
Sifa masuk ke dalam kelasnya dan Aro memilih pergi ke kampusnya.
Uni yang juga sudah sampai di depan kampusnya memili ingin langsung ke kelasnya. "Aku mau menghubungi Via dulu ya, Ren?"
"Iya, kamu ke kelas dulu saja, aku kan mau ke toilet tadi bilang kamu. Perutku sakit karena. kekenyangan kebanyakan makan tadi, habisnya masakan kamu enak sekali."
Uni hanya tersenyum tidak menanggapi, dia langsung naik ke kelasnya.
"Halo, Uni, ada apa?"
"Via, aku mau mengingatkan nanti malam jangan lupa undangan makan malam dari keluarganya Aro."
"Iya, aku tentu saja ingat. Uni, kamu tadi diantar Aro pergi ke kampus tidak?"
"Aku hari ini tidak berangkat ke kampus dengan Aro karena tadi Rendy menjemputku ke rumah."
"Wah! Rendy kerja cepat ternyata, baru sehari jadian sama kamu, dia langsung dengan cepat tidak menyia-nyiakan kesempatannya."
"Iya, dan mungkin dia tiap hari akan mengantar jemput aku."
"Senangnya. Coba Aro seperti itu sama aku. Uni, aku ingin sekali kamu membantu aku supaya aku bisa dekat dengan Aro, aku sudah mencoba dekat dengannya, tapi dia kelihatannya seperti malah menghindar. Apa karena dia sudah mempunyai kekasih, Ya?
"Setahu aku dia dekat dengan temannya Ara. Aku juga sedang berusaha membantu kamu dengan Aro, tapi perasaan itu tidak bisa di paksakan, Via."
"Bisa saja kalau dia tidak memiliki kekasih, atau dia putus dengan kekasihnya dan kita hadir di tengah-tengah mereka," nada bicara Via tampak serius.
"Tapi Aro kelihatannya orang yang sulit untuk pindah ke lain hati."
"Kamu jangan sok tau, bisa saja dia bisa berpindah hati kalau orang yang di sukainya pergi meninggalkan dia."
"Mungkin saja," jawab Uni pelan. Uni berpikir apa memang dia seharusnya yang menjauh dari Aro agar dia maupun Aro bisa saling melupakan.
"Uni, kamu masih di situ? Jangan diam saja."
"Iya, aku masih di sini."
"Uni, kira-kira gaun apa ya yang sebaiknya aku pakai nanti malam? maksud aku, Aro suka melihat cewek berpakaian terbuka dan dia suka warna apa?"
__ADS_1
"Aku tidak terlalu tau masalah itu, tapi kalau dilihat dari sifat Aro yang tidak suka jika dia menyukai seseorang dia tidak mau sampai orang itu disentuh bahkan dilihat dengan kurang aja, jadi dia suka cewek dengan pakaian tertutup."
Uni ingat saat ditaman rekreasi dulu Aro memberikan jaketnya pada Uni dan Aro sangat marah saat melihat Rendy mendekati Uni.
"Kalau warnanya apa?"
"Mungkin hitam, atau putih. Aro suka warna yang netral. Lagian kamu kenapa ribet sekali sih, Via? Kamu sudah cantik dan tidak perlu bingung seperti itu."
"Kan aku ingin menyenangkan hati Aro. Siapa tau dia nanti jatuh cinta sama aku."
"Aku akan doakan. Eh sudah dulu ya, ini dosenku sudah datang."
"Iya, bye , Uni."
"Bye, Via."
Mereka mengakhiri panggilan teleponnya, dan Uni mulai mengikuti pelajaran.
Hari ini di kampusnya, Ara yang sedang berada di perpustakaan pada jam istirahat melihat Dean sedang berbicara dengan penjaga perpus, entah apa yang mereka bicarakan, tapi yang jelas, Ara tidak peduli karena dia sangat marah dan benci sama Dean.
Ara berjalan mencari buku yang dia akan gunakan untuk mengerjakan tugas. Ara mencoba mengambil buku yang letakkan lagi-lagi di atas.
Ara mendengar suara dari arah belakang. Saat dia menoleh dia melihat ada Dean di sana.
"Minggir!" Ara mendorong tubuh Dean dan pergi dari sana. Dean hanya melihat datar pada Ara. Tidak lama Ara kembali dengan membawa anak tangga lipat dan menaikinya, dia mengambil buku itu sendiri.
"Ara, apa kamu marah sama aku?"
Ara yang hendak melangkah pergi kembali menoleh dan melihat sinis pada Dean. "Aku tidak marah sama kamu, memangnya apa hak aku marah sama kamu? Aku hanya tidak menyangka saja, pria yang aku kira sangat baik dan lembut bisa berbuat menyakitkan seperti itu."
"Aku minta maaf sama kamu, Ara, aku tidak berniat melakukan hal itu, tapi saat melihat kamu waktu itu--."
"Kenapa harus aku? Apa karena kita selama ini dekat, dan kamu kira aku menyukai kamu dan aku terlihat polos dan lugu, jadi kamu ingin mempermainkan aku begitu? Berharap aku tidak akan marah? Kamu salah, Dean. Aku bukan mainan. Kalau kamu ingin meminta bantuanku katakan saja, tapi jangan berbuat seenaknya seperti itu."
"Aku--."
"Aku sangat membenci kamu, bahkan aku berharap tidak mengenal Dean waktu kecil."
__ADS_1
"Ara!" Dean menarik tangan Ara dan tubuh Ara masuk ke dalam dekapan Dean. Dean melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Ara dengan erat. Kedua pasang mata mereka saling bertemu lekat.
Ara seolah terpatri oleh pandangan mata Dean, ada bayangan waktu kecil mereka dulu yang masih melekat indah pada bayangan Ara.
"Maafkan, aku. Andai aku bisa mengatakan apa yang ada di dalam hatiku sebenarnya, Ara."
"Memangnya apa isi hati kamu?"
Tangan Dean mengusap lembut pada pipi Ara. Dean memberikan senyuman manisnya pada Ara. "Kamu masih tetap cantik dan manis seperti Araku yang dulu."
"Kenapa kamu tidak menjadi Dean yang dulu?"
"Ara, aku ---?" Dean lagi-lagi bingung dengan apa yang ingin dia ucapkan.
"Aku apa? Hanya mau bilang aku cuma akting untuk menyatakan cinta pada kekasihku?"
Ara dengan kasar melepaskan tangan Dean. Dia juga memberi tatapan menyala pada Dean.
"Ara, Dean, kalian kenapa?" Tania melihat aneh pada dua orang yang sedang berhadapan itu.
"Tidak apa-apa, Tania. Ayo kita pergi! Aku malas lama-lama dekat dengan orang yang sukanya memanfaatkan kepolosan orang lain." Ara berjalan dengan muka kesal dari hadapan Dean.
Tania yang masih berdiri di sana tampak bingung melihatnya. "Memangnya kamu pernah menyakiti, Ara?" Tania bersedekap melihat tajam pada Dean.
"Aku sudah minta maaf sama dia, Tania."
"Jadi kamu menyakitinya? Apa yang sudah kamu lakukan dan kenapa kamu menyakitinya? Ara itu temanku yang baik dan dia tidak akan pernah menyakiti orang lain," nada bicara Tania sedikit emosi.
"Aku tau, aku sudah menciumnya kapan hari di sini," ucap Dean lirih.
Tania seketika mendelikkan kedua matanya dan mendekatkan wajahnya pada Dean. "Apa? Ka-kamu mencium Ara?" Kedua mata Tania berkedip beberapa kali. "Kamu serius?"
"Iya, aku menciumnya, Tania."
"Kenapa kamu bisa menciumnya? Apa kamu menyukai Ara? Dan dia tidak menyukai kamu, makannya dia marah saat kamu menciumnya?"
"Dia marah karena ciuman itu hanya sebatas akting yang aku lakukan pada Ara. Aku melakukan hal itu karena aku hanya ingin menjadikan Ara sebagai bahan latihan aku saat aku ingin mengungkapkan perasaan aku sama gadis yang sangat aku sukai."
__ADS_1
"Jadi, maksud kamu, Ara hanya bahan latihan kamu saja? Kamu tidak menyukai Ara sebenarnya?" Dean menganggukkan kepalanya.