My Secret Love

My Secret Love
44


__ADS_3

Tiga hari sudah Andita tinggal di kediaman utama dengan umi Balqis dan abi Syarif. Ibu Diyah dia seperti yang di katakan Husna sudah bahwa dia akan mengurus taman dan kebun milik umi Balqis maka itu lah yang dia kerjakan di sana. Sementara Andita sendiri dia di minta Husna untuk fokus dengan ujian proposal nya. Dia ingin Husna lulus bersama dengan nya nanti.


Hari ini Husna dan Andita pergi ke kampus bersama. Andita dia akan menyiapkan semua persiapan ujian proposal nya yang akan di lakukan pada besok hari. Sementara Husna tentu saja selain menemani Andita dia juga pergi untuk menemui sang suami sekalian untuk mendiskusikan hasil penelitian nya yang lumayan melelahkan tapi untuk pengambilan sampel nya sudah selesai tinggal mengolah nya saja dan Husna menargetkan untuk pengolahan data nya itu akan selesai dalam satu minggu atau paling lambat dua minggu. Husna ingin segera lulus dan bisa fokus dengan urusan rumah tangga nya dan urusan bisnis keluarga yang menjadi tanggung jawab nya.


"Na, apa kau akan langsung ke ruangan pak Azzam?" tanya Andita begitu mereka memarkirkan sepeda motor mereka bersamaan di parkiran.


Husna pun tampak berpikir, "Seperti nya aku temani dulu dirimu deh." Ucap Husna.


Andita pun mengangguk dan tersenyum, kini mereka sudah sangat dekat layak nya sahabat karena semua rahasia di antara mereka sudah tidak ada lagi dan berganti dengan kebahagiaan.


Kedua gadis itu pun segera menuju gedung fakultas dan mereka segera menuju ruangan ujian proposal. Di sana mereka mengecek semua persiapan untuk besok. Lalu tiba-tiba pintu ruangan itu pun terbuka dan menampilkan Azzam yang sedang tersenyum.


"Dita, tolong antarkan kepada saya gadis di dekatmu itu." tunjuk Azzam kepada sang istri.


Andita pun tersenyum lalu menatap Husna, "Silahkan pak. Saya juga sudah tidak membutuhkan nya." ucap Andita yang tentu saja itu adalah candaan.


Husna pun tersenyum lalu segera berdiri, "Aku ke sana dulu yaa. Kalau ada apa-apa hubungi aku." Ucap Husna kepada Andita.


Andita pun mengangguk, "Pergi lah sebelum pak suami mu keburu ngambek." bisik Andita.


Husna pun tersenyum lalu dia segera mendekati sang suami dan kedua nya pun segera keluar dengan bergandengan tangan.

__ADS_1


"Kenapa gak bilang mau ke sini?" tanya Azzam.


Husna yang mendengar ucapan suami nya itu pun mengerutkan kening nya, "Aku sudah mengirim pesan loh mas." ucap Husna.


"Pesan?" Tanya Azzam bingung lalu meraih ponsel nya dan mencari nama sang istri yang ternyata tidak ada pesan sama sekali di sana.


"Gak ada sayang. Lihat lah." ucap Azzam memperlihatkan ponsel nya.


"Hum, masa sih. Benaran mas aku sudah mengirimkan pesan. Tunggu aku lihat di ponsel ku dulu." Ucap Husna mengeluarkan ponsel nya.


"Kita bahas di dalam." ucap Azzam tidak ingin apa yang mereka bicarakan akan jadi konsumsi publik yang walaupun berita tentang mereka sudah hilang tapi pandangan orang terhadap mereka tetap masih ada. Hal itu tentu memang sulit untuk di hapus karena mereka punya mata dan mulut untuk melihat dan membicarakan apa yang mereka lihat. Jadi lebih baik gak usah peduli kan apa yang di katakan orang-orang selama itu tidak mengganggu apapun.


Kita hanya punya dua tangan yang pasti nya tidak akan bisa menutup mulut orang-orang yang membicarakan kita. Lebih baik kita gunakan kedua tangan itu untuk menutup telinga kita sendiri agar tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.


Azzam pun terdiam lalu berpikir, "Seperti nya ada yang membuka pesan mas sayang. Lalu dia menghapus nya untuk membuat kita salah paham dan bertengkar." ucap Azzam.


Husna pun mengangguk, "Lalu siapa coba yang melakukan itu? Emang seharian ini mas ingat ponsel mas letakkan di mana saja?" Tanya Husna.


Azzam pun kembali mengingat di mana di meletakkan ponsel nya dan seketika dia teringat, "Tadi saat di kelas mas pamit keluar sebentar dan saat itu ponsel mas tinggalkan di sana dalam keadaan terbuka." Jawab Azzam.


Husna pun terdiam, "Seperti nya orang ini ingin mengadu domba kita mas. Kita harus cari tahu siapa dia. Aku tidak akan memberi ampun. Hampir saja mas salah paham padaku." ucap Husna.

__ADS_1


Azzam pun tersenyum lalu segera memeluk Husna, "Mas gak marah sayang hanya saja mas merasa aneh juga kau yang biasa nya pamitan kepada mas. Tiba-tiba saja tidak mengirim pesan kepada mas. Jadi mas bertanya." Ucap Azzam.


Husna membalas pelukan suami nya itu, "Tapi tetap saja kita harus mencari tahu siapa yang sudah sembarangan membuka ponsel mas. Siapa mahasiswa yang berani melakukan itu. Ponsel itu adalah privasi kita mas." ucap Husna dalam pelukan suami nya itu.


"Hum, ya sudah ayo kita cari tahu." ucap Azzam melepas pelukan nya lalu dia segera menarik tangan Husna untuk menuju meja kerja nya.


Husna pun segera duduk di kursi di samping suami nya itu dan melihat Azzam yang mulai membuka situs tertentu dan tidak lama muncul lah rekaman CCTV di ruangan kelas yang di cari Azzam. Azzam segera memundurkan rekaman CCTV ke waktu dia tadi masuk mengajar.


Azzam dan Husna pun fokus melihat dan ternyata setelah Azzam pergi dari sana. Kirana masuk ke dalam ruangan kelas itu dan mengancam mahasiswa di sana. Dia terlihat memegang ponsel Azzam di sana dan tepat sebelum Azzam kembali dia pun segera keluar. Untung saja Azzam cepat kembali sehingga selain pesan yang dia hapus tidak ada lagi yang dia ambil dari ponsel Azzam.


"Wah, ternyata Kirana mas." ucap Husna.


Azzam pun mengangguk, "Pantas saja begitu mas masuk mahasiswa di kelas itu memandang mas dan mereka terlihat takut. Lihat lah. Iya kan." tunjuk Azzam ke layar monitor di komputer nya.


Husna pun mengangguk, "Iya benar. Lalu sekarang kita harus apakan Kirana itu?" Tanya Husna.


"Kita beri efek jera saja. Walau bagaimana pun dia tidak salah hanya saja keadaan sedang memihak nya. Mas yang biasa tidak pernah meninggalkan ponsel sembarang dalam keadaan aktif tiba-tiba saja meninggalkan ponsel di sana. Jadi ini juga karena kecerobohan mas. Kita beri efek jera saja agar dia tidak akan mengulangi nya lagi. Lagi pula kita tidak pantas untuk memberi hukuman yang berat kepada nya. Biarlah Allah yang memberikan keadilan untuk kita." ucap Azzam.


Husna pun mengangguk tersenyum, "Baiklah lakukan itu. Seperti nya memberi nya sedikit hukuman sebagai peringatan bukan sesuatu yang salah." ucap Husna.


Lalu tiba-tiba Husna teringat sesuatu. Pertanyaan penting yang ingin di tanyakan sejak tadi tapi di tahan nya.

__ADS_1


"Mas, sejak kapan kau bisa membobol CCTV?"


__ADS_2