
"Kenapa bisa jadi tidak benar?" sambung nya.
Zahra mengangkat kepala nya dan menatap Gentala lekat hingga pandangan mereka beradu.
"Zahra ingin pasangan yang dewasa kak. Kita masih terlalu muda untuk memiliki hubungan serius. Kakak tidak salah. Ini murni keinginan Zahra yang ingin fokus dulu menjadi orang yang berguna. Zahra ingin fokus dengan karir dulu. Zahra ingin seperti kak Husna yang karir nya cemerlang. Zahra tidak ingin selama nya bergantung pada abang." Ucap Zahra.
__ADS_1
"Jadi apa menurutmu aku tidak pantas jadi pasangan mu? Bukan kah Husna juga masih muda tapi sudah menikah? Bukan kah kau dan Husna memiliki jarak usia yang tidak terpaut jauh? Lalu kenapa kau terus mengatakan kita masih sangat muda?" tanya Gentala.
"Kakak benar. Kak Husna masih sangat muda. Tapi dia memiliki abang yang memahami semua sikap nya dan abang yang dewasa serta memiliki ekonomi yang cukup untuk membangun sebuah rumah tangga. Sedangkan kita apa? Aku masih kuliah dan kakak juga baru akan lulus. Mungkin aku terdengar matre saat ini tapi sebenar nya aku hanya bersifat realistis. Semua butuh uang kak. Aku harap kakak memahami apa yang ku maksud. Aku tahu keluarga kakak bukan orang sembarangan tapi itu hanya milik keluarga bukan milik kakak. Kakak tidak punya apa-apa. Harta keluarga tidak bisa di jadikan sandaran. Jadi mari kita bertemu dalam versi terbaik kita. Jika ada takdir yang mungkin menyatukan kita maka kita pasti akan bersama. Mari kita memperbaiki kualitas dan kuantitas diri kita. Terakhir maafkan aku dengan semua perkataanku yang mungkin menyakiti hatimu. Sungguh aku tidak bermaksud menyakitimu hanya saja kakak sendiri lah yang menuntut penjelasan dariku padahal sebelum nya kita tidak memiliki hubungan apapun." Ucap Zahra lalu menunduk saat melihat ekspresi Gentala yang terdiam.
Gentala memang terdiam dan terpaku atas pengakuan gadis di hadapan nya itu. Dia tidak menyangka bahwa gadis yang mereka sebut dengan gadis kecil itu memiliki pemikiran sematang itu terkait masa depan nya. Jujur saja dia terpukul dengan ucapan Zahra tapi bukan membuat nya jatuh justru membuat nya memiliki semangat untuk berjuang lagi. Jujur saja selama ini dia seperti hidup tanpa arah dan tujuan. Tapi kini dia memiliki tujuan dan tujuan itu ada di hadapan nya saat ini. Selain itu juga dia ingin menjadi terbaik dari versi diri nya.
__ADS_1
Zahra yang mendengar itu pun tersenyum, "Aku senang mendengar apa yang kakak katakan. Aku yakin kakak pasti bisa menjadi yang terbaik." Balas Zahra.
"Tapi bisa kah kakak meminta satu hal darimu dek. Permintaan ini tidak sulit. Sangat mudah kok. Bisa kah kau menemani kakak makan siang hari ini? Setidak nya ini bisa kakak anggap sebagai kencan perdana kita sebelum nanti kita fokus dengan tujuan kita masing-masing." ucap Gentala.
Zahra pun tersenyum lalu mengangguk, "Baiklah." balas nya.
__ADS_1
Gentala pun tersenyum dan tidak lama pelayan pun segera datang dan menyajikan pesanan kedua nya. Setelah itu Gentala dan Zahra pun menikmati makan siang mereka bersama sebelum nanti mereka akan fokus dengan apa yang mereka inginkan seperti kesepakatan yang sudah mereka setujui.