
Mereka makan pagi bersama hari ini, Kei dan Addrian menghabiskan waktu bersama dengan keluarganya, apalagi di sana ada Rhein, hanya
kurang Orlaf. Orlaf berada di London dan dia tidak bisa datang ke Indonesia.
“Rhein, nanti ikut mommy dan Daddy pulang. Mommy ingin mengajak kamu berbicara hal yang penting.”
“Bicara tentang apa, Mom?”
“Mommy ingin mengenalkan kamu dengan anak dari teman, Mommy. Dia seorang perancang busana dan sekarang dia masih berada di Sydney karena ada pameran untuk rancangan baju terbarunya. Kalian pasti akan sangat cocok sekali.”
Rhein hanya terdiam tidak menanggapi ucapan mommynya. “Iya, Rhein. Daddy yakin kalian akan sangat cocok jika bersama, kalian juga bisa bekerja sama dengan baik nantinya.”
“Bis tidak kita tidak perlu membahas diriku dan jodohku? Aku masih tidak mau memikirkan hal itu, aku masih mau fokus menjalani bisnisku
saja. Soal menikah, nanti aku saja yang akan memutuskan.”
“Kenapa? Kamu masih menunggu siapa? Nala sudah menjadi milik kakak kamu?” celetuk Akira.
“Aku menunggu seseorang yang seperti Nala, siapa tau masih ada wanita seperti Nala,” jawab Rhein santai.
“Kalian ini. Di sini ada kedua cucuku yang sangat pandai, nanti mereka kalau bertanya bagaimana?” Kei berkata dengan pelan.
Aro dan Ara saling melihat satu sama lainnya. “Kalian bicara hal tentang urusan orang dewasa? Kami tidak akan mau tau, Kok. Ya kan, Aro?” tanya Ara kepada saudara kembarnya. Aro menganggukkan kepalanya.
“Iya, Sayang. Kalian pandai sekali.”
“Kalau begitu kalian ikut nenek Anjani bermain di sana karena oma dan opah kalian mau berbicara dengan ayah dan Paman kalian.” Bibi
Anjani mengajak mereka pergi dari sana dan menuju tempat bermain mereka.
“Rhein, apa kamu tidak mau berumah tangga seperti Akira kakak kamu?” tanya Kei.
“Tentu saja mau, hanya saja aku masih belum memikirkannya sekarang. Aku masih menikmati hidupku, Mom.”
“Hem ...! Susah sekali berbicara dengan putraku satu ini.” Kei menghela napas pelan.
__ADS_1
“Sudah! Biarkan saja kalau begitu, tapi kamu tetap harus mau berkenalan dengan anak dari teman mommy kamu, Rhein. Bagaimanapun mommy kamu sudah bicara dengan temannya itu, kasihan jika tiba-tiba kamu tidak mau
menemuinya, setidaknya kamu temui dia kalau kalian memang tidak cocok nanti bisa dibicarakan.”
“Terserah,” ucapnya santai.
“Atau kamu sebenarnya sudah memiliki seseorang di sana, Rhein? Hanya saja kamu tidak mau mengenalkan dia dengan Mommy dan Daddy karena kamu belum yakin?” Nala melihat curiga pada Rhein.
Rhein menatap Nala dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. ‘Kenapa dia tau sekali apa yang ada di dalam hatiku?’ Rhein berkata dari dalam hatinya.
“Apa benar yang dikatakan istriku, Rhein.
“Tidak ada. Sudahlah! Aku tidak mau membahas ini.”
Setelah beberapa jam di sana. Kei dan Addrian memutuskan untuk pulang agar mereka semua bisa bersiap-siap. Di dalam kamarnya, di mana
Nala dan Akira akan bersiap-siap untuk menghadiri acara perusahaan daddynya.
“Sayang, ini pertama kalinya aku hadir di acara besar keluarga kamu. Entah kenapa aku seolah tidak percaya diri datang ke sana,” ucap
Nala lirih.
“Iya, aku tau, tapi kenapa aku merasa aku tidak pantas hadir di sana, aku tidak mau membuat malu keluarga kamu kalau mereka tau siapa yang dinikahi oleh Akira Danner.”
“Memangnya kamu kenapa? Apa karena kamu bukan dari golongan kelas atas seperti keluargaku? Nala, keluargaku sudah tidak memikirkan hal itu lagi. Kamu sudah menjadi keluarga Danner jadi kamu tidak perlu memikirkan halbitu lagi.”
“Aku hanya takut sendiri, Akira.”
“Kalau mereka melihat kamu seperti ini, mereka tidak akan ada yang mengira jika istriku bukan dari kalangan orang biasa. Kamu cantik sekali malam ini.”
Akira melihat penampilan Nala dari atas sampai bawah. Gaun berwarna silver dengan banyak gliter menyebar di seluruh gaun dan ada belahan panjang pada paha Nala. Pada bagian atas tertutup rapat dan lengan panjang.
Nala menyanggul rapi rambutnya ke atas.
“Kamu juga tampan sekali malam ini, Sayang.” Akira pun tampak menggunakan tuxedo dengan warna senada, sepertinya mommy Kei memang memilihkan baju couple khusus untuk keluarga Akira.
__ADS_1
“Benarkah?” Akira mendekat dan dia mendekatkan bibirnya pada bibir Nala. Mereka saling berciuman dengan mesra seolah lupa jika mereka harus segera pergi ke acara pesta perusahaan daddynya.
“Selamat hari ulang tahun pernikahan kita, Nala,” ucap Akira saat ciuman mereka terlepas.
Nala agak terkejut. “Hari ulang tahun pernikahan kita? Aku benar-benar lupa jika hari ini adalah hari spesial pernikahan kita.”
“Aku ingat, dan sebenarnya aku ingin mengadakan acara, tapi aku masih menunggu hari yang tepat untuk mengatur semua ini.”
Nala menangis terharu sambil memeluk suaminya. “Aku minta maaf karena aku benar-benar tidak ingat dengan hari spesial pernikahan kita. Aku tidak menyiapkan apa-apa untuk kamu.” Nala mengusap pipi Akira.
“Tidak perlu menyiapkan apa-apa. Aku tidak membutuhkan apa-apa dari kamu karena bagiku kamu adalah segalanya apalagi kamu sudah memberikan dua malaikat kecil yang
sangat lucu dan berarti bagiku.”
Nala kembali mendaratkan ciumannya pada Akira. “Kamu juga sangat berarti bagiku, Akira.”
“Nanti malam aku akan menagih kado dari kamu, kado seperti kemarin malam.” Akira memberi lirikan genit pada Nala.
“Aku akan memberinya dengan senang hati, bahkan kalau kamu kuat aku akan melayani kamu sampai pagi.”
“Aku akan menangih nanti malam.” Saat Akira akan mencium Nala lagi, tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk oleh seseorang dari luar.
“Mama, Ayah, apa kita sudah bisa pergi sekarang? Aku dan Ara serta nenek Anjani sudah menunggu dari tadi,” ucap si kecil Aro dari luar.
Nala dan Akira yang mendengar hal itu tersenyum kecil di dalam kamar mereka. “Putramu, itu. Dia seolah tau saja waktu yang tepat untuk mengganggu kedua orang tuanya."
“Ayo kita keluar sebelum kedua anak kita nanti banyak yang ditanyakan kenapa kita lama sekali di dalam kamar.”
Nala menggandeng tangan Akira dan mereka keluar dari dalam kamar. Nala terkejut melihat penampilan kedua anaknya yang sangat cantik dan tampan. Si kecil Ara memakai gaun dengan rok tutu dan ada pita melingkar di pinggangnya serta sepatu flat berwarna silver seperti warna gaunnya.
“Kamu seperti princes di negeri dongeng sayang.” Nala mencubit pipi Ara.
“Putra ayah ini juga sangat tampan, baju kamu sama seperti milik ayah.”
“Iya, Kamu juga sangat tampan,” puji Nala.
__ADS_1
“Ayo kita berangkat sekarang, jangan sampai kita datang terlambat ke sana.” Bibi Anjani mengajak mereka segera berangkat agar tidak
terlambat.