My Secret Love

My Secret Love
Perasaan yang Sulit di Jelaskan


__ADS_3

Uni sudah bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan pagi keluarga Nala. Saat Uni sedang memasak, tiba-tiba dia dikejutkan oleh sebuah tangan yang melingkar pada perutnya dan merasakan ciuman tepat di dibelakang kepalanya.


Uni sampai berjingkat kaget menoleh pada seseorang yang ada di belakangnya. "Aro! Kamu jangan begini, nanti kalau ada yang melihat bagaimana?"


Aro melepaskan tangannya dan berdiri tepat di samping Uni. "Tenang saja, tidak ada yang melihat. Mereka masih di dalam kamar semua. Kamu pagi-pagi begini kok sudah bangun? Apa tidak mengantuk?"


"Aku sudah biasa, Aro. Di rumahku dulu juga begitu. Pulang dari tempat kerja, aku masih harus membereskan rumah dan peralatan yang tante dan sepupuku tidak pernah mau membereskannya. Terus paginya aku harus bangun pagi untuk memasak."


"Apa sepupu dan tante kamu tidak pernah melakukan pekerjaan rumah?"


"Pernah, mengelap barang-barang kesayangan mereka saja."


"Pekerjaan apa itu?"


"Sayang, kamu kok sudah bangun?" Nala melihat putranya yang tumben pagi-pagi begini sudah bangun, tidak seperti biasanya.


"Aku lapar, Ma, dan kebetulan Uni sudah membuat sarapan."


Kedua mata Nala melihat curiga pada putranya, apalagi Nala juga melihat gelagat Uni yang tampak tegang. "Kamu kenapa, Uni? Kenapa kelihatan tegang begitu?"


"Sa-saya tidak apa-apa, Ibu Nala."


"Uni kan memang aneh, dia kalau aku dekati seperti melihat hantu saja, ketakutan sendiri." Aro mengambil brokoli goreng tepung yang di buat oleh Uni.


"Kamu kan memang menakutkan," gerutu Uni. Nala yang mendengarnya malah terkekeh.


"Enak saja." Aro pergi dari sana dan Uni melanjutkan membuat sarapan untuk seluruh anggota keluarga.

__ADS_1


Mereka sudah bangun semua dan makan bersama tak terkecuali juga Uni. Setelah Itu Uni dan Ara serta Aro berangkat ke kampus diantar oleh Aro.


"Kalian semalam berdua kenapa berisik sekali?"


"Semalam?" Uni menoleh ke arah kursi belakang di mana ada Ara sedang duduk santai sambil memegang ponselnya


"Apa semalam kamu mengintip aku dan Uni di ruang cuci, Ara?" Aro berkata to the poin karena dia tau arah pembicaraan Ara.


"Apa? Jadi kamu semalam tau aku dan Aro ada di ruang cuci?"


"Hihihi! Tentu saja aku tau. Aku melihat kalian menjemur pakaian di halaman belakang."


"Ya ampun!" Uni tampak malu dan kembali membenarkan posisi duduknya menghadap ke depan, dia tidak berani melihat pada Ara.


"Kalian ini pasangan yang romantis, unik, dan lucu. Senang melihat kalian jika bersama, kenapa tidak katakan sama mama dan ayah saja tentang hubungan kalian ini?"


Uni seketika menoleh lagi pada Ara. "Ara, aku mohon jangan memberitahu hal ini. A-aku--?" Uni bingung mencari alasan apa.


"Enak saja! Uni yang melarangku, aku tidak takut mengatakan kepada kedua orang tua kita tentang hubunganku dengan Uni, tapi aku tidak mau membuat kekasihku ini nanti jatuh pingsan atau dia malah mengancam akan pergi dari rumah."


"Kenapa sih Uni kamu tidak mau mengatakan hal ini?"


"Aku belum siap saja. Apalagi aku hanya seorang pelayan di rumah kalian," ucapnya lirih sambil melirik Aro karena takut di cium di depan Ara. "Jangan membuat aku berada pada masalah nantinya."


"Ya sudah kalau begitu. Aku menghormati keputusan kamu saja."


Tidak lama mereka sampai di kampus Ara, Ara berpamitan pada Uni dan Aro. Dia segera naik ke lantai atas kelasnya. "Dean," sapa Ara melihat Dean berada di anak tangga.

__ADS_1


"Hai, Ara."


"Oh iya! Apa buku kemarin sudah benaran kamu kembalikan?"


Dean tidak menjawab malah langsung tersenyum. "Kamu sengaja meledekku karena membaca buku seperti itu?"


"Tidak, siapa yang meledek kamu? Aku cuma agak kaget saja, seorang Dean yang banyak di sukai cewek di kampus ini membaca buku cara mendapatkan hati seorang dengan baik."


"Ara, jangan di bahas di sini."


"Hihihi! Maaf, kamu malu ya? Kamu itu benaran aneh. Kan, kamu tidak perlu membaca buku seperti itu para gadis itu mau menjadi kekasih kamu."


"Bukan mereka yang aku inginkan, Ara. Gadis ini berbeda, dia lebih lembut, polo dan lugu. Dia juga tidak pernah memikirkan tentang suatu hubungan."


"Wah! Agak susah sepertinya gadis yang kamu inginkan itu."


Dean masih menatap lekat pada Ara. Ara malah terlihat seperti sedang berpikir.


"Aku malah bingung sekarang."


"Bingung kenapa?"


"Orang tuaku malah ingin menjodohkan aku dengan David."


"Menjodohkan kamu dengan David? Lalu kamu menyetujui hal itu?"


"Aku bilang sama mamaku kalau aku masih belum memikirkan tentang hal itu. Namun, aku juga sebenarnya tidak enak sama David dan keluarganya karena kamu tau sendiri kalau David itu pria yang baik."

__ADS_1


"Iya, dia memang baik, kalau di lihat kamu juga cocok dengannya, kamu pasti sangat bahagia dengan David nantinya jika kalian menikah."


Ara terdiam sejenak. "Apa menurutmu begitu?" Ara bertanya lirih pada Dean. Sekarang gantian Dean yang terdiam mendengar pertanyaan Ara.


__ADS_2