
Uni akhirnya menceritakan semua kejadian yang menimpanya kemarin malam, sampai akhirnya dia diusir tanpa membawa uang sepeserpun karena tabungannya juga di ambil oleh tante dan sepupunya, mereka mengira Uni memperoleh uang itu dari hasil menjadi selingkuhan dengan om-om.
"Jahat sekali mereka, Uni. Apa selama ini mereka juga memperlakukan kamu seburuk ini?"
"Saya sudah biasa jika harus melakukan semua pekerjaan yang disuruh, saya juga tidak keberatan tiap bulan harus membayar uang bulanan untuk tinggal di sana karena saya tau jika saya hanya menumpang di sana, tapi tuduhan mereka semalam benar-benar membuat saya tidak terima karena saya tidak seperti itu, Ibu Nala."
"Ibu Nala percaya kamu bukan gadis yang seperti itu. Mereka benar-benar keterlaluan. Bi, lalu bagaimana ini? Apa kita laporkan saja perbuatan mereka? Mereka sudah menyakiti Uni seperti ini?"
"Jangan, Bu, saya tidak mau mencari masalah lagi, lebih baik saya menjauh dari mereka dan hidup sendiri."
"Iya, Nala. Sebaiknya tidak perlu membawa masalah ini ke jalur hukum, biarakan saja yang terpenting Uni sudah keluar dari rumah itu."
"Kalau begitu kamu tinggal di sini saja, tapi Ibu nanti akan bicara sama ayah Akira untuk menyiapkan kamar buat kamu."
"Untuk sementara kamu bisa tidur sama nenek saja di kamar nenek, cukup kok kalau berdua."
"Tidak perlu, Nek. Saya akan mencari tempat kost yang bisa aku tinggali, tapi saya mau meminjam uang untul membayarnya, dan saya janji nanti akan saya ganti saat uang gaji saya di sini keluar."
Nala dan Bibi Anjani saling melihat. "Kamu bicara apa sih, Uni? Kamu tinggal di sini saja. Sebenarnya di sini ada gudang yang tidak terpakai dan nanti akan Ibu ubah sebagai kamar kamu, ibu akan mendekorasinya dengan baik."
"Saya tidak mau merepotkan Ibu Nala dan keluarga Ibu Nala. Kalian sudah sangat baik kepada saya, saya tidak mau tambah menyusahkan."
"Kamu tidak menyusahkan kita, Uni. Pokoknya mulai sekarang kamu tinggal di sini dulu, apalagi kamu bekerja di sini jadi tidak akan membuat kamu kesusahan pulang pergi."
"Iya. Sekarang bawa barang-barang kamu dan ikut ke kamar nenek." Bibi Anjani mengajak Uni masuk ke dalam kamarnya. Nala yang masih duduk di ruang makan tampak sedih mengingat semua yang di ceritakan oleh Uni. Dia masih bersyukur di rawat dan di besarkan oleh bibi Anjani yang sangat baik dan menyayanginya.
Di kampus Ara yang waktu itu sedang jam istirahat. Ara sedang duduk bersama dengan teman-temannya di dalam kelas.
"Eh! Aku belikan minuman dan camilan di bawah ya?"
"Belikan yang banyak ya anaknya sultan," jawab Sifa pada Tania.
__ADS_1
"Huft! Lagi-lagi mengataiku anak sultan, aku itu anak mamaku. Kamu nanti yang akan aku belikan air mineral saja."
"Jahat sekali." Sifa mengerucutkan bibirnya.
Tania turun ke bawah dan di sana hanya tinggal mereka bertiga. Ara tampak aneh melihat wajah Marta yang kusut kayak baju belum di setrika. "Kamu kenapa, Marta?"
"Jangan di tanya, nanti tanduknya keluar."
"Memangnya ada apa sih?" selidik Ara.
"Kemarin itu dia kesal gara-gara ternyata si pria incarannya ternyata tidak ikut nonton bioskop sama kita, Ara," jelas Sifa.
"Pria incarannya? Siapa maksud kamu?" Kedua alis Ara mengkerut.
"Siapa lagi kalau bukan si Dean kamu itu. Dia kemarin tidak ikut nonton, mungkin saja Dean tidak ikut karena tau kamu juga tidak ikut dengan kita,". ucap Sifa santai.
"Lah! Kenapa aku diikut-ikutkan? Aku tidak ikut karena memang aku tidak bisa, kalian tau kan kaki aku sakit."
"Sepertinya memang aku sudah kalah sama kamu, Ara. Dean itu kelihatannya suka sama kamu."
Tidak lama Tania datang membawa beberapa minuman dan camilan untuk mereka semua.
Di kampus Aro, dia sedang berada di lapangan untuk melihat kira-kira apa yang bisa di lakukan untuk membuat lapangan itu terlihat pas jika di tata untuk acara bazzar.
"Hai, Aro," sapa seseorang dari belakang Aro.
Aro menoleh dan ternyata ada Via di belakang Aro. "Hai, Via."
"Kamu sedang melihat keadaan di sini? Aro, nanti sore ada pertemuan anggota perpustakaan."
"Pertemuan? Oh ya! Aku sampai lupa, tapi aku mungkin tidak bisa datang karena aku masih ada urusan penting lainnya."
__ADS_1
"Aku sebenarnya juga tidak bisa datang, tapi aku memilih datang saja, lagipula aku malas masuk kerja hari ini?"
"Kenapa?"
"Ya karena tidak ada sahabat aku si Uni itu. Dia kan dipecat dari tempat kerjaku." Via menunjukkan wajah sedih.
"Uni, yang itu? Aku kemarin juga sempat di beritahu bos kamu itu. Sepertinya bos kamu itu tidak suka sama Uni."
"Iya, kasihan sekali Uni. Dia sebenarnya karyawan yang rajin dan supel, hanya saja dia pasti kecapekan juga sampai membuat kesalahan. Bagaimana tidak, dia pagi kuliah, pulang kuliah langsung bekerja sampai malam dan di rumah dia harus menyelesaikan semua pekerjaan rumah yang tante dan sepupunya tidak pernah mau melakukanya. Dia diperlakukan seperti pembantu oleh tante dan sepupunya."
"Apa tante dan sepupunya selalu berbuat buruk sama dia di rumah?" telisik Aro.
Via mengangguk. "Iya, Uni sering bercerita denganku, bahkan tiap bulan dia selalu harus memberi uang bulanan pada tantenya karena dianggap untuk balas budi. Padahal Uni juga tidak akan tutup mata, hanya saja dia kan juga membiayai kuliahnya sendiri."
Aro mendengarkan dengan seksama apa yang Via katakan. "Dia gadis yang kuat," ucap Aro lirih.
"Apa, Aro?"
"Em ... tidak apa-apa."
"Aro, kalau kamu membutuhkan bantuan, aku akan dengan senang hati membantu kamu. Oh ya! Apa aku boleh mengajak teman aku itu untuk menghadiri acara bazzar di sini?"
"Uni maksud kamu?"
"Iya, diakan tidak kuliah di sini, tapi dia bolehkan hadir di sini?"
"Tentu saja boleh. Via, kalau begitu aku pergi dulu, aku mau ke ruang rapat. Permisi." Aro berjalan pergi dari sana.
Via tampak tersenyum senang karena hari ini dia bisa berbicara dengan tidak ada nada dingin dari Aro. Apalagi dia tampak akrab dengan Aro.
"Awal yang bagus. Eh, aku lupa mau menghubungi Uni, tapi dia pasti sedang berada di kampusnya, sebaiknya nanti sore saja."
__ADS_1
Pulang kuliah, Ara sedang menunggu saudara kembarnya datang menjemput, dia sudah menghubungi ponsel Aro beberapa kali, tapi tidak mendapat jawaban.
"Apa dia sedang dalam perjalanan? Kenapa panggilan aku tidak di jawab?" Ara menunggu di kelasnya. Sedangkan teman-teman lainnya tadi sudah di suruh pulang duluan karena mereka ada yang sedang ditunggu oleh mamanya untuk diajak pergi.