
“Zahra!”
Husna memanggil adik ipar nya itu dengan lembut tapi Zahra tahu itu adalah sebuah peringatan untuk meminta nya diam. Dia tahu bahwa kakak ipar nya itu tidak suka marah dan sangat lembut tapi dia juga tahu marah nya orang seperti itu ada sangat menakutkan.
“Kak Dita … menu apa yang akan kita makan untuk hari ini?” tanya Zahra mengalihkan pembicaraan.
Andita pun segera menjawab pertanyaan Zahra dan tidak lama juga pelayan segera mengantarkan pesanan mereka ke meja makan itu.
Husna menatap Zahra lekat hingga mata kedua nya beradu lalu Zahra tersenyum yang di balas oleh Husna juga dengan senyuman.
“Zahra!” panggil Husna lembut.
“Kak … jangan memanggilku dengan nada seperti itu. Aku takut!” ucap Zahra.
“Kenapa takut?” tanya Husna dengan tersenyum.
“Kakak ipar!” Panggil Zahra manja.
Husna pun terkekeh, “Sudah … ayo makan. Gen, makan lah.” Ucap Husna.
Gentala pun mengangguk, “Mas … aku bisa sendiri!” ucap Husna saat suami nya itu membantu nya.
Azzam hanya tersenyum saja dan segera menukar piring nya dan juga piring istri nya itu, “Terima kasih kalian sudah datang.” ucap Azzam menatap kedua asisten nya.
“Sudah pasti kami akan datang.” ujar Jalal dan Abrar bersamaan hingga membuat kedua nya saling memandang satu sama lain.
“Tapi seperti nya kalian salah kostum.” Ucap Azzam kemudian.
Abrar pun memandang ke arah pakaian nya, “Jangan mengatakan hal seperti itu tuan muda. Kami pikir ini sesi makan formal.” Ucap Abrar.
“Sudah lah biarkan saja suamiku. Jalal masih bisa di mengerti tapi Abrar--” ucap Husna tertawa.
“Nona … please.” Ucap Abrar.
Husna pun terkekeh, “Sudah ayo kita makan saja.”ucap Husna kemudian masih dengan tawa nya karena menurut nya kedua asisten suami nya itu sama saja. Sama-sama aneh.
“Mas!” panggil Husna pelan saat menyadari sesuatu.
Azzam pun seketika mengangkat kening nya tanda dia juga ikut bingung seketika.
“Aku tidak sempat menghubungi kak Gauri untuk ikut bergabung makan siang bersama kita.” Ucap Husna.
Azzam yang mendengar itu pun seketika ikut terdiam, “Coba hubungi dulu siapa tahu saja dia bisa ke sini maka minta lah untuk ke sini.” Ucap Azzam.
Husna pun mengangguk lalu segera mengambil ponsel nya dan mengirimkan pesan kepada Gauri. Tidak mungkin bagi nya menelpon karena dia juga tidak ingin mengganggu kenyamanan yang lain.
Gauri yang berada di perusahaan pun tersenyum mendapatkan pesan dari nona muda nya itu, “Makan siang bersama? Seperti nya itu seru. Aku akan ikut ke sana.” Ucap Gauri lalu segera menyambar kunci mobil dan segeraturun ke lantai bawah untuk menuju tempat yang di maksud.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian dia sudah tiba di restoran yang di maksud. Gauri segera masuk ke dalam ruangan dan baru menyadari bahwa dia adalah tamu terakhir di sana.
“Silahkan duduk kak!” ucap Husna menyambut asisten nya itu.
Gauri terdiam memandangi semua orang di sana, “Maaf!” ucap Husna lirih.
Gauri yang mendengar itu pun tersenyum, “Tidak masalah nona. Saya paham dan saya mengerti. Tidak masalah apapun. Ayo saya juga ingin ikut makan siang bersama kalian.” ucap Gauri tidak tersinggung sama sekali. Karena dia tahu Husna pasti tidak bermaksud untuk mengundang nya terakhir seperti itu.
Makan siang itu pun akhirnya berjalan lancar walaupun dari sekian banyak drama yang sudah terjadi.
***
“Nona! Kapan anda akan ujian?” tanya Gauri saat mereka kini sudah berada di parkiran hendak pulang ke tempat masing-masing.
“Ujian? Nanti aku akan memberitahumu kak. Aku saat ini masih sedang melakukan pendaftaran.” Jawab Husna.
“Baiklah. Jangan lupakan aku lagi nona.” Canda Gauri.
Husna pun tersenyum, “Maaf kak. Sekali lagi maafkan aku yang melupakanmu.” Ucap Husna dengan tatapan bersalah nya.
Gauri pun segera mendekati Husna dan memeluk nona muda nya sekaligus orang yang sudah dia anggap sebagai adik nya, “Aku bercanda. Sungguh tidak masalah bagiku.” Ucap Gauri.
“Tetap saja aku harus meminta maaf.” Ucap Husna.
“Hey … seorang nona tidak boleh meminta maaf kepada bawa--”
“Maka nya untuk itu tidak ada kata maaf dan terima kasih dalam persaudaraan.” Timpal Gauri.
Husna pun tersenyum dan kembali memeluk Gauri, “Aku harap keponakanku segera hadir di sini.” Ucap Gauri mengusap perut rata milik Husna.
“Aamiin! Doakan saja ya kak!” ucap Husna tersenyum.
“Kakak … kau menikah lah. Aku ingin melihatmu menikah.” Sambung Husna.
“Hey … aku belum siap untuk itu. Lagi pula belum menemukan yang cocok. Sudah .. tidak perlu pikirkan hal itu. Aku pasti akan menikah jika sudah saat nya tiba.” Ucap Gauri.
“Secepat nya kak. Segera di agendakan.” Ucap Husna.
“Ck … kenapa kau sudah berubah seperti abi dan umi yang suka meminta orang lain untuk menikah.” Ucap Gauri bercanda.
“Aku ini putri tunggal mereka kak. Jadi sudah pasti aku memiliki sifat mereka. Lagi pula aku juga ingin membuat seseorang merasakan apa yang ku rasakan. Bukan kah seperti itu.” ucap Husna tersenyum.
“Ck … nakal!” ucap Gauri.
Husna pun terkekeh, “Tuan Azzam tolong jaga adikku dengan baik. Dia adikku sekaligus nonaku. Aku memiliki dua kedudukan di hati nya.” ucap Gauri kepada Azzam yang dari tadi hanya jadi penyimak mereka. Sementara yang lain sudah pada pulang.
Zahra dia ikut bersama Abrar. Husna dan Azzam pun hanya bisa mengizinkan saja saat Zahra tadi izin. Mereka tidak mungkin meminta Zahra ikut bersama Gentala di saat gadis itu tidak ingin. Entah apa masalah yang terjadi antara Gentala dan Zahra itu. Mereka pun tak ingin tahu dan tak ingin ikut campur karena mereka yakin bahwa Gentala dan Zahra sudah dewasa, sudah bisa memutuskan mana yang baik dan mana yang buruk.
__ADS_1
“Tentu. Aku pasti akan menjaga nya dengan baik.” balas Azzam.
Tidak lama setelah itu mereka pun segera berpisah. Azzam dan Husna yang kembali ke kediaman utama karena memang mereka tidak memiliki kegiatan lagi setelah itu kecuali mengawasi perusahaan dari jarak jauh. Entah kapan mereka akan terjun langsung. Hal itu masih dalam pembahasan.
***
Tiga hari kemudian, hari ini Husna baru saja mempersiapkan semua dokumen yang akan dia bawa saat akan ujian hasil pada besok hari. Dia akan ujian bersama Andita dan Betty yang juga memiliki jadwal yang sama dengan nya untuk ujian proposal mereka.
“Sayang … apa lelah?” tanya Azzam segera beranjak dari tempat duduk nya dan mendekati sang istri yang duduk di sofa.
Azzam segera memijat punggung istri nya itu, “Sedikit lelah mas. Tapi tidak masalah. Entah kenapa aku merasa akhir-akhir ini mudah lelah.” Ucap Husna.
“Mungkin karena kamu kurang istirahat sayang. Kamu terlalu memforsir dirimu terkait ujian ini.” ucap Azzam.
“Aku tidak ingin melakukan kesalahan mas. Aku ingin memastikan bahwa kesalahan nya bisa di perkecil.” Ucap Husna.
“Tapi jangan sampai hal itu menjadi beban untukmu sayang. Kamu harus menjaga kesehatanmu.” Ucap Azzam lembut.
“Aku tahu mas.” Ucap Husna lalu segera menarik tangan suami nya itu dan meminta suami nya duduk di samping nya.
“Maaf ya mas jika aku terkadang membangkang apa perintahmu. Aku terkadang suka keras kepala.” Ucap Husna lalu menyarkan kepala nya di bahu suami nya itu.
Azzam pun tersenyum mendengar ucapan istri nya itu, “Tidak masalah sama sekali sayang. Aku tidak keberatan untuk itu. Lagi pula itu tidak bsia di sebut membangkang. Kau hanya melakukan apa yang menurutmu benar. Yah walaupun aku harus khawatir karena keputusanmu itu yang harus menguras banyak tenaga.” Ucap Azzam.
“Mas … bisa gak aku tidak bekerja setelah lulus. Aku ingin jadi bebanmu saja. Istrimu. Melayanimu dan juga anak-anak kita nanti.” Ucap Husna menatap suami nya.
“Jika memang itu keinginanmu aku tidak keberatan sama sekali sayang. Aku justru senang kau jadi pengangguran dan jadi bebanku saja.” ucap Azzam.
“Tapi aku masih tetap ingin menulis mas. Itu adalah hobiku dan caraku mengusir kebosanan.” Ucap Husna.
“Apapun yang kau mau mas mendukungmu sayang. Tidak ada yang akan menghalangimu melakukan apa yang ingin kau lakukan. Semua terserah padamu.” Ucap Azzam.
“Tapi seperti nya hal ini butuh pembicaraan serius. Aku satu-satu nya pewaris yang abi dan umi miliki.” Ucap Husna kemudian.
“Kita akan bicarakan dengan baik ini bersama mereka. Kita akan putuskan mana baik nya.” ucap Azzam.
Husna pun mengangguk dan memeluk suami nya itu, “Kau selalu bisa membuatku tenang mas. Kau tidak pernah memarahiku. Kau selalu saja mendukung apa yang ku inginkan. Selalu memberikan apa yang ku mau. Jangan pernah berubah. Tetap lah jadi Azzam yang ku kenal. Azzam dengan iris mata abu-abu nya.” ucap Husna lalu mengecup bola mata suami nya itu.
Azzam pun tersenyum dan mengeratkan pelukan nya kepada istri nya itu, “Mas janji tidak akan pernah berubah Azarineku!” balas Azzam.
Husna yang mendengar itu pun melepas pelukan nya, “Apa mas masih ada jam kuliah?” tanya Husna.
“Masih ada satu. Lima belas menit lagi mas akan ke sana.” Jawab Azzam.
“Aku ikut ya mas. Jadi asistenmu.” Pinta Husna.
“Baiklah. Tapi apakah semua persiapan untuk ujian nya sudah selesai?” tanya Azzam.
__ADS_1
Husna pun mengangguk menjawab nya.