
Ara menunjuk pada sebuah cafe yang terlihat ramai dan tempatnya sangat nyaman. "David, apa kita makan di sana saja? Sepertinya tempatnya enak, apalagi juga ramai."
"Di sana? Apa kamu pernah makan di sana?"
Ara menggeleng. "Belum pernah, Sih, tapi kita coba saja, bagaimana?"
"Okay, kita akan ke sana." Lalu mereka pergi menuju cafe itu.
Saat mereka masuk, mereka di sambut oleh pelayan yang masih muda dan sangat ramah. Pelayan itu menunjukkan meja yang masih kosong dan memberikan buku menunya.
"Kamu mau pesan apa, Ara?"
"Em ...! Apa ya?" Ara tampak bingung melihat menu makanan di sana.
"Aku mau jus mangga dan nasi goreng dengan telur setengah matang. Kalau kamu?"
"Coklat hazelnut!" serunya senang melihat ada nama minuman yang dia sukai.
"Kamu suka sekali dengan minuman itu?"
"Iya, aku sangat suka sekali, dan makannya aku mau beef teriyaki sama nasi saja."
"Coklat hazelnutnya memang minuman baru di sini, dan pembuatnya juga langsung owner kita yang membuat, Kak."
"Oh jadi menu baru di sini?"
"Iya, ada juga cupcake coklat hazelnut dan es creamnya, kalau kakak mau."
"Ya sudah, aku pesan itu semua," jawab David cepat.
"Hah? Untuk apa, David?"
"Untuk kamu, Ara. Kamu kan suka dengan semua itu, jadi aku akan membelikannya semua untuk kamu."
"Tapi tidak perlu semua itu, aku sudah memesan makanan untukku."
"Tidak apa-apa, nanti aku bantu menghabiskan. Aku pesan itu semua ya?"
"Baiklah! Pesanan kalian akan segera datang."
Pelayan itu menoleh dan memanggil seseorang. "Kak Dean, ada yang memesan minuman coklat hazelnut."
"Oh iya!" Seorang pria yang berdiri tidak jauh dari meja Ara, dan dia sedang terlihat mencatat pesanan pelanggan yang duduk di sana agak terkejut melihat Ara di sana.
"Dean?"
"Ara?"
__ADS_1
Dean berjalan menuju meja Ara dan tersenyum padanya. "Kamu kok bisa ada di sini?" Wajah Ara tampak heran.
"Dia ini pemilik cafe ini, Kak," terang pelayan di samping Dean.
"Apa? Kamu pemilik cafe ini?"
"Ah! Tidak. Aku hanya meneruskan usaha nenekku saja, daripada aku menganggur menunggu kelulusan."
"Loh! Bukannya kamu yang waktu itu di pesta tanteku?"
"Iya, aku yang ada di pesta tante kamu."
"Jadi kamu kenal dengan Ara?" David melihat pada Ara.
"Kita satu kampus, tapi beda kelas. Oh ya! Kalian sedang berkencan di sini?"
Ara seketika terdiam mendengar perkataan Dean? David malah tersenyum lebar.
"Aku dan Ara baru saja kenal di pesta malam itu, dan kita berteman baik, tapi kalau nantinya berubah lain ya siapa yang tau."
"David!" Ara mengerutkan kedua alisnya.
"Benarkan apa yang aku katakan, Ara. Siapa tau nanti aku suka sama kamu, lagian kamu gadis yang pantas dicintai, kamu baik dan cantik."
"Memang benar," jawab Dean lirih sambil melihat pada Ara.
"Atau malahan kamu yang nanti suka sama aku, tidak menutup kemungkinan, kan?" David pun terkekeh dengan senangnya.
"Orang itu harus percaya diri dulu, mencintai dirinya sendiri, baru dia akan bisa mencintai orang lain dengan baik."
"Iya-iya."
"Kalau begitu, aku akan segera membuatkan pesanan kalian agar tidak menunggu lama. Aku permisi dulu."
Dean berjalan masuk ke dalam ruangan di cafenya. Ara yang melihatnya tampak terpesona. Dia tidak menyangka jika Dean sudah memiliki banyak usaha bisnis di usianya yang masih muda, dia seorang pekerja keras.
"Ara, teman kampus kamu itu hebat ya, dia kuliah dan membuka bisnis yang sukses seperti ini. Padahal kalau aku melihat dia sangat pendiam."
"Iya, aku juga baru tau dia memiliki banyak bisnis seperti ini."
Tidak lama pesanan mereka datang dan Dean sendiri yang mengantarkan pesanan mereka.
"Wah! Terlihat sepertinya makanan di sini enak semua. Pantas saja cafe kamu sangat ramai seperti ini. Apalagi harganya tadi aku lihat cukup terjangkau."
"Aku memang memberi harga yang tidak terlalu tinggi agar semua kalangan bisa menikmati makan di sini, terutama untuk anak sekolah dan kuliah. Mereka dapat makan makanan yang sehat dan lezat dengan uang jajan mereka."
"Ilmu marketing kamu sungguh pintar. Aku mungkin harus banyak belajar dari kamu, Dean."
__ADS_1
"Kamu lebih hebat David."
Tidak lama dari kejauhan ada seseorang yang memanggil Dean, dan Saat Dean menoleh dia melihat ada neneknya di sana. Wanita paruh baya itu berjalan menghampiri David.
"David, nenek mau bicara sama kamu?"
"Nenek kenapa tidak menghubungiku saja, aku bisa pulang untuk menemui nenek di rumah."
"Nenek yang waktu kecil itu yang ada di rumah dengan David?" Tiba-tiba Ara menyeletuk, dia masih mengingat wajah nenek Dean waktu dia masih kecil.
"Iya, kamu siapa?"
"Saya Ara, anak dari Nala Adriano Daner. Nenek masih ingat dengan bocah laki-laki yang dulu bertengkar dengan Dean, dan sampai mamaku pergi ke rumah nenek untuk meminta maaf."
"Oh! Jadi kamu anak dari Akira Danner, yang waktu kecil itu ke rumahku?"
"Iya, Nek. Nenek ternyata masih cantik saja."
Nenek Dean melihat ke arah Dean. Kemudian melihat lagi pada Dean. "Terima kasih, Ara. Maaf, jika nenek tidak mengenali kamu karena kamu sudah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang sangat cantik."
"Nenek lebih cantik."
"Oh ya, bagaimana kabar kedua orang tua kamu?"
"Mereka berdua baik-baik saja, Nek."
"Nek, katanya ingin bicara denganku? Ayo kita ke ruangan aku saja kalau begitu. Ara, David, aku pergi dulu, kalian nikmatilah makan siangnya."
Dean dan neneknya berjalan bersama masuk ke dalam ruangan Dean. Dean duduk pada kursinya dan neneknya berdiri sambil mengintip dari balik tirai jendela yang ada di ruangan Dean.
Wanita paruh baya itu sedang memperhatikan Ara dan David dari balik jendela.
"Nek, katanya ada hal penting yang mau nenek bicarakan denganku. Hal penting apa?"
"Gadis itu sangat cantik, dan dia terlihat polos dan baik." Wanita paruh baya itu duduk di depan Dean. "Dean, apa pria yang bersamanya itu kekasihnya?"
"Dia bukan kekasihnya, hanya orang tua Ara memiliki hubungan keluarga dengan tante pria itu."
"Oh begitu!"
"Nek, sebenarnya apa yang ingin nenek katakan?'
"Dean, nanti malam kamu pulang ke rumah utama nenek karena ada seseorang yang ingin bertemu sama kamu di sana."
"Siapa, Nek?"
"Ayah kandung kamu, dia ingin bertemu dengan kamu."
__ADS_1
"Ayah kandungku? Bukannya dia tidak mau mengakui aku sebagai anaknya? Kenapa sekarang dia ingin bertemu denganku?"
"Kalian berdua harus bicara bersama, banyak hal yang harus kalian selesaikan dengan bicara berdua agar salah paham di antara kalian segera berakhir. Apa kamu tidak ingin bertemu dengannya?" Dean terdiam di tempatnya