Ide bagus apanya? Kamu sebaiknya tidur di rumah utama saja. Di sini aku tidak menyediakan kamar tamu,” sela Akira.


“Kenapa Paman tidak boleh tidur di sini, Yah? Paman bisa tidur dengan Aro di kamar Aro, lagian aku juga sangat menyukai kehadiran Paman Rhein di rumah ini,” timpal si kecil Ara.


Rhein seolah mendapat kemenangan karena dua anak Akira malah mendukungnya, mereka tidak tau saja wajah ayahnya sudah di tekuk kesal. “Tenang saja, paman akan menginap di sini.” Rhein mengedipkan salah satu matanya ke arah mereka.


Malam itu setelah bermain dengan kedua ponakannya Rhein mengajak Aro tidur karena hari sudah . malam dan Ara sudah lelap tertidur di sofa. “Aku akan membawa Ara ke kamarnya dan Rhein ajak Aro tidur, walaupun mereka besok libur sekolah, aku tidak mau mereka tidur larut malam.”


Akira menggendong Ara dan membawanya ke dalam kamar Ara, sedangkan Aro digendong oleh Rhein setelah mendapat ciuman selamat malam dari ayah dan mamanya. Kemudian Rhein tidur seranjang dengan Aro seolah dia sedang menemani putranya sendiri. Wakakka!


Tekanan batin ini Rhein. Dia pasti berandai-andai, andai saja dia menikah dengan Nala dan mereka memiliki anak-anak ini.

__ADS_1


__ADS_2