My Secret Love

My Secret Love
Tanda Merah part 2


__ADS_3

"Kamu katakan saja di gigit nyamuk, atau serangga dan karena gatal kamu menggaruknya hingga seperti itu."


Uni mengerucutkan bibirnya. "Aku bilang saja di gigit serangga langkah atau kalau tidak di gigit monster," ucapnya kesal.


"Mana ada monster setampan aku?" Aro kembali melanjutkan perjalanannya. Dalam hati Uni ini sebenarnya kesal sekali sama Aro, tapi entah kenapa dia menyukai apapun yang dilakukan Aro padanya. Kadang pria yang sudah mengeklaim dirinya sebagai pacar ini bisa berbuat hal romantis, tapi kadang banyak menyebalkannya.


"Apa Via akan menjemput kamu ke rumah?"


"Tentu saja tidak, aku saja tidak mengatakan kalau aku sudah tidak ada di rumahku."


"Kamu juga tidak bilang kalau kamu bekerja di rumahku?"


"Aku belum mengatakan, tapi nanti pasti aku katakan kalau aku bekerja di rumah kamu, tapi tidak dengan hubungan kita."


"Teman kamu itu kenapa bisa menyukai aku? Padahal aku saja tidak pernah memperdulikan dia, bahkan aku tidak pernah berbicara sama dia."


"Memangnya mencintai seseorang itu harus ada alasannya?"


"Tentu saja."


"Lalu kamu kenapa bisa menyukaiku?"


"Karena kamu gadis pertama yang mencuri ciumanku, itukan sudah aku jelaskan."


"Hanya karena itu?" Uni seolah meremehkan alasan Aro.


"Iya, memangnya kamu mau aku mengatakan apa?"


"Tidak mengatakan apa-apa, aku kira ada alasan lain. Via juga sama dia menyukai kamu sejak pertama melihat kamu waktu itu, katanya kamu unik, dan bisa membuat orang yang melihat kamu merasa penasaran."


"Memangnya aku alien dibilang unik?"


"Mirip sih," jawab Uni cepat.


"Awas kamu, Ya!" Aro memberi tatapan tajam pada Uni, seketika Uni langsung terdiam.


"Aku minta maaf," ucapnya kemudian, entah kenapa dia langsung takut begitu.


"Tidak semuda itu memaafkan kamu."


"Kenapa? Memangnya salahku sangat besar?"


"Tentu saja, kenapa kamu mengatai pacar kamu sendiri?"

__ADS_1


"Kamu kan yang memulai, dan aku hanya mengiyakan."


"Lagian mana ada orang jatuh cinta hanya karena baru melihat dan merasa orang itu unik? Teman kamu itu hanya mengarang saja."


"Enak saja mengarang, memangnya kamu tidak tau ada kata-kata cinta pada pandangan pertama? Via itu suka kamu karena pandangan pertama. Lagipula kalau kamu berpacaran sama Via, kamu akan merasa bahagia. Dia pintar, cantik, pekerja keras dan akan sangat sayang sama kamu."


"Aku tidak butuh wanita yang seperti itu. Aku lebih menyukai gadis yang agresif yang sukanya mengejar kejar aku untuk memberikan bekal makanannya dulu, dan yang diam-diam memperhatikan aku."


Uni langsung teringat tentang apa yang dilakukannya dulu pada Aro. Dia tidak menyangka jika Aro masih mengingat semua itu.


"Kamu ingat semua itu? Aku kira kamu sudah lupa?"


"Aku ingat hal menyebalkan semua itu."


"Menyebalkan? Itu bukan hal menyebalkan, itu perhatian."


"Tapi kamu masih kecil, kenapa sudah ada rasa suka sama seorang anak laki-laki?"


"Karena kamu aneh," jawab Uni singkat, jelas, padat.


"Tunggu saja nanti apa yang harus kamu dapatkan karena mengatakan aku aneh dan tadi alien?"


"Maaf, Aro."


Uni benar-benar di buat kesal sama pacar belum pastinya ini. "Memangnya aku robot pakai disetting?"


Mereka sampai pada rumah Nala. Nala agak terkejut melihat putranya Aro sudah pulang jam segini. Nala langsung izin ke kamarnya agar bisa segera melakukan tugasnya.


"Kamu masih sakit, Nak?"


"Aku baik- baik saja, Ma."


"Kok sudah pulang? Biasanya kamu pulang agak sorean, ini kenapa sudah di rumah dan kamu menjemput Uni?"


"Iya, aku sudah tidak ada urusan di kampus, hanya tinggal besok gladi bersih jadi aku agak santai karena sudah di urus lainnya, tadi juga aku menghubungi Ara, dia bilang dia pulang sama David itu."


"Iya, tadi David ke rumah dan izin mau menjemput Ara. Mama bolehkan saja."


"Ya sudah kalau begitu aku mau ke kamarku dulu berganti baju, Ma."


"Iya, setelah itu kamu makan siang dulu sama Uni."


"Iya, Ma."

__ADS_1


Aro masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur empuknya. Dia membayangkan tentang tanda merah ciptaanya itu.


"Kenapa bisa seperti pria bucin begini saat dekat dengan Uni. Apa aku benar-benar sudah mencintainya? Gadis itu terlihat polos dan sangat penurut seperti kucing kecil. Sebaiknya aku mulai mencari ide tentang hukuman apa yang sebaiknya aku berikan sama dia karena mengataiku aneh?"


ini anaknya Akira kumat usilnya, dia suka sekali memang membuat Uni mukanya di tekuk kesal, melihat ekspresi wajah Uni membuatnya semakin menyukai gadis itu.


"Uni, kamu sedang apa?"


Uni seketika kaget saat nenek Anjani tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan melihat Uni sedang berdiri di depan cermin memeriksa tanda merah yang dibuat Aro.


"Saya tidak apa-apa, Nek. Hanya saja saya mungkin salah makan tadi di kantin kampus, badan agak gatal-gatal semua." Uni pura-pura menggaruk-garuk tubuhnya yang sebenarnya tidak gatal.


"Mungkin kamu alergi makanan, atau kamu digigit serangga." Nenek Anjani mencoba memeriksa tubuh Uni. Kebetulaan tanda merah itu ada di bagian dalam kaos Uni, jadi tidak akan terlihat jika Uni menggunakan kaos.


"Mungkin saja digigit serangga, Nek."


"Ya sudah nanti nenek ambilkan minyak agak gatal-gatalnya hilang." Nenek Anjani mengambil botol sedang berisi minyak berwarna putih dan memberikan pada Uni. "Kamu oleskan minyak ini, nanti tanda merah-merah di tubuh kamu yang gatal akan hilang. Walaupun tubuh kamu belum keluar tanda merahnya tetap oleskan saja biar tidak gatal-gatal."


"Makasi ya, Nek."


"Iya, kalau sudah kamu keluar dan makan siang dulu sebelum melakukan tugas kamu."


"Iya, Nek."


Nenek Anjani keluar dari kamar dan Uni segera mengoleskan minyak pada tanda merah yang diciptakan oleh Aro. Uni berharap tanda merah itu akan segera hilang agar Uni tidak was-was nantinya.


Setelah selesai Uni keluar dari kamar dan menunju meja makan.Dia sudah melihat Aro ada di sana sedang menikmati makan siangnya.


"Uni kamu segera makan siang," ucap Nala.


"Em! Ibu Nala, apa pekerjanya sudah di siapkan makan siangnya? Kalau belum saya yang akan menyiapkannya?"


"Biar Ibu Nala saja, kamu makan siang dulu."


"Jangan, Bu! Ini kan tugas saya di sini?" Uno segera menuju dapur yang tidak jauh dari sana, dan Aro yang melihatnya tampak merasa Uni seolah menghindarinya untuk makan siang berdua.


"Uni, biar ibu saya."


"Saya saja, Bu."


Di rumah Nala mulai hari ini dan beberapa hari ke depan akan ada pekerja bangunan yang merenovasi gudang yang nantinya akan menjadi kamar Uni.


Uni segera berjalan melewati Aro dengan membawa nampan berisi beberapa piring makanan.

__ADS_1


__ADS_2