My Secret Love

My Secret Love
Hari Pertama Tinggal


__ADS_3

Ara duduk di kelasnya sambil membaca bukunya menunggu kedatangan Aro.


"Ara, kamu belum pulang?" Dean ternyata melihat Ara saat dia melewati kelas Ara."


"Dean? Aku belum pulang karena menunggu saudara kembarku Aro datang menjemputku, lagian aku tidak akan bisa turun jika sendirian."


"Apa mau aku antar pulang saja? Aku bisa menggendong kamu."


"Tidak perlu, Dean! Kamu sendiri kenapa masih ada di sini?"


"Aku tadi sebenarnya sudah pulang, hanya saja aku lupa buku aku ketinggalan di atas meja kuliahku, aku terpaksa kembali karena ada tugas di sana."


"Sudah kamu ambil? Kalau sudah kenapa tidak langsung pulang?"


"Aku akan menunggu kamu sampai saudara kembar kamu datang."


"Tidak perlu! Aku tidak apa-apa di sini sendirian, kok. Kamu pulang saja, Dean."


"Tidak apa, Ara. Lagipula aku tidak ada urusan penting di rumah, kamu jangan sendirian di sini."


Ara akhirnya terdiam. Mereka menunggu Aro sampai beberapa menit, dan ada rasa canggung di antara mereka. Agak lama mereka menunggu, tapi tanda-tanda Aro tidak ada. "Ke mana si Aro ini?" Ara mencoba menghubungi ponsel Aro, tapi kali ini malah ponselnya tidak aktif.


"Pulang sama aku saja." Dean tiba-tiba berdiri dan menggendong Ara ala bridal style dan membawanya turun ke bawah. "Kamu kirim pesan saja agar Aro langsung pulang saja dna bilang kalau kamu pulang denganku."


"Dean itu tidak perlu, aku bisa pulang sendiri, aku tidak mau merepotkan kamu."


"Kenapa? Kamu takut jika aku yang melakukan sesuatu sama kamu?"


"Bukan, bukan begitu."


"Aku tidak akan menyakiti atau berbuat jahat sama kamu, Ara."


"Aku tau, aku hanya tidak enak sama kamu, Dean."


Dean akhirnya mengantar Ara pulang, Ara juga tidak lupa mengirim pesan pada Aro jika dia pulang dengan diantar Dean.


Dalam perjalanan Dean mengajak Ara berhenti di sebuah toko kue. Dean ternyata ingat jika neneknya ingin makan kue dari toko langganannya itu.

__ADS_1


"Toko kue ini sangat unik, ya? Pasti dalamnya juga mempunyai dekorasi yang unik?"


"Tidak hanya itu, semua roti dan kue yang ada di sini rasanya sangat nikmat. Apa kamu mau masuk ke dalam dan makan kue di dalam?" Belum sempat Ara menjawab, Dean sudah turun dan memutari mobilnya, dia membuka pintu mobil Ara dan menggendong Ara keluar.


"Dean? Apa yang kamu lakukan? Aku di dalam saja, nanti orang-orang yang ada di dalam memperhatikan kita terus."


"Biarkan saja! Apa mereka tidak dapat melihat kaki kamu yang sedang sakit." Dean dengan santainya membawa Ara masuk dan mendudukkan Ara pada kursi yang hanya berisi dua orang.


Ara tampak aneh karena ada beberapa anak seusianya sepertinya sedang berbisik membicarakannya.


"Dean, jangan lama-lama ya?" bisik Ara.


"Kenapa? Katanya mau melihat dekorasi ruangan ini dari dalam. Bagus kan, tempatnya?"


"iya, sangat bagus, bahkan aroma kue yang baru matang juga tercium sangat enak."


"Aku akan memesankan kue kesukaan nenek aku untuk kamu juga." Dean berjalan menuju tempat pemesanan. Ara tampak melihati setiap sudut ruangan itu.


"Kasihan sekali ya pacarnya, punya pacar cantik, tapi tidak bisa jalan." Beberapa anak dengan seragam putih abu-abunya tertawa cekikikan di sana.


"Iya, mendiang sama aku saja, aku juga cantik dan tidak kalah sam pacar cacatnya itu. Daripada dia menggendong terus, kan capek," sahut teman satunya.


"Kalian memang cantik, tapi sayang hati kalian sangat buruk. Kekasihku itu tidak hanya cantik, tapi hatinya juga baik. Paham kalian," ucapnya tegas.


Dean kembali pada meja di mana Ara sedang menunggu. Ara tampak tersipu malu mendengar apa yang dikatakan oleh Dean pada anak-anak SMU tadi.


Setelah rotinya di berikan, Dean kembali menggendong Ara dan mereka masuk ke mobil. Tidak lama mobil mereka sampai di depan rumah Ara.


Dean turun dan menggendong Ara. Di depan pintu Ara menekan tombol bel dan ternyata Nala yang membukakan pintunya.


"Ara, kamu--?" Nala melihat ke arah Dean. "Ini siapa? Dan kenapa kamu pulang tidak bersama Aro?"


"Aku tidak bisa menghubungi ponsel Aro, Ma. Entah ke mana dia?"


"Ya sudah kalian masuk dulu." Dean membawa Ara masuk dan mendudukkan di atas sofa.


"Ma, dia Dean. Dia teman masa kecilku dulu. Mama masih ingat, kan?"

__ADS_1


"Oh ... jadi ini yang namanya Dean. Kamu sudah besar dan berubah, kamu sangat tampan Dean," puji Nala.


"Terima kasih, Tante. Kalau begitu saya permisi dulu."


"Eh kamu mau ke mana? Nanti saja pulangnya. Kamu makan siang dulu di sini sekalian tante mau mengucapkan terima kasih sama kamu karena kamu waktu itu sudah menolong Ara."


"Terima kasih, Tante, tapi saya harus segera pulang karena nenek saya sudah menunggu di rumah."


"Nenek kamu? Oh iya! Tante baru ingat jika kamu dulu tinggal dengan nenek kamu juga, waktu kecil itu, tante kan yang bertemu dengan nenek kamu?"


"Iya." Dean mengangguk. "Kalau begitu saya permisi pulang dulu?"


"Dean bagaimana keadaan nenek kamu?"


"Nenek saya sehat."


"Kalau begitu sampaikan salam tante buat nenek kamu, kapan-kapan kamu bisa ajak keluarga kamu ke rumah. Tante akan sangat senang hati menerima kedatangan keluarga kamu, Dean.


Dean tampak terdiam sejenak. Lalu dia mengangguk dan meminta izin pergi dari sana.


"Mama kenapa malah mengundang keluarga Dean ke sini?"


"Memangnya kenapa? Dean sudah sangat baik sama kamu, sudah sepantasnya kita membalas kebaikan dia. Mama juga ingin tau keluarga dia, siapa tau besok-besok bisa jadi besan mama." Setelah mengatakan hal itu Nala berjalan menuju dapur.


"Mama!" seru Ara kaget mendengar ucapan Mamanya. Tidak lama Nala datang dan membawa segelas air untuk Ara.


"Sayang, mulai hari ini Uni akan tinggal di sini bersama kita, dia sedang ada di dalam kamar kamu untuk membersihkan kamar kamu."


"Uni tinggal di sini? Memangnya dia tidak akan di cari oleh Tantenya?"


Nala menceritakan apa yang barusan menimpa Uni dan Ara sangat terkejut. "Jadi mulai sekarang dia akan tinggal di sini daripada di rumahnya dia di perlakukan sangat buruk oleh tante dan sepupunya. Kamu tidak keberatan, Kan?"


"Tentu saja aku tidak keberatan, aku malah senang kalau dia mau di sini. Dia juga boleh tidur di kamarku bersamaku."


"Untuk sementara dia akan tinggal dan tidur di kamar nenek Anjani sambil menunggu gudang di sini dibangun untuk menjadi kamarnya."


"Ma, aku ingin ke kamarku, apa Mama bisa membantu aku ke dalam?"

__ADS_1


"Tentu saja, sayang." Nala mencoba membantu Ara berjalan perlahan-lahan. Saat membuka kamarnya, Ara melihat Uni sedang mengganti seprei kamar Ara.


__ADS_2