
Mereka berdua sudah sampai di kampus Via. Uni dan Via segera menyiapkan segala sesuatunya dan mulai menata stand bazar mereka. "Via, apa benaran orang luar boleh ikut berjualan di sini?"
"Kan aku anak kampus di sini juga, lagian aku yang mendaftar untuk berjualan, tapi kamu yang jadi penjualnya. Ehehehhe!" Via malah terkekeh.
"Em ... dasar kamu!"
"Eh, tapi inikan juga bisa buat peluang bisnis kamu, siapa tau dari bisnis sekecil ini nanti bisa berkembang sangat besar, bahkan bisa membuat kamu jadi pengusaha kuliner."
"Aamiin. Aku aamiinin dulu, siapa tau sukses dan hidupku bisa berubah."
"Nah! Begitu, siapa tau kamu sendiri yang bisa merubah kehidupan kamu lebih baik, tidak harus bekerja menjadi pembantu. Kamu juga jangan lupa doakan aku semoga aku bisa bersama dengan Aro."
"Hem ... kenapa jadi larinya ke Aro? Kita ini sedang membahas masa depan aku, Via."
"Ya tidak apa-apa. Apa kamu mau nanti kalau kamu tidak sukses-sukses dan tetap menjadi pembantu di rumah Aro, kemudian aku menikah sama Aro, kan aku tidak mau sahabat aku jadi pembantuku."
"Ya ampun! Ini anak kenapa bermimpinya sejelek itu dengan sahabat sendiri."
"Hihihihi! Aku hanya bercanda. Sudah! Kita kerja lagi. Kita harus membuat stand bazar kita lebih cantik dan mempesona para pembeli, dan nanti katanya ada pemilihan untuk stand bazar terbaik dan akan mendapatkan sejumlah uang Uni."
"Serius?"
"Serius, Lah. Makannya nanti kita hias sebagus mungkin dan aku tau kamu ahlinya."
Mereka memulai pekerjaanya dan Uni tampak serius menata meja dan sebagainya. Via juga sudah membawa banyak pita dan lampu-lampu kecil di sana.
"Via, apa kamu membawa gunting?"
"Gunting? Aku tidak membawa gunting, hanya ada cutter. Apa tidak bisa digunakan? Aku lupa sepertinya dengan guntingku."
"Cutter tidak dapat untuk menghias pita. Harus pakai gunting."
"Lalu bagaimana?"
"Halo, para gadis! Kalian sibuk sekali ya?" Tiba-tiba Rian berada di sana menyapa mereka.
"Kamu siapa?"
"Wah! Kamu lupa sama aku? Aku pembeli di restoran cepat saji saat kamu masih bekerja dulu, dan aku yang memberi uang kamu karena kamu mau mengantrikan makananku dengan teman-temanku."
__ADS_1
"Oh iya, aku baru ingat. Maaf, ya?"
"No problemo. Nama kamu Uni, Kan? Perkenalkan, namaku Rian." Pria itu menjulurkan tangannya mengajak Uni berjabat tangan.
"Namaku Uni."
"Aku senang bisa bertemu kamu di sini, Uni. Aku pernah pergi ke tempat kerja kamu dulu, tapi tidak ada kamu, dan aku baru tau dari Via jika kamu sudah dikeluarkan dari sana."
"Iya."
"Rian, apa kamu mempunyai gunting? Uni mau menghias tempat ini dengan pita, tapi kita kuoa membawa gunting," terang Via.
"Gunting ada di ruang panitia. Apa mau aku ambilkan?"
"Jangan! Tunjukkan saja di mana ruangannya, biar aku meminjam sendiri nanti ke sana."
"Kalau begitu biar aku antar saja kamu ke sana. Sekalian aku bisa mengajak kamu mengobrol."
Uni langsung melihat ke arah Via. "Kamu ikut saja. Dia baik, kok." Via mengangguk.
"Sudah! Ayo ikut saja." Tiba-tiba tangan Rian menggandeng tangan Uni.
"Aku bisa jalan sendiri." Uni melepaskan tangan Rian dari pergelangan tangannya. Via yang melihatnya tersenyum kecil.
"Hai, Aro! Kamu kenapa dari tadi duduk di sana?" Uni agak kaget melihat Aro ada di ruangan itu sedang duduk sendirian.
Aro pun tampak terkejut melihat Uni datang dengan temannya. "Uni ayo masuk."
Uni berjalan perlahan-lahan masuk ke ruangan itu. Aro hanya memberinya tatapan datar. "Ada apa ke sini?"
"Ini perkenalkan namanya Uni temannya Via. Dia mau meminjam gunting untuk memotong pita yang nanti akan di gunakan untuk menghias stand bazarnya. Kamu kenapa dari tadi duduk di sana sendirian? Kamu habis bertengkar dengan kekasih kamu?"
"Aku tidak bertengkar, malah sebaliknya." Aro berkata dengan tidak melepaskan tatapan matanya pada Uni.
"Wah! Akhirnya kamu punya kekasih juga. Oh ya, Aro ini kenalan dulu sama Uni. Uni ini Aro dia adalah ketua panitia acara malam ini."
"Aku sudah mengenalnya, jadi kamu tidak perlu mengenalkan lagi, Rian."
"Apa? Kamu sudah kenal sama Uni? Kok bisa?" Wajah Rian tampak bingung.
__ADS_1
"Iya, aku sudah kenal dengan Tuan Muda Aro karena aku bekerja di rumahnya," ucap Uni.
"Bekerja di rumah Aro? Memangnya kamu bekerja sebagai apa di sana, Uni?"
"Ini guntingnya, dan kalau sudah selesai kamu langsung kembalikan di sini." Aro meletakkan gunting di atas mejanya.
"Aku bekerja sebagai pembantu," jawab Uni dengan tegas. Seketika Rian melongo mendengar jawaban Uni. Sedangkan Aro malah memberikan tatapan tajamnya pada Uni.
"Apa? Sebagai pembantu? Ka-kamu tidak sedang bercanda, kan, Uni?"
"Untuk apa aku bercanda dalam hal ini?" Uni berjalan menuju meja di mana Aro meletakkan gunting dan mengambilnya. "Terima kasih Tuan Muda Aro. Aku pinjam sebentar nanti akan aku kembalikan."
Setelah mengambilnya, Uni langsung bergegas pergi dari ruangan itu dan meninggalkan Rian yang masih berdiri dengan wajah shock di sana. Aro beranjak dari tempatnya dan hendak mengejar Uni.
"Aro, kenapa kamu tidak cerita kalau kamu mengenal Uni? Dan dia bekerja di rumah kamu. Sebagai pembantu?"
"Memangnya aku harus menceritakan semua dengan kamu tentang hal di rumahku? Lagian kamu baru mengenal Uni."
"Iya juga sih! Tapi--."
Belum selesai Rian berkata, Aro sudah pergi dari sana. Aro melihat Uni berjalan menuju lapangan dan dengan cepat Aro menarik lengan tangan Uni sampai Uni tidak sengaja menggores lengan tangan Aro dengan gunting yang di bawahnya.
"Auw!" Aro meringis kesakitan karena tangannya tergores gunting dan tentu saja mengeluarkan darah.
"Oh Tuhan! Aro." Uni langsung membuang gunting di tangannya dan memeriksa tangan Aro. "Aro, kamu tidak apa-apa? Kenapa aku ceroboh sekali." Uni tampak ketakutan dan menangis. Dia dengan cepat mengambil saputangan yang selalu di bawanya dan menutup luka Aro dengan saputangan itu.
Aro hanya menatap Uni yang sibuk dengan tangannya bahkan Aro dapat melihat air mata Uni yang langsung keluar hanya karena luka kecil pada tangannya.
"Uni, aku tidak apa-apa."
"Aro, aku minta maaf, aku tidak bermaksud membuat kamu terluka seperti ini."
Aro mengusap lembut pipi Uni dan menghapus air matanya. "Aku baik-baik saja, kamu jangan khawatir.
"Kita ke ruang kesehatan ya, Aro. Aku akan mengantar kamu." Tangan Uni memegang tangan Aro yang tadi mengusap pipinya.
"Uni, Aro! Ada apa ini?" Tiba-tiba suara Via ada di sana. Kedua mata Via menangkap luka pada tangan Aro. "Aro, tangan kamu terluka?"
Hadewww baper sendiri lihat ini wakkakak. Pokoknya sampai besok aku pakai judul acara bazar part begitu, karena ini masih lama membahas bazarnya.
__ADS_1
Ini novel selanjutnya semoga bisa up ya karena author juga sedang menunggu hari persalinan. doain ya kakak semua 🙏