
Uni akan menjawab pertanyaan Aro. Namun, tiba-tiba dia melihat ada Pak Jono berjalan ke arah mereka. Uni belum menjawab langsung pergi masuk ke dalam dapur. “Tidak sopan, di tanya malah pergi,” gerutu Aro kesal.
“Maaf, apa kamu ada masalah dengan pegawai saya tadi? Saya lihat kalian tadi berbicara, kalau ada masalah dengannya katakan saja, dia
memang agak ceroboh dan selalu tidak becus bekerja.”
Aro melihat pak Jono dengan serius. “Dia tidak ada masalah denganku, tadi aku hanya bertanya sesuatu saja.” Aro berjalan pergi dari sana. Dia berpikir jika bosnya gadis yang dia tolong semalam ini kelihatannya cerewet dan bukan orang yang menyenangkan.
Ara sudah sampai di dalam rumahnya, dia datang tepat waktu sesuai apa yang dia katakan. “Mama, Aro mana? Apa dia belum pulang?” tanya Ara yang tidak melihat ada saudara kembarnya di rumah.
“Tadi dia bilang pada mama kalau dia mau ke rumah temannya untuk belajar bersama menyelesaikan tugas kuliahnya. Dan dia izin pulang malam. Kamu segera berganti baju dan mandi kemudian kita tunggu ayah untuk pulang
makan malam bersama.”
“Iya.” Ara melangkah menuju kamarnya, tapi kemudian dia kembali berbalik melihat ke arah mamanya. “Ma, apa Mama ingat dengan anak
laki-laki bernama Dean?”
Nala melihat dengan tatapan seperti memikirkan sesuatu. “Dean? Kenapa nama itu seperti tidak asing di telinga mama, Ya?”
“Tadi waktu aku makan bersama di mall, aku bertemu dengan teman kampusku bernama Dean tadi secara tidak sengaja.”
“Kamu di sana bertemu teman cowok kamu?”
“Mama jangan curiga dulu, tadi itu aku sedang makan bersama ketiga temanku dan kita di traktir sama Tania. Saat aku membeli minuman,
tiba-tiba ada anak kecil yang menabrakku dan minuman aku hampir jatuh kalau tidak di tolong oleh Dean itu, lalu dia membantu membawakan minuman, dan ternyata di mejaku ada dua orang anak laki-laki lagi, saat aku tanya, ternyata mereka teman kita satu kampus, hanya saja aku tidak pernah tau.”
“Sayang, mama baru ingat, bukannya Dean yang dulu pernah mempunya masalah sama Aro, yang waktu itu bertengkar dengan Aro saat Aro membela sahabat kecil kamu Sita. Kamu ingat tidak?”
Ara kemudian teringat kejadian waktu dia kecil dulu. “Oh iya! Aku baru ingat, Ma.” Wajah Ara tampak berbinar. “Tapi apa dia Dean yang
sama dengan waktu kecil itu ya? Bisa jadi itu Dean yang lain.”
__ADS_1
“Iya, juga, lagian nama Dean itu kan banyak. Kalau kamu mau ya besok kamu tanyakan saja pada Dean itu. Siapa tau dia teman kamu waktu kecil dulu.”
“Hah? Bertanya sama dia?” Ara langsung terkejut dan tersenyum aneh pada mamanya.
“Iya, memangnya kenapa? Kamu kan Cuma bertanya.”
“Em ... aku pikir-pikir saja dulu kalau begitu.”
“Oh ya, kalau teman kamu Sita yang dulu itu di mana ya dia sekarang? Dia dulu sangat menyukai saudara kembar kamu, tapi Aro masih saja terlihat cuek sama dia.”
“Iya, di mana Sita sekarang? Apa dia masih tetap sama seperti dulu? Masih teringat dengan Aro?” Ara terkekeh lucu.
“Sudah! Kamu ke kamar kamu dulu dan segera bersih-bersih. Mama mau menyiapkan makan malam untuk kalian.”
Ara berjalan menuju kamarnya sambil memikirkan tentang Dean. Apa dia coba bertanya pada Dean saja besok? Siapa tau dia memang teman masa kecilnya dulu, tapi kalaupun iya juga buat apa? Ara ingat dulu waktu kecil Dean juga sering berbuat baik kepadanya. Walapun kadang sikapnya juga aneh.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, hari ini Uni bekerja tanpa ada masalah. Via menawari Uni untuk ikut pulang bersama naik motor bebeknya. “Ayo aku antar kamu pulang, Uni.”
“Tidak perlu, Via. Aku naik angkutan umum saja, pasti masih ada angkutan umum yang lewat.”
“Via, rumah kamu dan rumahku jaraknya agak jauh, kalau kamu mengantar aku bisa-bisa kamu pulang malam ke rumah kamu, dan aku tidak mau hal itu. Kamu pulang saja, aku bisa pulang sendiri. Lagian kamu bilang kamu besok
ada kuliah pagi-pagi sekali. Cepat pulang sana! Biar kamu bisa cepat beristirahat, kamu tadi juga banyak sekali pekerjaan, ini juga mau hujan.” Uni melihat ke atas langit dan memang tampak seperti akan turun hujan.”
“Iya, sepertinya mau turun hujan.”
“Ya sudah kalau begitu cepat pulang, jangan sampai kamu kehujanan, nanti kamu bisa sakit, Vi.”
“Kamu benaran tidak apa-apa?” Via masih cemas meninggalkan Uni sendirian di sana.”
“Aku tidak apa-apa, Via. Aku mau ke sana dulu untuk menunggu angkutan umum, kamu segera pulang ya. Bye, Via. Kamu hati-hati.” Via akhirnya pergi dari sana dengan mengendarai motornya dan Uni berjalan di trotoar menuju
tempat di mana dia biasanya menunggu angkutan umum lewat.
__ADS_1
Saat Uni sedang menunggu di sana, tidak lama ada sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Uni agak bingung dan sedikit takut. Siapa tau
itu orang jahat karena melihat dia sendirian di sana. Saat pemilik mobil itu turun dari mobilnya, Uni tampak sangat terkejut melihatnya.
“Aro?”
Aro berjalan mendekati Uni di sana. “Kamu sudah pulang? Aku ke sini karen mau mengembalikan barang milik kamu, apa ini milik kamu?” Aro menunjukkan sebuah gelang tipis berbahan titanium pada Uni.
Uni melihat ke arah tangannya yang memang tidak menggunakan gelang. “Ini memang gelang milikku, Aro, tapi bagaimana bisa gelang milikku ada sama kamu?” Wajah gadis itu tampak bingung.
“Tunggu. Kamu tau namaku?” Aro melihat penasaran pada Uni.
“Em ...!” Seketika wajah Uni tampak bingung menjawab pertanyaan Aro. “Itu, sebenarnya--? Aku tau dari teman kerja aku yang bernama
Via. Apa kamu mengenalnya?”
“Via? Via siapa?”
Ya ampun ini cowok keterlaluan sekali! Dia tidak mengenal Via, padahal Via itu suka sekali sama dia, bahkan sering mencari alasana agar
mereka bisa mengobrol.
“Via teman anggota di perpustakaan kamu. Dia kan juga bekerja di restoran cepat saji itu sama aku. Tadi dia melihat kamu waktu makan
di sana, dan saat dia ingin menyapa kamu dia masih sibuk dengan pekerjaanya.”
“Via? Maaf, aku tidak ingat. Mungkin kalau aku bertemu dengan dia aku akan mengingatnya.” Fix ini Aro ter ... la ... lu.
“Terima kasih kamu mau mengembalikan gelangku. Eh, tapi kenapa ini bisa sama kamu? Tadi kamu belum menjawab pertanyaanku?”
“Mungkin terlepas dari tangan kamu saat tadi kita bertabrakan di restoran itu dan menyangkut di bajuku. Aku tadi baru sadar jika
ada gelang ini menyangkut di bajuku. Ya sudah kalau itu memang punya kamu, aku mau pulang dulu.” Aro berjalan mengitari mobilnya dan dia masuk ke dalam mobilnya. Belum Aro pergi dia mendengar suara teriakan dari Uni yang tiba-tiba kaget ada suara gemuruh yang terdengar keras.
__ADS_1
“Ya ampun! Kaget.” Uni mengelus dadanya. “Kenapa angkutannya belum datang dari tadi, Sih?” gerutunya kesal.