
Kini Husna dan Azzam sedang berada di butik langganan umi Balqis untuk melihat gaun pernikahan yang sudah di siapkan oleh umi nya sebelum nya. Sungguh, umi nya itu seperti nya memang sangat ingin melihat sang putri menikah sehingga sudah memesan gaun pernikahan padahal usia Husna bahkan belum genap 21 tahun. Apa memang setiap orang tua yang hanya memiliki anak tunggal menginginkan anak mereka segera menikah. Entah lah. Sampai saat ini Husna masih juga belum mengerti semua nya.
Dia masih belum memahami akan semua itu. Tapi satu hal yang pasti dia sudah menerima pernikahan nya itu. Tidak lagi menolak seperti saat belum menikah. Dia sudah menemukan kebahagiaan nya setelah menikah. Azzam adalah sosok yang dia tunggu. Azzam juga adalah suami terbaik untuk nya. Azzam tidak pernah memarahi nya sama sekali. Hanya memberi nya petunjuk jika salah.
Azzam daan Husna segera di sambut dengan ramah di butik itu dan segera di layani karena memang pegawai butik sudah tahu. Umi Balqis sudah menelpon bahwa hari ini putri dan menantu nya itu akan datang ke sana sehingga pegawai butik pun sudah menyiapkan semua nya, “Silahkan duduk nona, tuan.” Ucap pegawai butik itu ramah.
Husna dan Azzam pun hanya mengangguk dan melihat sekeliling, “Apa langsung saja untuk fitting nya tuan, nona?” tanya pegawai itu kemudian.
Husna dan Azzam yang mendengar hal itu kini saling menatap satu sama lain lalu tersenyum menatap pegawai butik itu, “Kami ingin segera mencoba nya.” Ujar Husna.
Pegawai butik itu pun segera mengangguk dan tidak lama salah satu gaun yang cantik, elegan dan mewah tentu saja datang. Sungguh, ini sangat mewah. Sebener nya bukan selera Husna yang menyukai sesuatu yang sederhana. Tapi tentu saja dia tidak ingin membuat umi nya yang sudah mempersiapkan itu kecewa dan sedih.
“Saya akan mencoba nya.” Ucap Husna segera berdiri dan segera menuju ruang fitting dan di bantu oleh dua orang pegawai wanita.
Sekitar kurang lebih 10 menit akhirnya Husna keluar dengan gaun itu di tubuh nya. Gaun itu sangat cantik di tubuh nya. Tidak ada yang kurang sama sekali. Entah kapan umi nya itu mengukur tubuh nya sehingga bisa membuat gaun yang sangat cantik dan pas sekali di tubuh nya itu. Membuat nya bertanya-tanya dan pusing sendiri memikirkan nya.
“Mas!” panggil Husna.
Azzam yang memang memandangi sang istri dengan kagum pun tersenyum. Lalu dia segera mendekati Husna dan berbisik, “Cantik sekali. Sungguh mas jadi tidak rela kita membuat pesta pernikahan. Mas tidak rela membagi kecantikanmu itu dengan yang lain. Mas sungguh iri dan cemburu nanti jika kau jadi pusat perhatian.” Ucap Azzam berbisik.
Husna yang mendengar bisikkan suami nya itu pun tersenyum, “Salah sendiri mau mengadakan pesta pernikahan. Usul siapa coba?” ucap Husna balik.
Azzam yang mendengar itu pun terkekeh, “Apa kita batalkan saja pesta pernikahan nya. Mas--”
Husna segera menghentikan ucapan suami nya itu dengan jari telunjuk nya, “Sudah terlambat untuk membatalkan nya mas. Semua orang sudah bersibuk untuk menyiapkan pesta ini. Terima saja.” ucap Husna.
Azzam pun tersenyum dan menarik nafas panjang, “Huh, baik lah. Mas akan menerima nya. Hanya untuk sehari saja kan. Setelah itu mas akan mengurungmu untuk mas saja.” Ucap Azzam.
Husna pun tersenyum, “Nah, gitu dong. Tapi aku tidak mau kau kurung mas. Aku ini manusia yang suka kebebasan.” Ucap Husna yang di balas Azzam dengan senyuman.
“Ohiya mas, bagaimana penampilanku? Apa sudah cocok seperti ini atau ada yang kurang?” tanya Husna memastikan pendapat suami nya itu.
“Sudah cantik sayang. Perfect. Tidak ada yang kurang. Tapi semua tergantung kenyamananmu.” Ucap Azzam.
“Aku nyaman. Aku menyukai nya. Aku harus mengakui bahwa umi sangat hebat hingga bisa memesan gaun pernikahan seperti ini tanpa aku ingat kapan aku di ukur.” Ucap Husna.
“Mungkin kamu lupa sayang. Lagi pula itu tidak penting. Yang terpenting umi sangat menyayangimu sehingga menyiapkan ini untukmu. Sungguh cantik dan pas sekali di tubuhmu itu sayang. Tidak ada yang kurang.” Ucap Azzam.
Husna yang mendengar ucapan suami nya itu pun tersenyum dan sudah merasa puas dan cocok dengan semua pendapat suami nya itu. Husna pun segera melepas gaun nya kembali dan setelah itu mereka segera memilih jas untuk Azzam sendiri.
Sekitar satu jam mereka berada di butik itu akhirnya melakukan fitting sudah selesai juga. Azzam dan Husna pun segera pulang dengan pakaian mereka yang nanti nya akan di kirimkan besok ke kediaman utama. Kenapa kediaman utama karena memang ball room hotel yang akan di pakai oleh mereka jauh lebih dekat dari kediaman utama.
__ADS_1
“Terima kasih ya mas sudah mendukungku selama ini. Sudah mewujudkan keinginanku.” Ucap Husna saat mereka berada di mobil.
“Itu sudah jadi kewajiban mas sayang. Tidak perlu berterima kasih. Lagi pula ini bukan sebuah keinginan. Tapi memang harus di lakukan untuk membuktikan semua nya. Kita memang sudah harus berada di titik ini.” balas Azzam lembut.
Husna yang mendengar ucapan suami nya itu yang penuh kelembutan pun tersenyum. Azzam selalu saja seperti itu. Sungguh, kini dia mensyukuri semua nya. Pernikahan yang awal nya tak dia inginkan kini menjadi sesuatu yang dia syukuri.
***
Singkat cerita, kini pesta pernikahan Azzam dan Husna akan di lakukan besok hari. Kini Husna dan Azzam sudah berada di kediaman utama. Semua persiapan untuk pesta pernikahan nya sudah selesai. Tinggal menunggu waktu hari H saja.
Kini Husna dan Azzam pergi melihat sendiri kondisi hotel nya. Mereka ingin memastikan semua nya apa sudah sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
Begitu tiba di hotel, di sana sudah ada Betty, Andita, Gilang dan Gentala serta Zahra dan juga Ratna. Mereka memang ikut membantu. Mereka juga memang sudah tahu semua identitas Husna yang memang ternyata sangat lah menakjubkan dan membuat kaget.
“Ada apa ini dengan pengantin sampai datang ke sini?” tanya Betty begitu melihat kedatangan Azzam dan Husna masuk ke ball room hotel yang sudah di sulap menjadi sangat cantik dan di penuhi dengan bunga primrose. Bunga kesukaan Husna.
Husna dan Azzam pun tersenyum mendengar ucapan Betty, “Tentu saja kami ingin melihat hasil yang sudah kalian kerjakan.” Ucap Azzam tersenyum.
“Ouh begitu. Tenang saja pak semua nya sudah aman dan terkendali. Ini hasil nya seperti yang sudah terlihat. Cantik bukan?” ucap Betty lagi.
Azzam dan Husna pun kembali tersenyum dan meliaht sekeliling ball room hotel itu yang memang sudah sangat cantik dan tidak ada yang perlu di ganti lagi. Semua nya sudah cocok dan pas di mata mereka. Tidak ada yang kurang sama sekali.
“Bagaimana? Bagus kan?” tanya Betty lagi saat Husna dan Azzam hanya diam saja tidak berkomentar.
“Hadiah? Ahh tidak perlu Na. Kami senang kok bisa membantu persiapan pesta pernikahan kalian.” kali ini itu bukan Betty yang menyahut tapi Ratna.
Husna dan Azzam yang mendengar ucapan Ratna itu pun tersenyum, “Iya, benar apa yang di katakan Ratna, Na. Kami tidak butuh hadiah. Dan jika pun kau memang berniat ingin memberikan hadiah maka hanya satu yang kami inginkan yaitu hadiah keponakan. Segera lah hamil, Na. Kami ingin memeluk keponakan darimu.” Ucap Betty.
Husna dan Azzam pun kembali tersenyum mendengar ucapan Betty itu, “Tenang saja itu sedang di programkan.” Jawab Husna tersenyum hingga membuat Azzam pun kaget dan tersenyum juga akan jawaban yang di berikan istri nya itu.
Tidak hanya Azzam yang kaget tapi juga mereka yang bertanya. Mereka tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu dari Husna. Husna yang mereka kenal sangat dingin dan misterius. Bicara seada nya saja. Hanya saat di ajak bicara. Jadi rata-rata ekspresi yang mereka tunjukkan adalah keterkejutan.
“Kenapa kalian terkejut begitu? Apakah jawaban yang ku berikan itu aneh?” tanya Husna saat menyadari bahwa semua orang terkejut akan jawaban yang dia berikan.
Mereka menggeleng lalu Andita pun bersuara, “Apa yang kau katakan itu tidak aneh Na. Hanya saja kami tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu darimu. Jawaban yang menurut kami sangat terbuka. Itu bukan seperti dirimu yang selama ini kami kenal yang sangat tertutup. Untuk itu lah kami kaget akan hal itu. Tapi jujur saja kami senang jika memang itu sedang di programkan. Kami akan berdoa semoga lancar semua nya dan keponakan kami akan segera hadir.” Jelas Andita.
Husna yang mendengar penjelasan Andita pun terkekeh lalu menatap sang suami, “Apa mas juga kaget akan jawaban yang ku berikan?” tanya Husna.
Azzam pun tersenyum lalu mengangguk, “Sedikit.” Jawab nya.
***
__ADS_1
Setelah melihat semua hal yang untuk pesta pernikahan mereka besok sudah final dan tidak ada lagi yang perlu di ubah. Azzam dan Husna pun memutuskan untuk mengajak makan kepada semua yang sudah membantu mereka itu. Terkecuali orang-orang vendor. Maksud nya itu teman-teman seperti Andita dan juga Betty.
Untuk kali ini mereka makan di restoran hasil request Zahra yaitu restoran western, “Dita, kamu ikut denganku.” ucap Gilang lalu segera menggandeng lengan Andita.
Andita yang hendak menuju mobil Betty pun menghentikan langkah nya dan menoleh, “Eee’ehh aku dengan Betty dan Ratna saja ketua tingkat.” Tolak Andita.
“Eeh, sudah kamu pergi lah dengan nya Dita.” Ucap Ratna di angguki oleh Betty.
Gilang pun menatap Andita lekat dan akhir nya dia mengangguk saja. Gilang pun tersenyum lalu segera membukakan pintu mobil untuk Andita, “Ahh so sweet.” Ucap Betty gemas dengan apa yang di lakukan Gilang kepada Andita itu. Memang bukan sesuatu yang baru tapi membuat siapa saja gemas dengan hal itu. Semua nya terasa sangat indah untuk di lihat. Ratna yang melihat itu pun hanya ikut tersenyum saja. Lalu Betty dan Ratna segera masuk ke mobil karena Gentala sendiri dia sudah lebih dulu pergi dengan Zahra di mobil lain.
“Ra, apa kau sudah tidak cemburu lagi saat Gilang--” ucap Betty menghentikan ucapan nya itu. Jujur saja jiwa kepo nya itu meronta-ronta sangat ingin tahu bagaimana jawaban dan perasaan Ratna saat ini.
Ratna yang mendengar ucapan Betty pun tersenyum lalu memandang Betty lekat, “Cemburu? Tentu saja ada Bet. Aku juga seorang wanita yang bisa cemburu. Tapi aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama lagi. Sudah cukup aku melakukan kejahatan dan menyakiti Husna dan Andita karena perasaan obsesiku itu yang ingin memiliki Gilang. Aku tidak ingin kehilangan teman lagi. Tidak masalah jika memang Gilang dan Andita akan saling menyukai satu sama lain. Aku mendukung nya. Aku akan mencoba menghilangkan rasaku itu kepada Gilang. Aku tidak akan merebut dan memaksa lagi. Sudah cukup semua nya. Aku sudah menerima dan merasakan sendiri karma nya. Aku tidak ingin menambah nya lagi. Biarkan saja Gilang bahagia dengan pilihan nya. Jika memang Gilang bisa bahagia bersama Andita maka itu menjadi sebuah kado untukku. karena dua orang yang ku sayangi dan ku cintai bisa bersama-sama. Aku yakin aku pasti akan menemukan bahagia itu nanti. Tidak perlu memaksa siapapun.” Ucap Ratna panjang lebar.
Betty yang mendengar ucapan Ratna yang terdengar tulus itu pun tersenyum dan sedikit terharu, “Aku yakin kita pasti akan menemukan bahagia kita masing-masing Ra. Kita akan mencari nya nanti. Semua pasti sudah ada takdir nya.” Ucap Betty.
Ratna pun mengangguk, “That’s right.” Balas Ratna.
***
Di mobil, Gentala dan Zahra kini kedua makhluk itu hanya diam saja berada di dalam mobil. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.
“Zahra!”
“Kak Gen!”
Zahra dan Gentala pun tersenyum satu sama lain saat mereka tidak sengaja bicara di waktu yang bersamaan.
“Ladies first.” Ucap Gentala mempersilahkan Zahra untuk bicara lebih dulu.
Zahra pun mengangguk dan tersenyum, “Kak, bisa kah aku menanyakan alasanmu mendekatiku?” tanya Zahra memberanikan diri untuk menanyakan hal itu. Jujur saja hal itu berputar-putar dalam pikiran nya itu dan tak kunjung mendapatkan jawaban nya. Dia menginginkan untuk jawaban atas pertanyaan nya itu.
Gentala pun tersenyum mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Zahra itu. Dia tidak kaget karena memang walaupun sudah beberapa hari ini dekat satu sama lain. Tapi dia belum mengatakan apapun untuk bisa membuat kedekatan mereka itu bisa memiliki tujuan atau sesuatu yang bisa mengarah ke arah sana. Mereka larut dalam kedekatan mereka sehingga dia sampai lupa untuk memastikan hubungan yang mereka miliki.
“Saya menyukaimu.” Ucap Gentala tegas.
“Apa itu sebuah ungkapan? Itu seperti nya tidak menjawab pertanyaanku kak.” Ucap Zahra.
“Saya akan memastikan itu nanti tapi setelah pesta pernikahan kakakmu selesai. Saya akan datang untukmu.” Ucap Gentala.
“Kak, bukan itu maksudku. Aku tidak menginginkan sebuah pernikahan dengan cepat. Aku hanya--” ucap Zahra terdiam tidak melanjutkan ucapan nya itu.
__ADS_1
“Hanya apa?” tanya Gentala.