My Secret Love

My Secret Love
Acara Bazar part 2


__ADS_3

Uni akhirnya tidak duduk dengan Aro. Uni lebih memilih makan di dapur sambil menunggui air gula yang sedang di masaknya. Uni makan dengan tidak berselera.


"Ma, Ayah. Aku sudah selesai." Aro beranjak dari tempatnya.


"Aro! Aku kan belum selesai makan? Kamu kenapa cepat sekali? Itu di piring kamu masih ada sisa makanannya."


"Aku sudah kenyang, kamu makan saja, aku akan menunggu kamu di dalam mobil."


"Kamu kenapa tumben tidak mau menghabiskan makanan kamu? Apa masakan Uni tidak enak?" tanya Nala.


"Enak, tapi aku memang sedang tidak mood makan. Semalam juga terlalu banyak makan dengan Sifa."


"Kamu serius kemarin kencan dan sampai makan malam dengan Sifa?" tanya Ara penasaran.


Aro melihat Uni berjalan ke meja makan dengan membawa air gula yang sudah jadi. "Tentu saja, tidak hanya berjalan-jalan, aku juga mengajak Sifa makan malam berdua, apalagi di sana tempatnya sangat indah. Sifa juga bercerita banyak kalau dia habis putus dengan kekasihnya."


"Auw!" Tiba-tiba Uni berteriak kesakitan.


"Uni, kamu tidak apa-apa?" tanya Akira cemas.


Uni menggeleng sambil meniup jarinya yang ternyata tidak sengaja terkena air gula panas. "Tidak apa-apa ayah Akira. Aku yang ceroboh."


"Lain kali hati-hati, Uni."


"Iya." Uni menutup tempat air gulanya dan samar melirik pada Aro yang juga menatapnya tajam.


"Ara, sebaiknya kalian pergi sekarang saja. Aro mungkin sudah di tunggu oleh teamnya untuk memulai mempersiapkan acara bazar di kampusnya."


"Iya, Ma."


Mereka bertiga berpamitan lalu keluar dari dalam rumah. Aro masuk ke dalam mobil dan duduk di depan, sedangkan Uni memilih duduk di belakang. Tidak lama Aro mendapat panggilan dari Sifa.


"Halo, Sifa."


"Aro, apa kamu tidak mau menjemput aku?"


"Apa?"


"Rencana kita? Kamu jemput aku seolah-olah kamu dan aku ada hubungan."

__ADS_1


"Sebentar aku keluar dulu." Aro keluar dari dalam mobil. Ara dan Uni saling berpandangan di dalam mobil.


"Aro, apa kamu sedang bersama Uni?"


"Iya, kita mau berangkat ke kampus. Maksud kamu apa dengan menjemput kamu?"


"Ck! Kamu itu kenapa begitu tidak pintar sih, Aro? Kamu jemput aku juga seolah-olah kamu ada hubungan denganku setelah kencan malam itu. Apa kamu tidak mau melihat Uni cemburu dan akhirnya mengakui kalau dia mencintai kamu?"


"Kamu sedang tidak mencari kesempatan dalam kesempitan karena aku membutuhkan bantuan kamu, Kan?"


"Ya sedikit lah, Aro. Kapan lagi aku di jemput oleh pria mempesona seperti kamu. Naik mobil juga. Aku biasanya di ajak naik motor mulu, kadang-kadang motornya mogok dan aku ikutan dorong."


"Iya, aku jemput." Aro menutup panggilannya dan masuk kembali ke dalam mobil. "Ara, kamu bisa duduk belakang saja."


"Loh! Kenapa?"


"Aku akan menjemput Sifa dan nanti dia akan duduk di depan denganku."


"Apa? Aro, kamu ini serius sama Sifa? Kamu kenapa sampai segitunya? Kamu pasti hanya bercanda dengan Sifa. Sifa itu tidak cocok sama kamu, dia itu agak playgirl. Ya! Walaupun dia temanku, tapi aku tidak mau kamu sebagai saudaraku nantinya bisa disakiti dia."


"Aku yakin, Sifa tidak akan menyakitiku, setidaknya dia tulus menyukaiku tanpa tekanan."


"Uni, kamu apa tidak mau berkata apa-apa sama Aro?" Uni menggelengkan kepalanya. "Kalian sudah benaran putus?"


"Kami tidak pacaran Ara. Aro berhak melakukan apapun yang dia inginkan," ucapnya lirih.


Beberapa menit kemudian mobil Aro sudah sampai di depan rumah Sifa. Sifa tampak bahagia.


"Halo, semua. Eh aku duduk di mana?" Sifa melihat di balik jendela yang di buka oleh Aro.


"Kamu duduk di depan denganku, Sifa. Ayo masuk! Aku tidak mau terlambat ke kampus."


"Wah! Aku duduk di depan? Baiklah." Sifa tampak senang dan dia langsung masuk dan duduk tepat di samping Aro.


"Pakai sabuk pengaman kamu, Sifa." Aro mencoba memasangkan sabuk pengaman pada Sifa. Uni yang melihatnya seketika memalingkan wajahnya tidak mau melihat hal yang ada di depannya.


"Terima kasih, Aro." Aro segera menjalankan mobilnya. "Ara, Uni, kalian kok diam saja? Apa kaget melihat aku di sini?"


"Tentu saja kaget, kamu ini apa memberi bubuk sihir pada saudaraku? Kenapa Aro jadi berubah begini dalam waktu semalam?"

__ADS_1


"Sihir apa, Ara? Sifa itu tidak memberi apa-apa, kalau aku dan Sifa akhirnya dekat, wajar saja kan? Sifa tidak punya pacar, aku juga, jadi apa salahnya."


"Iya, tapi--. Ah sudahlah! Sifa, kamu jangan mempermainkan Aro, ya? Atau pertemanan kita jadi taruhannya," ancam Ara.


"Kamu tenang saja. Mana mungkin aku mempermainkan pria seperti Aro. Dia sulit di taklukkan dan dia sangat baik dan romantis. Hanya gadis bodoh yang menyia-nyiakan pacar seperti Aro."


Uni lagi-lagi hanya terdiam di tempatnya. Ara cuma menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Sifa. Tidak lama mereka sampai di kampus Ara. "Sifa, nanti aku tidak bisa menjemput kamu. Ara dan Uni nanti pulang sendiri. Maaf, Ya?"


"Tidak apa-apa, nanti aku bareng sama Tania saja. Hati-hati ya Aro."


Uni pun hanya melambaikan tangannya pada Ara dan Sifa. Kemudian Aro kembali masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana. Di dalam mobil tidak ada pembicaraan yang berarti. Mereka berdua saling diam.


Sampai akhirnya mereka sampai di kampus Uni. Uni yang sudah sampai tidak sadar jika dia sudah ada di kampusnya. "Uni, kita sudah sampai."


"Oh iya." Uni yang baru sadar karena di panggil Aro sepertinya sedang menghapus sesuatu pada matanya.


"Kamu kenapa?"


"Tidak kenapa-napa. Aro, terima kasih." Uni keluar dengan membawa toples plastik berisi air gula yang nanti akan dia bawa ke kampus Via. Via nanti akan menjemput ke kampus.


Aro juga ikut keluar dari dalam mobil dan berdiri di samping Uni. "Apa kamu habis menangis?"


"Menangis? Siapa yang menangis? Tadi mataku hanya kemasukan debu jadi sampai mengeluarkan air mata."


"Mana ada debu masuk saat jendela mobilku tidak terbuka?"


"Debu itu partikel kecil, Aro. Kita tidak akan bisa melihatnya apalagi jika tertiup angin. Bisa saja saat Ara membuka pintu."


"Hai, Uni!" Tiba-tiba terdengar suara sapaan dari belakang mereka dan Aro sangat tidak suka dengan suara itu.


"Rendy?"


"Uni, aku mau membantu kamu, katanya nanti malam kamu akan ikut berjualan di bazar yang diselenggrakan oleh kampus Via? Via juga mengundangku untuk datang ke sana."


"Em ... itu--?"


"Aku bantu kamu membawa itu, uni. Itu pasti berat." Rendy mengambil dari tangan Uni.


"Ren, tidak perlu, aku bisa sendiri." Rendy melihat pada Aro. Ini cowok seolah-olah tetep kekeh untuk merebut Uni.

__ADS_1


__ADS_2