
Sifa sangat berterima kasih pada gadis di depannya yang sudah mengizinkan dia masuk lebih dulu.
"Tidak apa-apa, tadi aku mendengar kalau kekasih kamu sudah menunggu di luar dan ingin segera mengantar kamu pulang."
"Oh itu, dia--. Iya, dia kekasihku, dia tidak mau mengantar aku pulang malam-malam soalnya."
"Ya sudah, kamu masuk saja dulu."
Sifa masuk ke dalam toilet, tidak lama dia keluar dan melihat toilet sudah sepi, bahkan gadis yang menyuruhnya masuk duluan mengambil tempatnya juga tidak ada di sana.
"Mungkin dia sudah selesai tadi, sebaiknya aku segera keluar, Aro pasti menungguku." Sifa berjalan menuju pintu utama toilet dan saat dia melangkah dia tidak sengaja terpeleset dan jatuh ke lantai.
"Aduh! Sakit!" erangnya kesakitan. "Ini kenapa lantainya bisa licin begini?" umpatnya kesal.
Sifa mencoba berdiri sambil berpegangan pada tembok kamar mandi, dan dia berjalan tertatih-tatih menuju di meja Aro yang sedang menunggunya.
"Sifa! Kamu kenapa?" Aro dengan cepat menghampiri Sifa yang berjalan dengan memegangi salah satu kakinya.
"Aku tadi terjatuh di kamar mandi karena lantainya licin."
"Apa karena aku menelepon kamu tadi? Makannya kamu buru-buru?"
"Bukan, bukan karena itu, aku sudah dari kamar mandi karena ada gadis baik yang mau memberikan tempatnya agar aku duluan masuk toilet, lalu aku berjalan keluar pintu utama toilet aku terpeleset."
"Kalau begitu, aku akan antar kamu ke rumah sakit untuk memeriksa kaki kamu."
"Ck! Tidak perlu, nanti dipijat sebentar sama ayahku juga akan sembuh. Kamu pasti tidak tau jika ayahku itu ahli dalam mengatasi tulang seperti ini. Bahkan banyak tetanggaku sering minta tolong ayahku untuk membetulkan tulangnya jika terkilir."
"Hebat sekali ayah kamu."
"Ini mah kecil, dipijat sebentar pasti sembuh. Aku pernah meminta ayahku membuka praktek pijat urut tulang di rumah, cuma ayahku tidak mau, dia kan pegawai bank, katanya gengsi. Hedew!"
Aro malah tertawa melihat ekspresi wajah Sifa. "Ya sudah, aku akan mengantar kamu pulang kalua begitu." Aro merangkulkan tangan Sifa pada pundaknya dan membantunya berjalan.
__ADS_1
Dari kejauhan ada yang kesal dan marah melihat hal itu.
Aro mengantar Sifa sampai ke rumahnya dan dia bertemu serta menjelaskan pada orang tua Sifa kenapa kaki Sifa sampai begitu. Aro kan memang pria yang bertanggung jawab.
"Tidak apa-apa, kami sudah senang kamu dengan baik sudah mengantar Sofa ke rumah. Nanti biar saya yang mengobati kaki Sifa."
"Tuch, kan! Apa aku bilang, ayahku yang akan mengobati kakiku, kamu tidak perlu membawaku ke rumah sakit, aku kan takut di suntik."
"Makannya, lain kali kamu hati-hati kalau jalan, Sifa."
"Iya, Yah."
"Nak Aro, apa tidak mau mampir sebentar ke rumah? Ibu kenal baik dengan Ara saudara kamu, baru sekarang Ibu melihat dan mengenal kamu, kalian berdua memang sama-sama mirip ya? Yang satu cantik, yang satu tampan."
"Terima kasih, Tante. Maaf, saya harus pulang karena ini juga sudah malam dan saya tidak enak jika di rumah seseorang malam-malam begini."
"Ya sudah, terima kasih kalau begitu, salam untuk kedua orang tua kamu."
Aro pergi dari sana dan dia segera menuju pulang ke rumah. Sampai di rumah, Aro melihat keadaan rumahnya sudah sepi karena memang sudah malam dan mungkin orang-orang sudah pada tidur.
Aro menuju ke kamarnya, dan saat akan membuka kamarnya dia melihat Uni baru saja keluar dari kamar Ara. Kedua mata mereka saling bertemu. Jarak antara kamar Ara dan Aro kan memang saling bersebelahan.
"Tuan Muda Aro sudah pulang?"
"Apa Ara sudah tidur?" Aro malah tidak menjawab pertanyaan Uni dia malah bertanya tentang Ara.
"Sudah baru saja setelah dari tadi mengajakku mengobrol."
"Ya sudah." Aro masuk ke dalam kamarnya dan Uni hanya bisa diam, dia kemudian pergi ke wastafel untuk mencuci piring.
Aro bersandar pada daun pintunya. Dia sebenarnya gemas sekali dengan sikap Uni yang seperti sok biasa saja dengannya. Apa Uni tidak marah atau cemburu melihat Aro habis kencan dengan Sifa?
Aro memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan ingin menemui, Uni. Dia ingin mengatakan jika dia sangat mencintai Uni dan muak dengan sikap kepura-puraan Uni yang seolah-olah tidak mencintainya.
__ADS_1
Namun, sekali lagi Aro mencoba menahan keinginan itu. Dia akan mencoba menjalankan rencananya yang tadi dia bicarakan dengan Sifa. Aro juga ingin agar Uni mengakui sendiri bahwa dia mencintai Aro.
Aro memilih untuk tidur saja. Sedangkan Uni masih di dapur. Entah kenapa saat mencuci piring, air matanya tidak berhenti menetes perlahan-lahan. "Kenapa sih aku ini? Kenapa juga hatiku merasa sakit begini melihat Aro baru saja pulang kencan dengan temannya Ara?" Uni berdialog sendiri sambil sesekali menghapus air matanya.
"Apa benar kalau aku sudah benar-benar jatuh cinta sama Aro? Tapi kenapa aku harus mencintai Aro yang tidak dapat aku jangkau dengan tanganku dan dia juga sangat dicintai oleh sahabat baikku?" Uni sekarang menangis sesenggukan dengan menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar tangisannya tidak terdengar orang rumah.
Di dalam kamarnya, Aro juga sama sekali tidak dapat memejamkan kedua matanya. Dia masih terbayang-bayang wajah Uni. Aro ingin sekali memeluk Uni dan mengatakan jangan seolah-olah Uni memberi dinding di antara mereka karena Aro tidak akan sanggup berada di balik dinding itu jauh dari Uni.
Aro beranjak dari tidurnya dan berjalan keluar, tapi dia tidak menemukan Uni di dapur dan di manapun. Sepertinya Uni sudah masuk ke dalam kamar nenek Anjani.
***
Keesokan harinya
Keluarga Nala sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Aro pun ada di sana, dan Uni tidak duduk di sebelah Aro, dia masih sibuk dengan menghidangkan makanan untuk mereka.
"Uni, ayo duduk dulu, kamu sarapan dulu sama kita," ucap Nala.
"Saya makan di dapur saja nanti."
"Loh! Kenapa di dapur, bukannya kamu biasanya sarapan di sini dan duduk di sebelah Aro?" tanya Nala heran.
"Sa-saya sedang membuat gula untuk nanti saya bawa ke kampus karena di sana saya sama Via mau ikut meramaikan bazar dengan berjualan jus, Ibu Nala."
"Oh ya? Wow! Kamu mau belajar jadi pengusaha kuliner, ya?"
"Sebenarnya saya suka dengan membuat kue atau minuman, tapi kita mencari yang lebih mudah saja, yaitu, berjualan jus."
"Sayang, bagaimana jika nanti kita ke kampusnya Aro?"
"Boleh saja. Setelah pulang dari kantor kita akan bersama-sama pergi ke sana."
"Aku juga mau ikut, Yah. Aku mau membeli jus buatan Uni. Pasti enak. Eh iya, jangan lupa sisakan jus leci untukku ya, Uni." Uni mengangguk.
__ADS_1