
Nala kembali membalikkan tubuhnya membelakangi Akira. Dia ingin menyembunyikan air matanya, banyak sesuatu yang berkecambuk di dalam hatinya saat ini. Sedangkan Akira malah semakin mendekap Nala dari belakang. “Kamu kenapa?” Nala menggelengkan pelan kepalanya.
“Aku butuh waktu, Akira. Aku butuh waktu untuk semua ini, aku ingin benar-benar meyakinkan diriku untuk percaya dengan semua yang kamu
katakan,” Nala terisak pelan.
“Kemarilah, Sayang.”Akira menolehkan lagi tubuh Nala ke hadapannya. Tangan Akira menghapus air mata Nala. “Jangan menangis lagi, sudah cukup air mata yang kamu keluarkan karena aku. Kita akan hidup bahagia bersama kedua anak kita dan Bibi Anjani. Atau aku akan memberikan semua yang aku milii
untuk kamu, jadi kalau aku menyakiti kamu lagi, aku akan hidup menderita.”
“Aku tidak butuh apa-apa dari kamu, Akira, aku hanya butuh kehidupan yang damai, bahagia bersama dengan orang-orang yang aku cintai. Harta dan kekayaan itu aku tidak membutuhkan sama sekali.”
“Aku tau itu karena itu aku mencintai kamu Nala, dan aku tau kenapa aku bisa jatuh cinta sama kamu.”
Akira mengecup Nala sekali lagi, kali ini lebih dalam dan mulai menjalar pada leher Nala. Nala pasrah seolah dia juga menginginkan hal
itu. Sekarang Akira malah berpindah posisi, dia agak berdiri dan membuka baby doll model daster milik Nala. Tangannya mulai bergerilya di atas tubuh Nala.
“Akira, aku sedang hamil,” seketikan ucapan Nala menghentikan gerakan Akira mulai terbawa suasana.
“Oh Tuhan!” Akira seolah seperti prajurit yang kalah perang dia menenggelamkan mukanya pada bantal di sebelah Nala, Nala menutupi tubuhnya dengan selimut.
“Besok kita ke dokter saja, Ya?” Akira bertanya pada Nala.
“Untuk apa? Bukannya bulan ini kita sudah ke dokter dan vitaminku masih banyak.”
“Untuk berkonsultasi.”
“Bayiku baik-baik saja,” ucap Nala polos.
“Bayiku memang baik-baik saja, tapi aku yang tidak baik-baik saja kalau dekat sama kamu,” balas Akira.
Nala tau maksud Akira, dia jadi bingung kalau begini, di lain sisi dia entah kenapa hari ini rasanya juga menginginkan Akira, tapi di
sisi lain dia masih berpikir apa benar jika dia mau menerima ajakan berhubungan
Akira, walaupun mereka masih suami istri. Benar-benar hal yang membingungkan.
__ADS_1
“Kita tidur saja. Bajuku mana?” Nala mencari bajunya dia melepaskan selimutnya dan mencari bajunya yang entah di lempar ke mana sama Akira.
Akira mengusap mukanya kasar melihat Nala yang masih terlihat sexy walaupun perutnya mulai agak terlihat buncit. Akira tersenyum
sendiri. Nala mendapatkan bajunya dan kemudian dia memakainya. Nala kembali
beranjak ke atas ranjang dan tidur membelakangai Akira.
“Aku cari saja informasinya di media sosial tentang boleh apa tidak melakukan hubungan saat istri sedang hamil kembar.” Akira segera
mencari ponselnya dan duduk bersandar dengan sibuk dengan ponselnya.
Nala menoleh melihat ke arah suaminya. “Ini sudah malam, sebaiknya kita tidur saja. Lagian kalau membaca itu belum tentu seratus persen
benar. Lebih baik memang bertanya pada dokter atau Ayu.”
“Ayu? Bidan di dekat tempat tinggal kamu itu?” Nala mengangguk. “Baiklahm besok kita tanyakan saja sama dia.”
“Eh jangan!” seru Nala secepatnya.
“Kenapa?”
Akira meletakkan ponselnya. “Masih marah sama aku? Belum percaya sama aku? Kalau begitu kita ke rumahku besok, akan aku perkenalkan kamu sama kedua orang tuaku sebagai istri dan calon ibu dari anak-anakku.”
“Akira, aku mau tinggal dulu di sini, aku merasa lebih tenang di sini.”
“Ya sudah, tapi kita mulai sekarang tinggal bersama. Aku akan menuruti apa mau kamu, kamu boleh bekerja, tapi pulangnya tetap di sini sama aku. Bagaimana? Aku ingin bertanggung jawab dan menjadi kalian bertiga.” Nala
terdiam sejenak. “Memikirkan apa?”
Nala menatap Akira dalam-dalam. “Iya, aku mau, tapi sesekali aku boleh kan menginap di rumah Seno? Di sana ada bibiku.”
“Kalau mau aku akan membukakan kamar untuk bibi kamu di sini jadi tidak perlu merepotkan keluarga Seno.”
“Bibiku tidak akan mau, aku pernah meminta Seno mencarikan tempat tinggal di sana, tapi Bibi Sekar tidak mengizinkan, aku dan bibi Anjani boleh tinggal di sana selamanya juga boleh.”
“Ya sudah aku mengikuti apa mau kamu saja kalau begitu.”
__ADS_1
“Di kantor juga kita seolah hanya atasan dan bawahan ya? Aku mau bekerja tanpa mereka tau tentang hubungan kita.”
“Iya,” jawab Akira malas. Ini Akira mikir kenapa dengan permintaan istrinya yang aneh-aneh ini. Apa karena memang Nala masih ada
sedikit keraguan? Dia akan mengikuti saja kemauan Nala.
“Ya sudah kalau begitu kita tidur saja, aku besok juga masih harus bekerja.” Nala kembali membelakangi Akira. Akira memilih memeluk guling saja daripada dia nanti minta hal itu pada Nala. Dia tidak mau sampai nanti membuat Nala dan bayinya kenapa-napa.” Nala tersenyum melihat hal itu.
Keesokan harinya, Nala sudah terbangun dan mandi, dia membuatkan teh hangat untuk Akira dan dirinya. Nala kemudian naik ke atas
ranjangnya untuk membangunkan Akira yang masih tidur dengan memeluk gulingnya.
“Pak Akira bangun, Bapak tidak mau pergi ke kantor?” bisik Nala.
“Kenapa kamu memanggilku bapak? Memangnya kita seperti atasan dan bawahan yang sedang berselingkuh di hotel?” Tangan Akira menarik leher Nala perlahan dan mengecup pipi Nala.
“Akira, jangan begitu, perutku jadi sakit,” eluh Nala.”
“Apa? Perut kamu sakit?” Akira langsung terbangun dan duduk melihat perut Nala. “Aku minta maaf, apa masih sakit? Kita ke dokter?
“Tidak, Cuma kalau aku menekuk seperti itu perutku tidak enak.”
“Sayang, maafin ayah ya? Ayah kelepasan melihat wajah cantik ibu kamu?” Akira
mengusap perlahan perut Nala dan menciumnya. Nala yang melihat hal itu merasa
sangat terharu. Akira terlihat sangat menyayangi anaknya.
Tok ... tok ... tok
Tidak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Akira. Siapa pagi-pagi begini mengetuk pintu? Apa pembersih kamar?
Nala turun dari atas ranjang dan membuka pintunya, ternyata seorang laundry baju yang mencuci seragam Nala. Nala mengucapkan terima kasih dan membawanya masuk.
"Aku ganti baju dulu, ya. Setelah itu kamu bisa mandi. Aku sudah membuatkan teh hangat untuk kamu." Nala membawa seragamnya masuk ke dalam kamar mandinya.
Kakak aku Cuma mau menginfokan , jika ini tamat aku tidak bisa lanjutin cerita Rhein di novel baru kalau mau dapat bonus novel tamat
__ADS_1
karena jika ini tamat, harus buat cerita baru bukan sekuel dari novel tamat
ini. Jadi mungkin cerita Rhein aku gak jadi tulis.