
"Aku bertanya sama cowok ini, bukan sama kamu, Uni," ucapnya tegas.
"Iya, aku mantan kekasih Uni dan kita berpacaran sekitar tiga bulan. Memangnya kenapa?" Rendy seolah menantang Aro.
Salah satu alis Aro naik ke atas. "Uni sekarang adalah kekasihku, dan kamu. Aku harap kamu jauh-jauh dari kekasihku."
"Aku tidak yakin kalau kamu pacarnya Uni?"
"Kenapa tidak yakin? Apa kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan?"
"Tentu saja. Setahuku, Uni tidak menyukai tipe cowok seperti kamu yang kelihatan sok dan angkuh begitu."
Seketika terlukis senyum pada bibir Aro. "Kamu pacaran dengan Uni hanya tiga bulan, dan aku yakin pacaran kalian sangat membosankan. Sedangkan aku yang baru pacaran dengan Uni, tapi pacaran kita menyenangkan. Kita bahkan sudah berciuman beberapa kali." Aro malah songong dengan bersedekap.
Kedua mata Uni membulat lebar mendengar apa yang barusan Aro Katakan pada Rendy.
"Apa? Kalian sudah pernah berciuman?"
Ini cowok benar-benar kaget karena dia selama berpacaran dengan Uni tidak pernah melakukan hal-hal yang romantis. Apalagi sampai berciuman.
"Iya, dan asal kamu tau, Uni mencintaiku dan kita memang sepasang kekasih. Jadi! Mulai sekarang kamu jangan mengganggu kekasihku lagi. Camkan itu!" serunya marah
Aro menggandeng tangan Uni dan mengajaknya pergi dari sana. Rendy hanya bisa melongo melihatnya.
Aro membawa Uni masuk ke dalam mobil dan segera mengajaknya pergi dari sana. Di perjalanan Uni tidak bicara sama sekali. Begitupun Aro juga fokus mengemudi.
Tidak lama Aro menghentikan mobilnya. Uni langsung melihat sekelilingnya, ternyata ini Aro berhenti di jalanan yang rada sepi.
"Aro, kenapa berhenti di sini? Ini di mana?" Uni bingung karena dia tidak pernah melewati jalan ini. Dia tadi terlalu memikirkan sesuatu yang mengganggunya.
"Apa benar dia mantan kamu?"
"Iya, dia mantan kekasih aku, tapi itu dulu."
"Kamu mencintainya?"
"Em ...!" Uni masih berpikir.
"Bukan em. Jawab? Kamu mencintainya apa tidak?" ucapnya tegas.
__ADS_1
"Tidak," jawab Uni lirih.
"Tidak dengar. Jawab yang agak keras?"
Uni melirik dan menunjukkan wajah kesalnya. "Aku tidak mencintainya, Aro."
"Kenapa dulu mau berpacaran sama dia kalau kamu tidak mencintainya?"
"Sama kamu juga, aku tidak ada perasaan apa-apa sama kamu, tapi kita pacaran karena kamu memaksa." Uni mengerucutkan bibirnya lucu.
"Kamu mencintaiku, Uni, hanya saja kamu tidak mau mengakuinya." Aro mendekatkan wajahnya pada Uni. Uni sontak mundur ke belakang dengan menutup mulutnya dengan tangannya.
"Kamu tau dari mana?" suara Uni terdengar tidak jelas.
Aro segera menyingkar tangan Uni dengan agak kasar. "Jangan menutup mulut kamu kalau sedang berbicara dengan seseorang."
"Aku takut kamu menciumiku lagi."
"Salah memangnya?"
"Salah. A-aku--." Uni bingung mau bicara apa. "Pokoknya aku tidak mau kamu cium!" Uni segera menutup kembali mulutnya.
"Jangan menutup mulut kamu lagi." Aro sekali lagi menyingkirkan tangan Uni.
"Bilang saja kalau kamu takut terhanyut dengan ciumanku. Kamu mencintaiku, buktinya kamu menyukai ciuman yang aku berikan. Wanita memang selalu sok jual mahal padahal di hatinya di menyukainya."
"Siapa yang jual mahal? Pria itu juga sukanya memaksa. Menyebalkan," gerutunya.
"Aku memang suka memaksa, apalagi sama kamu. Pacar yang lembut, tapi keras kepala. Besok, kalau cowok itu masih berani mendekati kamu, kamu harus menjauhinya, atau kalau perlu katakan dengan tegas kalau kamu tidak suka dia dekat-dekat sama kamu," ucap Aro tegas dan menekankan.
"Kamu cemburu?" Uni malah melihat lucu pada Aro yang memang dia dari tadi menahan rasa cemburunya.
"Salah kalau aku cemburu? Kamu itu--."
"Iya, pacar kamu, kenapa selalu mengingatkan hal itu? Apa kamu tidak pernah pacaran sebelumnya?"
"Baru kamu kekasihku. Kenapa tanya terus masalah itu?"
"Kamu sih sikapnya dingin begitu. Makannya susah punya pacar."
__ADS_1
"Aku tidak peduli, aku sudah punya kamu. Uni, lusa aku akan mengajak kamu ke acara bazar di kampusku. Nanti aku akan meminta izin pada mamaku."
"Acara bazar?" Uni ingat jika dia juga di ajak oleh Via ke acara itu. "Aku tidak bisa datang karena Via juga mengajakku ke kampusnya."
"Via sahabat kamu itu?"
"Iya, dia juga mengajakku ke acara bazzar waktu kapan hari menghubungiku."
"Ya sudah kamu bilang saja kalau kamu akan datang denganku ke sana, jadi batalkan saja kamu datang dengannya."
"Aro, aku tidak bisa mengatakan pada Via jika kita kenal bahkan berpacaran. Aro, aku mohon kamu juga jangan katakan apa-apa sama Via. Aku tidak mau dia kecewa dan marah sama aku."
"Marah sama kamu kenapa?"
"Aku kan bilang di menyukai kamu, dan aku tau hal itu, tapi malah kenapa aku yang jadian sama kamu? Aku benar-benar tidak mau menyakiti dia bahkan di cap sebagai teman yang berkhianat."
"Jadi kita pacaran sembunyi-sembunyi dari sahabat kamu?"
"Sebenarnya tidak perlu sembunyi-sembunyi kalau kamu tidak memaksa aku menjadi pacar kamu."
"Ehm ... jangan harap, Uni. Kalau kamu mau kita backstreet aku akan menyetujuinya."
"Huft!" Uni menghela napasnya pelan.
"Baiklah, mulai sekarang kita akan backstreet dengan hubungan kita ini, tapi jangan membuatku cemburu dengan dekat pria manapun."
Uni hanya terdiam. Dia tidak akan bisa membuat Aro memutuskan hubungan mereka. Jujur saja Uni ini masih memikirkan bagaimana jika Via tau akan masalah ini? Dia tidak akan bisa di maafkan oleh Via."
Aro tiba-tiba menarik tubuh Uni dan mendaratkan kecupannya pada bibir Uni dengan sangat dalam dan lembut. Uni yang tidak bisa menghindar hanya bisa menikmati ciuman Aro.
Uni memang sepertinya sudah terbiasa bahkan selalu merindukan ciuman dari Aro. Aro mulai menurunkan tangannya pada kancing kemeja yang di pakai oleh Uni. Uni tidak tau akan hal itu karena terlalu menikmati ciuman Aro.
"Apa kamu sudah lebih tenang?" Aro berkata saat melepaskan ciumannya pada Uni. Uni tidak memberi jawaban lisa maupun perbuatan.
Tapi dalam hatinya dia merasa tenang, dan seolah tidak takut karena Aro pasti akan selalu ada untuknya.Entah kenapa dia merasa seperti itu.
Aro mendekatkan kembali wajahnya, tapi sekarang Aro menuju pada bagian dada Uni. "Aro," ucap lirih Uni terkejut, tapi menikmati kecupan Aro pada dada bagian atasnya. "Aro, kamu sedang apa?"
Tangan Uni ini seolah ingin memberontak, tapi sepertinya dia tidak memiliki kekuatan.
__ADS_1
Aro mengangkat wajahnya dan memperlihatkan tanda merah yang barusan dia ciptakan. "Itu tanda bahwa kamu adalah milikku, Uni."
Uni melihat pada tanda di dadanya. "Aro! Kenapa kamu memberiku tanda seperti ini? Kalau sampai ada yang tau, aku harus mengatakan apa?" Uni tampak menggosok-gosok menghilangkan tanda merah pada dadanya