
Pria yang tadi menyapa Uni di bawah masuk ke dalam kelas di mana Uni berada. Dia duduk tepat di depan meja Uni.
"Uni," panggilnya.
Uni yang kepalanya tertunduk seketika mengangkat kepalanya dan melihat pria itu duduk di depannya.
"Rendy, kamu ada apa ke sini?" Kedua alis Uni mengkerut.
"Uni, apa benar kamu sudah punya kekasih? Apa benar dia kekasih kamu?"
Uni bingung mau menjawab apa? Dia saja masih belum mengakui Aro kekasihnya. "Memangnya kenapa kalau aku sudah punya kekasih?"
"Aku ingin kita bisa balikan seperti dulu, Uni. Aku masih mencintai kamu." Pria bernama Rendy itu tiba-tiba memegang tangan Uni.
"Ren, kamu apa-apaan?" Uni menarik tangannya, tapi Rendy kekeh memegang tangan Uni dengan kuat. "Ren, lepaskan!"
"Jawab aku, Uni? Aku mencintai kamu dan aku ingin kita balikan seperti dulu. Aku mau tidak akan takut jika tante kamu menentangnya."
"Rendy, maaf, aku tidak bisa menerima kamu lagi. Kita lebih baik bersahabat saja seperti ini."
"Apa karena pria itu lebih tampan, gagah, dan kaya, maka dari itu kamu menerimanya dan tante kamu menyetujuinya?" seketika suara Rendy terdengar marah.
"Kamu salah, bukan karena itu, tapi ada hal lainnya dari itu. Aku mencintainya, dan asal kamu tau aku sudah tidak tinggal dengan tanteku, aku memilih tinggal sendiri, dan aku mohon kamu bisa menerima tentang perpisahan kita dulu."
"Kalau kamu butuh seseorang yang bisa mencukupi kehidupan kamu, aku juga bisa Uni. Aku bekerja di tempat ayahku dan gajiku lumayan banyak. Aku mohon kembalilah denganku."
"Rendy, cerita kita sudah berakhir lama, dan jangan berpikir jika aku berpacaran dengan pacarku sekarang itu karena di lebih kaya atau segalanya kamu salah besar, aku bahkan masih memiliki harga diri, aku bisa bekerja dengan kemampuanku sendiri."
Saat Rendy ingin melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba anak-anak lainnya sudah masuk dan Uni menyuruh Rendy keluar dari kelasnya.
Beberapa jam kemudian, tepatnya jam istirahat. Di kampus Ara, dia sedang duduk bersama dengan teman-temannya di kantin. Dari kejauhan, Ara melihat Dean berjalan menuju perpustakaan sendirian.
"Eh aku mau ke kamar mandi sebentar ya?" Ara bergegas pergi dari kantin.
"Dia kenapa sih? Kenapa terlihat seolah terburu-buru begitu?" Sifa melihat aneh pada Ara.
"Mungkin kebelet banget dia." Mereka terkekeh pelan.
Ara berjalan dengan cepat ingin mengejar Dean. "Dean!" teriaknya.
Pria yang di panggil oleh Ara seketika berhenti dan menoleh. "Ara, ada apa?"
__ADS_1
"Kamu mau ke mana?"
"Aku mau ke perpustakaan untuk mengembalikan buku ini."
"Buku? Kamu suka membaca juga?".
"Memangnya apa yang kamu baca?" Ara mencoba mencari tau, tapi kelihatannya Dean menyembunyikan apa judul bukunya. "Kenapa disembunyikan? Apa kamu meminjam buku yang aneh ya?" Ara malah menggoda Dean.
"Bukan buku yang aneh, hanya saja mungkin kamu akan menertawaiku nantinya."
"Apa, sih? Kamu membuat aku penasaran saja. Boleh liht tidak?" Tangan Ara meminta agar buku itu di pinjamkan pada Ara.
"Maaf, aku tidak bisa memperlihatkan sama kamu, aku mau kembalikan saja." Saat Dean akan berjalan pergi, dengan cepat Ara mengambilnya. Dean yang melihat itu langsung mengejarnya dan terjadilah perebutan diantara mereka.
"Auw!" Ara telah di kunci oleh Dean pada dinding, jarak mereka sangat dekat dan terlihat sepasang mata itu saling memandang lekat. Hanya buku yang di bawa oleh Ara yang menjadi pembatas untuk mereka.
Tanpa sadar tangan Dean mengusap lembut pipi Ara. "Aku minta maaf." Dean langsung mengambil buku dari tangan Ara.
"Dean, kenapa kamu minta maaf sama aku?"
"Aku minta maaf karena sampai membuat kamu terbentur seperti itu. Sebenarnya ada hal yang di sembunyikan oleh Dean pada Ara.
Dean tidak menjawab hanya tersenyum dan dia berbalik dan akan pergi ke ruang perpustakaan. "Ara." Dean berbalik dan memperlihatkan buku yang dia pinjam
Seketika Ara tersenyum kecil membaca apa judul buku yang di baca oleh Dean. Dean membalikkan kembali badannya dan pergi dari sana.
Jam pulang sudah tiba, Ara keluar dari dalam kelasnya dan dia agak kaget melihat ada David sudah berdiri di sana.
"Hai, Ara!"
"David? Kamu ada apa ke sini, dan bagaimana kamu bisa tau aku kuliah di sini?"
"Aku tadi ke rumah kamu untuk mengantarkan bingkisan dari tanteku buat mama kamu, dan aku bertanya serta meminta izin untuk menjemput kamu dan sekalian aku mau mengajak kamu makan siang di luar."
"Makan siang di luar?"
"Iya, kamu mau, Kan?"
"Em ... bagaimana, ya?" Ara berpikiran sebentar.
"Ayolah, sebentar saja, lagian aku kebetulan habis meeting dengan klienku di dekat sini juga dan ini masih jam makan siang."
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu."
"Ara, dia siapa? Kenapa tidak di kenalkan sama kita?" Marta yang tiba-tiba melihat dua orang itu sedang asik berbicara.
"Iya, ini. Apa dia kekasih kamu?" lanjut Sifa.
"Bukan, ini David dan dia adalah keponakan dari tanteku, masih keluarga jauh dari ayahku."
"Halo, perkenalkan namaku David." David mengulurkan tangannya pada teman-teman Ara dan mereka berkenalan satu persatu.
"Kamu sepertinya seorang eksekutif muda ya?" tanya Marta.
"Aku hanya pegawai kecil di perusahaan. Senang berkenalan dengan kalian."
David ini memang pria yang sopan dan bisa membawa diri. "Kamu tampan sekali, apa benar kamu dan Ara tidak memiliki hubungan apa-apa?" telisik Marta.
"Kami ini barusan kenal kemarin malam, Marta. Kamu kenapa curiga begitu."
"Iya, kamu berharap jika David adalah pacar Ara jadi kamu masih mempunyai kesempatan untuk mendapatkan Dean?" celetuk Sifa.
"Apa sih?"
"Memangnya Ara sudah punya kekasih di sini?"
"Oh, tidak! Dia tidak punya pacar sama sekali. Kami ini hanya suka menjodohkan Ara saja sama salah satu anak populer di kampus ini," terang Tania.
"Oh! Bagus kalau begitu," celetuk David.
"Bagus, apaanya?" Kedua alis Ara mengkerut heran.
"Bagus maksudnya, aku nanti tidak dikira ingin merebut pacar seseorang, aku tidak mau memilki masalah dengan seseorang."
"Kamu tenang saja. Ara ini tidak punya pacar dia masih sendirian."
"Sudah yuk David, kita pergi saja dari sini nanti jam makan siang kamu keburu habis."
"Ya sudah kalau begitu. Oh ya! Apa kalian mau ikut makan siang juga bersama aku dan Ara?"
"Tidak, terima kasih, kalian makan berdua saja, have fun ya," Tania dengan cepat menolaknya karena dia tidak mau mengganggu Ara dan David berdua.
David dan Ara pergi dari sana. Di dalam mobil David bertanya, Ara mau makan di mana? Ara sendiri tampak bingung, dia jarang makan di cafe-cafe begitu.
__ADS_1