My Secret Love

My Secret Love
Kamera Pengawas


__ADS_3

"Aku tetap tidak bisa terima semua ini karena sama saja menghancurkan nama baik keluarga kita.”


“Terserah kamu mau bilang apa, Addrian, yang jelas Nala sedang mengandung cucu kita, pewaris pertama dari keluarga Danner. Walaupun kamu tidak mau mengakuinya, tapi Nala adalah menantu pertama keluarga kita.”


Addrian terdiam melihat ke arah istirnya. “Apa kamu juga akan pergi meninggalkan aku, Kei?”


Kei agak terkejut mendengar pertanyaan suaminya. “Aku tidak akan bisa meninggalkan orang yang sangat aku cintai dan yang sudah melalui banyak Hal denganku, Addrian, tapi aku juga tidak bisa menutup mata dengan kehadiran cucu kita nantinya.” Kei memegang tangan suaminya.


Addrian beranjak dari tempatnya. “Aku tidak akan memohon padamu untuk tetap di sini, Kei."


"Addrian, kenapa kamu sangat keras kepala? Apa hati kamu tidak bisa menerima semua ini? Apa kamu tidak mau mendengar suara kecil


seseorang memanggil kamu dengan sebutan Kakek?” Addrian terdiam. “Satu lagi, Nala mendapat teror dari seseorang wanita dan Nala tidak tau itu siapa. Aku harap itu bukan kamu Addrian karena jika itu benar kamu, aku mungkin akan pergi dari sini selamanya karena aku tidak bisa membenci kamu atau aku melihat menantu dan cucuku kenapa-napa.” Kei beranjak dan pergi dari sana.


Addrian berdiri di tempatnya melihat istirnya berjalan menuju kamar mereka. Beberapa hari berlalu, Nala tampak bosan terkurung di


dalam rumahnya terus. “Bi, aku sebenarnya ingin merayakan hari ulang tahunku di luar dengan Akira, tapi apa Akira memperbolehkan aku keluar ya, Bi?”


"Coba saja kamu bilang, tapi mungkin tidak akan diizinkan. Akira sangat khawatir dengan keselamatan kamu, Nala."


Nala hanya bisa menghela napasnya pelan.?Tidak lama pria yang sedang mereka bicarakan keluar dari dalam kamar dan menuju ke meja makan untuk bergabung makan pagi dengann istri dan bibi Anjani. Akira melihat aneh pada kedua wanita yang ada di meja makan


yang juga melihatnya. “Ada apa? Kenapa kalian berdua melihatiku seperti itu?” Akira duduk di samping Nala setelah mengecup dahi dan perut istrinya. “Apa ada yang ingin kalian katakan padaku?” Akirav menatap pada Nala.


“Sayang, apa kamu ingat ini hari apa?”


“Ini hari Senin, memangnya kenapa?” jawab Akira santai.


Nala memutar bola matanya jengah mendengar jawaban suaminya. Apa suaminya ini lupa hari ulang tahunnya? “Aku tau kalau hari ini hari Senin, tapi tanggal hari ini yang aku tanyakan?”


“Aku tidak ingat tanggal berapa, yang aku tau aku ada meeting penting hari ini. Apa kita bisa makan pagi sekrang, aku harus segera berangkat ke kantor karena aku sudah di tunggu untuk rapat?”

__ADS_1


Nala mulutnya semakin manyun mendengar sekali lagi kata-kata suaminya. Dia mengambilkan makanan dengan tidak seperti biasanya. Akira yang melihatnya tampak heran, ini kenapa istrinya berubah begini tidak lembut


seperti biasanya. Bibi Anjani hanya tersenyum renyah melihat hal itu.


Setelah makan pagi bersama Akira izin berangkat ke kantor. Akira yang sudah masuk ke dalam mobilnya, dan Nala segera masuk ke dalam rumah dengan muka yang masih cemberut. “Suami macam apa itu? Hari lahir istrinya saja lupa, tapi kalau minta jatah di tempat tidur dia tidak lupa,” gerutu Nala


kesal.


Bibi Anjani yang mendengar omelan Nala hanya bisa tersenyum menahan tawa. “Kamu mau ke mana, Nala?”


“Mau membuang semua baju sexy yang dibelikan oleh Akira, Aku kesal dengan suami yang tidak peka dengan istrinya.” Nala cemberut masuk ke dalam kamarnya.


“Nala ... Nala, kenapa dia jadi sensitif begitu sekarang? Apa karena bawaan bayi kembarnya itu?” Bibi Anjani kembali merapikan meja makannya.


Nala di dalam kamar malah tidur-tiduran tidak jelas. Jujur saja dia tampak bosan, setidaknya di hari spesialnya ini dia bisa mendapat


sedikit kebahagiaan dari orang yang sangat dicintainya, tapi nyatanya tidak.


“Aku harus apa kalau begini? Apa aku membuat makan malam istimewah saja buat merayakan ulang tahunku dengan Akira dan bibi nanti? Apa


Hari itu hanya dihabiskan Nala untuk bersantai sambil menonton televisi saja di rumah. Tidak lama ada suara bel pintu berbunyi dan


bibi Anjani membukakan pintu, ternyata salah satu pengawal di rumah Nala membawa sebuket bunga mawar besar dan ada 2 buah goodie bag berwarna coklat.


“Ini dari siapa?” tanya bibi Anjani.


“Tuan Akira yang mengirimkannya karena saya sendiri yang mengambilnya di kantor tuan Akira,” jelas salah satu pengawal itu.


“Dari Akira? Ya sudah terima kasih kalau begitu.” Bibi Anjani membawa hadiah dari Akira masuk ke dalam rumah. “Nala, ini ada hadiah


untuk kamu dari suami kamu kata pengawal di depan.”

__ADS_1


Nala yang sedang duduk santai melihat televisi seketika bangun perlahan menghampiri bibinya. “Bunganya indah sekali, dan ini apa, Bi?”


“Bibi tidak tau, kamu buka saja sendiri.”


Nala membuka dua goodie bag itu dan ternyata isinya sekotak ice cream dengan bentuk yang sangat cantik dan ada kotak berwarna hitam. Saat Nala membukanya ternyata itu adalah gaun berwarna hitam yang sangat cantik dan


ukurannya sesuai dengan bentuk tubuh Nala yang sekarang.


“Gaun ini bagus sekali, walaupun ukurannya sangat besar. Apa maksud dari semua ini? Kenapa dia memberiku semua ini?”


“Mungkin ini adalah hadiah ulang tahun untuk kamu dari Akira, dia sebenarnya ingat hanya saja tadi pura-pura,” jelas bibinya.


“Dasar!”


“Sudah kamu hubungi suami kamu saja, dan ucapkan terima kasih atas hadiah yang dia berikan sama kamu.”


“Iya.” Sekarang wajah Nala tampak terlihat bahagia. Dia mencari ponselnya yang baru di belikan oleh Akira dan hanya ada nomor beberapa orang yang dekat dengan Nala di sana.


“Halo,” jawab Akira lirih.


“Sayang, aku mau--.”


“Aku tau apa yang mau kamu katakan sama aku.” Akira sudah memotong perkataan Nala.


“Terima kasih, Sayang.”


“Terima kasih untuk apa? Untuk kado ulang tahun yang barusan aku kirim? Itu bukan kado ulang tahun untuk kamu, tapi hadiah supaya kamu tidak marah dan membuang semua baju sexy kamu.”


“Apa? Kenapa kamu bisa tau apa yang aku katakan tadi?” Nala agak terkejut. Nala mengedarkan pandangannya ke seluruh ruagang di rumahnya.


“Jangan mencariku, aku sedang di kantor, tapi aku bisa mengawasi kamu dari sini. Aku minta maaf kalau aku lupa jika hari ini adalah hari ulang tahun kamu dan tadi aku mendengar gerutuan kamu yang menakutkan tentang jatah di kamar tidur.”

__ADS_1


Nala terdiam sejenak lalu dia terkekeh pelan. “Kamu memasang kamera CCTV di rumah ya?”


Akira sangat melindungi Nala banget. Eh melindungi atau apa ya?


__ADS_2