
Uni berjalan sendirian menuju tepi jalan untuk mencari angkutan umum, dari kejauhan dia melihat sepupunya sedang berbicara dengan seorang pria dengan mobil berwarna merahnya. Mereka berdua tampak sangat akrab. Bahkan Selli tidak malu ataupun segan mendaratkan kecukapnnya pada pipi pria itu.
"Itukan Selli, dia bersama siapa? Kenapa pria yang bersamanya mukanya lebih tua dari Selli?" Uni masih fokus melihat pada Selli. "Masak Selli pacaran sama om-om?" dialognya sendiri.
Tidak lama Selli masuk ke dalam mobil itu dan mereka pergi dari sana.
"Huft! Enak sekali dia, sudah diberi uang saku agak banyak, dia naik mobil lagi, aku uang saku pas-pasan dan ini aku naik angkutan umum mana cukup?" Uni menghela napasnya panjang.
Tangannya merogoh ke dalam tasnya dan dia ingat ada uang tiga ratus ribu yang kemarin di beri oleh teman Aro. "Apa aku pakai ini saja dulu? Tapi aku jadi tidak bisa menabung kalau aku gunakan uang ini." Uni melihati bingung uang di tangannya itu.
Sambil menunggu angkutan umum, dia duduk di tepi trotoar tepatnya bangku yang ada di sana. Uni teringat kenangan akan masa lalunya yang dulu saat dia masih kecil dan ada kedua orang tuannya.
Walaupun kedua orang tuan Uni sama-sama bekerja, tapi mereka masih sempat mengajak Uni liburan, jalan-jalan dan selalu menyiapkan segala keperluannya. Mulai dari uang jajan yang lebih dan bekal makanan yang enak. Hidupnya tidak sesusah ini.
Tin ... tin ...
Seketika lamunan Uni menghilang saat ada yang membunyikan klakson di tepat di depannya. Uni kaget melihat ada mobil yang dia kenali tepat di depan matanya.
"Kamu sedang apa di sana? Persis orang hilang saja," suara dari dalam mobil saat kaca jendela di buka.
"Aro?" Uni melongo melihat siapa yang berbicara di sana. "Kamu nyasar ke sini?" balas Uni.
Aro malah tersenyum miring mendengar pertanyaan Uni. "Enak saja bilang aku nyasar, aku memang tiap hari lewat sini setelah mengantar saudaraku ke kampusnya. Kamu mau kuliah juga?"
"Iya, tapi aku menunggu bang angkot menjemput."
"Masuklah! Aku akan mengantar kamu ke kampus kamu."
__ADS_1
"Apa? Kamu mau mengantar aku ke kampusku?" Uni agak terkejut mendengar ucapan Aro.
"Iya, memangnya kenapa? Jangan GR dulu, niat aku cuma kasihan melihat kamu duduk sendiri persis orang hilang begitu. Cepat naik!" serunya ketus.
Uni yang mendengar sekali lagi titah ketus itu segera beranjak dari tempatnya dan masuk ke dalam mobil Aro. "Aku bisa kok nunggu angkutan umum, lagian kuliah aku masih beberapa menit lagi."
"Sudah! Jangan banyak bicara. Cepat pakai sabuk pengaman kamu." Aro menjalankan kembali mobilnya.
"Aro, kamu kemarin tidak di marahi oleh mama kamu karena pulang sangat larut?"
"Tidak. Kamu sendiri? Apa tidak di marahi tante kamu?" Uni menggeleng. Boro-boro di marahi, yang ada malah diberi tugas bejibun.
Di sepanjang perjalanan Uni merasa matanya tiba-tiba sangat berat, dia akhirnya menyandarkan kepalanya pada pintu mobil dan memejamkan kedua matanya.
"Aku capek sekali," ucapnya tanpa sadar.
Beberapa menit kemudian mobil Aro sudah sampai di depan gedung kampus yang tidak terlalu besar. Uni kuliah di kampus yang notabennya tidak terlalu terkenal dibanding kampus di mana Aro dan Ara kuliah.
"Uni, bangun, sudah sampai di kampus kamu." Aro mencoba membangunkan Uni dengan menggoyangkan pundaknya.
"Em ... sebenatar lagi, ya? Aku masih ngantuk," ucapnya tidak sadar.
"Kamu memangnya tidur jam berapa kemarin malam?"
"Jam tiga pagi, aku juga lelah, banyak pekerjaan yang aku lakukan semalaman," ucapnya lagi tanpa sadar.
"Jam tiga pagi? Banyak pekerjaan?" Aro bingung dengan apa yang dikatakan oleh Uni. "Uni, kamu mau kuliah tidak? Kalau tidak mau aku antar kamu pulang lagi?" Aro kembali mendekatkan wajahnya dan menepuk pipi Uni agak keras.
__ADS_1
"Kuliah?" Uni yang kaget segera bangun dan tanpa sengaja dia menabrak wajah Aro dengan keras. Bukan hanya wajah, bahkan Uni sampai berciuman dengan Aro secara cepat. Kedua mata Uni membulat melihat wajah Aro yang menatapnya, gadis itu langsung menutup bibirnya dengan kedua tangannya.
Pun dengan Aro, pria itu juga sekarang seolah menjadi patung di depan Uni dengan posisi tubuh seolah ingin memeluk Uni. Sepersekian menit mereka masih saja saling pandang.
Tidak lama terdengar suara ponsel Aro berdering dan membuyarkan lamunan mereka berdua. "Kamu sudah sampai di kampus kamu." Aro tampak kebingungan.
"I-iya terima kasih, aku turun dulu." Uni segera turun dan berlari menuju pintu masuk utama kampusnya."
"Huft!" Aro menghela napasnya panjang, dia kemudian melihat siapa yang menghubunginya dan kemudian mematikan panggilan ponselnya. "Kenapa dia seperti mamaku saja," gerutunya kesal.
Aro masih di sana melihat ke arah luar di mana Uni tadi berlari memasuki pintu utama kampusnya. Tidak lama terlukis senyum aneh pada bibir Aro. Senyum antara senang dan tidak percaya. "Aku berciuman dengan gadis itu? Gila, dia mengambil ciuman pertamaku," dialognya sendiri.
Aro kembali menjalankan mobilnya dan pergi dari sana. Uni yang berada di dalam kelasnya mencoba menetralisir detakan jantungnya yang berdetak sangat keras dari tadi. Dia sampai langsung menghabiskan setengah air pada botol minuman yang berisi 1 liter air.
"Apa tadi yang sudah aku lakukan dengan Aro? Kenapa aku bisa berciuman sama Aro?" Uni benar-benar tidak percaya dia melakukan hal itu walaupun sebenarnya dia tadi tidak sengaja melakukannya. "Kalau Via tau pasti dia mengira aku dan Aro ada apa-apa, bisa-bisa Via marah dan tidak mau berteman denganku lagi. Ini tidak bisa di biarkan. Mulai sekarang aku tidak akan mau kalau bertemu apalagi di beri tumpangan sama Aro. Iya. Aku harus menghindari Aro," ucap tegas Uni pada dirinya sendiri.
Di kampus Ara dia duduk bersama dengan teman-temannya di kantin sebelum waktu masuk tiba.
"Eh, Ara, kapan-kapan kita nonton lagi, Yuk? Tapi kali ini film romantis saja, jangan film anak-anak lagi," ucap Marta.
"Film kemarin itu bukan film anak-anak, Marta. Itu juga film romantis," jawab Ara malas.
"Itu film romantis biasa, tidak ada adegan berciumannya."
"Memangnya kamu tidak pernah berciuman sama pacar kamu Marta?" tanya Sifa. Marta melihat satu persatu temannya dengan pandangan yang aneh.
"Kamu sudah pernah, Ya?" desak Ara penasaran.
__ADS_1
"Pernah beberapa kali dengan mantanku yang terakhir sebelum kita putus," ucapnya dengan expresi malu. Teman-temannya langsung melongo mendengar ucapan Marta.